
Sstt!!
Duarr!!!
Agrhh... kenapa harus ada naga di tempat ini, seakan tidak ada monster lain di labirin ini menyebalkan.
Setelah sempat ada drama kaget, naga itu langsung menyerang kami dengan cakarnya, tapi aku menghindarinya dengan melompat ke belakang dan akhirnya serangan itu malah mengenai dinding labirin.
GRAAHHHHH!!
"Woi!! kenapa kalian selalu menggangguku hah!"
Duh... kepalaku semakin bertambah berat, bagaimana ini?
"Dia tampaknya cukup kuat tuan, apa yang akan kita lakukan?" tanya Sira.
Monster yang satu ini memang terbilang cukup kuat dilihat dari perawakannya yang kekar walaupun tubuhnya masih seukuran dengan naga yang biasanya aku temui.
"Huhhh... yahh... tak ada pilihan lain, aku akan melawannya."
Mau tidak mau aku memang harus melawannya, lagipula percuma juga untuk lari, dia pasti akan mengejarku lagi dan lagi.
Duk Duk Duk
"Suara apa itu Sira?"
"Ada yang datang!" ucap Sira
Aghh... bagaimana ini?! jumlahnya bertambah dan lagi tampaknya mereka berdua adalah naga peringkat atas, level kekuatan mereka sangat berbeda dengan semua naga yang aku temui.
Saat ini aku benar-benar sangat tegang setelah kemunculan yang pertama sekarang ada lagi pendatang baru yang muncul, apa lagi dengan kondisi yang kurang baik seperti ini menghadapi mereka akan sedikit sulit.
Huhh... sepertinya pertarungan akan segera dimulai.
Sstt! Sstt!
"Tuan!!"
"Aaa!!! woi!! aku masih belum siap tau!!"
Brengsek kalian naga sialan! tunggu, aku juga naga arghhh!!! masa bodoh!
Aku kemudian menghempaskan tanganku dengan keras ke atas tanah seketika saja gundukan-gundukan kristal tajam bermunculan tak beraturan dari atas tanah menyerang kedua naga itu, tapi dengan mudah para naga itu berhasil menghindarinya tanpa tergores sedikitpun.
Mereka gesit dan juga cepat, aku harus lebih berhati-hati.
Gerakkan mereka lebih cepat dari naga-naga yang pernah aku temui, mungkin karena mereka berada di level yang berbeda dengan naga-naga sebelumnya.
Roarrr!!
"Sira! tunggu!!"
Sira tiba-tiba melompat maju menyerang mereka dengan sihir cakar angin, serangan itu berhasil mengenai mereka, tapi sepertinya tidak cukup kuat untuk melukai monster seperti naga.
Naga itu terlihat aneh bagiku, mereka sama sekali tidak peduli dengan apa pun yang Sira lakukan, entah karena terlalu percaya diri dengan kekuatannya atau karena ada alasan lain.
Mereka sempat melirik ke arah Sira, tapi kemudian kembali melihat ke arahku, naga itu terlihat acuh dengan Sira, tampaknya memang benar kalau akulah yang sedang diburu oleh mereka, benar-benar situasi yang sangat meresahkan.
"Apa kau tidak apa-apa Sira?"
"Ya tuan." Jawabnya.
"Sepertinya serangan itu kurang efektif untuk menghadapi mereka." Ucapku sambil menatap ke arah para monster naga.
"Sira aku punya satu rencana, apa kau bisa membantuku?"
"Rencana?"
"Apa kau bisa menggunakan sihir itu sekali lagi? bukan untuk melukai, tapi untuk menghalangi penglihatan mata mereka, sementara aku menyiapkan serangan lain untuk mengalahkan mereka, bagaimana?" Usulku pada Sira.
"Apa itu akan berhasil?"
"Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya."
Ssttt!!!
"Awas!!"
Duarr
Saat aku menjelaskan rencanaku beberapa bola api dan tombak bumi besar melesat dengan cepat ke arah kami beruntung aku masih sempat membuat tembok untuk menahan serangan itu.
Huhh... untung masih sempat, mereka mulai mendekat.
"Bersiaplah Sira!"
"Baik tuan."
Aku kemudian mengintip mereka dari balik dinding tanah yang kubuat untuk melihat pergerakan mereka lalu meminta Sira untuk bersiap membutakan penglihatan mereka walau hanya sebentar.
__ADS_1
Wushh Wushh
GRAAHHHHH!!!
Sira langsung melompat keluar dari dinding pelindung yang aku buat lalu melancarkan serangannya sama seperti yang aku perintahkan, naga itu mulai meraung-raung saat Sira menyerang karena pandangan mereka yang terganggu oleh serangan-serangan Sira, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini aku juga menyiapkan seranganku.
.
.
"Sekarang!!"
Sstt!!
Cling Cling
Aku melancarkan beberapa kristal es ke arah mereka seketika kristal itu meledak menjadi debu kristal yang bergemerlapan saat mengenai tubuh mereka, debu kabut yang berkilauan itu berfungsi untuk menutupi seluruh indra mereka penglihatan, penciuman, pendeteksi panas, dan pendengaran, satu-satunya yang bisa mereka rasakan mungkin adalah getaran, tapi tak perlu bergerak untuk menyerang mereka.
