
"Pergilah kapten, kami akan mengurus orang-orang ini!" ucap salah seorang prajurit.
"Wah wah wah! dasar prajurit rendahan, kau pikir bisa mengalahkanku?!" ujar orang itu yang ternyata adalah seorang komandan pasukan khusus kerajaan bernama Juan.
"Bukan hanya mereka yang akan melawanmu, tapi juga aku!" ucap ayah.
"Pergilah,Goro! yang di sini biar kami yang mengurusnya, terlebih lagi aku tak bisa membiarkan orang ini pergi dengan selamat, akan sangat berbahaya jika orang ini melaporkan rencana penyelamatan putri pada Orfist." Lanjut ayah.
"Baik ayah! aku pergi." Sahutku.
Aku segera pergi meninggalkan ayah dan para prajurit itu untuk menjemput Putri dan raja, keadaan ini jelas tak bisa di remehkan, saat ini nyawa putri sedang terancam.
Tapi, bagaimana cara untuk masuk ke istana? jika aku masuk dengan cara biasa seolah tak terjadi apa-apa itu sangat mustahil, para prajurit Orfist telah berjaga dengan sangat ketat.
Gawat ini sangat gawat, penjagaannya semakin ketat mungkin karena mereka sudah mengetahui bahwa rencananya sudah terbongkar..
Duarrrr!!!!
"Ayah!"
Aku dapat mendengar suara pertarungan ayah dari sini, dia pasti lawan yang sangat kuat, tapi pertarungan brutal seperti itu bukan gaya bertarung ayah semua ledakan itu seperti disegaja.
.
.
.
jadi begitu, terima kasih ayah, aku akan segera membawa putri pergi ke tempat yang aman.
Aku segera masuk ke dalam istana melewati pintu belakang dengan mengendap-endap, penjagaan di belakang ternyata tidak seketat di depan istana.
"Sebaiknya kau menyerah saja, Goro." Ujar seseorang dari balik tembok.
"A-a...!"
perlahan dia keluar dari balik tembok, kedatangannya yang tiba-tiba sangat membuatku terkejut, kemunculannya benar-benar tidak bisa ku deteksi siapa dia? aku pernah mendengar suara itu.
"Ha...! Greis! kenapa?!" ucapku dengan kaget.
"Kenapa? hahaha... tentu saja karena orang itu tidak pantas untuk memimpin, yang pantas untuk memimpin kerajaan ini hanyalah tuan Orfist, kerajaan ini tidak pantas di pimpin oleh orang lemah seperti itu." Jelas Greis.
"Apa-apaan itu...! yang diperlukan dalam kepemimpinan adalah pemimpin yang adil, baik hati, bijak dalam mengambil keputusan dan mementingkan kepentingan rakyat, bukan hanya dengan kekuatan, kekuatan memang diperlukan tapi tidak bisa memenuhi keinginan rakyat." Sahutku membantah perkataannya.
"Keadilan, kepentingan rakyat! hahahaha... jangan membuatku tertawa! kau harus tau aku tidak pernah merasakan itu semua dari kepemimpinannya, yang kurasakan hanyalah sebuah penderitaan! keluargaku terusir hanya karena satu kesalahan, apa itu yang namanya keadilan!"
Sedikit demi sedikit Greis berjalan ke arahku, aku pun langsung memasang kuda-kuda bertarung untuk mencegah terjadinya kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Tenanglah Goro, ini cuma sandiwara." Ucapnya dengan pelan.
"Apa maksudmu?!"
Greis mendekatkan mulutnya ke telingaku dan perlahan berbisik dengan sangat pelan.
"Orfist bukanlah orang yang bodoh yang meninggalkan sesuatu tanpa pengawasan." Lanjutnya dengan berbisik.
"Apa aku bisa mempercayaimu?!" tanyaku padanya dengan ragu.
"Kau boleh tidak percaya denganku, tapi pergilah ke pintu taman samping istana bersama putri Roha, cuma itu satu-satunya jalur aman tanpa ada pengawasan dari bawahan Orfist." Ujar Greis meyakinkan ku.
"Lalu bagaimana dengan raja?" tanyaku dengan khawatir.
"Mengenai hal itu... aku mohon maaf... raja telah meninggal beberapa saat yang lalu." Sahutnya.
Aku sangat terkejut dengan kabar ini raja Erfrid telah meninggal, ini kabar yang buruk sekarang putri pasti sangat terpukul dengan kejadian ini.
