
Entah bagaimana caranya aku menjelaskan keadaan ini, di belakangku saat ini orang yang kejam dengan mata tajam menusuknya yang sering menghukumku sekarang berjalan mengikutiku masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.
Aku sulit bernapas dalam keadaan menegangkan seperti ini bahkan jantungku berdebar sangat kencang, biarku perjelas ini bukanlah momen mendebarkan di mana seorang gadis mengajak laki-laki masuk ke rumahnya, tidak... ini bukan cerita romantis.
Arghh! menyeramkan...! bagaimana caraku menjelaskan rantai itu? dia tidak mungkin menerima jawaban yang jelas tidak mungkin bisa terjadi.
Sejak aku mempersilahkan orang ini masuk ke rumah, pikiranku benar-benar sangat kacau bahkan sangat sulit untukku mendapatkan ketenangan, aku selalu merasa diawasi oleh tatapan tajam itu hingga kami memasuki ruang tamu aku yakin darah sudah meninggal tubuhku, apa yang aku rasakan saat ini lebih parah daripada suasana di film-film horor.
"S-silahkan duduk..."
"Ya, terima kasih."
"Maaf ruangannya masih kosong."
Aku memang mempersilahkannya untuk duduk di ruang tamu, tapi aku baru sadar bahwa tidak ada apa-apa di ruangan ini, aku belum sempat mendekorasi ruang tamu karena aku hanya menghias kamar dan pintu-pintu saja.
Lagipun aku tidak pernah mengira akan kedatangan tamu di rumah yang sangat terpencil ini, pada akhirnya dia hanya duduk di tengah-tengah lantai ruang tamu yang kosong.
"Tidak masalah" ucapnya singkat.
Sejak awal kedatangannya aku sangat khawatir dengan nasibku nantinya, tapi entah karena cuma perasaanku saja atau dia memang punya tujuan baik, orang ini terlihat lebih tenang dari biasanya yang selalu memukulku ketika datang.
Tapi, tetap saja aku tidak bisa tenang saat dia ada di sini dan karena itu aku masih kesulitan untuk bicara secara normal dengannya, terlebih lagi jika aku salah berbicara mungkin saja aku akan mendapatkan bom mentah untuk yang kesekian kalinya.
"Ehe-hehe... tu-tunggu sebentar, biar saya buatkan teh."
"Ya, terima kasih."
Aku merasa sangat lega saat bisa pergi ke dapur untuk menghirup udara segar, meski itu hanya berlangsung sebentar karena aku harus mengantarkan teh pada tamuku yang menyeramkan ini.
...
"Ahh...! apa yang harus aku lakukan, Sira?"
"Tenang saja nona, tampaknya dia datang bukan untuk bertarung."
Sesampainya di dapur aku langsung menghela napas dengan kasar sambil menyiapkan minuman teh dengan teko yang aku buat menggunakan sihirku, aku membuat minuman dengan daun teh yang sira dapatkan dari temannya yang aku sendiri tidak pernah tau siapa orangnya.
Sebenarnya aku masih merasa takut untuk menggunakan sihirku, tapi karena teko tehku belum dicuci aku terpaksa harus membuatnya sendiri, dan meski Sira memintaku untuk tenang dalam menghadapi masalahku, tapi tetap saja aku sulit untuk melakukannya karena tatapan orang itu masih terasa sangat tajam padaku.
"Ya... sepertinya memang begitu, lagipun dia juga tidak memakai armornya, tapi... dia masih menyeramkan..."
Jujur saja aku benci mengakuinya, tapi orang itu memang datang dengan tampilan yang berbeda dari sebelumnya dan terkesan cukup menawan untuk seukuran orang kejam yang tanpa pandang bulu dalam menyakiti wanita.
Dia datang dengan memakai baju kemeja putih formal berompi biru gelap bahkan dia juga memakai sepatu kulit, jika dilihat dari pakaiannya dia memang tidak datang untuk menghajarku, tapi tetap saja kesan menyeramkannya tidak bisa hilang dari pikiranku.
"Tatapannya seakan masih menyimpan dendam padaku... hahh... aku tidak ingin bertarung, tidak... lebih tepatnya aku tidak ingin melawannya" ucapku sambil meletakkan gelas di atas nampan.
"Untuk sekarang anda tidak perlu mengkhawatirkannya, nona."
"Ya, semoga saja."
Selesai menata beberapa gelas minum di atas nampan beserta satu teko teh yang semuanya kubuat dengan sihir esku –kecuali air tehnya–, setelah itu aku dengan langkah yang berat kembali berjalan menuju ruang tamu untuk menyuguhkannya pada tamu kejamku itu, melakukan hal ini sama seperti penyiksaan secara mental.
...✧✧✧...
