
"A-anu, ada apa Sira dari tadi kau menatapku?"
"Tidak, bukan apa-apa nona" jawabnya sambil memalingkan wajahnya menatap ke depan.
Emhh, apa aku salah membawa ini? huhh, kalau begitu nanti akanku kembalikan saja, sangat disayangkan padahal ini barang bagus. ꈍ_ꈍ
Mendapatkan sesuatu yang berguna untuk pertarungan ini sangat beruntung, tapi sayangnya Sira terus menatap aneh ke arahku saat aku membawa itu seakan tidak setuju dengan apa yang aku lakukan dan gara-gara itu aku menjadi sedikit ragu untuk terus membawa pulang pedang itu.
Apalagi Sira menjadi sedikit kaku walau hanya beberapa langkah saja dari tempat aku menemukan pedang itu, ini sangat tidak mengenakkan aku jadi berpikir harus mengembalikan pedang itu padahal aku yang menemukannya, benar-benar sangat disayangkan karena itu pedang yang bagus.
"Hei Sira, kau marah padaku?"
"Marah? apa maksud anda nona?"
"Aku akan mengembalikan ini nanti, jadi kau jangan marah ya" ucapku padanya sambil mengangkat pedang di tanganku.
"Eh! y-yah… sepertinya anda salah paham nona, saya tidak pernah menentang apa yang anda lakukan… anda bebas melakukan apa saja" sahut Sira sambil terus berjalan.
"Jadi, kau tidak marah?"
"Tentu tidak nona."
Huhh, syukurlah… hehe itu artinya aku tidak perlu mengembalikan ini. ^‿^
Dengan sedikit menunduk aku memberanikan diri untuk bertanya pada Sira karena dia terlihat sedang kesal, aku tidak takut hanya saja menghormati orang yang sedang marah terlebih lagi dia satu-satunya temanku di sini, jika dia memang marah aku harus minta maaf untuk menghindari perselisihan yang tidak perlu, tapi ternyata itu hanya perasaanku saja hehehe.
"Memangnya apa yang anda pikirkan nona?" tanya Sira sambil mengangkat sedikit alisnya keheranan.
"Y-yahh, kupikir kau marah karena ekspresimu terlihat berbeda saat aku membawa pedang ini" jawabku sambil sedikit menunduk.
"Apa saya memang terlihat begitu?"
"Ya seperti itulah" sahutku menatap lurus ke depan.
DUARRR!!!
"Sira!!"
"Baik nona!!" sahut Sira sambil berlari.
Dengan sedikit tertunduk aku merasa agak malu dengan pikiranku sendiri, kejadian ini sudah cukup sering terjadi dan payahnya aku tidak pernah belajar dari itu, entah apa yang terjadi padaku aku menjadi sangat sering khawatir dengan hal-hal yang kecil.
Saat dalam pembicaraan kami tiba-tiba saja dari arah depan kami kembali terdengar suara ledakan besar yang lagi-lagi membuat para monster dan hewan kecil berlarian menghindari tempat itu, karena suara itu sedikit menggangguku aku dengan cepat naik ke punggung Sira sambil memberinya aba-aba untuk segera berlari menuju ke tempat itu.
Setelah mendengar perintahku Sira kemudian langsung berlari dengan kencang menggunakan keempat kakinya menuju ke arah sumber ledakan itu, saking kuatnya Sira berlari sampai-sampai setiap langkahnya meninggalkan bekas cakaran di tanah dan karena itu juga aku harus menundukkan tubuhku sambil merapatkan kedua sayapku agar aku tidak terlempar saat dia berlari, dan juga aku tidak ingin menjadi parasut yang menggangu kecepatan larinya dikarenakan sayapku yang cukup besar dan lebar.
...***...
Perasaanku mengatakan ada hal buruk yang terjadi di sana!
__ADS_1
Groahhhh!!!
"Suara apa itu Sira?"
"Entahlah nona, tapi yang jelas itu seperti rintihan kesakitan" jawabnya sambil terus berlari kencang.
Rintihan ya, monster? hm… sepertinya begitu, tapi kilatan itu jelas bukan monster.
"Sira, aku pergi lebih dulu!"
"Baik nona, eh!" •_•
"Bye bye" ucapku sambil pergi mengepakkan sayapku.
...
"Jangan berhenti Sira!!" ucapku dengan keras dari udara.
"B-baik…"
Masih sambil berlari mendekat ke tempat sumber ledakan sebelumnya di depan kami kembali terdengar suara raungan monster yang disertai dengan kilatan cahaya yang menyambar bagaikan petir, merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi aku langsung berdiri kemudian pergi dengan mengepakkan sayapku agar lebih cepat sampai dan bisa mengawasi apa yang terjadi dari ketinggian, karena aku sudah cukup untuk penasaran dengan apa yang terjadi di depanku itu.
Melihat aku yang pergi lebih dulu Sira sontak mengentikan langkahnya dengan wajah sedikit terkejut melihatku pergi, itu mungkin karena aku yang melompat secara mendadak dan memberikan sedikit tekanan di punggungnya sampai-sampai Sira harus berhenti untuk menyeimbangkan langkahnya, dan karena Sira yang masih terpaku tidak bergerak aku kemudian berteriak cukup keras dari udara karena jarak kami yang sudah cukup jauh.
"Baiklah mari lihat apa yang terjadi" ucapku sambil mengepakkan sayapku dengan cepat.
...***...
Groahhhh!!
"Owh, di sana!" ucapku sambil dengan menunjuk ke arah sumber raungan monster.
