
"Emmm... teh ini sangat enak." Ucapku sambil meminum teh hangat.
Setelah selesai sarapan aku meneruskannya dengan meminum teh hangat di dalam gelas putih yang kecil, ini adalah pertama kalinya aku meminum teh setelah sekian lama aku hidup di dunia ini sebagai seekor monster.
"Hey Sira apa pedagang yang kau bilang itu akan melewati hutan ini lagi?" tanyaku padanya.
"Hm... entahlah nona."
"Ehhh! tapi pasti ada pedangan lainnya kan?"
"Ya sepertinya begitu, karena jalan itu adalah salah satu jalur perdagangan yang sering dilewati."
"Yoshh... kalau begitu ayo kita pergi ke sana Sira." Ucapku pada Sira.
Meminum teh itu membuatku ingin terus meminum dan menikmatinya, tapi sayangnya teh yang ada dihadapanku mungkin adalah yang terakhir jadi aku berfikir untuk membelinya dari pedagang yang kemarin Sira sebutkan, walaupun semangatku hampir hilang karena mengira pedangan itu tidak akan lewat hutan ini lagi, meskipun begitu aku tidak putus harapan karena pedagang itu tidak hanya ada satu di dunia ini.
"T-tapi nona harinya masih sangat pagi, mungkin tidak akan ada orang yang lewat di sana sepagi ini." Ucap Sira padaku.
"Ya... kalau begitu sekalian saja aku ingin jalan-jalan dulu di sekitar hutan ini Sira... tapi ada sesuatu yang ingin aku lakukan terlebih dahulu."
Dari kemarin aku hanya mandi satu kali, itu karena aku tidak punya banyak pakaian... tapi karena sekarang aku sudah ada beberapa gaun cadangan aku bisa mandi lebih dari itu hehehe...
"Em... yahh... kalau begitu tunggu aku di ruang tengah Sira."
"Baik nona."
Nona lagi... yah biarlah... "β’_β’
...*****...
"Hm... kenapa tidak ada? oh benar juga... handuk bulu itu ada di ruang tamu... hehehe."
"Eh! tunggu dulu... mungkin saja ada handuk di sini."
"Owh! ternyata ada!"
.
.
.
"Yahh... kalau begitu waktunya mandi..." ucapku sambil keluar dari kamar.
Selesai dengan teh hangatku aku kemudian pergi menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarku untuk mengambil handuk bulu cave bear, tapi bulu cave bear itu ada di ruang tamu karena sebelumnya aku melepaskannya di sana selepas mandi kemarin siang.
Dan untungnya aku memeriksa ulang isi lemari dan menemukan ada beberapa handuk putih di dalamnya, setelah menemukan itu aku kemudian langsung keluar kamar dan kembali menuruni anak tangga menuju ke arah dapur.
"Hm... a-aku akan memperbaiki dinding ini nanti... y-yahh tentunya setelah aku bisa menggunakan kekuatan sihirku lagi." Ucapku berjalan memasuki lubang di dinding dapur.
Sesampainya aku di dapur aku langsung pergi ke pemandian lewat lubang yang sebelumnya aku buat di dinding dapur, walaupun lubang dinding itu tampak lumayan mengganggu pemandangan, tapi tidak ada cara ke sana kecuali harus melubangi dinding itu.
Awalnya aku hanya ingin membuat pintu di dinding kamarku, tapi karena kamarku berada di lantai dua terlebih lagi aku tidak bisa menggunakan sihirku untuk membuat anak tangga di sana jadi itu tidak mungkin, dan juga mustahil untuk melubangi kamarku tanpa pintu.
.
.
"Baiklah... sudah selesai." Ucapku sambil meletakkan pakaianku di atas batu.
"Hm... air dingin atau air panas? hm... yoshh air dingin...! kemarin aku sudah mencoba yang panas hehehe."
