
"Ada apa ini?! seperti ada sesuatu yang ingin mengambil alih pikiranku."
Samar-samar warna merah menutupi penglihatanku, rasanya seperti ada sesuatu yang bergejolak dan akan mengambil alih pikiranku.
Pikiranku dipenuhi oleh emosi kemarahan yang meluap-luap, aku bahkan tak sadar dengan apa yang sedang kulakukan ini buruk.
"Tak boleh! ini tidak boleh! aku harus sadar! ini berbahaya! aku harus pergi!" ucapku sambil memegangi kepalaku.
Aku kemudian bergegas masuk ke dalam labirin untuk menenangkan diriku dan kembali mengambil alih pikiranku.
Groaahhhhhh!!! Groaahhhhhh!!!
Rasanya aku seperti hampir gila berteriak-teriak tidak jelas dan memukuli setiap monster, bebatuan dan dinding labirin secara membabi buta.
"Tuan!"
Eh siapa itu? aku belum bisa melihat orang itu dengan jelas, pandanganku masih terhalang oleh warna merah.
"Tuan!!" ucapnya sekali lagi.
"Siapa?!"
Aku berusaha untuk melihatnya lebih jelas, dia kecil, putih, bertaring dan ada empat kaki, siapa dia? aku merasa pernah melihatnya.
"I-ini saya tuan! monster yang anda pangil sebelumnya!" ucapnya dengan keras.
Monster panggilan? benar juga sebelumnya aku memanggil seekor monster harimau untuk mengawal rombongan gadis itu, ingatanku masih agak kabur tapi aku mengingat sebagiannya.
"Jadi begitu..."
Kepalaku terasa agak sakit, aku masih berusaha untuk melawan pikiran jahat ini agar tidak mengendalikan ku.
"Saya ingin melaporkan tentang orang-orang itu." Ujarnya padaku.
"Aaaa!! kita pergi dulu dari sini!" ucapku padanya.
"Apa anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya... hanya sedikit pusing!" ucapku sambil memegang kepala.
"Ayo pergi... aku ingin istirahat." Lanjutku padanya.
"Baik tuan." Sahutnya.
Aku kemudian berlari dengan kencang dan kadang juga melompat pergi menuju ke rumahku yang ada di lantai delapan, aku tidak tau apakah harimau itu dapat mengikuti ku atau tidak, aku harus sampai ke rumah.
Aku harus cepat!
Sekarang kepalaku terasa sangat berat dan sakit apa-apaan ini apa yang terjadi?
Brukkkk!!!
Setelah berlari cukup lama aku sampai di rumahku lantai delapan dan langsung terjatuh terbaring dengan kepala yang hampir pecah.
"Aaghhhhh!!!"
Aku berteriak sangat keras, perlahan rasa sakit itu berubah menjadi rasa kantuk yang sulit untuk ditahan kepalaku benar-benar terasa berat dan ingin tidur, serius apa yang terjadi padaku?
Sebelumnya kepalaku dipenuhi oleh amarah yang menjadi-jadi kemudian rasa sakit yang teramat sakit dan sekarang aku diterjang oleh rasa kantuk secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Tak perlu dipikirkan... aku... ingin ti...dur!"
.
.
.
.
.
Aku mulai tertidur dengan pulas berbaring di dekat danau kecil di sampingku.
"Tuan..."
"Tuan..."
Samar-samar aku mendengar suara orang memanggilku, perlahan aku membuka mataku untuk melihatnya.
"Tuan apa anda baik-baik saja." Ucapnya padaku.
"Uahhh... selamat pagi..." ucapku dengan lemas karena mengantuk.
"Eh...! siapa?!" lanjutku dengan sedikit bingung.
"A-ano... saya Sira monster yang anda panggil tempo hari." Jawabnya sedikit terbata-bata.
"Tempo hari?! Oowhh benar juga...! bagaimana keadaan gadis kecil dan rombongannya itu?" tanyaku padanya.
"Mereka semua berhasil saya antar pulang dengan selamat." Jawabnya.
"Tapi, kenapa aku ada di sini ya? seingatku aku sedang mencari kalian sambil berkunjung ke tempat teman lamaku, hmm... apa kau tau kenapa aku ada di sini?" lanjutku bertanya kepadanya dengan kebingungan.
"Eh...! apa anda benar-benar tidak bisa mengingatnya?" sahutnya balik bertanya.
