I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 11: Monster


__ADS_3

Setelah dengan penuh perjuangan aku berhasil melarikan diri dari induk laba-laba besar, aku memutuskan untuk masuk lebih dalam ke lantai labirin dan menjelajahinya untuk menjadi lebih kuat agar aku bisa mengalahkan musuh-musuhku dan agar aku tidak tertindas lagi di labirin yang kejam ini.


Entah berapa lama aku berjalan dan bertanggung melawan setiap monster yang kutemui, aku selalu terluka dan kesakitan, tapi rasa sakit dalam pertarungan adalah hal yang biasa jika aku tidak siap untuk rasa sakit mungkin aku tidak akan memilih untuk bertarung dan menjadi lebih kuat.


Dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya kekuatanku yang bertambah tetapi juga ukuran tubuhku yang menjadi lebih besar bahkan lebih besar dari kebanyakan monster yang aku temui.


"Hm... apa aku menjadi semakin gendut? tidak tidak... jika dilihat lebih jelas ini ukuran ini normal untuk seekor naga, tapi ukuran tubuh naga itu berapa ya?." Ucapku sambil bercermin pada kristal es.


"Dewasa? sepertinya aku masih belum sedewasa itu." Lanjutku.


Sekarang tubuhku sudah tumbuh sangat tinggi dan besar mungkin kurang lebih setinggi 20 meter itu pun jika aku berdiri dengan empat kakiku dan tentunya bisa lebih jika dengan dua kaki saja walaupun aku bilang kaki, tapi sejujurnya kaki depanku lebih mirip seperti sebuah tangan yang ditutupi oleh sisik dan juga cakar.


Dan tentunya ada dua tanduk runcing yang tumbuh di atas kepalaku dengan warna hitam kebiruan benar-benar sangat identik dengan naga.


"Yoshh... sudah cukup dengan bentuk tubuh, waktunya mencari makan." Ucapku sambil berjalan berbalik.


[Eyes of vision]


Seperti biasa aku selalu menggunakan penglihatan jarak jauhku untuk mengintai mangsa yang bisa dimakan walaupun aku selalu memakan apa yang kulihat tanpa ada halangan hehehe memilih-milih makanan itu tidak baik.


"Oooh... disana tampaknya ada sesuatu yang bisa dimakan." Ucapku dengan semangat.


Cukup lama aku mengawasi keadaan mangsaku akhirnya aku melihat ada sesuatu yang bergerak di dalam lava panas yang membara, meskipun aku tidak yakin ada makhluk hidup yang bisa bertahan di tempat sepanas ini apalagi itu di dalam aliran magma yang sangat panas.


"Yahh... biarku lihat saja secara langsung, jika itu bisa dimakan akan tinggal kupancing saja dia keluar." Ucapku sambil berjalan menuju tempat itu.


Tanpa menunda-nunda lagi aku dengan segera pergi menuju ke tempat itu yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari tempatku berdiri saat ini, tapi semakin aku mendekat semakin panas hawa disekitarku dan itu cukup menyiksa.


"Ahh... panasnya, sulit dipercaya ada yang bisa bertahan hidup ditempat seperti ini, bahkan daging yang dibawa ke sini akan langsung menjadi daging panggang tanpa harus bersusah-payah untuk menyalakan bara." Ucapku sambil mengusap keringatku yang bercucuran.


"Ahhh... akhirnya sampai juga, rasanya semakin panas saja, jika aku tidak menggunakan sihir untuk mendinginkan tubuhku aku pasti akan menjadi naga panggang." Ucapku masih sedikit lemas kepanasan.


Setelah cukup lama berjuang berjalan di antara panasnya lava dan dengan keringat yang bercucuran meskipun aku tidak yakin ada naga yang bisa berkeringat, aku akhirnya sampai di tempat sungai lava panas itu meskipun keadaanku semakin tampak seperti kepiting yang sedang dikukus.


Dinding dan langit-langit labirin terlihat sangat merah karena ada pantulan warna dari lava yang mengalir, bahkan jika tidak karena menggunakan sihir pendinginan aku tidak yakin bisa bertahan di tempat ini, setiap kali aku berjalan selalu ada asap yang keluar di bawah telapak kakiku dan itu cukup meresahkan.


"Hmmm... jadi di mana monster itu?" ucapku sambil memandangi lava panas di depanku.


Brussss!!!


"Woaahhhh... itu dia! itu monsternya, bersiaplah jadi makan siangku, hehehe." Kataku dengan tawa jahat.

__ADS_1


"Waaaa!!! panas! panas! panas!" teriakku kepanasan.


Ketika aku menatap dan mengawasi lava di depanku tiba-tiba saja ada seekor monster yang melompat keluar dari dalam lava itu, tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku langsung berusaha untuk meraihnya dengan tanganku, tapi saat ingin menjangkau monster itu tanganku tidak sengaja tercebur dan menyentuh aliran lava panas yang membara sontak saja itu membuatku menjerit kepanasan sambil mengibas-ngibaskan tanganku berusaha untuk menghilangkan rasa sakitnya.


"Hm... bagaimana caranya ya? monster itu selalu ada di dalam aliran lava ini... huhh... menyebalkan!" ucapku memikirkan cara untuk menangkap monster itu.


"Hmm... sebaiknya aku mengamati pergerakannya dulu, setelah itu akanku pikirkan cara untuk menangkapnya." Lanjutku.


Brusss!!!


Sstttt!!!


"Eh!!"


Brukkk!!


"A-aduh... sakit!" ucapku terjatuh kesakitan.


