I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 82: Karavan. ( Ellia )


__ADS_3

"Um... mereka sangat bersenang-senang ya bikin iri saja." Ucapku sambil menatap ke kereta kuda di belakangku.


"Y-yahh seperti itulah." Sahut Cia padaku.


Karena aku duduk di kereta kuda paling depan aku dapat melihat kak Luna dan Kie yang tampaknya sangat bersenang-senang di keretanya, suara mereka bahkan terdengar keras sampai di kereta kudaku aku menjadi sedikit iri dengan kegembiraan di kereta satu itu, selain melihat mereka aku juga dapat melihat dua kereta kuda lainnya yang ada di belakang kereta kak Luna.


"Lia kenapa kalian selalu mengambil misi seperti ini? apa kalian tidak ingin mencoba hal baru?" tanya Cia padaku.


"Ya entahlah, aku hanya mengikuti mereka walaupun agak menakutkan, tapi aku senang melewatinya bersama mereka." Sahutku sambil menatap kuda di sampingku.


Di dalam guild petualang aku memiliki banyak teman dekat salah satunya adalah Cia dan Emma yang duduk di sampingku, usia Cia lebih muda dariku mungkin dia baru 16 tahun sedangkan Emma dia hampir sama dengan kak Luna, tapi sedikit lebih tua beberapa tahun mungkin karena itulah dia terlihat begitu dewasa.


"Hemm owh! apa kamu mau ikut party kami? pasti akan menyenangkan loh." Ajak Cia padaku.


"Humm..." ucapku menggumam.


"Cia jangan mengajak orang dari party lain sembarangan, semua petualang mempunyai jalannya masing-masing, jadi belum tentu orang akan menganggap apa yang kita lakukan itu menyenangkan." Sahut Emma.


"Maaf Emma, maaf ya Lia."


"Tidak masalah, mungkin nanti akanku pikirkan hehehe."


"Benarkah?"


"Iya, tapi aku harus memberi tau kak Luna dan Kie dulu." Jawabku sambil tersenyum.


"Waa... terima kasih Lia." Ucap Cia padaku.


Saat sedang bicara Cia tiba-tiba saja mengajakku untuk bergabung ke dalam kelompoknya dan tentunya Emma langsung sedikit menasehatinya, karena mengajak orang dari party lain itu sedikit kurang sopan, walaupun aku sendiri memang sedikit tertarik untuk mencoba bergabung karena aku melihat kak Luna sangat


Tapi aku tidak bisa memutuskan itu sendiri karena aku sudah sangat senang bisa bersama dengan keluargaku saat sedang berpetualang, jadi tidak mungkin aku meninggalkannya walaupun begitu aku juga akan mengajak kak Luna dan Kie dulu karena siapa tau mereka mau bergabung dengan kelompok Cia dan dengan begitu aku tidak perlu terpisah dari mereka berdua.


...******...


"Baiklah kita semua akan istirahat di tempat ini dulu." Ucap pedagang yang mengendalikan kuda.


"Kalau begitu ayo kita turun." Ucap Emma pada kami.


"Baaik! hehehe... ayo Cia." Sahutku sambil menarik tangan Cia sambil tersenyum bersemangat.


"Ookeh." balasnya tersenyum.


Beberapa saat kemudian setelah pedangan yang mengendalikan kuda menarik kudanya dan berhenti di pinggiran jalan untuk mengistirahatkan kuda-kuda itu, dan juga untuk menyiapkan makan siang karena memang ini sudah sangat melewati waktu makan siang, aku sendiri langsung pergi dengan mengajak Cia ke dekat kak Luna dan Kie yang tampaknya sedang mempersiapkan bahan makanannya.


"Kakak masak apa?" tanyaku pada kak Luna.


"Ini hanya sup biasa." Jawab kak Luna.


"Eemmm... aromanya enak." Ucap Cia sambil menatap ke arah panci makanan yang diaduk kak Luna.


"Tunggu sebentar dulu ya hehe... ini masih belum matang."


.


.