Setelah masuk ke pemandian aku kemudian melepaskan gaun lalu melipat dan meletakkannya di atas batu, aku berdiri di antara kedua danau itu memilih air untuk mandi dan dengan sedikit pertimbangan aku kemudian memilih air danau yang dingin karena aku sudah mencoba air panas itu hehe.
"Wahh... airnya dingin, tapi ini sangat menyegarkan." Ucapku sambil mengambil air dengan tanganku.
.
.
"Ini sama seperti dulu... hanya saja tidak ada luka."
"Ahhh... aku suka kulitku yang lembut hehehe." Ucapku sambil tertawa kecil dengan terus mengelus kulit putihku.
Perlahan aku duduk di atas batu tepian lalu menceburkan kakiku di air danaunya setelah itu mengguyurkannya ke seluruh kakiku sampai di pahaku, selesai dengan kakiku aku kemudian membasahi rambutku lalu menyisirnya dengan jariku sedikit demi sedikit sampai semua helaian rambutku basah secara keseluruhan.
Seketika saja sensasi menyegarkan masuk dan muncul dari kakiku sampai ke seluruh tubuhku ketika aku menceburkan diriku berendam dalamnya dengan mengelus dan membelai lembut tubuhku dari ujung kaki sampai ujung rambutku, tidak lupa juga aku menggosok kedua sayap dan tandukku agar terlihat bersih dan berkilau, aku sangat suka dengan warna dan tekstur kulitku yang lembut dan tentunya tidak ada luka sama sekali.
Karena dulu aku sering membuat tubuhku terluka bahkan jika diingat-ingat tubuhku sebelum aku hidup di dunia ini penuh dengan luka, mulai dari kaki sampai kepala selalu ada luka yang terukir di tubuhku karena kebodohanku sendiri, dan karena itulah aku suka memanjakan diriku di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa aku dapatkan di dunia lamaku.
"Sepertinya sudah cukup dulu." Ucapku sambil perlahan memakai handuk.
Ada apa ini... sepertinya ada yang mengawasiku dari kemarin!? terlebih lagi auranya sangat tidak biasa.
Setelah cukup lama berendam dan menggosok tubuhku aku kemudian berdiri dan berjalan keluar dari danau dangkal itu sambil memasang melilitkan handuk di tubuhku dan juga rambutku, sebenarnya aku tidak ingin cepat-cepat keluar dari pemandian ini, tapi tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang mengawasiku dari dekat.
Anehnya aku sama sekali tidak bisa mengetahui di mana dia berdiri, walaupun auranya terlihat menyebar ke seluruh penjuru tempat ini, tapi aku bisa merasakan dia ada di suatu tempat di dekatku.
Tidak mungkin ada pengintip di tempat ini, tidak ada jalan lain selain lubang di dapur yang aku buat... siapapun dia pasti bukan orang yang bisa dianggap remeh.
"Huhh... awas saja kalau bisa menemukannya." Ucapku sambil mengambil pakaianku.
Aku kemudian memungut gaunku lalu mencucinya di tepian danau dangkal tempat aku mandi sebelumnya dan setelah membilasnya aku dengan cepat segera pergi dari tempat ini.
"Hm... itu wahh! ini stroberi yang waktu itu... emm... manisnya." Ucapku sambil menggigit buah manis itu.
Untuk sekarang sebaiknya aku bertingkah seperti biasa saja.
__ADS_1
Saat aku berjalan menuju lubang di dinding dapur aku melihat ada beberapa buah stroberi yang bergelantungan di pilar-pilar alami labirin dan langsung saja aku memetiknya lalu menggigit buah manis itu, sambil sedikit mengawasi keadaan sekitarku, karena tidak mungkin aku membiarkan ada seorang pengintip bisa hidup tenang setelah melakukan hal tercela seperti ini.
"Di sana!!"
Ssttt!
Duarr
"Akhirnya aku menemukanmu pengintip?!!" ucapku sambil mengepalkan tanganku berjalan ke arah danau air panas.
.
.
.
"Eh! tidak ada? cih! kemana kau dasar sialan?!!" ucapku dengan marah dan mengepalkan tangan.