"Orang seperti raja Erfrid tidak pantas untuk menjadi raja! dia hanya bicara mengatasnamakan keadilan dan kepentingan rakyat tanpa ada bukti yang nyata dan jelas, semua ucapannya hanyalah kebohongan belaka." Ujar Greis dengan suara lantang.
Greis tetap mempertahankan sandiwaranya agar tidak ada yang curiga dengan percakapan yang kami lakukan, dia juga memberi isyarat kepadaku agar bersiap untuk menerima serangan.
"Hey Goro... aku akan memberimu dua pilihan, menyerah dan bergabung dengan kami di bawah kepemimpinan Orfist atau mati dengan mengenaskan bersama dengan pemimpin payahmu itu..." Ucapnya mengajakku bergabung.
__ADS_1
"Tentunya kau akan diberikan jabatan kekuasaan dan harta yang berlimpah jika kau setuju untuk bergabung." Lanjutnya.
"Perlu kau ketahui Greis, aku sudah memilih tuan yang akan kulayani dan jelas itu bukan orang licik seperti Orfist, harga diri keluargaku tidak bisa dibeli dengan harga, jabatan dan kekuasaan." Sahutku dengan lantang.
"Jadi begitu ya... sangat disayangkan! padahal kemampuanmu akan sangat berguna untuk tuan Orfist." Ujarnya dengan nada kecewa.
Sstttt!!!
Brukkkk!!
Dia menendangku dengan keras sampai-sampai aku terlempar beberapa meter ke belakang.
**Ssttttt!!
Sling**!
Aku kemudian bangkit dan menyerangnya dengan pedang yang kumiliki, tapi dengan sigap dia menghindar dari seranganku, tak putus asa aku kembali menyerangnya dengan tebasan beruntun, tapi sekali lagi dia menghindarinya dengan sangat mudah.
Greis adalah senior ku saat masih dalam pelatihan pasukan elit khusus, jujur saja dia lebih kuat dari ku terutama dalam hal kelincahan.
Dia kemudian melancarkan serangan tinju ke arah kepalaku dengan cepat aku menghindar dan memblokir serangannya.
Shittt!!
Setelah beberapa kali menghindar dan terkena serangannya aku berhasil menemukan celah kelemahannya dan langsung menebasnya, tapi tak perlu khawatir itu bukan serangan fatal walau begitu tetap saja itu akan terasa sangat sakit.
Dia sendiri yang memberikan celah itu jadi jangan salahkah aku, jika saja dia bertarung dengan serius maka tak mungkin aku bisa mengalahkannya, bahkan untuk mengenainya saja sudah sangat mustahil.
"Pergilah Goro, selamatkan lah Putri Roha..." ucapnya sambil terbaring di tanah.
"Tentu!" sahutku.
"Bagaimana dengan dirimu?" tanyaku padanya.
"Tak perlu khawatir, aku akan istirahat sebentar setelah itu akan menyusul kalian." Jawabnya.
"Jaga dirimu baik-baik sahabatku!" lanjutnya.
"Aku yang seharusnya mengatakan itu." Ucapku kepadanya.
"Hiks! hiks! ayah..."
Dari depan pintu aku mendengar suara tangisnya yang sangat sedih, putri Roha benar-benar terpukul dengan kematian raja.
"Putri! kita harus pergi dari sini." Ucapku padanya.
Putri masih tak menghiraukan ucapanku, kesedihannya sangatlah dalam, tentu saja karena satu-satunya orang tua yang dia miliki sekarang telah tiada, aku bisa memahami hal itu.
"Putri!"
Aku memanggilnya dan menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.
"Putri kita harus pergi dari sini, keadaan istana sekarang sedang tidak stabil." Ucapku meyakinkannya.
"Tapi..."
"Putri!! keselamatan anda adalah hal yang terpenting saat ini!" ucapku menyela ucapannya.
"Aku tau itu Goro, aku bisa mendengar suara pertarungan di luar sana! tapi aku tidak bisa meninggalkan ayah di sini, setidaknya biarkan aku mati di sampingnya..." ucapnya dengan sedih.
"Sadarlah putri! anda adalah satu-satunya harapan raja Erfrid dan ratu Clayria untuk memimpin negeri ini, anda harus hidup untuk meneruskan perjuangan mereka!" ucapku untuk menyadarkannya.
.
.
.
