
"Eh! nona tunggu... aaa!!" ucap Sira sambil teriak.
Wusss...
.
.
.
Brukkkk
"A-aduh! sakit! a-aku harus lebih berhati-hati lagi."
Aku melesat sangat kencang sampai-sampai aku tidak bisa mengendalikan kecepatanku sendiri, bahkan aku ragu itu lari atau terbang, setelah beberapa saat kemudian aku malah menabrak dinding labirin dengan sangat keras sampai-sampai ada bekas retakan di dinding itu.
"Sira kau baik-baik saja? eh! tidak ada! Sira! Sira?!" panggilku dengan panik.
"Sira?!!"
Saat aku memegang kepalaku untuk melihat keadaan Sira aku sama sekali tidak bisa menemukannya, Sira tiba-tiba menghilang aku bahkan memanggilnya beberapa kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban darinya.
"Apa dia terlempar ke dalam sini? Sira? haloo?"
"S-saya di sini." sahut Sira.
Aku kemudian mencarinya di dalam lobang dinding yang tak sengaja terbentuk karena benturan keras sebelumnya, ternyata ada sebuah gua tersembunyi di baliknya dan benar saja Sira ada di dalam sana.
"Huhh... syukurlah, kupikir kau tertinggal jauh dibelakang, eh! Sira kau baik-baik saja?"
"Y-yah... hanya sedikit berputar..." ucap Sira sambil berusaha untuk berjalan.
"Sira!"
"T-tak masalah nona, hehehe bintangnya berputar hehehehe."
Oi...!! justru itu yang membuatku khawatir. •_•
Brukkk
Ah... sudah kuduga.
"Apa kau tidak apa-apa Sira?"
"H-hanya sedikit pusing dan... perlu sedikit istirahat..."
"Yahh... biarlah."
Tak seberapa lama setelah berjalan berputar-putar tak karuan Sira kembali terjatuh lagi, benturan itu pasti terasa sakit baginya, bagaimana tidak? jika kau menabrak dinding sekeras batu dengan kecepatan tinggi bahkan sampai membuatnya retak dan berlubang pasti sangat sakit.
"Hm... kira-kira apa yang ada di tempat ini?" ucapku sambil berjalan ke dalam gua ini.
"Gelap, yahh... kalau begitu mari buat gua ini seterang kristal bersinar."
[ Winter waves ]
Aku membuat gua ini terlihat berkilau dan terang dengan membekukan tanah dan juga membuat kristal-kristal penerangan di sudut-sudutnya, sangat berbeda dengan sebelumnya yang bahkan aku tidak bisa melihat kakiku sendiri.
Aku melihat ke arah luar di sana sangat gelap, tapi jika aku melihat ke dalam di sini sangatlah terang, dalam dan luar seperti siang dan malam, siapa yang melakukannya? itu adalah aku hehehe.
"Hm... apa ini? yahh... buang saja lah, lagipula itu hanya batu." Ucapku sambil memegang dan menatap ke batu kecil seukuran telapak tangan.
"Tapi, tunggu dulu... aku merasa tak asing dengan warna ini, tapi apa namanya ya? hm..." ucapku sambil memikirkan dan menatap jelas ke arah batu itu.
__ADS_1
Saat aku berjalan kakiku tiba-tiba tersandung batu untungnya aku tidak terjatuh karena itu, aku kemudian mengambil batu itu dan meliriknya sekilas lalu ingin membuangnya, tapi aku mengurungkannya karena aku merasa pernah melihatnya.
"Berat, berkilau, kuning... e...ma...s, emas? ehhh!!! emas?!!"
"Emas! d-di mana??" ucap Sira.
"Hey tadi kau bilang pusing dan perlu istirahat lalu kenapa kau terlihat baik-baik saja?"
"Tidak tidak hanya bercanda hehehehe." jawabnya.
Apa-apaan kau Sira...
Setelah mendengar kata emas Sira kembali sadar dan bagun dia bahkan terlihat lebih baik dan bersemangat dari biasanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"J-jadi di mana emasnya nona?" tanya Sira.
"Entahlah aku tidak yakin kalau ini emas." jawabku.
"Biar saya lihat nona."
"Hm... em... ya ya... meyakinkan." Ucap Sira sambil melirik ke batu itu.
Itu menjijikkan Sira, tapi dia imut hehehe.
"Ini benar-benar emas!! nona! ini emas!" ucapnya dengan bersemangat.
Aku memberikan batu pada Sira untuk memeriksanya dengan tangan kecilnya Sira memegang dan melihat sekeliling batu itu lalu mengendus-endusnya, menjilatnya dan juga mengunyahnya, aku merasa sedikit jijik melihat itu, tapi di sisi lain Sira terlihat imut saat melakukan itu.
"Kalau itu emas berarti..."
Ah... ya... semua yang ada di sini adalah emas.
Setelah beberapa saat Sira kemudian mengatakan kalau itu benar-benar emas, Sira mengatakannya dengan sangat bersemangat, melihat wajah imutnya yang bersemangat membuatku mengurangi rasa kagetku, jadi aku tidak terlalu terkejut lagi dengan kata emas walaupun setiap sudut gua ini penuh dengan batu mulia itu.