"Bagus, sekarang rencana selanjutnya, Sira menjauhlah!"
"Baik tuan!"
"Hu... hahhh... walaupun tidak membunuh mereka secara langsung, tapi cukup untuk melemahkan mereka."
DUARRRRR!!!
Setelah mendengar ucapanku Sira kemudian langsung mundur dan menjauh dari para naga itu, melihat Sira yang menjauh aku mengangkat tanganku lalu langsung menjatuhkan tombak langit dari atas kepala salah satu naga dan seketika itu juga tombak itu meledak dan menciptakan sebuah kawah besar di bawahnya.
Sudah kuduga, lagi pula serangan itu hanya sebagian kecil dari kekuatan aslinya, jika aku menggunakan kekuatan penuhnya mungkin tempat ini akan hancur dan akan memanggil naga yang lainnya untuk datang ke sini, kalau begitu.
Naga itu berhasil bertahan dari seranganku jadi aku berlari dan menusuk lehernya dengan cakarku, seketika saja naga itu mati dengan lubang besar dilehernya, sejauh ini belum ada yang tidak bisa kutembus dengan cakarku, jika tidak bisa dengan sihir maka lakukan saja dengan fisik hehehe.
"Tinggal satu lagi."
Naga yang tersisa adalah naga kedua yang datang setelah naga pertama, dia lebih kuat dari naga yang pertama, naga itu terpisah cukup jauh karena ledakan itu.
"Sekarang bagaimana tuan?" tanya Sira.
Rencana yang lama tidak akan berguna lagi, dia pasti sudah belajar dari pengalamannya.
"Aghh!!" kepalaku semakin berputar, aku harus menyelesaikannya dengan cepat.
[ Wind prison ]
Aku memenjarakan naga itu dalam penjara angin dan menekan tubuhnya di dalamnya, wind prison adalah sihir yang dapat memenjarakan sesuatu di dalam pelindung angin yang berbentuk seperti bola sepak, tapi sihir itu adalah sihir yang dapat meremukkan tubuh orang yang terperangkap di dalamnya semakin kecil bentuknya semakin terjepit pula orang yang terperangkap di dalamnya sampai orang itu mati karena terjepit dan kehabisan udara.
Serangan ini langsung berada dalam kendaliku, aku mengendalikannya dengan miniatur bola transparan yang ada di antara kedua belah tanganku, yang perlu aku lakukan hanya menekannya sekeras mungkin sampai orang/monster yang terperangkap mati.
KRAKK
GRAAHHHHHH...
Aku terus menekan bola transparan yang ada di tanganku sekecil-kecilnya sampai akhirnya kedua belah tanganku saling bertemu satu sama lainnya, naga itu sempat ingin lari dari penjara anginku, tapi aku terus menekannya sampai dia tidak bisa bergerak lagi, perlahan raungan naga itu semakin memudar dan akhirnya tidak terdengar lagi.
"Huh...huh...huh... berhasil..." ucapku terengah-engah.
Deg
"Agrrhhh!!!"
Kepalaku terasa semakin sakit padahal sebelumnya hanya sekedar pusing saja, sontak saja aku langsung pergi berlari tanpa mempedulikan Sira ataupun naga itu, aku berlari sekencang mungkin menabrak dinding dan apapun yang ada dihadapanku.
Bukan hanya kepalaku, tapi juga sekujur tubuhku terasa sangat sakit dan terasa sangat panas padahal seharusnya tempat ini sangat dingin.
.
.
.
Duarrr
Aku memukul dinding labirin yang ada di sampingku dengan sangat keras sampai-sampai dinding labirin itu berlubang cukup besar.
Melihat lobang itu aku langsung masuk ke dalamnya dan ternyata ada sebuah tempat tersembunyi di balik dinding itu dan juga ada danau besar di dalamnya, di dalam labirin memang terdapat banyak danau yang tersembunyi, tapi aku tidak mempedulikan itu aku langsung masuk ke dalam danau itu untuk mendinginkan tubuh dan kepalaku.
Saat kakiku menginjak air danau itu tiba-tiba airnya berubah menjadi es dan membentuk kristal-kristal bersinar di pinggiran danaunya seperti sarang burung, padahal aku tidak mengaktifkan sihir pembekuan.
BRUKKK
Tapi, aku tidak memiliki waktu untuk berpikir, aku langsung terjatuh dan terbaring lemas di tengah danau itu.
.
.
.
...
__ADS_1
Sakit?! panas! ada apa ini?! kenapa tubuhku terasa sakit ? di mana ini? di mana aku? apa yang terjadi? aku sendirian lagi?! kenapa?
"Kau tidak sendirian."
"Eh! siapa itu?"
"Aku? aku ini dirimu lohh."
Entah aku ada di mana tempat ini sangatlah gelap, kakiku bahkan tidak menyentuh tanah, aku seperti sedang melayang di suatu tempat, aku merangkul kakiku merasakan seluruh rasa sakit dari tubuhku, tiba-tiba aku mendengar suara perempuan berbicara di belakangku.
