I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 131: ~POV Marckley Kin~ Kerajaan Undead Hutan Mati.


__ADS_3

"Cih! ini akan menjadi luka permanen… tidak kusangka dia bisa membelah dimensiku!" ucapku sambil memegang kepalaku yang nyaris terbelah.


"Kurang ajar!! gadis itu… tunggu saja aku akan membunuhnya!!" ucapku sambil kembali berdiri.


Duduk di dalam ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun, wajahku penuh dengan darah karena goresan pedang yang nyaris membelah dahiku secara horizontal, darah mengalir menutupi sebagian wajahku sebelum akhirnya menetes melewati daguku.


Serangan dari gadis naga itu meskipun aku masuk ke dalam dimensi ruang untuk berteleport ke istana raja iblis vetra dia masih sempat menebaskan pedangnya bahkan saat aku sepenuhnya berada di dalam dimensi ruangku dia membelahnya dengan satu tebasan.


Bahkan jika aku tidak menghindari tebasan itu mungkin kepalaku akan terbelah menjadi dua bagian, kemampuannya sangatlah berbahaya dan itu mencerminkan dirinya sebagai seorang naga sejati, dengan sekuat tenaga aku berusaha mengobati luka horizontal di dahiku, tapi tetap saja luka itu tidak bisa sembuh dengan sihir penyembuhan meski aku telah sangat lama mengobatinya pada akhirnya aku hanya membersihkan darahku dan menghentikan pendarahannya dengan energi sihirku sebelumnya aku keluar dari ruangan gelap ini.


***


"Hilles…" ucapku menatap seseorang yang berdiri di samping kanan pintu.


"Hahahaha! ada apa dengan wajah itu?" ucapnya bertanya sambil tertawa.


"Diamlah bedebah!" ucapku berjalan ke arah yang berlawanan dengannya.


Keluar dari ruangan gelap itu aku disambut oleh tawa dari Hilles yang merupakan salah seorang komandan iblis sepertiku, dia bersandar di dinding dengan menyilangkan tangannya dan berbicara dengan nada ejekan dengan luka tebas di dahiku dan itu sangat menggangguku, meski begitu aku tidak ingin mencari masalah dengannya karena ada hal yang lebih penting daripada sekedar pertarungan yang tidak ada untungnya.


"Hahahaha hahahaha!! tampaknya terjadi sesuatu yang menarik di sini" ucapnya lagi sembari mengikutiku dari belakang.


"Kita memiliki lawan yang tangguh!"


"Apa ada orang menarik di kerajaan itu?" tanyanya padaku.


"Bukan kerajaan itu, tapi ini lebih berbahaya dari apa yang kita banyangkan!" jawabku dengan serius.


"Tampaknya peperangan ini akan sangat menarik."


"Kita diskusikan ini dengan para komandan iblis lainnya."


...🌿🌿🌿🌿🌿...


...~Luna~...


"Hei kakak…sampai kapan kau akan menunggu di sini?" tanya Lia padaku.


"Perlu beberapa hari agar sampai di tempat itu, aku akan menunggu kedatangan mereka."


"Ini sudah pagi kedua ya… tapi belum ada kabar apapun tentang mereka" ucap Kie perlahan duduk di sampingku.


"Ya…"


Zoe... kuharap kau baik-baik saja.


Sudah dua setengah hari lamanya sejak aku, Lia, dan Kie sampai di ibu kota dan pasukan bantuan berangkat menuju tempat Zoe, akan tetapi belum ada kabar atau tanda-tanda mereka akan datang, meskipun begitu aku tetap menunggu di pos penjagaan gerbang utama ibu kota.


Aku duduk di pos penjagaan sambil menatap ke arah luar ibu kota berharap mereka akan datang dengan selamat, pagi yang dingin dan embun yang belum hilang Lia datang dengan membawa makanan hangat diikuti Kie yang juga duduk di sampingku dengan dengan raut wajah yang terlihat cemas menunggu kabar dari pasukan bantuan yang belum juga datang.


"Kuharap ada kabar baik yang datang siang ini" ucapku menatap langit yang cerah berawan sembari mengunyah makananku.


"Kak bagaimana menurut kalian tentang gadis itu?" tanya Lia pada kami.


