
"Melindungi ya..."
Kurasa bukan hanya monster yang akan agresif jika ingin melindungi sesuatu yang berharga, tapi semua makhluk hidup yang ada di dunia ini pasti juga akan seperti itu, aku pun pasti akan bertindak seperti itu.
"Tapi apa yang ingin dia lindungi? tidak ada apa-apa di sini." tanyaku pada Sira.
"Entahlah nona... tidak banyak yang saya tau tentang monster ini."
"Jadi, apa yang sedang dia lindungi?" ucapku sambil menatap ke arah kura-kura itu.
Aku bisa memahami perasaannya yang ingin melindungi sesuatu, setiap orang pasti akan melindungi sesuatu yang sangat berharga baginya lebih dari dirinya sendiri, tapi satu hal yang membuatku sedikit bingung adalah tidak ada hal yang berharga yang bisa kulihat di tempat ini hanya ada pepohonan, rerumputan, danau, dan gunung yang jauh di depanku.
"Mungkin dia ingin melindungi wilayah kekuasaannya... atau mungkin dia merasa terancam dengan sesuatu." Jawab Sira menatapku.
" ... "
"A-ada apa nona?"
"Oi Sira! apa aku terlihat mengancam bagimu?!"
Dengan sedikit menurunkan wajahku aku menatap Sira sambil bertolak pinggang dan dengan sedikit kesal bertanya padanya.
"Sangat." Ucap Sira pelan sambil memalingkan wajahnya.
"Hah! apa yang kau katakan?!" ucapku sambil menatap dekat wajah Sira.
"T-tidak nona b-bukan apa-apa he he hehehe."
Monster besar itu masih terkapar di tanah dan belum bisa bergerak sama sekali suara nafasnya terdengar sangat jelas di telingaku, sambil menatap kura-kura itu aku sedikit berbincang-bincang dengan Sira sambil memikirkan kembali tentang keadaannya.
Dan entah kenapa saat Sira mengatakan kata terancam dia malah menatap ke arahku seolah-olah aku adalah orang yang mengancam di tempat ini, aku bisa menerima bahwa kura-kura itu ingin melindungi wilayahnya, tapi kata seterusnya dan ekspresinya saat mengatakan itu membuatku sedikit tersinggung.
"Hmph!"
Apa yang dilindunginya? apa memang hanya karena terancam? duh! a-aku tidak bisa berpikir ini benar-benar sangat sakit!
Sambil memalingkan wajahku dari Sira aku berusaha untuk menahan rasa sakit yang dari tadi menggerogoti tubuhku, aku melipat tanganku dan dengan erat mencengkeramnya sampai-sampai tanganku sedikit berdarah karena cakaran dari kuku tajamku sendiri.
Aku memang terlihat sedang marah padanya, tapi itu hanya sekedar peralihan agar Sira tidak menaruh curiga padaku.
"Apa anda baik-baik saja?" tanya Sira.
"I-iyahh... aku baik-baik saja." Jawabku.
"Apa anda yakin? anda berkeringat sangat banyak nona." Lanjut Sira sedikit khawatir.
"Apa aku terlihat mencurigakan?!" tanyaku sambil sedikit menatap tajam.
"T-tidak nona... maaf meragukan anda nona."
Aku mungkin bisa menyangkal rasa sakitku, tapi tubuhku tidak bisa berbohong dengan apa yang kurasakan saat ini aku bahkan hampir tidak bisa bergerak, setiap kali aku bergerak saat itu juga rasa sakitnya akan semakin jelas terasa.
Aku merasa sedikit bersalah pada Sira karena tindakanku ini dia tampak sangat khawatir padaku, tapi aku malah membohonginya dan juga marah padanya.
"Tak masalah Sira, aku sangat sehat dan segar bugar hahahaha." Ucapku melipat tanganku sambil tertawa lepas.
Krik krik krik krik
" ... "
"A... ha ha... yahh...! kalau begitu bagaimana jika kita sembuhkan dulu kura-kura ini hehehe." Ucapku sambil menepuk-nepuk kepala kura-kura itu.