Saat aku berbalik untuk melihatnya, aku sangat kaget melihatnya dia sangat mirip denganku sewaktu aku masih menjadi manusia wajah itu, tatapannya, aku benci melihat itu semua, itu mengingatkanku pada sesuatu yang sangat ingin aku lupakan.
"Diriku? jangan bercanda.../
"Aku tidak bercanda, aku adalah dirimu, dirimu yang menderita yang penuh dengan rasa sakit, dirimu yang hanya tertawa dalam kesedihan, dirimu yang selalu berusaha untuk kuat dengan segala keterbatasan, aku adalah bagian dari jiwamu, perasaan yang berusaha kau tinggalkan dengan membohongi dirimu sendiri, aku adalah sejarah kelam dari kehidupan lamamu."
"Hentikan itu... kau bukan diriku, aku adalah aku jangan pernah mengaku-ngaku." Ucapku berusaha menyangkal perkataannya.
"Walaupun kita bisa mengulangi kehidupan, kita tetap saja akan menderita, mendapatkan kebahagiaan adalah hal yang mustahil bagi kita, seharusnya kau mengerti itu, tapi dengan bodohnya kau memilih untuk hidup kembali."
"Kubilang hentikan itu... kau bukan diriku."
"Kau marah? kau sedih? apa kau kesal? kita ini sama, pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang, dunia ini selalu saja membuat kita menderita, dewa itu juga tidak memberikan apa yang dia janjikan, dunia ini sangat kejam."
"Hiks... hiks... hentikan itu." Ucapku sambil merangkul erat kakiku.
"Kita tidak bisa menolak takdir menyedihkan ini, kenapa takdir kita selalu dipermainkan? kenapa?" ucapnya dengan berderai air mata.
"Pada akhirnya kehidupan menyedihkan itu akan kembali terulang.../
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi.../
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan untuk melawan takdir ini? kita sudah berusaha berjuang untuk mengubahnya, tapi tetap saja kita tak pernah mendapatkan, semua orang tertawa melihat penderitaan kita, para dewa itu pasti juga seperti itu, mereka.../
"Aku tidak peduli, aku akan terus berusaha walaupun akan lebih banyak lagi penderitaan yang menyakitkan yang akan kualami."
"Selalu saja seperti itu, tindakan itu hanya akan menyakiti diri kita lebih dari yang pernah kita alami."
"A-apa yang kau lakukan?"
"Tenang saja aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya akan kembali ke dalam dirimu agar kau ingat bahwa dunia ini tidak seindah yang kau pikirkan dan agar kau ingat tentang asal usulmu sendiri dan betapa menyedihkannya diri ini."
"T-tunggu!"
Dia kemudian memelukku dari belakang lalu menghilang masuk ke dalam tubuhku dan seketika rasa sakit yang kurasakan tiba-tiba menghilang bahkan rasanya sangat ringan.
...
"K-keras, sangat sempit di mana ini?"
Krakkkk
"Eh apa ini? ah! cahaya apa itu?"
krakkkk Krakkkk
"Eh! apa ini semacam cangkang telur?"
Aku kemudian memperbesar lobang itu dengan telunjukku sedikit demi sedikit berusaha untuk keluar dari cangkang ini.
"Bwahh... hehehe akhirnya aku keluar, hm... ternyata benar ini cangkang, tapi kenapa aku bisa masuk ke dalam cangkang?"
Aku kemudian merangkak pergi keluar dari tempat itu yang ternyata itu memang adalah sebuah cangkang telur.
"Hm... ada apa Sira?" ucapku sambil sedikit memiringkan kepalaku.
"E... A-A-anu maaf tuan, eh maksudnya nona, maaf atas kelancangan S-saya." Ucap Sira sambil menundukkan kepalanya.
Nona? dari mana dia tau kalau aku perempuan? tapi... kenapa Sira tampak lebih besar? seharusnya dia itu kecil kan?
"Eh! apa ini? tangan? kaki? wajah? tubu...h eh! aaaaaa!!!!"
Brussss
Aku sedikit bertanya-tanya kenapa Sira tau aku adalah seorang perempuan dan kenapa Sira tampak seakan membesar, perlahan aku duduk dan tak sengaja melihat sepasang tangan dan kaki manusia masih bingung dengan itu aku kemudian meraba-raba tubuh dan kepalaku.
Dan benar saja ternyata aku telah berubah menjadi seorang gadis, sontak saja aku langsung teriak dan mengeluarkan dinding Kristal tajam untuk menghalangi pandangan mata orang-orang, walaupun tidak ada orang di sini kecuali Sira.
Semua orang normal pasti bereaksi sama sepertiku, apa lagi jika kau sedang telanjang bulat tanpa sehelai pun baju ini memalukan benar-benar sangat memalukan.
"M-maaf nona, sekali lagi ma.../
"Carikan aku baju cepaattt!!!"
"B-baik tuan, eh! nona."
"Cepaatttt!!!!"
...~•~...
__ADS_1
...Bijaklah dalam membaca:v wkwk🤣 jangan lupa tinggalkan jejak anda👍🤣...