
"Huhh... perasaanku tidak enak dengan misi ini." Ucapku sambil sedikit menghela napas.
"Kau tidak perlu khawatir Lia, kitakan sudah terbiasa dengan misi seperti ini." Sahut Kie padaku.
"Tapi... aku sudah tidak ingin terjebak di dalam hutan lagi."
"Tenang saja Lia, kita akan baik-baik saja." Sambung Kie padaku.
" ... "
"Terakhir kali kau bilang seperti itu kita terjebak di dalam hutan selama satu bulan." •_• Sahut kak Luna.
"I-itu hanya karena salah perhitungan, tidak ada hubungannya dengan yang sekarang." Ucap Kie sambil membuang wajahnya.
" ... "
Aku benar-benar sudah tidak ingin lagi pergi ke hutan untuk mencari tanaman obat, apalagi dengan perasaan merinding seperti akan ada bahaya yang mengancam jika kami tetap melakukannya dan tentunya perasaan tidak enak itu bukan tanpa alasan, kami pernah terjebak di dalam hutan karena misi yang sama dan aku yakin kalau kak Luna juga memikirkan hal yang sama denganku.
Tapi, walaupun aku bersikap tidak setuju dengan misi yang diambilnya Kie tetap saja bersikeras untuk menjalankan misi itu, aku mulai sedikit menyesal karena kalah berlari dengannya dia benar-benar tidak bisa dihentikan jika menyangkut tentang tanaman.
"Yahh... apa boleh buat, kau yang memimpin misi ini Kie, huhh... kuharap ini akan berjalan baik." Ucapku pasrah dengan sedikit menghela napas.
"Ya kalau begitu ayo kita temui Mori."
"Yee baaik..." ucapku sedikit lesu tidak bersemangat.
"Mungkin hari ini bukan bukan hari keberuntungan kita Lia." Ucap kak Luna padaku.
"Lain kali aku tidak akan membuat perlombaan lari seperti itu lagi." Lanjut kak Luna dengan sedikit murung menatap ke bawah.
"Aku setuju..." ucapku sambil berjalan.
...........
Brukk
"Waa-a-a!! huhh... untungnya tidak jatuh... ehh!!"
Crakk
•_•
"Cih! apa kau tidak bisa sedikit lebih santai lagi Kie?!!"
"Hehehe maaf." Ucap Kie padanya.
Kie tampak sangat bersemangat sambil memegangi kertas misi yang dia ambil sebelumnya, berjalan ke arah meja resepsionis asisten guild kami dan memukul mejanya dengan sangat keras sampai-sampai Mori yang sedang membersihkan gelas kaca terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan gelasnya sampai pecah, yap Mori adalah asisten guild kami yang menjelaskan semua informasi tentang misi yang kami ambil, dia berasal ras manusia hewan atau lebih tepatnya dia adalah manusia kucing, dia memiliki tubuh manusia hanya saja memiliki ekor dan telinga kucing seperti ras manusia hewan lainnya, Mori orang yang tampan, tapi juga imut dengan telinganya itu hehe.
"Bagaimana kabarmu Mori?" tanya Kie padanya.
"Tidak baik! jadi apa yang bisa aku bantu di pagi buta seperti ini?!" Jawabnya.
"Matahari sudah bersinar terang loh." Ucapku padanya.
"Aku tidak peduli." Sahutnya agak kesal.
"Apa kau marah?" tanya Kie pada Mori.
"Tidak!"
"Kau marah?" tanyaku padanya.
"Tidak!" jawabnya.
"Apa kau yakin?" ucap kak Luna ikut bertanya.
"Ya!"
"Apa kau benar-benar yakin tidak marah?" tanyaku sekali lagi.
"Ya!"
"Apa kau marah?"
Brug
"Tidak!! aku tidak marah oke!! sekarang cepat katakan apa keperluan kalian sebelum aku benar-benar tidak peduli dengan kalian seumur hidupku!!? hahh hahh hahh!!" ucap Mori dengan sedikit berteriak.
Karena Mori tampak kesal kami bertanya padanya secara bergantian dengan pertanyaan yang sama sampai-sampai Mori berteriak keras dengan mengepalkan lalu memukulkan tangannya di meja juga dengan emosi yang meledak-ledak dan napas yang terdengar jelas sangat marah, walaupun begitu membuatnya jengkel dengan candaan receh adalah hal yang biasa kami lakukan setiap kali kami bertemu dengannya.
