I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 55: Golem


__ADS_3

"Woahh!!! ini menakjubkan!" ucapku dengan kagum.


Aku sangat senang dan kagum dengan lingkaran teleport itu, dulu aku sama sekali tidak bisa menggunakannya, tapi sekarang aku dapat dengan mudah berteleport dengan lingkaran itu dan rasanya juga cukup menyenangkan hehehe.


Hm... aku mengenali tempat ini kalau tidak salah jalannya ada di sebelah sana... tidak kusangka ada jalur teleport di dekat sini, yahh ini sangat membantu.


"Anda mau kemana nona?" tanya Sira.


"Kalau tidak salah dulu saat aku menggunakan sihir penglihatan jarak jauh aku melihat tempat yang bagus dari arah sana dan juga ada mulut gua pintu keluar labirin di tempat itu." Jawabku sambil berjalan.


Setelah sedikit mengingat-ingat aku kemudian berjalan ke arah kanan karena setahuku di depan jalanan itu ada dua jalur yang mengarah ke tempat tujuanku.


Sira sempat bertanya padaku karena aku yang tiba-tiba berjalan, dia mungkin merasa khawatir denganku atau mungkin lebih ke rasa penasaran, yahh Sira memang selalu seperti itu.


Tempat ini sepertinya jarang di datangi manusia, bahkan monster juga tidak terlihat... dan keheningan ini... pasti ada sesuatu di sini aku tidak boleh lengah.


Sambil berjalan aku mengamati sekitar dan tidak mengurangi kewaspadaanku kalau-kalau ada monster yang akan menyerang karena tempat ini terasa sedikit mencurigakan dengan kesunyiannya.


...


"Ah itu dia." Ucapku pelan.


Setelah cukup lama berjalan aku akhirnya menemukan jalanan bercabang yang kucari, tanpa berlama-lama aku langsung memasuki jalur kanan dengan yakin, karena memang aku sudah hafal arah jalannya.


"Huhh... gelap seandainya aku bisa menggunakan kekuatanku."


Jalanan ini cukup minim pencahayaan mengingat di sini hanya terdapat sedikit kristal sihir, jika aku bisa menggunakan kekuatanku mungkin aku akan menjadikan jalanan ini terang benderang, tapi itu tidak mungkin.


Brukkk


"Eh! suara apa itu?! hm... batu merah apa itu?"


"Ehh!!! b-b-batunya bergerak!? huhh... tenanglah... aku harus tenang." ucapku kaget dan kebingungan sambil berusaha menenangkan diriku.


"Hup!! dapat!"


Saat aku berjalan tiba-tiba terdengar suara bebatuan yang berjatuhan dan juga terlihat bergerak menggelinding ke sana-kemari melewatiku menuju ke arah batu merah kecil seukuran telapak tangan batu merah itu juga tampak memancarkan cahaya.


Sontak saja itu membuatku sangat terkejut, setelah sedikit menenangkan pikiranku aku kemudian langsung menangkap salah satu batu yang lewat di samping kakiku untuk melihatnya lebih jelas.


"Jadi apa yang membuat batu ini bergerak." Ucapku sambil menatap batu itu.


"Hm... tidak ada yang aneh, ini hanya batu biasa, tapi kenapa ya?"


Aku melihat setiap bagian dari batu itu, tapi itu murni hanya batu biasa tidak ada tanda-tanda makhluk hidup yang mengendalikannya, sulit dipercaya batu itu berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang menggerakkannya.


Kenapa tekanan udara disekitarku terasa berbeda padahal tadi biasa-biasa saja.


"Biar kutebak... ehhhhh!!!! a-a-apa itu?!!" ucapku dengan kaget sambil menatap ke atas.


Duarrr!!!


"Huhh... apa-apaan golem itu." Ucapku sambil terbang.


Secara tiba-tiba aku merasakan ada perbedaan tekanan udara di sekitarku ditambah lagi dengan tubuhku yang terasa merinding seperti merasakan ada bahaya yang mendekat.


Dengan perlahan aku melihat ke atas untuk memastikannya dan benar saja ada monster golem yang berdiri tegak setinggi 15 meter dan langsung menyerangku dengan tangan batunya melihat serangan itu aku langsung mengibaskan sayapku dan terbang ke atas untuk menghindarinya.