Aku terus mengepakkan sayapku menuju ke tempat terjadinya raungan itu, semakin mendekat dengan tempat itu aura yang unik semakin terasa sangat jelas seumur hidupku aku tidak pernah merasakan aura seperti itu, kurang lebih ada dua aura yang cukup unik yang kurasakan dari tempat itu dan karena penasaran dengan suara raungan yang lagi-lagi muncul aku kemudian kembali terbang mendekat untuk mencari tau tempat pastinya.
Groahhhh!!
"Tunggu! apa itu monster?!" ucapku kebingungan.
"Tapi, siapa orang itu… tampaknya dia lebih unggul, elf? um, sepertinya bukan seharusnya telinga elf lebih panjang dan juga kalau tidak salah... bukannya rambut elf itu pirang? jadi bagaimana ini?"
"Orang itu cukup kuat, tapi aura macam apa itu? sangat tidak mengenakkan!"
Tak lama setelah aku mulai mengepakkan sayapku tepat berada di bawahku kini ada seseorang yang sedang bertarung dengan seekor singa aneh berwarna kebiruan yang mengeluarkan petir dari tubuhnya, sungguh sangat aneh karena seingatku tidak ada singa berwarna biru, tapi mengingat bahwa ini adalah dunia fantasi hal-hal seperti itu adalah hal yang biasa.
Menyaksikan pertarungan itu aku menjadi sedikit ragu untuk menolong pihak yang mana monster itu atau orang yang mirip elf itu, tapi aku orang itu sangat tampak mencurigakan karena auranya terasa sangat memuakkan seperti seorang penjahat, atau mungkin dia memang penjahat? entahlah dia sangat mencurigakan.
Groahhhh!!
"Eh! kurasa aku terlalu banyak berpikir, waktunya untuk membantu!"
__ADS_1
...
DUARRR!!!
"Maaf tuan, siapa penjahatnya di tempat ini?"
"Hah!!?" sahut orang itu sambil menatapku dengan tajam.
Huhh, jelas itu tatapan penjahat, tapi aku tidak boleh berprasangka buruk dulu.
Dari atas aku terus mengawasi orang itu sambil berpikir cukup keras untuk membatu pihak yang mana membantu orang itu atau monster atau malah sebaliknya, tapi tiba-tiba singa yang dicekik oleh orang itu meraung kesakitan yang membuatku langsung terbang ke bawah dan mendarat dengan cukup keras tak jauh dari orang itu.
Aku mendarat cukup kasar di tanah sampai-sampai membuat debu beterbangan bagaikan asap yang mengelilingiku dan itu cukup menyesakkan nafas, setelah mendarat aku langsung melontarkan pertanyaan sambil dengan perlahan keluar dari kepulan debu itu agar bisa bernafas dengan tenang tanpa sesak, tapi sayangnya pertanyaanku dibalas dengan tatapan tajam yang menakutkan seandainya aku tidak terbiasa dengan tatapan itu aku pasti sudah lari dari tempat ini, tapi beruntungnya aku karena tatapan mata seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku saat masih berada di dalam labirin. •_•
"Siapa kau?!"
"Oh benar! maaf, perkenalkan nama saya Shea..." ucapku memperkenalkan diri sambil sedikit menunduk sembari memegang kedua ujung rokku.
"… kalau saya boleh tau, apa yang terjadi di sini?"
Ssttt!!!
DUARR!!
Grahhh...
Eh! menghilang? apa itu tadi bukan monster?
"Lumayan, kalau begitu akanku habisi kau juga!" ucapnya padaku sambil tersenyum licik.
Sepertinya dia bukan orang baik-baik.
...
"Nona!"
"Owh! Sira kau sudah sampai!"
"Maaf nona, tadi ada beberapa halangan di jalan" sahut Sira.
"Em, tidak masalah" ucapku sambil mengangguk kecil.
Selesai memperkenalkan diri bukannya ikut mengenalkan dirinya laki-laki itu malah melemparkan singa yang sekarat di tangannya padaku, tapi tentunya aku menghindari itu karena singa itu jelas dua kali lipat lebih besar dari tubuhku dan pasti akan sangat menyakitkan jika tubuh sebesar itu menghantamku, apalagi lemparannya benar-benar sangat kuat sampai-sampai membuat singa besar berpetir itu menghantam pohon di belakangku sampai tumbang.
Dan secara perlahan singa petir itu memudar dan menghilang entah ke mana, aku sedikit kebingungan melihat itu karena setauku monster tidak akan menghilang secepat itu ketika sudah mati dan pastinya itu bukanlah monster, karena aku sendiri monster aku bisa merasakan itu aura yang dimilikinya juga terbilang cukup unik sangat berbeda dengan monster pada umumnya.
Cukup dengan menatap singa di belakangku aku kemudian kembali menghadap ke depan melihat laki-laki itu yang masih menatapku dengan tatapan dan senyuman liciknya, dilihat dari ekspresinya saja aku benar-benar sudah tidak nyaman untuk berdiri di sini, ditambah lagi dengan auranya yang sangat pekat seolah semua warna sedang bercampur membentuk kombinasi yang memuakkan.
Dengan memegang erat pedang di tanganku aku hanya diam mendengar ucapannya dengan tanpa melepaskan sedikitpun kewaspadaanku terhadap pergerakan orang itu, keadaan di sini menjadi sedikit lebih tegang bukan karena aku takut dengannya, tapi karena aku tidak suka dengan tatapan aneh orang itu, dalam situasi ini dari semak di belakangku Sira muncul dengan melompat dan nafas yang terputus-putus berdiri di sampingku dan itu cukup melegakan karena aku sudah sangat tidak nyaman untuk berada di sini.
__ADS_1
...🌹*****🌹...
...Mohon maaf terlambat 🙏...