.........
"Dia marah." Ucapku sambil berbisik.
"Ya aku setuju." Sahut Kie.
"Dia terlihat sangat marah loh." Ucap kak Luna.
__ADS_1
"Em em benar." Sambungku masih sambil berbisik.
.........
"Arghh...! aku menyerah... kenapa harus aku yang menjadi asisten guild kalian." ᴗ͈_ᴗ͈ Ucap Mori dengan wajah murung.
Melihat Mori yang rada kesal kami bertiga langsung saling merangkul pundak dan membicarakan tentang Mori yang sedang berada dalam mode marahnya, sekilas aku melihat ada awan hitam dengan penuh kilatan petir menumpuk di atas kepalanya bersamaan dengan Mori yang membuang wajah parahnya karena harus menangani orang-orang seperti kami.
"Hehehe maaf ya Mori." Ucap kak Luna padanya.
"Yahh aku sudah terbiasa sih... jadi apa kalian ingin menjalankan misi itu?" ucapnya sambil menatap ke tangan Kie yang memegang kertas.
"Yap seperti itulah." Jawab Kie.
"Biarku lihat dulu... hm... ya baiklah... tapi apa kalian yakin ingin menjalankan misi seperti ini lagi? kalian sudah terlalu sering melakukan itu." Ucap Mori sambil memeriksa kertas yang dipegang Kie.
"Tidak masalah hehe."
"Ya tidak masalah baginya, sangat masalah untuk kami." Ucap kak Luna sambil melirik ke arah Kie.
"Em em, setuju." Ucapku sambil mengangguk-angguk.
Setelah sedikit meminta maaf kami kemudian menghentikan candaan mengganggu itu dan kembali membahas tentang misi yang akan kami ambil, Mori mengambil kertas yang ada di tangan Kie lalu melihatnya sambil membuka buku tebal yang dia ambil dari laci mejanya untuk mencari tau tentang informasi misi tanaman obat itu.
Benar saja kami memang sudah terlalu sering melakukan misi itu bagi Kie melakukan itu tidaklah masalah, tapi aku sudah benar-benar tidak ingin melakukannya lagi aku sudah cukup trauma dengan masalah satu bulan itu walaupun begitu mengeluh juga percuma Kie tidak akan mengubah keputusannya semudah itu,
"Woy apa-apaan itu?! bukannya kalian sudah setuju denganku?" ucap Kie pada kami.
"Ah ya benar juga." Ucap kak Luna sambil memalingkan wajahnya.
"Apa maksudnya itu?" •_• sahut Kie.
"Baik baik selesaikan saja masalah kalian di dalam hutan... tapi satu saran dariku kalian harus berhati-hati, beberapa minggu terakhir ada rumor tentang pasukan iblis yang mulai bergerak... jadi sebaiknya jangan masuk terlalu jauh."
"E-eh! kak aku takut." Ucapku sambil menggenggam tangan kak Luna.
"Tidak apa-apa Lia, Kie apa kita benar-benar harus memilih misi itu?" tanya kak Luna sambil merangkul pundakku.
"Y-yahh... kurasa tidak masalah lagi pula kita tidak pergi terlalu jauh, kita hanya akan... berkeliling di sekitaran hutan yang kita lewati minggu lalu, aku pernah melihat beberapa di sana." Ucap Kie mulai ragu.
"Semuanya terserah pada kalian, semoga berhasil." Sahut Mori sambil kembali menggosok gelas kaca.
"Terima kasih informasinya... kalau begitu kami akan berangkat, sampai jumpa lagi." Ucap Kie sambil mengambil kembali gulungan kertas misinya.
"Kak..."
"Tenang saja Lia, tidak akan terjadi apa-apa hehe." Ucap kak Luna dengan tersenyum.
Sambil berjalan di depan Kie meminta kami untuk mengambil semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk berpetualang dan untuk mempertahankan diri di dalam hutan, berpetualang tanpa perlengkapan adalah tindakan bunuh diri dengan masih memegang erat tangan kakakku aku berjalan mengikutinya keluar dari gedung guild petualang, aku sedikit gemetar setelah mendengar Mori mengatakan berita tentang pasukan iblis walaupun itu hanya sekedar rumor belaka, aku benar-benar takut dengan keadaanku nanti jika kami tetap nekad memasuki hutan karena tidak pernah ada yang tau apa yang akan terjadi pada kami kedepannya.