"Sira apa kau baik-baik saja? Sira? ah dia tidak ada... kemana dia?! auranya keberadaan berada cukup jauh dari sini, apa yang dilakukannya?"


Shutt! Shutt!


Duarrr


"Yahh apa boleh buat, aku harus melawan monster golem ini sendirian... tunggu di sini ya bunga hehe."


Sira sama sekali tidak menjawabku saat aku memanggilnya bahkan aku tidak bisa merasakan keberadaannya di dekatku, auranya tertinggal cukup jauh di belakang, saat aku memikirkan semua itu raksasa golem malah melemparkan batu-batu besar ke arahku dengan tangan besarnya, tapi aku dapat menghindarinya dengan mudah.


"Haaaa!!!"


Duarrr!!!


"Jadi bagaimana?" ucapku pada golem itu.


Wusss!!!

__ADS_1


Setelah meletakkan vas bungaku cukup jauh aku kemudian melesat dengan cepat ke arah kepala golem itu lalu menendangnya dengan sangat keras sampai hancur berantakan, tapi dengan cepat kepalanya kembali tumbuh dan langsung mengibaskan tangannya yang besar itu untuk menyerangku untungnya serangan itu cukup lambat jadi aku masih bisa menghindarinya.


"Ehhhh!!! hey! itu curang!! kau seharusnya sudah mati tau! mati... tidak bergerak lagi... ahh... aku payah... kalau begitu rasakan ini!! haa!!!"


.


.


.


"Ini cukup menyakitkan."


Sepertinya dia menggunakan sihir penguat untuk menambah kekuatan batu itu, walaupun sebenarnya itu tidak cukup untuk menahan seranganku, aku bisa saja menggunakan serangan beruntun sekali lagi sampai dia benar-benar hancur tapi...


"Aghhh!! tidak ada gunanya, ini malah membuat tangan dan kakiku terasa sakit, menyebalkan!"


Aku benar-benar seperti orang gila mengoceh dan marah-marah pada monster yang jelas tidak mungkin bisa memahami ucapanku, karena kesal aku kemudian melancarkan serangan secara beruntun ke arah raksasa golem itu.


Tapi tetap saja berapa kali pun aku memukulnya sampai hancur dia terus beregenerasi dengan cepat menumbuhkan bagian-bagian tubuhnya yang hancur dan malahan tangan dan kakiku yang terasa sakit bahkan sampai memerah karena terus-terusan memukulnya, melihat itu membuatku semakin kesal dan ingin ********** menjadi tumpukan kerikil.


"Sekarang bagaimana caranya aku mengalahkannya?" ucapku sambil mengamatinya dari udara.


"Hm... apa itu? eh!! bukankah itu... owhh... jadi begitu ya, itu kelemahannya, tapi letaknya sangat dalam, apa aku perlu melakukan serangan beruntun lagi? tidak tidak tanganku sudah cukup tergores hari ini."


Setelah mengamati setiap bagian tubuh golem itu aku melihat ada batu bersinar di antara retakan-retakan pada tubuhnya sebelum dia menutupnya saat beregenerasi, selain bentuk dan warnanya yang berbeda aku juga merasa kekuatan sihir terpancar dari batu itu yang membuatku yakin kalau itu adalah jantung dari monster golem itu.


Tapi sayangnya batu itu berada tepat di tengah tubuhnya dan tertutup oleh bebatuan yang sangat keras dan tebal ditambah dengan sihir penguat yang digunakan oleh raksasa golem itu jadi cukup sulit untukku menembusnya terlebih lagi tanganku sedang mati rasa karena melancarkan serangan beruntun sebelumnya dan juga aku tidak ingin menggores kulitku memukuli batu itu walaupun aku bisa menyembuhkannya dengan mudah, tapi sekali tidak tetap tidak dan tidak akan pernah lagi.


Shutt!!


"Seandainya aku bisa menggunakan sihir, aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk mengalahkannya." Ucapku sambil terbang.


Shutt!!


"Tunggu dulu... aku tidak pernah mencoba menggunakannya jadi itu bisa saja belum tentu benar..."


Shutt!!


"Owhh!! mungkin itu cuma ancaman saja agar aku tidak menggunakan kekuatanku."


"Woy!!! bisa jangan ganggu aku saat sedang berpikir!!?" Bentakku pada raksasa golem.


