
"Maaf mengganggu tuan-tuan, tapi sekali lagi bolehkah saya minta untuk menghentikan para undead yang bergerak itu? jika dibiarkan mereka akan memakan banyak korban jiwa orang yang tidak bersalah" ucapku pada mereka berdua seraya sedikit menunduk.
"Siapa kau berani memerintah kami?!!" sahut orang yang baru datang itu.
Aku sudah tau jawaban mereka, ada apa denganku? aku takut, aku gemetar? tidak bukan itu, lalu kenapa? apa ini karena darah itu? tapi seharusnya itu tidak masalah! apa ini sebenarnya?
Setelah memerintahkan Sira untuk mengobati orang yang terluka itu, aku kemudian berjalan ke arah dua orang iblis yang sedang berdebat itu dan meminta mereka untuk menghentikan pergerakan dari para undead, aku merasakan ada gerombolan undead yang bergerak dengan jumlah besar dari hutan tempat iblis kedua itu muncul, walaupun sihirku sedang tidak bisa digunakan dan juga efek samping dari penggunaan sebelumnya masih belum hilang aku masih bisa menggunakan serangan fisik untuk menghadapi mereka.
Tapi, seperti yang kuduga sejak awal mereka memang tidak bisa di ajak bicara meskipun aku sudah bersikap dengan sangat sopan meminta pada mereka, aku malah dibalas dengan ucapan dingin dan tatapan tajam yang mengerikan padahal aku sedikit berharap untuk tidak menggunakan kekuatan dan lebih mengutamakan cara diskusi agar mereka bisa mengentikan perbuatan kejamnya, meskipun itu adalah hal yang sia-sia.
Jujur saja sekarang ini aku bingung dengan apa yang terjadi padaku, aku tidak pernah merasa takut pada lawanku apalagi saat aku melihat manusia yang tergeletak penuh darah itu, aku merasakan ada sesuatu yang muncul dari dalam diriku yang membuatku merasa gemetar.
Selama sembilan tahun terakhir aku sudah terbiasa dengan daging yang robek penuh darah dan kekejaman labirin yang aku rasakan sendiri, tapi ini adalah hal yang berbeda tubuhku berani bergerak menghadapi mereka akan tetapi tidak dengan hati dan perasaanku yang sedang gemetar seakan ada ketakutan yang muncul dari dalam diriku, aku bingung dengan diriku sendiri aku merasa ada sesuatu yang mengalir ke dalam pikiranku, sebuah bayangan ketakutan muncul di benakku sesuatu yang membuatku ragu-ragu dengan pilihanku.
.........
Apa itu ingatan? apa yang terjadi? apa ini sebenarnya? kenapa pikiran dan perasaanku seolah bercampur aduk? tidak, aku kuat! aku sudah tidak lemah lagi…
"Sekuat apa dirimu?"
.........
"Aaaaa!!!!"
"Nona! saya sudah memberikan pertolongan pertama pada orang itu" ucap Sira menepuk pundakku seraya menatap ke arah kedua iblis di depan kami.
Pikiranku benar-benar kacau menyaksikan kilas balik yang ada di pikiranku dan tiba-tiba saja ada bayangan yang muncul menghantuiku saat aku berpikir, sontak saja itu membuatku terkejut dan berteriak lalu terjatuh sambil memegangi kepalaku juga menjatuhkan gelang tanaman yang sebelumnya sudah berubah menjadi bilahan pedang, dan disaat bersamaan Sira menepuk pundakku melaporkan tentang keadaan orang yang terluka itu sambil menatap ke arah para iblis di depan kami, aku beruntung Sira melakukan itu jika tidak mungkin aku akan berteriak histeris tidak jelas dengan tekanan di pikiranku.
"Hahahaha!! hei hei, nona apa melihat darah membuatmu ketakutan? lalu untuk apa senjata itu bertengger di tanganmu?" ucap iblis yang sebelumnya mengincarku.
"Tidak, aku tidak/" ucapku mencoba membantahnya.
"Nona tenanglah, sebaiknya anda istirahat saja" ucap Sira memotong ucapanku.
"Gadis cantik sepertimu sebaiknya duduk manis di atas kasur daripada harus memegang pedang" lanjut iblis mesum itu padaku.
...
__ADS_1
Tidak, ini tidak boleh! kenapa aku harus ragu aku sudah membuat keputusanku! mereka harus dihentikan!