...
"Hm... daun? apa mungkin hanya halusinasiku saja?"
Di saat aku menggigit buah itu dan mengawasi sekitarku tiba-tiba saja aku melihat ada seseorang yang sedang duduk berendam di sumber air panas di sebelah kiriku, tapi karena tertutup oleh uap air ditambah lagi jaraknya yang cukup jauh di belakang aku hanya bisa melihat samar-samar bayangannya saja.
Walaupun begitu dengan cepat aku melemparkan buah stroberi yang kumakan ke arahnya dan tepat mengenainya, tapi saat aku mendekati ke arahnya aku sama sekali tidak bisa menemukan siapa pun di sana, bahkan buah yang aku lemparkan sebelumnya hanya mengenai sebuah batu saja sampai retak dan berlubang.
Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja, aku kemudian kembali memperhatikan segala yang ada di sekelilingku untuk memastikannya, tapi sekali lagi tidak ada apa-apa di sini kecuali dedaunan yang berhamburan di atas air bahkan aku sudah tidak bisa lagi merasakan aura menggangu sebelumnya.
"Ya sudahlah... sebaiknya aku pergi saja." Ucapku sambil berjalan menuju dinding keluar dari pemandian.
...
"Ternyata dari jauh memang hanya sebuah batu, yahh... mungkin memang hanya halusinasiku saja." ucapku sambil menoleh ke belakang.
...........
"Emhh... sepertinya lilitan handuknya kurang kuat... yahh rambutku cukup panjang dan tebal sih." ucapku sambil melilit kembali rambutku.
.
.
"Nona Shea apa yang anda laku... kan..." ucap Sira perlahan terdiam.
"Hm... ada apa Sira?" ucapku sambil memperbaiki lilitan handuk di kepalaku.
Saat aku keluar dari pemandian tiba-tiba handuk yang melilit rambutku terjatuh dan rambutku yang masih basah juga ikut terurai kembali, aku kemudian melilitkan rambutku agar tidak berantakan lalu berjongkok dengan kedua lututku menyentuh lantai mengambil kembali handukku yang tergeletak di lantai dan kemudian membungkus lagi rambutku.
Saat sedang melilitkan handuk itu Sira muncul dari balik dinding dan sedikit bertanya padaku, tapi setelah itu Sira malah terdiam sambil menatapku tanpa berkata-kata, aku juga hanya terdiam sambil memperbaiki lilitan handuk rambutku melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Um... yahh terserah kau saja." Ucapku perlahan kembali berdiri.
Entah apa yang dipikirkannya setelah sempat sedikit terdiam dia kemudian pergi kembali ke ruang tamu tanpa berbicara sedikitpun, dan tanpa mempedulikan itu aku langsung berdiri dan berjalan pergi menaiki tangga menuju ke kamarku.
.
.
.
"Perlu sedikit waktu untuk mengeringkan ini jika tanpa sihir... yahh... tapi terlalu bergantung pada sihir bukalah hal yang bagus."
"Lagipula aku sudah terbiasa melakukan ini, tapi perlu waktu ekstra untuk mengeringkannya karena panjangnya dua kali lipat huhh... yahh... aku tidak perlu terburu-buru." Ucapku sambil terus berusaha mengeringkan rambutku.
Aku duduk di atas kasur dengan terus menggosok rambutku menggunakan handuk kering mencoba untuk mengeringkan rambutku yang basah secara manual, walaupun aku sudah terbiasa mengeringkan rambutku seperti ini saat masih di dunia lamaku, tapi cara ini terbilang cukup lama karena rambutku lebih panjang dari yang dulu saat aku masih menjadi manusia.
"Ahh... syukurlah sudah selesai walaupun tidak kering sempurna, tapi sisanya akanku keringkan di bawah sinar matahari."
"Baiklah... kalau begitu tinggal mengeringkan kedua sayap ini." ucapku sambil melipat sayapku ke depan.
...........