Golem itu terus-menerus melempariku dengan bebatuan besar, tapi tak ada satupun yang bisa mengenaiku, aku bergeser ke kiri dan ke kanan menghindari setiap lemparan batunya, lama-kelamaan itu mulai membuatku merasa semakin kesal dengannya, dia seperti orang yang tidak mempunyai pekerjaan yang melempari batu ke sungai dengan membosankan benar-benar menyebalkan.


"Aghhh!!!! kau benar-benar membuatku kesal... rasakan ini!!"


Krakkkk


Duarrr


"Ehh! bukannya itu sihir tombak biru milikku? ternyata aku memang masih bisa menggunakan sihir." Ucapku sambil menatap telapak tanganku.


Aku benar-benar kesal sampai-sampai tanpa kusadari aku telah menggunakan sihir tombak api biru ke arah golem itu dan menghancurkan tubuhnya serta tepat mengenai batu merah itu, seketika saja raksasa golem itu hancur dan tidak beregenerasi lagi.


Satu hal yang masih membuatku bingung adalah aku yang benar-benar masih bisa menggunakan sihir walaupun masih ada rantai sihir yang mengikat leherku.


"Jadi apa orang itu hanya berbohong untuk menggertakku?" sambungku sambil kembali turun ke bawah.


"Ya sudahlah... sebaiknya aku mencari Sira."


Krekk


"Apa ini? t-tengkorak!" ucapku dengan kaget.


Saat aku berjalan tiba-tiba kakiku tersandung oleh sesuatu, perlahan aku menatap ke bawah untuk memeriksanya dan ternyata yang menyandung kakiku itu adalah tulang kaki dari mayat seseorang bukan hanya satu, tapi ada banyak tulang-belulang di sini, jumlah mereka kurang lebih ada 27 orang dan semuanya telah menjadi tengkorak.


"Sepertinya mereka adalah petualang yang menjelajahi tempat ini dan mereka tidak selamat." Ucapku sambil duduk menatap ke kepala tengkorak itu.


"Aku kagum denganmu kau berjuang sampai akhir melindungi teman-temanmu... tapi sudah cukup... kau sudah bebas jadi lepaskanlah beban ini dan beristirahatlah dengan tenang." Ucapku sambil memegang tangan dari tengkorak itu.


Tengkorak yang ada di hadapanku saat ini terbilang masih utuh dan dia meninggal dalam keadaan bersandar sambil melindungi seseorang yang ada di belakangnya yang tampaknya adalah seorang perempuan dengan tanpa melepaskan genggaman dan juga pedangnya sama sekali.


Perlahan aku memegang tangannya yang berpegangan sangat erat pada pedangnya dan perlahan juga pedang itu mulai terlepas dari tangannya.


"Aku akan membuatkan tempat peristirahatan untuk kalian, bukan hanya kalian berdua tapi juga mereka."

__ADS_1


.


.


.


"Arghhh!!! panas! a-ada apa ini?! leher...ku?" jeritku sambil memegang leherku.


Aku kemudian menggunakan sihir bumi membuat lubang-lubang untuk mengistirahatkan para tengkorak itu, tapi baru satu lubang yang selesai kubuat leherku terasa sakit dan panas, sontak saja aku hampir tersungkur ke tanah karena itu, aku kemudian membuka syalku dan ternyata rasa sakit itu memang berasal dari rantai sihir yang ada di leherku.


"Huh huh huh... s-sepertinya aku tidak bisa membuat banyak lubang... a-apa yang sebenarnya terjadi?" Ucapku sambil mengatur nafasku.


Rantai itu benar-benar sakit walaupun tidak sesakit saat pertama aku dipakaikan rantai ini yang sebelumnya membuatku pingsan, aku masih dapat mengatasinya.


"Kenapa harus disaat seperti ini? aku masih belum menyelesaikannya." Ucapku sedikit murung.


"Kalau begitu ini hanya untuk mereka berdua saja... maafkan aku karena tidak bisa sekaligus membuatnya untuk kalian semua."


...


Aku kemudian perlahan berdiri sambil memegangi leherku berjalan ke arah dua tengkorak yang bersandar itu, mengingat tangan mereka saling menggenggam satu sama lain dan tidak bisa dilepaskan aku memasukkan mereka berdua ke dalam lubang yang sama agar tidak terpisahkan.