"Berani menghina nona Shea aku akan benar-benar membungkam mulutmu itu untuk selamanya!" ujar Sira terdengar kesal padanya.
Pria iblis itu tampak sangat gembira melihatku terjatuh dan berteriak seperti sebelumnya wajahnya benar-benar menjijikkan, dia juga mengejekku karena aku yang terlihat ketakutan setelah melihat darah dan tidak sengaja menjatuhkan senjataku saat aku memegang kepalaku padahal dia tidak tau aku seperti itu karena tekanan yang ada di pikiranku.
Dan entah kenapa aku yang mendengar itu hampir terpancing emosi berusaha membantahnya dengan air mata yang tertampung di pelupuk mataku, aku sendiri juga tidak mengerti dengan keadaanku ini aku merasakan ada lonjakan emosi di dalam diriku yang sulit untuk dikendalikan dan dimengerti, dan sekali lagi aku beruntung karena ada Sira di sampingku yang kembali menenangkanku yang membuatku dapat mengembalikan ketenanganku sebelumnya.
Tapi, tetap saja sekali mesum tetap akan terus menjadi orang mesum pria aneh itu lagi-lagi mengatakan sesuatu yang bermaksud merendahkanku sebagai seorang perempuan, walaupun aku tidak sepenuhnya menyalahkan ucapannya itu karena seorang perempuan memang harus mengurus rumah hanya saja aku tidak suka dengan caranya mengatakan itu yang terdengar sedikit vulgar. •_•
Berbeda denganku yang hanya diam ketika dia mengatakan itu karena aku yang masih berusaha untuk menenangkan diri, Sira yang tidak terima dengan ucapan itu lantas mengancamnya dengan tatapan ketidaksukaan, sementara itu pria iblis yang satunya terdengar diam tidak bersuara sama sekali, aku juga tidak begitu memperhatikan keadaan karena aku sibuk menenangkan pikiranku sendiri sembari menatap ke lututku yang sedang bersimpuh.
"Hahh… tidak apa-apa Sira, aku baik-baik saja" ucapku menghela napas sambil kembali berdiri memegang pedang.
"Apa anda yakin? jika anda merasa tidak enak badan saya bisa menghadapi mereka sendirian" ucap Sira padaku.
"Y-yah tidak apa-apa."
"Woi woi woi!! Sira jangan terlalu meremehkan kami lihatlah keadaanmu! kami bertujuh dan kalian hanya berdua" ucap pria mesum sebelumnya.
Dengan sedikit menghela napas dan ketenanganku yang telah kembali aku kemudian meraih pedangku lalu perlahan berdiri dengan sedikit guncangan karena kepalaku yang agak pusing, melihatku yang masih kesulitan dengan keseimbanganku Sira lantas langsung memegang bahuku memintaku untuk beristirahat dan membiarkannya untuk mengurus kedua iblis itu, tapi tentunya ucapan Sira itu membuat si iblis mesum merasa jengkel lalu kemudian menunjukkan perbedaan jumlah dan kekuatan di kedua belah pihak ini.
"Raja monster rendahan dan menjijikkan sepertimu sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan kami!" ucap iblis lainnya angkat bicara.
Menjijikkan ya…
"Hah!! walaupun aku hanya/"
"Hehehehe, maaf aku tidak bisa menahannya shishishi" kataku tertawa kecil seraya menutup mulutku.
"A-ada apa nona?"
"Apa ada yang lucu putih?!" tanya iblis cakram itu sambil menatap tajam ke arahku.
"Bukan 'putih', tapi Shea" sahutku padanya sambil tersenyum.
"Ha?!"
__ADS_1
"Walaupun saya sudah memperkenalkan diri saya pada orang di sebelah sana, tapi sekali lagi perkenalkan nama saya Shea, saya hanyalah seorang monster rendahan yang sedang dihukum dan saya lebih suka dipanggil dengan sebutan nama daripada harus menggunakan penjabaran fisik… karena saya tidak suka dengan itu" ucapku padanya tetap masih sambil tersenyum.
"Apa peduliku dengan itu?!!" sahutnya masih dingin seperti sebelumnya.
"Tentu saja itu harus diperhatikan, penyebutan nama dalam pembicaraan adalah cara menghormati seseorang, dengan itu juga kita bisa mengenali dan membedakan orang-orang yang kita ajak bicara, dan juga… ah maaf sepertinya saya terlalu berlebihan hehehe…" sambungku mengentikan ucapanku dengan tersenyum sambil menutup mulutku dengan tangan.