__ADS_1


Setelah berhenti dan turun semua orang yang ada di kereta kuda kemudian mempersiapkan makanannya sesuai dengan tugasnya masing-masing, ada yang memotong-motong sayuran, daging, ikan, dan ada juga yang bertugas untuk memasak nasi juga air, tak terkecuali juga dengan kak Luna yang sedang memasak sup dan Kie yang membantunya memotong-motong bahan-bahannya begitu juga dengan Rin, Rhom, juga Emma yang bertugas untuk memasak ikan dan daging.


Sedangkan aku sendiri hanya melihat mereka sambil duduk bersama Cia di samping kak Luna dan Kie yang sedang mengaduk-aduk makanannya menunggu sampai siap dihidangkan hehehe.


"Ini Lia." Ucap kak Luna sambil memberikan semangkuk sup padaku.


"Terima kasih kak."


"Dan ini untukmu Cia." Ujar Kie dengan juga memberikan semangkuk sup pada Cia.


"Terima kasih kak Kie." Ucap Cia pada Kie.


"Ya sama-sama, sekarang cepat habiskan makanan kalian, nanti makanannya dingin loh." Sahut kak Luna sambil tersenyum ke arah kami berdua.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya sup buatan kak Luna matang, Kie kemudian memasukkan sup-sup itu ke dalam mangkuk lalu membagikannya kepada orang-orang yang ada di sini, kak Luna membawakan satu mangkuk padaku kemudian duduk di batang pohon yang ada di depanku, begitu juga dengan Kie yang memberikan satu mangkuk untuk Cia sebelum dia duduk di samping kak Luna.


.....


"Eemmm... seperti biasanya masakan kakak selalu enak." Ucapku sambil memakan supku.


"Woaa! benar ini enak! kak Kie dan kak Luna hebat!" ucap Cia juga sambil memakan supnya.


"Hehehe terima kasih ya." Sahut kak Luna padanya sambil tertawa kecil.


"Tentu saja hehe... iyakan Luna?" sambung Kie sambil saling menepuk telapak tangan dengan kak Luna.


Tanpa berlama-lama aku langsung memakan sup itu dengan lahap karena seperti biasanya masakan kak Luna memang sangat enak, begitu juga dengan Cia yang tampak penasaran dengan rasanya setelah mendengar ucapanku yang keenakan dengan sup itu, dia langsung mengambil sendoknya lalu menghirup supnya dan seperti apa yang aku katakan Cia juga merasakan betapa enaknya masakan kak Luna dan Kie dia bahkan lebih lahap dariku.


Sama halnya dengan orang-orang yang ada di sini mereka juga menyukai masakan itu dan memakannya dengan lahap bersama dengan lauk lainnya.


Srekk Srekk


Suara apa itu?


"Ada apa Kie?" tanya Luna menatapku.


"Tidak apa-apa, aku hanya seperti mendengar sesuatu dari dalam semak-semak." Jawabku agak bingung.


"Humm... tapi, aku tidak mendengar apa-apa." Sambung Luna sambil berusaha mendengarkan sesuatu.


"Apa aku salah dengar ya?" ucapku kebingungan.


"Mungkin itu hanya suara angin yang meniup dedaunan atau mungkin hewan kecil." Ucap Luna padaku.


"Yahh... mungkin..."


Di saat aku sedang menikmati makananku tiba-tiba aku mendengar seperti ada suara semak yang bergoyang dari sampingku, melihatku yang tampak kebingungan Luna kemudian sedikit bertanya padaku dan juga ikut mencoba mendengarkan suara itu, tapi sayangnya suara itu sudah menghilang saat dia berusaha untuk mendengarkannya.


Jadi dia menyimpulkan bahwa itu hanyalah suara hewan kecil yang sedang berkeliaran mencari makanan dan juga hembusan angin biasa,karena memang sebelumnya ada angin yang berhembus cukup kencang melewati kami dan juga hanya sepertinya hanya aku yang mendengar suara itu, sedangkan yang Luna, Rin, dan yang lainnya hanya memakan makanannya seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.


Karena tempat dudukku hanya berjarak beberapa meter dari semak-semak aku dapat mendengar suara itu dengan lebih jelas daripada yang lainnya terlebih lagi suara itu menghilang seperti hembusan angin, tapi walaupun begitu aku masih belum yakin kalau itu hanyalah suara angin semata, karena setahuku jika itu hanya sekedar hembusan angin suaranya akan terdengar sedikit lebih lembut dan sangat berbeda dengan apa yang aku dengar sebelumnya yang tampak sedikit kasar walaupun itu hanya sebentar.