"Hm... aku pakai baju... owh! yang ini!"
Yahh tidak ada bedanya sih hehehe.
Selesai mengeringkan rambutku walau hanya setengah aku melanjutkannya dengan mengeringkan kedua sayapku yang masih basah kuyup menggosok-gosokkan handuk mengelap semua tetesan air yang tersisa di sana, dan setelah selesai dengan sayap-sayap itu aku kemudian berdiri lalu membuka pintu lemari untuk mencari pakaian, tapi sekali lagi semua pakaian itu terlihat sama dan tidak ada yang berbeda.
"Gaun ini sangat lembut." Ucapku sambil memakai gaunku.
.
.
"Anting... sudah, gelang pita lonceng... sudah... pita leher... tidak perlu sudah cukup dengan rantai." "β’_β’
"Yoshh semua sudah terlihat cantik hehehe." Ucapku sambil membolak-balikkan tubuh di depan cermin.
"Emmm... aroma gaun ini sangat wangi." Ucapku dengan gembira mencium aroma gaunku.
Setelah mendapatkan gaun yang cocok aku kemudian melepaskan handukku lalu menggantinya dengan gaun yang lembut dan wangi yang aku pilih di lemari, kemudian memakai kembali aksesoris sederhana yang kulepaskan sebelumnya aku juga memakai sepatu kristalku dan melilitkan pintanya sampai melilit betisku sebagai penahannya agar tidak terlepas.
Tap Tap Tap
"Emhh... yahh... mari mulai petualangan ini." ucapku sambil meregangkan tanganku ke atas.
Perlahan aku keluar dari kamar lalu berjalan menuruni anak tangga bersiap untuk memulai petualanganku untuk menjelajahi hutan dan juga bertemu dengan banyak orang.
__ADS_1
...πΉ*****πΉ...
...[ Frenya ] ekstra chapter....
"Wahh... airnya dingin, tapi ini sangat menyegarkan."
"Ya... ini sumber air ini benar-benar sangat menyegarkan hehehehe."
"Di tengah hutan dalam hari yang dingin ini memang sangat cocok berendam di air panas, tapi sepertinya kau lebih suka air yang dingin ya Shea." Ucapku sambil menatap ke arah Shea yang sedang mandi.
Karena aku masih ingin mengawasinya dari dekat aku kemudian pergi lagi ke dalam labirin atau tepatnya di dalam gua tersembunyi yang ada kolam air panas ini, aku bisa pergi ke mana pun selama ada tanaman yang tumbuh sekalipun itu di dalam labirin yang tersembunyi, dia benar-benar bisa mencari tempat yang bagus untuk bersantai.
Sambil berendam di dalam sumber air panas ini aku menyandarkan tubuhku sambil meletakkan tanganku di pipi kiriku dan sikuku di sebuah batu, aku mengawasi Shea yang sedang mandi dari balik bebatuan dan uap air dengan bersantai menikmati pemandian air panas ini.
"Aku sangat ingin membantumu mengelus tubuh mulus itu, tapi mungkin belum saatnya untukku muncul di hadapanmu."
"Aku harus memastikan apakah kau mengingat semuanya atau tidak, untuk sekarang aku akan mengawasimu dari balik rimbunnya hutan." Ucapku dengan memejamkan mata menikmati hangatnya sumber air panas ini.
Ssttt!
Duarr
"Wah wah kepalaku nyaris berlubang." Ucapku sambil berdiri di tepian.
...
"Akhirnya aku menemukanmu pengintip?!!" ucapnya dengan kesal.
"Pengintip? oww... kau tidak suka dilihat ya hehehehe... sebaiknya aku bersembunyi dulu."
.
.
Di saat aku menikmati hangatnya pemandian air panas ini tiba-tiba saja ada buah yang melayang hampir mengenai kepalaku untungnya aku langsung berteleport ke tepian menghindari buah itu, yang ternyata buah itu dilempar oleh Shea padaku karena mengira bahwa aku adalah seorang pengintip, sifatnya benar-benar unik terkadang terlihat imut dan lucu, tapi bisa sangat sensitif terhadap sesuatu.