__ADS_1
Aaa! ini memalukan... huhh tenangkan dirimu... sebaiknya aku mengobati kura-kura ini.
"Heal."
Yahh itu kata-kata dari game sih hehehe.
Tanpa berlama-lama lagi aku menyentuh moncong kepalanya kemudian menggunakan sihir penyembuhan pada kura-kura itu, cukup hanya aku yang merasa sakit di tempat ini lagi pula aku masih sanggup menggunakan kekuatan sihirku, jadi sekalian saja aku mengobatinya.
Dan juga aku ingin tau apa yang sebenarnya sedang monster itu lindungi sampai-sampai dia menyerangku, walaupun aku tau semua monster pasti akan menyerang siapa pun yang ada di hadapannya, tapi monster ini tampak sangat berbeda terutama dari segi penjelasan Sira sebelumnya.
"Yoshh... selesai, sekarang tinggal menunggu dia bangun." Ucapku sambil mengusap kepala kura-kura itu.
"Hm... kira-kira bagaimana keadaan naga-naga itu ya... ahh... ini melelahkan..."
Dan juga sangat menyakitkan.
Selesai mengobati monster itu aku sedikit mengelus-elusnya lalu duduk bersandar di kepalanya yang besar itu sambil berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, suara nafas dari kura-kura itu sudah terdengar lebih tenang dari sebelumnya dan sekilas saat melihatnya mengingatkanku kepada para naga saat aku mengobati mereka di dimensi ruangku.
"Huh huh huh... panas!" ucapku terengah-engah.
"Heal... ah... tidak berguna... tidak ada perubahan sama sekali." Ucapku pelan sambil berusaha untuk mengobati rasa sakitku.
Ah... ini gawat, seharusnya aku lebih berhati-hati lagi.
Suhu tubuhku terasa meningkat membuat jantungku berdetak sangat cepat di bawah sinar matahari yang sangat terik membakar kulitku ditambah dengan keringat yang bercucuran membasahi bajuku.
Aku benar-benar kesulitan untuk menggerakkan tubuhku lemas dan mati rasa seluruh tubuhku benar-benar dikuasai rasa sakit, bahkan sihir penyembuhan tidak berguna padaku.
"Ini nona." Ucap Sira sambil menyerahkan botol kaca berisi minuman.
"Terima kasih Si.../."
...
"Tidak masalah nona... saya masih punya banyak." Ucap Sira sambil mengeluarkan satu peti minuman dari ruang penyimpanannya.
Sira datang menghampiriku sambil membawa dan memberikan sebotol minuman padaku langsung saja aku menerima itu karena memang aku sedang memerlukan minuman untuk tenggorokanku yang terasa kering, tapi saat aku meraih botol minuman itu aku tidak sengaja menjatuhkannya.
Jari-jari tanganku terlalu mati rasa untuk memegang sesuatu, Sira bahkan tampak sangat terheran-heran ketika melihatku, tapi aku membalas keheranannya itu dengan sedikit senyuman untuk mengurangi keheranannya.
"Ini nona silahkan minum."
"Terima kasih Sira."
Hm... susu?
Karena tidak ingin menjatuhkan minumanku untuk yang kedua kalinya aku kemudian meraih minuman itu dengan menggunakan kedua tanganku, Sira terlihat hanya mengangguk kecil padaku saat aku mengucap terima kasih padanya, masih tampak ada rasa heran dari dalam pandangan Sira ke arahku itu hak yang wajar untuk kondisi seperti ini.
"Eh! tunggu dulu... bukannya semua makanan sudah diinjak kura-kura ini?" tanyaku sambil menatap Sira.
"Saat pertama kali kura-kura itu menyerang saya sempat mengambil dan memasukkan peti berisi minuman ke dimensi penyimpanan nona." Jelas Sira.
"Oh jadi begitu... hahh... kupikir aku akan kehilangan semuanya."
...
"Whaahh! ini sangat manis, dari mana kau dapat ini Sira?"