Disaat aku mengamati aliran lava tiba-tiba monster itu melompat dan menyerangku untungnya refleksku cukup bagus untuk sebuah serangan kejutan aku langsung mundur menghindarinya, tapi sayangnya karena pijakan yang kurang baik aku terpeleset lalu terjatuh dengan cukup kasar dan itu cukup menyakitkan.


"Duh!!! awas kau monster sialan!" ucapku dengan marah.


Aku kembali mengamati monster itu sekali lagi, untuk memastikan berapa lama monster itu bisa bertahan dalam aliran lava, karena sekuat apapun orang menyelam pasti akan muncul ke permukaan.


Brussss!!!


"Woaa...!"


Monster itu kembali muncul dan mencoba untuk menyerangku sekali lagi, tapi dengan gesit aku menghindarinya, aku tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


"Akhirnya aku mengetahui rahasiamu dasar monster sialan." Ucapku dengan yakin.


Sepertinya monster itu dapat bertahan di dalam lava sekitar 40 menit dan setelah 40 menit berlalu dia akan keluar dari aliran lava untuk bernafas sebelum akhirnya kembali lagi menyelam ke dalam lava panas itu, sepandai-pandainya ikan menyelam pasti akan muncul ke permukaan dan di saat itulah dia akanku jadikan sebagai santapanku hehehe.


"Aku hanya perlu bersabar dan menghitung, setelah itu, hehehehe bersiaplah..." Ucapku dengan tawa yang mengerikan.


"Sekarang!" seruku.


Brussss!!!


"Waaaa!!! panaasss!!"

__ADS_1


"Cih! dasar monster brengsek, beraninya kau mempermainkanku, sudah cukup bermain-mainnya... waktunya untuk sedikit serius! rasakan ini monster brengsek." Ucapku dengan kesal.


Cling Cling


Saat aku ingin menangkap monster itu dan berhasil menggapai ekornya tiba-tiba saja tanganku dipenuhi oleh api yang berkobar, sontak saja aku langsung melepaskan peganganku pada ekor monster itu, dan karena kesal aku kemudian membekukan seluruh area tempat ini beserta dengan aliran lava panas itu, seketika saja tempat ini berubah menjadi lautan es yang sekarang terasa menjadi sangat dingin karena lava yang tadinya sangat panas sekarang berubah menjadi es yang sangat dingin.


"Rasakan itu monster payah! yeahhh... aku berhasil... hore!" ucapku kegirangan.


"Yahh... sudah cukup sorakan kita, waktunya menyantap hidangan utamanya hehehehe." Lanjutku.


Krakks!!


Aku kemudian membelah lava yang telah menjadi es itu untuk mengambil monster yang ada di dalamnya, mengalahkan monster ini sangatlah mudah, tapi kenapa aku tidak melakukannya sejak awal? mungkin karena kepalaku terasa hampir pecah akibat panas yang berlebih di tempat ini, sangat sulit berpikir jika dalam kondisi seperti ini, tapi sekarang itu hanya sekedar masa lalu karena aku sudah merubah suhu di tempat ini dan sisanya tinggal menyantap hidangannya hehe.


"Jadi ini wujudnya dari dekat! tampak seperti ikan channa? bukan! ikan aligator? hum, tapi memangnya ikan memiliki kaki?"


Sedikit mengamati wujud monster lava itu aku agak terkejut ketika melihatnya karena sangat jelas itu seperti keluarga ikan gabus hanya saja memiliki ukuran yang besar dan mulut yang panjang dengan taringnya yang setajam belati, walaupun aku bilang ikan jujur saja aku sekilas melihatnya seperti seekor aligator dengan tubuh agak bulat berisi dan sirip depan hampir menyerupai kaki berselaput.


"Y-yahh... tak perlu memikirkannya, waktunya makan." Ucapku tak peduli.


"Selamat makan." Lanjutku sambil menyantap monster ikan itu.


"Emm... enaknya..." ucapku keenakan.


"Um... kalau tak salah seharusnya tadi ada banyak monster seperti ini disini." ucapku sambil menatap ke sungai lava yang membeku.


"Woohhh...! ternyata ada sangat banyak monster di dalam es ini, yahh... dengan begini aku tidak perlu cari-cari makanan lagi untuk beberapa hari ke depan bahkan ini cukup untuk persediaan selama satu bulan hehehe." Ucapku dengan senang.


Tanpa berlama-lama aku langsung memakan monster ikan channa itu dengan lahap dan hanya menyisakan tulang-belulangnya saja, itu adalah pembalasan hehe.


Aku kemudian teringat dengan sisa monster yang ada di dalam lava itu juga, mengingat aku tidak hanya melihat satu monster ini saja, ada banyak monster lainnya yang juga ikut membeku di dalam esku.


"Yoshh... kalau begitu akanku jadikan area ini sebagai rumah baruku." Lanjutku penuh semangat.


Setelah cukup bulat dengan keputusanku aku kemudian menata setiap bagian dari area ini, seperti mencairkan es untuk membuat kolam minum, dan mengumpulkan setiap monster yang telah membeku dalam satu balok es yang sama.


Aku juga membuat sebuah kolam besar untuk berendam mengingat tubuhku yang cukup besar dan lagi aku tak mungkin minum di bekas air mandiku itu menjijikkan.


"Hoaahhh... Aku ngantuk, sebaiknya aku tidur, selama malam." Ucapku sambil berbaring.


[ Notes : Ini adalah tahun ketiga semenjak sang MC White Dragon terlahir ke dunia ini. ]

__ADS_1


__ADS_2