"Beristirahatlah dengan tenang, jiwa kalian akan selalu bersama dan tidak akan terpisahkan."


"Apa yang anda lakukan di sini nona?" tanya Sira padaku.


Sira tiba-tiba muncul di dekatku dan sedikit mengagetkanku suaranya kecilnya yang tiba-tiba benar-benar memecah keheningan yang ada di sini dan itu membuatku merasa lebih baik, yah merasa lebih baik karena aku tidak perlu repot-repot mencarinya, dia sudah datang ke hadapanku.


"Sira... dari mana saja kau?" ucapku balik bertanya.


"Tadi saya sedikit tersesat nona." Jawabnya sambil naik ke atas batu di sampingku.


"Ooh... yahh lupakan saja, bisa kau bantu aku menggali lubang?"


"Menggali lubang? untuk apa nona?" tanya Sira kebingungan.


"Lihat... ya... aku memang tidak mengenal mereka, tapi aku ingin mereka mendapatkan pemakaman yang lebih layak, sebagaimana yang seharusnya." jawabku sambil menatap dan menunjuk ke arah para tengkorak.


Sira tampak kebingungan saat aku memintanya untuk menggali lubang, jadi aku memperlihatkan padanya semua tengkorak yang ada di sini sambil menjelaskan keinginanku untuk menguburkan mereka dengan layak dan mendapatkan peristirahatan yang seharusnya.


"Anda baik-baik saja nona? anda terlihat kurang sehat." tanya Sira.


Sepertinya Sira menyadari kondisiku...


"Yahh aku baik-baik saja, ini mungkin karena tadi aku menggali lubang." Jawabku pada Sira.


Alih-alih menatap ke arah tengkorak itu Sira malah menatap ke arahku, bukan dengan dengan tatapan keheranan karena permintaan aneh dariku, tapi tatapan kekhawatiran seolah mengetahui kondisiku yang sedang kurang baik.


Dengan masih menahan rasa sakit di leherku aku sedikit beralasan bahwa ini karena aku yang menggali lubang secara manual dengan tanganku, untungnya aku menutupi leherku dengan syal jika tidak dia pasti menyadarinya karena leherku yang tampak memerah, aku tidak ingin membuatnya merasa khawatir denganku.


"Kalau begitu biar saya bantu nona."


Sira kemudian berubah menjadi harimau besar dan menggali lubang secara berdampingan sesuai dengan jumlah yang diperlukan lalu mengangkat satu-persatu tengkorak dan kemudian dimasukkan ke dalam lubang-lubang itu untuk dikuburkan.


"Sudah selesai nona." Ucap Sira sambil kembali berubah menjadi harimau kecil.


"Ya terima kasih Sira." Sahutku berterima kasih.


Dewi berikanlah kehangatan pada jiwa-jiwa mereka yang bersedih dan jangan pisahkan mereka yang saling berpegangan tangan dan saling melindungi untuk rasa cinta dan kasih sayang.


...


"Terima kasih banyak karena telah membantu kami."


"Kalian tidak perlu berterima kasih, sekarang kalian bebas dan bisa beristirahat dengan tenang."


"Sekali lagi terima kasih banyak."


...


Aku kemudian berdoa untuk semua orang yang meninggal di tempat ini dan seketika bermunculan bola putih bersinar yang berubah menjadi manusia dan ada yang menjadi ras manusia hewan dari atas makam mereka mungkin hanya aku yang bisa melihatnya karena Sira sama sekali tidak menunjukkan reaksi bisa melihat mereka.


Dari makam dua orang pertama sang laki-laki berterima kasih padaku sementara gadis kucing itu dan yang lainnya hanya tersenyum ke arahku dengan senyuman kebebasan mereka benar-benar terlihat senang dan perlahan terbang menghilang seperti hantu, sebelum benar-benar menghilang mereka sempat melambaikan tangan kepadaku melihat itu aku pun tersenyum ke arah mereka sampai akhirnya mereka menghilang.


Jadi begitu ya... jiwa mereka tidak tenang karena ada masalah yang belum terselesaikan dan masalah mereka adalah golem itu... semoga kalian bahagia di dunia yang berbeda.

__ADS_1


...~•~...


__ADS_2