Hembusan angin ya? apa biasanya pinggiran hutan memang terasa tenang seperti ini? sepertinya ada yang aneh di sini... detection...


Sudah kuduga... ini berbahaya.

__ADS_1


"Luna." Ucapku pelan sambil meletakkan mangkuk makanannya dengan perlahan.


" ... "


Karena pikiranku masih belum tenang aku kemudian menggunakan sihir untuk mendeteksi pergerakan yang ada di sekitaran tempat kami, dan benar saja aku melihat ada beberapa ekor black dog yang mengintai kami dari balik semak itu, langsung saja aku meletakkan mangkuk makanan yang aku pegang dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat memancing monster itu mendekat lalu dengan pelan memanggil Luna sambil menatapnya dengan serius sambil memegang gagang pedangku.


Melihatku yang sangat serius Luna sedikit mengangguk lalu meletakkan makanannya dan kemudian mengambil pedangnya dengan perlahan agar tidak membuat gerakan mendadak yang dapat memancing monster itu, Luna dan aku kemudian mengeluarkan sedikit bilahan pedang kami sambil memberikan isyarat kepada petualang pengawal lainnya agar mereka berhati-hati dan seperti apa yang kami lakukan mereka juga bergerak dengan perlahan meletakkan makanannya masing-masing sambil berusaha meraih senjata mereka.


Grahhhh!!!


Ssttt!! Ssttt!!


"SEMUANYA BERLINDUNG!!" teriak Rin sambil mencabut pedangnya.


...


"Lia, Cia diamlah di belakang kami lindungi para pedagang dan kudanya." Ucap Luna dengan serius.


"Baik kak." Sahut Lia sambil berlari ke arah para pedagang.


Tepat setelah kami memberikan isyarat pada Rin dan yang lainnya dua ekor monster keluar kemudian menyerang kami, dan dengan sigap aku dan Luna menebas kedua monster itu secara bersamaan sampai-sampai darah monster itu berserakan di mana-mana, sesaat setelah itu Rin langsung berteriak meminta agar para pedagang berlindung di balik keretanya dan menenangkan kuda-kuda kami mulai membuat suara-suara kegaduhan dan menjadi sangat liar karena serangan dadakan monster itu.


"Kau baik-baik saja?" tanyaku pada Luna.


"Tentu."


"Yahh... tapi, sayangnya ini masih belum selesai." Ucapku kembali menatap ke arah hutan.


"Maaf ya aku telat menyadari itu."


"Bukan masalah, mari kita selesaikan ini dengan cepat." Sahutku pada Luna.


"Sesuai ucapanmu Kie" Sahut Luna sambil berjalan ke dalam hutan.


Dengan keributan akibat serangan monster semua orang berada dalam kondisi tegang karena kami semua tidak tau dari mana monster lainnya akan menyerang kami, aku dan Luna sepakat untuk menggendong pedang kami masuk ke dalam semak-semak hutan menghadang dan mengusir monster-monster yang ada di sekitar karavan kami, sementara itu Rin, Lia, dan yang lainnya berjaga di dekat orang-orang karavan untuk menjaga mereka dan kereta agar tidak dirusak oleh monster itu.


...******...


"Detection..."


Sama seperti sebelumnya saat ini aku juga menggunakan deteksi untuk melihat beberapa banyak monster yang bersembunyi di balik pepohonan dan semak hutan.


"Ada berapa?"


"... 18, 21, semuanya ada 27 ekor."


"Kau yakin Kie?"


"Ya aku sangat yakin."


"Baiklah, aku akan mengurus yang di kanan, sisanya kuserahkan padamu."


"Baik."


Dengan sedikit anggukan aku kemudian pergi ke arah yang berlawanan dengan Luna yang pergi ke sebelah kanan menghadapi monster-monster itu sendirian, kenapa kami berani melakukan ini? tentu saja karena kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, terlebih lagi jika monster yang dilawan hanyalah monster sekelas black dog kami bisa mengatasi itu.

__ADS_1


...✧❁❁✧✿✿✧❁❁✧...


__ADS_2