"Lihat di sana! di sini! itu juga! nona?!" ucap Sira.
.
.
.
"Ya... aku tau itu, tempat ini penuh dengan emas, mungkin juga ada beberapa perak." Ucapku sambil memegang batu lainnya yang berwarna silver berkilau.
"Hm... emas ya... owhh!!! benar juga, aku bisa membeli baju dengan ini, iyakan Sira?!!"
"Tentu saja nona bahkan lebih dari itu, anda bisa membeli tanah, rumah, kota, dan bahkan mungkin juga negara." ucap Sira dengan semangat.
"Jangan berlebihan Sira, aku tidak ingin yang lain."
"Apa anda yakin nona?"
"Apa aku terlihat meragukan?" ucapku sambil menatapnya.
"T-tidak nona."
"Tidak bukan ini yang aku inginkan, bukan untuk ini aku memilih untuk hidup." Ucapku pelan sambil menatap ke telapak tanganku yang memegang perak.
"Ada apa nona?"
"Bukan apa-apa." jawabku.
Mendengar ucapan Sira membuatku aku teringat akan tujuan hidupku yang dulu, jika aku menginginkan harga kekayaan aku pasti memilih untuk menjadi anak raja, tapi aku memilih tetap untuk menjadi orang yang sederhana walaupun kenyataannya aku tidak mendapatkannya, aku dibohongi oleh dewa itu dan menjadi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Rasaku terhadap emas benar-benar menghilang setelah mengingat semua itu.
"Yahh... aku akan tetap membawa beberapa untuk keperluanku nanti."
Aku kemudian memasukkan beberapa perak dan emas yang berukuran sedang ke dalam ruang penyimpananku dengan begitu aku tidak perlu repot-repot mencari uang untuk membeli pakaian nanti.
"Oww!! yang ini tampak bagus, yoshh... aku juga akan membawa yang ini."
Aku mengambil sekitar 7 buah emas dan perak dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 sentimeter dan ada juga yang berukuran besar mungkin berdiameter sekitar satu meter dengan tinggi kurang lebih setengah meter.
Aku tidak tau bagaimana orang-orang di dunia ini bertransaksi jual beli jadi tidak ada salahnya untuk sedia payung sebelum hujan hehehe.
"Hm... ya sepertinya cukup ini saja."
Lagi pun sepertinya ini juga sudah sangat berlebihan, hm... sepertinya ada sesuatu yang menuju ke mari instingku tiba-tiba aktif, sebaiknya aku menghapus jejak keberadaanku.
"Sira."
"Y-ya nona, ada apa?"
"Ayo kita pergi dari sini."
"Eh! memangnya ada apa nona?" tanya Sira.
"Jangan banyak tanya, ayo pergi."
"B-baik nona."
Setelah membawa beberapa logam mulia itu aku kemudian keluar dari gua itu lalu menggunakan sihir pembalik dan kamuflase untuk menghilangkan semua jejakku, aku juga menandainya agar nanti aku bisa datang lagi.
Seketika saja semua retakan dan lubang dinding itu menghilang dan kembali utuh seperti semula tanpa ada bekas sedikitpun dan juga aku mengajak Sira untuk segera pergi dari sini.
"Sudah selesai, ayo naik Sira."
"T-T-tunggu nona saya punya cara yang lebih baik."
Sira kemudian melompat naik ke atas kepalaku seperti sebelumnya, tapi saat aku ingin mengambil ancang-ancang untuk terbang Sira tiba-tiba menghentikan langkahku, dia sepertinya trauma dengan kejadian sebelumnya.
"Em? cara?"
[ Teleport ]
.
.
.
"Oowhh!! apa itu tadi?! apa itu Sira?!"
"I-itu sihir teleport nona, kita bisa berpindah tempat dengan cepat ke tempat yang sudah kita tandai atau sudah pernah kita datangi." Jelas Sira.
"Oh... aku tidak tau itu, jadi di mana kita sekarang?" tanyaku padanya Sira.
"Kita ada di lantai 10 nona."
"Kau tidak bercandakan Sira?!!" tanyaku tidak yakin.
"Y-ya." Sahutnya
Itu sihir yang bagus untuk perjalanan, tapi tetap saja harus menandai tempat yang dituju terlebih dahulu, lupakan saja setelah dipikir-pikir mengepakkan sayap itu lebih menyenangkan
Aku sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Sira, dia menggunakan sihir teleport dan langsung tiba di lantai 10 aku bahkan hampir tak percaya dengan itu, selama ini aku hanya berjalan dan berlari aku bahkan tidak tau kalau ada sihir semacam itu.
__ADS_1
Jika aku bisa menggunakannya mungkin akan sedikit mempermudah perjalanan, tapi harus menandai suatu tempat itu tidak ada bedanya dengan berjalan dan terbang jadi aku tidak terlalu tertarik untuk mempelajarinya, menikmati perjalanan itu menyenangkan.
...~•~...