"Harapan? apa aku yang lemah ini bisa melakukannya? aku tidak sepandai ayahku dalam memimpin aku juga tidak sekuat dirimu dalam bertarung, apa aku memang bisa disebut sebagai harapan?!" ucap putri sedikit putus asa.
"Kepandaian itu datang dari pengalaman, kekuatan itu datang dari perasaan, anda tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa memimpin yang harus anda lakukan adalah menjadi diri anda sendiri, menjadi ratu yang akan memimpin kerajaan ini dengan kebaikan hati anda, seiring berjalannya waktu anda pasti bisa melakukannya, anda tidak perlu khawatir." Ucapku meyakinkannya.
__ADS_1
"Benarkah itu?"
"Tentu saja putri, saya akan menemani anda untuk mencapai itu semua, jadi tetaplah menjadi diri anda dan tetaplah menjadi harapan bagi raja dan ratu, dan seluruh rakyat kerajaan Amonia."
"Baiklah... terima kasih, Goro."
Putri pun bersedia untuk pergi denganku menyelamatkan diri, tapi sebelum itu aku mempersilahkannya untuk memberikan salam terakhir untuk sang ayah raja Erfrid.
"Mari putri!"
Aku kemudian menggendong putri dan pergi menuju pintu taman samping menggunakan skill acceleration setelah melewati beberapa belokan kami sampai di depan gerbang keluar taman.
Di luar gerbang sudah ada seekor kuda menunggu kami, rupanya apa yang dikatakan oleh Greis itu benar, aku langsung menaikkan putri Roha ke atas kuda, putri duduk di depanku sedangkan aku duduk di belakangnya untuk melindunginya dari serangan kalau-kalau ada yang menyerang.
"Itu dia!!! jangan biarkan putri lolos!!"
Sial ada prajurit yang mengetahui keberadaan kami, sontak aku langsung memacu kuda dengan cepat untuk menghindari konflik dengan pasukan penghianat.
Mendengar teriakan rekannya pasukan penghianat lainnya segera berkumpul dan melancarkan serangannya anak panah ke arah kami.
"Tetaplah menunduk putri!" ucapku pada putri.
Aku meminta putri untuk tetap menunduk agar tidak ada serangan yang mengenainya.
Merasa gagal merekapun mengejar kami dengan berlari dan ada sebagian prajurit yang menunggangi kuda.
Kami masih belum keluar dari ibu kota, aku terus memacu kudaku melewati setiap Jalan baik itu jalanan sempit atau jalanan yang sering di lalui orang-orang, anehnya aku tidak bisa melihat satupun orang yang berkeliaran di sekitar jalan kecuali para prajurit yang mengejar kami.
Mungkin mereka tau bahwa sedang terjadi kudeta di ibu kota sehingga mereka memilih untuk tetap diam bersembunyi di dalam rumah.
"Kejar mereka!!! jangan biarkan mereka lolos!!" ucap penunggang kuda yang paling depan.
"Di sana!!" ucap segerombolan orang yang ada di depan kami.
"Serang!!!!!"
"Gawat!!"
Ada puluhan orang yang menghadang kami dari depan, ini berbahaya di gang ini tidak ada belokan ataupun tikungan untuk menghindarinya satu-satunya cara adalah dengan menerobos barisan orang-orang itu.
"Serang!!!!!!"
"Aaghhhhh!!!!!"
"Aaagghhhhh!!!!"
"Eh...!"
seketika aku menghentikan kudaku ketika melihat orang-orang itu membelah barisan untuk membiarkan kami lewat, apa yang terjadi?
"Ada apa ini? Goro." Ucap putri.
"Entahlah putri." Sahutku.
tampaknya putri juga kebingungan dengan ini, siapa orang-orang ini?
"Silahkan lewat putri, biar kami yang melawan mereka!" ucap seseorang pada kami.
"Siapa kalian?" tanya putri.
"Kami petualang dari guild Armain, kami diperintahkan oleh guild master untuk menjaga keamanan anda sampai anda berhasil keluar dari ibu kota." Jelasnya.
"Guild master? jadi begitu baiklah." Ucapku padanya.
"Pergilah ke depan gang itu, di sana sudah ada beberapa party petualang yang menunggu anda." Lanjutnya.
"Baiklah... terima kasih atas bantuannya."
"Dengan senang hati, putri."
Kami langsung pergi menuju depan gang yang disebutkan oleh petualang itu dan benar saja ada kurang lebih sekitar 30 orang menunggu kami.
__ADS_1
...~•~...
[ Note: Chapter ini masih menggunakan Perspektif Goro ]