Cukup lama memperhatikan kami iblis yang membawa cakram itu kemudian angkat bicara dan menghina Sira dengan mengatakan bahwa dia hanyalah seorang raja monster rendahan juga menjijikkan lalu dengan tatapan sinisnya meminta Sira untuk tidak ikut campur dengan urusan mereka, mendengar hinaan itu sontak membuatku sedikit tertawa kecil sambil menutup mulutku karena aku merasa itu adalah hal yang lucu, sedangkan Sira sendiri sedikit tercengang dan kebingungan melihatku tertawa seperti itu.
Dan tentu saja perbuatanku itu membuatnya merasa jengkel dan terlihat sangat marah padaku tak terkecuali dengan iblis mesum di sampingnya yang juga ikut menatapku - walaupun itu sudah dari tadi -, tapi aku tidak takut dengan itu karena sejak dari awal aku memang tidak pernah sekalipun takut dengan mereka, dan sekali lagi aku memperkenalkan diriku pada mereka karena aku tidak suka dipanggil dengan menggunakan kondisi fisik.
Aku sudah cukup puas dipanggil dengan seperti itu saat aku masih hidup di dunia lamaku, aku sudah sangat sering dipanggil dengan gelar-gelar yang bertujuan menghina kondisiku cacat, dan aneh adalah dua hinaan yang sudah menjadi makanan sehari-hariku, itu memang terdengar sangat menyedihkan mengingat kondisiku saat itu, tapi aku tidak menyalahkan orang-orang yang mengatakan itu karena memang seperti itulah apa adanya walaupun kadang aku merasa sakit hati dengan ucapan mereka, dan yang paling parah adalah saat mereka menyebutku sebagai pelac*r tanpa ada alasan yang jelas.
"… kalau begitu langsung saja bolehkah saya tau siapa nama anda?" tanyaku padanya.
"Hahahahaha!!! kau sangat menarik! baiklah kalau begitu biarku sebutkan namaku dan dengarkanlah baik-baik!!" ucapnya padaku dengan senyuman menakutkan.
"Tentu" sahutku tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalaku.
"Namaku Marckley salah satu dari bawahan setia raja iblis vetra dan orang di sampingku ini adalah komandan iblis undead Leron, senang berkenalan denganmu."
Ah... itu nama yang cukup sulit. •_•
"Apa tepatnya saya bisa memanggil anda?"
"Panggil saja Kin" jawabnya padaku.
"Kin? hehehehe, itu bahkan jauh dari yang anda sebutkan sebelumnya" ucapku sambil tertawa kecil menutup mulutku.
"Itu ada benarnya, tapi kau bilang ingin tau nama panggilanku nona" sahutnya padaku.
Berbeda dengan si iblis mesum di sampingnya walaupun iblis ini memiliki tatapan yang menyeramkan, tapi dia lebih bisa diajak bicara dengan normal dibanding dengan temannya itu yang hanya membicarakan sesuatu tentang nafsu birahinya saja.
Tawanya yang kejam dan penuh dengan ketertarikan memecahkan keheningan yang terjadi di tempat ini saat aku bertanya tentang namanya, mendengar permintaanku itu dia pun memintaku untuk mendengarkan namanya dengan seksama dan walaupun matanya sangat tajam aku hanya mengiyakan itu dengan menundukkan kepalaku sambil mengangkat sedikit kedua sisi rokku lalu menggeser kaki kananku ke belakang seperti seorang putri bangsawan yang menghormati tamunya.
Tapi, setelah dia menyebutkan namanya juga nama rekannya itu aku sedikit kebingungan untuk bagaimana harus mengatakan itu, dan sebab itu aku kembali bertanya padanya karena namanya cukup sulit untuk dikatakan terlebih lagi untukku yang baru belajar menggunakan kalimat, setelah itu iblis itu kemudian menyebutkan versi pendek dari panggilannya yang bahkan sangat jauh dari apa yang dia sebutkan.
Yah aku juga bingung dengannya, aku tidak mengerti ada masalah apa sebenarnya dengan orang ini sampai-sampai dia punya beberapa nama yang berbeda, tapi yang jelas itu lebih mudah untuk disebutkan hehe.
__ADS_1
"Hehehehe maaf, yah kalau begitu mari kembali ke percakapan kita sebelumnya, bolehkah saya minta agar anda meminta maaf kepada Sira?" pintaku menatap serius matanya.
...🌹*****🌹...