.
.
.
"Tidak apa-apa Lia, seperti yang dikatakan Kie kita hanya akan pergi ke sekitaran hutan waktu itu, lagi pun itu kan hanya rumor." Ucap kak Luna di depan gerbang guild.
"Tapi, kak bagaimana kalau rumor itu benar? bagaimana kalau kita bertemu dengan iblis-iblis itu? bagaimana kalau kita ditangkap dan di/"
"Ssttt... tenanglah Lia, jika itu terjadi kakak akan melindungimu." Sahut kak Luna memotong ucapanku.
"Hooyyy... apa yang kalian lakukan di sana? cepatlah ambil perlengkapan kalian aku menunggu di gerbang kota." Ucap Kie menyeru kami dari kejauhan.
Sesampainya di depan gerbang guild kak Luna kembali menenangkanku sambil sesekali mengelus kepalaku agar aku tidak merasa takut lagi, sementara Kie sudah pergi jauh sambil berlari pulang untuk mengambil perlengkapan petualangnya, sambil berlari dengan sangat cepat Kie menyeru kami agar secepatnya mengambil peralatan kami yang ada di rumah, dia seperti tidak merasa takut sama sekali dengan pasukan iblis yang dibicarakan oleh Mori sebelumnya.
"Sudah ya, tidak apa-apa hehe."
"Em em, terima kasih kak." Ucapku sedikit mengangguk.
...
"Heeyyyy... Kie tunggu kami!!" seruku berteriak memanggil Kie.
"Hah... ada apa?" sahutnya dari jauh.
"Tunggu kami! ayo kak..." ucapku sambil menarik tangan kak Luna.
.
.
"Huhh... kau terlalu cepat Kie."
Setelah bisa sedikit lebih tenang aku kemudian berteriak menyeru Kie lalu menarik tangan kakakku sambil berlari ke arah Kie yang sedang menunggu kami di pinggir jalan, dan cukup jauh kami berlari aku dan kak Luna akhirnya sampai di tempat Kie berdiri, lalu kemudian kami bertiga kembali berjalan dengan beriringan.
"Lebih cepat lebih baik kan hehe." Sahutnya.
__ADS_1
...♡❁❁✧✿( Luna )✿✧❁❁♡...
Syukurlah Lia sudah tenang, tapi apa Kie memang tidak takut?
"Huhh... biarlah." Ucapku sambil sedikit menghela napas lega.
"Hm... ada apa kak." Tanya Lia
"Apa ada sesuatu luu?" ucap Kie ikut bertanya.
Aku merasa sedikit lega karena Lia sudah terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya, aku mengerti bagaimana perasaan takut itu karena jujur aku juga merasa takut dengan hal itu, tapi merasa takut dihadapannya akan membuatnya semakin ketakutan jadi aku tetap bersikap seperti biasa-biasa saja agar dia merasa sedikit lebih baik.
"Tidak, bukan apa-apa, yosh... mari kita pergi, teleport."
"Weehhhh!!!"² teriak mereka bersamaan.
...***...
"Hehehe sudah sampai, ini menghemat waktu kita." Ucapku sambil sedikit tersenyum.
"Ya sangat menghemat." Ucap Kie agak kaku.
Setelah sedikit berjalan beriringan aku kemudian merangkul kedua pundak di sampingku lalu pergi menggunakan sihir teleport menuju ke rumah kami, tentu saja itu agar kami bisa menghemat waktu karena lebih cepat kami mengambil perlengkapan petualang itu lebih cepat kami pergi menjalankan misi yang diambil oleh Kie dan itu artinya kami akan lebih cepat pulang dan terhindar dari bahaya yang ada.
"Hoo bukannya kau tadi ingin cepat? atau mungkin kau ingin lewat di depan toko Zoe agar bisa menatap wajahnya sekali lagi?" tanyaku padanya dengan tatapan mengejek.
"Aaapa maksudmu? bukan itu yang aku inginkan... lupakan saja, cepat ambil perlengkapan kalian..." ucapnya sambil masuk ke rumahnya.
.....
"Hehehehe Kie menjadi sangat lucu ya kak?"