"T-tidak aku tidak bisa ingat apa-apa." Jawabku sedikit terbata-bata.
"Apa kau bisa menceritakannya? apa yang sebenarnya terjadi!?" lanjutku.
"A-ahh ya... tentu tuan! kemarin anda seperti sedang tidak bisa mengendalikan diri anda, anda mengamuk dan berteriak-teriak tidak jelas memukuli setiap monster dan bebatuan di labirin, sebelumnya akhirnya terjatuh dan tertidur di tempat ini."
Dia perlahan menceritakan tentang apa yang terjadi sebelumnya, aku benar-benar tidak bisa mengingat itu, apa aku memang seperti itu?
a-aku seperti orang gila saja...
"E-eh...! a-apa aku melukaimu?" tanyaku sedikit khawatir.
"Tenang saja tuan saya baik-baik saja." Jawabnya dengan tenang.
"Ahhh... syukurlah! kupikir aku telah menyakitimu." Ucapku dengan lega.
Yahh aku sangat lega karena tidak melukainya karena jika aku melukainya aku pasti akan sangat menyesal, kenapa begitu? ya karena dia adalah satu-satunya orang maksudku monster yang bisa kuajak bicara.
Entah berapa lama aku hidup di labirin ini tidak ada satupun orang atau monster yang bisa kuajak bicara atau mengobrol satu sama lain, itu sedikit menyedihkan, hidupku terasa sangat hampa tanpa ada teman untuk berbagi cerita, benar-benar menyedihkan bukan?
"Ano... ngomong-ngomong apa kau memang sekecil itu?" tanyaku padanya.
"E-eh...! yaa saya rasa memang seperti ini apa adanya."
__ADS_1
Tubuhnya terlihat sangat kecil bahkan tak sampai ukuran pergelangan tanganku.
"Ehhhhh...! benarkah!?"
Hmm... kalau dilihat-lihat apa tubuhku sedikit membesar dari biasanya?!
Aku kemudian memunculkan sebuah kristal es
dengan tinggi yang sama denganku untuk mengukur tinggi badanku.
"Eh...! ehhhhh...!"
Yup benar saja bukan hanya besar tubuhku tapi juga tinggi badanku semuanya mengalami perubahan, mungkin sekarang tinggi badanku sekitar 35 meter hampir dua kali lipat dari tinggi badanku yang sebelumnya.
Ini aneh padahal baru beberapa hari yang lalu aku mengukurnya, aku sangat yakin kalau tinggi badanku hanya sekitar 20 meter.
(jika berdiri dengan empat kaki)
"Ini sulit dipercaya..." ucapku meragukannya.
"B-begini tuan... saya juga berpikir bahwa tubuh anda mamang lebih tinggi dan lebih besar dari yang sebelumnya." Ujar Sira padaku.
"Ah... aku harus diet!" ucapku agak kecewa.
Kriuk kriuk
"Lupakan saja! waktunya makan!"
"Hey Sira apa kau juga mau makan?" tanyaku padanya.
"Y-ya... jika anda tidak keberatan." Sahutnya.
Aku kemudian pergi mengambil daging kepiting yang dulu aku tinggalkan di tempat ini.
"Hmm... dagingnya masih bagus." Ucapku sambil memeriksa daging kepiting itu.
"Baiklah... saatnya memanggang!"
Aku langsung memanggang daging itu setelah selesai memeriksa kelayakan dan kondisinya, jika dagingnya busuk tak mungkin aku memakannya kan.
"Ini untukmu... silahkan dimakan!" ucapku padanya dengan menghidangkan daging kepiting bakar.
"Selamat maka...n!"
"Ano... tuan, saya rasa ini terlalu banyak dan besar untuk ukuran sarapan pagi." Ucapnya sambil memandangi daging besar di depannya.
Kalau dilihat-lihat daging itu sepuluh kali lipat lebih besar dari tubuhnya, kurasa itu terlalu banyak untuknya.
"Maaf ya... hehe."
Aku kemudian mengambil kembali daging dengan porsi yang sesuai dengan tubuhnya dan menghidangkannya.
"Apa itu sudah sesuai?" tanyaku padanya.
"Y-ya... ini sudah cukup, maaf merepotkan tuan." Jawabnya.
"Tak masalah, aku suka punya teman untuk makan bersama."
Kami langsung memakan daging itu secara bersama-sama dan bersemangat, ini adalah momen yang menyenangkan.
__ADS_1
...~•~...