"Maksudmu iblis putih waktu itu? hm… entahlah, tapi aku masih merasa takut dengannya, bagaimana denganmu Luna?" sahut Kie sambil bertanya padaku.


"Dia menakutkan, sekilas aku melihat ada makhluk yang sangat besar sedang menatapku... auranya sangat kuat" jawabku sambil fokus melihat ke depan.

__ADS_1


"Ya… aku juga merasa seperti itu, napasku sangat berat ketika dia mendekati kita" sahut Kie.


Duduk bersama di kursi taman yang ada di dekat gerbang utama ibu kota aku menggigit sarapanku seraya menatap ke arah langit yang cerah di atas padang rumput di luar tembok ibu kota dengan berharap penuh agar Zoe dan yang lainnya bisa pulang dengan selamat.


Sambil menikmati sarapan dan pemandangan hijau di luar tembok ibu kota, Lia tiba-tiba menanyakan pendapat kami tentang gadis iblis yang telah menolong kami di hari menyeramkan itu, dan jujur saja aku merasa sangat takut padanya meskipun dia telah menolong kami tanpa ada niat jahat yang terlihat darinya.


Tapi, saat dia mendekati kami dan aku menatapnya dia terlihat sangat menyeramkan meskipun penampilannya terlihat seperti anak remaja yang sangat cantik, auranya yang besar terus membayang-bayangiku dengan rasa takut, aku seolah melihat sesosok makhluk menyeramkan yang sangat besar dan bersiap untuk menerkamku dengan gigi dan taringnya yang menakutkan.


"Tapi, kak… aku merasa dia orang yang baik, dia menolong kita, mengobati, bahkan sampai mengantarkan kita pulang dengan selamat sampai ibu kota, aku yakin dia tidak lebih sama seperti kita hanya saja dia mempunyai kekuatan yang sangat besar" ucap Lia menatap roti hangat di tangannya.


"Ya kakak mengerti, haah… apa mungkin aku yang berlebih karena sedang ketakutan?"


"Takdir itu luar biasa, mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi dengannya" ucap Kie tersenyum menatap langit.


.


.


Berbeda dengan pendapatku dan juga Kie, Lia memiliki pandangannya sendiri, menatap roti di tangannya dia mengungkapkan pendapatnya tentang gadis iblis itu dan memang apa yang diucapkannya itu adalah kenyataan, gadis iblis itu memanglah menyeramkan jika dilihat dari segi kekuatannya, tapi dia terlihat sangat baik dan ramah tanpa ada niat jahat untuk mencelakai kami dan justru aku merasa kami lah orang yang jahat karena menuduhnya sebagai iblis jahat.


"Luu… apa yang akan kau lakukan setelah semua ini selesai?" tanya Kie padaku.


"Aku? mungkin akan berhenti menjadi petualang…"


"Begitu ya… kurasa aku juga akan berhenti" sahutnya sambil sedikit tersenyum.


"Ehh!!! lalu bagaimana denganku?!" tanya Lia terkejut dengan ucapan kami.


"Maaf ya Lia… tapi, kurasa cukup sampai di sini aku melihat kalian terluka."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, jika saja aku tidak mengikuti keegoisanku kalian mungkin tidak akan ikut menyaksikan kejadian menyeramkan itu" ucap Kie sambil menunduk.


"Apa-apaan kalimat itu, ucapanmu terdengar aneh loh."


"Tapi, itu luar biasa bukan?"


"Hehehehe kurasa kau benar" sahutnya tersenyum.


Sempat terdiam beberapa saat karena sedang mengunyah makanan Kie kemudian kembali berbicara dengan bertanya tentang apa yang akan aku lakukan nantinya, dan dengan tenang aku langsung menjawabnya bahwa aku akan berhenti sebagai seorang petualang, aku merasa gagal sebagai seorang kakak dan gagal sebagai seorang sahabat yang melindungi teman-temanku, aku benar-benar tidak berdaya menghadapi rasa takutku bahkan aku nyaris kehilangan orang yang sangat aku sayangi.


Meskipun sedikit larut dalam keadaan sedih, tapi setelah dengan sedikit senyuman dan gurauan sederhana suasana kami kembali mencair bersama dengan hari yang sudah mulai memanas karena matahari semakin tinggi.