"Yahh seperti itulah hehe, ayo kita masuk." Ucapku sambil membuka pintu rumah.
...
"Wah kenapa kalian pulang sangat cepat?" tanya mama pada kami.
Setelah sempat sedikit mengejeknya Kie kemudian masuk ke dalam rumahnya melewati toko bunga yang ada di depan rumahnya yang terlihat seperti sebuah taman bunga itu, rumah Kie dan rumah kami tidaklah jauh berbeda karena lantai satu rumah kami menyatu dengan toko tempat orang tua kami berjualan, rumah Kie menyatu dengan toko bunga di depannya dan ada spanduk kecil bertuliskan TOKO BUNGA EMILY, sementara rumahku menyatu dengan toko baju ibuku yang juga ada spanduk kecil dengan tulisan TOKO BAJU ERINA, kombinasi yang bagus sebagai sesama tetangga.
Melihat Kie yang sudah masuk ke dalam rumahnya aku dan Lia juga masuk ke rumah melewati toko baju ibu dan bertemu dengan ibu yang sedang merapikan letak baju-baju yang kami jual di sana, kami menjual baju yang kami buat sendiri berdasarkan kreativitas kami sendiri, karena kami adalah keluarga penjahit menjual hasil kreativitas sendiri itu adalah hal yang biasa terjadi.
"Aku dan kakak hanya mengambil perlengkapan kami yang tertinggal ma." Ucap Lia pada mama sambil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Kami akan pergi lagi setelah mengambil beberapa barang." Sambungku.
"Owh... jadi begitu ya, mama pikir kalian sedang tidak sibuk, tapi yahh... berjuanglah anak mama." ucap mama sambil tersenyum ke arah kami.
"Baaik ma hehehe." Sahut Lia dari atas.
.
.
"Baiklah, ambil barang-barang yang penting saja." Ucapku pada Lia.
"Ookeh." Sahutnya sambil membuka pintu kamar.
.....
Dengan sedikit pertanyaan dari ibu yang terlihat heran dengan kami yang pulang cepat kami melakukan sedikit pembicaraan lalu kemudian aku dan Lia pergi ke lantai atas masuk ke dalam kamar kami masing-masing, mengambil beberapa perlengkapan petualang untuk bersiap menghadapi bahaya hutan monster.
"Yoshh... aku sudah selesai, bagaimana denganmu Lia?" tanyaku sambil menutup pintu kamar.
"Ya aku juga sudah selesai." Sahut Lia yang juga keluar dari kamarnya.
"Kalau begitu tolong bantu kakak membawa ini ya hehe." Ucapku sambil menyerahkan beberapa baju ganti padanya.
"Baik kak."
Aku membawa barang seadanya saja dan tentunya ringan untuk dibawa seperti, pedang tipis, belati, dua tas pinggang berukuran sedang dan kecil untuk membawa obat-obatan penanganan pertama juga barang-barang kecil lainnya yang muat di dalamnya, serta sepatu untuk mempermudah perjalanan di jalan yang terjal dan jalan-jalan sulit lainnya, dan tentunya juga beberapa baju ganti, tapi aku tidak membawanya aku meminta Lia memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan agar lebih mudah dan tidak menggangu.
Sementara Lia membawa tongkat sihirnya yang sama tinggi dengan dirinya lengkap dengan tas pinggang kecil, rompi dan sepatu petualangnya juga dengan perlengkapan-perlengkapan lainnya.
.....
"Maaf ya ma, kami tidak bisa membantu penjualan untuk beberapa hari kedepan." Ucapku pada mama sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Apa Kie berulah lagi?" tanya mama padaku dengan duduk di kursi kasir.
"E-eh... y-yahh seperti itulah he he he." jawab Lia terlihat membuang muka.
"Huhh... dasar, ibu dan anak sama saja, tapi satu hal dari mama kau harus berhati-hati dan tolong lindungi adikmu." Pinta mama padaku sambil sedikit menghela napas.
"Tentu saja ma, kak Luna pasti akan menjaga Lia, iya kan kak?" Sahut Lia penuh percaya diri.
"Yap tentu, mama bisa tidur dengan nyenyak, biar aku yang menjaga Lia hehehe." Ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1
Yahh... kuharap tidak ada masalah saat kita berpetualang nanti.
...♡❁❁✧✿✿✧❁❁♡...