Melihat Shea yang datang menghampiriku aku dengan cepat berteleport dan bersembunyi di balik batu yang ada di danau air di sebelahnya dengan menekan dan juga menyembunyikan auraku.
"Eh! tidak ada? cih! kemana kau dasar sialan?!!" ucapnya dengan marah dan mengepalkan tangan.
.
.
"Hm... daun? apa mungkin hanya halusinasiku saja?" ucapnya mulai kebingungan.
"Hehehehe... kau sangat imut Shea maaf mengganggumu ya." Ucapku sambil tertawa kecil melihat tingkahnya.
Dengan kesal dan mengepalkan tangannya Shea datang ke tempatku bersandar sebelumnya berusaha mencariku, tapi karena aku menyembunyikan diriku dia tidak mungkin bisa menemukanku walaupun aku berada sangat dekat dengannya.
Shea mungkin bukan tipe orang yang suka dilihat oleh orang lain jika dalam privasinya walaupun oleh sesama wanita, apalagi jika aku sama sekali tidak menunjukkan diri di hadapannya jadi wajar saja dia tampak sangat marah, tapi Shea terlihat sangat manis dan imut ketika sedang marah.
"Ya sudahlah... sebaiknya aku pergi saja." Ucapnya sambil berjalan menuju dinding keluar dari pemandian.
.
.
.
"Ternyata dari jauh memang hanya sebuah batu, yahh... mungkin memang hanya halusinasiku saja."
"Tidak kusangka di balik sifat manismu itu kau juga bisa marah dengan hal kecil, yahh... di balik lembutnya seseorang ada naga yang tertidur, hm... ternyata airnya memang sangat menyegarkan." Ucapku sambil berendam di danau dingin.
Setelah Shea pergi aku kemudian kembali berendam di dalam danau ini dan sesuai dengan ucapannya danau dangkal ini sangat menyegarkan, rasa dingin langsung menusuk dan mengalir ke seluruh tubuh aku mulai berendam di dalamnya dan juga dengan suasana alami dari labirin ini benar-benar tempat yang bagus untuk bersantai.
...........
"Dalam suasana seperti ini harus dinikmati dengan minuman yang sepadan." Ucapku sambil menuangkan anggur ke dalam gelas kaca.
Sambil duduk bersandar menikmati pemandangan danau di dalam labirin ini aku membuka jalur teleport mengambil botol anggur di rumah pohonku kemudian menuangkannya ke dalam gelas kaca lalu mengangkatnya menutupi cahaya dari kristal yang bersinar di langit-langit labirin.
"Hm... aku pakai baju... owh! yang ini!"
.
.
"Gaun ini sangat lembut." Ucap Shea sambil memakai gaun itu.
"Aku senang kalau kau menyukainya." Ucapku tersenyum sambil menatap gelas anggur
Shea tampak sangat senang dengan hadiah gaun yang kuberikan kepadanya tadi malam, ekspresi wajah senangannya tergambar sangat jelas dari senyumannya ketika dia mengenakan gaun itu, melihat dia seperti itu membuatku merasa senang karena hadiah itu cocok untuknya.
"Yoshh semua sudah terlihat cantik hehehe." Ucapnya sambil membalik-balikkan tubuh di depan cermin.
"Emmm... aroma gaun ini sangat wangi."
"Yahh... tentu saja, dengan sedikit ekstrak wangi dari serbuk bunga aku yakin kau akan menyukainya... karena begitulah aromamu yang kucium."
"Kau sangat menarik... karena itulah aku menyukai kepribadianmu ini, tapi..."
"Apa yang terjadi denganmu? kenapa kau sangat lemah? padahal kau adalah orang terkuat yang pernah aku temui." Ucapku sambil bersandar meminum anggur.
...π₯*****π₯...
...πJangan lupa dukungannya π...
__ADS_1