Setelah berhasil mengambil botol air itu aku kemudian langsung meminum habis air yang ada di dalamnya dan sesuai dugaan itu memang air susu, rasanya benar-benar sangat manis bahkan masih menyisakan rasa di lidah dan tenggorokanku.
Aku sempat sedikit kebingungan dengan air itu karena sebelumnya aku melihat pohon dan semua makananku telah diinjak oleh monster kura-kura itu, tapi ternyata Sira telah mengamankan peti air susu itu sesaat setelah kura-Kura itu melakukan serangan pertamanya.
__ADS_1
"Saya membelinya dari pedagang yang kebetulan sedang lewat nona."
Pedagang? mungkin aku bisa mendapatkan barang-barang dapur dari sana.
"Owh! Sira apa pedagang itu masih ada di sekitar sini?"
"S-sepertinya dia sudah pergi nona, lagi pun jalanan tempatnya sangat jauh dari sini."
"Ehh! padahal aku ingin beli sesuatu... huhh..."
"Apa boleh buat... lain kali saja." Ucapku pelan tidak bersemangat.
Seketika saja aku langsung terlihat bersemangat ketika mendengar kata pedagang keluar dari mulut Sira karena aku tau para pedagang pasti memiliki barang yang kuinginkan, terutama aku ingin membeli beberapa barang dan bahan-bahan dapur untuk memasak sesuatu, tapi semangatku langsung luntur karena pedagang itu yang sudah pergi dan keinginanku hanya menjadi sebuah angan-angan.
"Tenang saja nona, masih ada waktu di lain hari."
"Ya... aku pikir juga begitu..."
.
.
.
"Eh! aku tertidur... wah! dia sudah bangun."
"Selamat sore nona." Ucap Sira menyapaku.
Karena kelelahan dan juga sakitku tak kunjung menghilang aku perlahan tertidur sambil bersandar pada kepala kura-kura raksasa itu, entah berapa lama aku tertidur aku merasakan ada getaran yang cukup besar dari tempatku bersandar dan ternyata itu adalah monster kura-kura yang mencoba untuk bangkit kembali.
"Ya... maaf ya Sira... aku malah tertidur." Ucapku sambil sedikit tersenyum pada Sira.
"Tidak masalah nona, lagi pula anda memang perlu istirahat." Sahut Sira.
Saat aku bangun matahari sudah mulai tenggelam dan menyisakan cahaya langit jingga di antara daun-daun pepohonan, masih sambil duduk aku menatap ke arahnya kalau-kalau monster kura-kura itu masih ingin menyerangku.
"Sepertinya dia sudah tidak berniat lagi untuk menyerang kita." Lanjut Sira sambil menatap kura-kura itu.
"Sepertinya memang begitu."
Kura-kura itu terlihat sangat indah dengan banyak kristal yang menyinari langit senja, kura-kura itu hanya menatap ke arahku tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang.
Deg
"Nona!"
...
K-kenapa... masih belum hilang?
Saat aku ingin berdiri tiba-tiba kakiku terasa lemas dan tidak sanggup untuk berdiri seketika itu aku langsung terjatuh dengan lututku karena tidak bisa menopang berat tubuhku, aku menggenggam erat tanganku di dadaku sambil merasakan sakit yang kurasakan saat ini.
Blepp
"Eh! apa ini?!" ucapku sambil menatap ke atas melihat kepala kura-kura itu.
"Hilang?! bagaimana bisa?!" Ucapku pelan melihat kedua telapak tanganku.
Di saat aku tertunduk karena rasa sakit di seluruh tubuhku tiba-tiba ada setetes air yang jauh ke atas kepalaku, lebih tepatnya setetes yang besar air karena hampir seluruh tubuhku langsung basah karena itu dan entah kenapa seketika itu juga rasa sakit yang kurasakan langsung menghilang tak tersisa.
Langsung saja aku menatap ke atas untuk mencari asal tetesan air itu dan ternyata itu berasal dari mata kura-kura itu, dialah yang telah meneteskan air matanya ke atas kepalaku dan menghilangkan seluruh rasa sakitku saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih."
...🌹~•~🌹...