"Hei hei kak, Kie… lihat itu!" ucap Lia berdiri sembari menunjuk ke arah hutan.


"Itu!"


"Zoe!!" ucapku Kie sambil berlari ke arah barisan prajurit yang keluar dari hutan.


Syukurlah mereka selamat…


"Kak ayo…!" ucap Lia menarik tanganku.


Tertawa bersama di bawah sinar matahari yang hangat Lia mengarahkan tangannya ke arah hutan dengan mata yang berbinar-binar dan senyuman yang melebar, dan secara perlahan sekelompok prajurit keluar dari hutan melewati padang rumput di hadapan kami bersama dengan orang-orang yang sudah kami tunggu.


Melihat itu Kie kemudian berlari menghampiri barisan prajurit itu dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Lia yang menarik tanganku untuk segera ikut menghampiri mereka.


...***...

__ADS_1


" … "


"Jun!!!"


"Lia!!"


Hehe... kurasa itu sedikit berlebihan Lia.


"Syukurlah kalian selamat hiks… aku sangat sedih loh" ucap Lia sembari memeluk Jun.


"Aku juga senang kalian baik-baik saja" balas Jun memeluknya.



"Baiklah… terima kasih atas pengorbanan dan informasi yang kalian dapatkan, kalau begitu kami akan langsung melaporkan masalah ini pada kerajaan, kalian beristirahatlah" ucap ketua prajurit pada kelompok Zoe.


"Ya… kami juga berterima kasih karena telah menjemput kami" ucap Zoe padanya.


"Permisi" sambung ketua prajurit itu sembari menundukkan kepalanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami.


Saling bertatapan Kie hanya terdiam menatap kedatangan Zoe yang tiba dengan selamat, sedangkan Lia langsung memeluk Jun hingga dia terjatuh Lia benar-benar sangat bersemangat bisa melihat Jun datang.


Melihat semua perasaan lega itu, setelah sempat berterima kasih ketua prajurit yang memimpin pasukan bantuan untuk menyelamatkan kelompok Zoe kemudian pergi dengan diikuti oleh prajuritnya dari kelompok Zoe meninggalkan aku, Kie, Zoe, Lia, dan Jun.


...


"Ternyata gadis iblis itu tidak bohong, aku senang melihatmu Kie" ucap Zoe sembari memeluk Kie.


"Ya, aku juga."


"Ekhem! permisi apa kalian sudah selesai?" ucapku menatap Kie dan juga Zoe yang berpelukan.


"Eh! y-ya hehehe" ucap Zoe sambil menggaruk kepalanya.


"Aku minta maaf Kie, tapi muah… aku juga mencintainya" ucapku sambil mencium wajah Zoe.


"◉_◉"


Agak panas rasanya melihat sepasang kekasih yang berpelukan di hadapan mata temannya sendiri, melihat itu aku kemudian pura-pura batuk kecil untuk menyadarkan mereka bahkan ada orang lain di tempat ini, dan tepat setelah mereka melepaskan pelukannya aku kemudian berjalan mendekati Zoe lalu mencium wajah kirinya dan itu membuat semua orang terkejut tak terkecuali dengan Kie yang membulat melihatku melakukannya.


Aku bukan bermaksud menikung teman sendiri, tapi aku tidak bisa terus menyembunyikan perasaanku.


"EGHHH!!! tu-tunggu kak b-bukannya…/"


"Shuttt… anak kecil sebaiknya jangan ikut campur" kataku tersenyum pada Lia.


"L-luna aku…/"


"Aku tidak memintamu menjawabnya jika memang tidak bisa, aku hanya ingin bisa mengatakan itu padamu" ucapku menahan mulut Zoe.


"Tunggu Luna!!! apa maksudnya ini?!!" ucap Kie terkejut sembari berteriak.( ">///<)


"Hehehehe… hanya menguji keberuntungan" jawabku sambil tersenyum ke arah mereka semua.


Ya kira-kira apa yang kudapat dari keberuntungan itu, apakah aku akan kalah…


"Tapi, Zoe aku tidak mempermasalahkan keputusanmu, kau bisa menolaknya atau… menjadikanku sebagai orang kedua..." ucapku tersenyum padanya.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2