"M-maaf menunggu lama, silahkan diminum."
Perlahan duduk dengan saling berhadapan sambil meletakkan gelas-gelas berisi air di depan kami, aku sebenarnya ingin menggunakan kekuatanku karena tidak ada meja di ruangan ini, tapi karena aku masih takut untuk menggunakan sihirku di depannya aku hanya meletakkan gelas minum itu di lantai, meski gugup setengah mati setidaknya aku pernah belajar etika yang baik dalam menyambut tamu.
Tenang saja, ini akan baik-baik saja... yang perlu aku lakukan hanyalah bersikap seperti biasanya...
Ruangan yang senyap dan hampir kedap suara, semua gerakan yang dilakukan di dalam ruangan ini seakan bergema, suara dari gelas dan piring kecilnya yang bergesekan saat orang itu mengangkat dan meletakkannya lagi terdengar sangat jelas di telingaku seperti suasana horor.
Meski aku berusaha untuk tetap tenang dan menjaga ekspresiku dengan sesekali juga ikut meminum teh, tapi tetap saja bahkan untuk air yang cair pun aku cukup kesulitan untuk menelannya terlebih lagi saat matanya kembali tertuju padaku ketika dia selesai meminum tehnya, aku hanya bisa menundukkan pandanganku.
"Ini enak" ucapnya singkat.
Aaarrgghhhh!! matilah aku!!
"Eh!? t-terima kasih."
Aghh... syukurlah... kupikir dia akan membunuhku. ( ꈍ_ꈍ )
Suasana ini benar-benar sangat menegangkan bahkan mungkin jantungku tidak akan berfungsi lagi karena banyaknya kejutan yang terjadi, walau bagaimanapun juga aku masih agak takut dengan orang ini.
"M-maaf, kalau boleh saya tau, a-anu... ada... keperluan apa... anda datang ke tempat ini?"
"Apa tidak boleh?"
"Tidak tidak tidak...! bukan begitu! tentu saja anda boleh datang, ta-tapi... ini terlalu tiba-tiba... itu saja..." ucapku menunduk sambil sedikit demi sedikit menurunkan nada bicara.
Walau aku masih bingung bagaimana harus bicara padanya, aku berusaha menanyakan alasan kunjungannya ini dengan terus menatap ke bawah ketimbang menatap langsung matanya –karena itu tidak mungkin terjadi, dia terlalu menyeramkan untuk ditatap secara langsung.
__ADS_1
Tapi, reaksinya cukup berbeda dengan apa yang aku bayangkan, nada bicaranya datar begitupun juga dengan wajahnya, awalnya aku mengira dia akan menatapku dengan pandangan dan nada suara yang yang terdengar mengerikan penuh dengan amarah sama seperti saat pertama kali kami bertemu, tapi kali ini dia terkesan cukup ramah.
"Begitu ya... maksud kedatanganku ke sini untuk membahas tentang hukuman.../"
"Aku minta maaf! maafkan aku!! rantainya terlepas sendiri!!"
Untuk yang kesekian kalinya aku rasa jantungku akan berhenti, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, aku sangat berharap agar pembicaraan ini tidak pernah ada karena aku tidak bisa melawannya jika terjadi pertarungan di rumah ini, lagipula cepat atau lambat dia pasti akan membicarakan tentang rantaiku.
Karena itulah, aku langsung spontan menundukkan kepalaku sambil meminta maaf padanya perihal rantaiku yang lepas, ini bukan masalah harga diri karena aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu dalam urusan seperti ini, tapi memang benar aku merasa tindakanku cukup memalukan untuk dilakukan meski begitu aku tidak ingin lagi membuat keributan dengannya.
"Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi!! maaf!! tolong jangan pukul aku!!"
"Tenanglah nona, kata-kata anda mulai berantakan" ucap Sira padaku.
Setelah membahas masalah hukumanku, aku hampir tidak bisa berpikir apa-apa lagi bahkan tidak ada celah untuk mengelak, aku tidak suka kekerasan, aku berteriak tidak jelas sambil meletakkan dahiku di atas lantai dan untuk beberapa saat aku seakan hilang kendali seandainya Sira tidak menyadarkanku
"Maaf! maaf! saya sungguh minta maaf!" ucapku sambil kembali duduk.
"Aku sengaja melepaskan rantai itu, karena hukumannya sudah berakhir" ucapnya sambil kembali meminum tehnya.
" ... "
Untuk sekilas aku sangat terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi, singkatnya aku sudah membunuh rasku sendiri dan itu bukanlah hal yang bisa dimaafkan begitu saja, dan sekarang aku mendengar bahwa aku sudah bebas dari hukumanku dalam waktu yang singkat, kabar ini benar-benar sebuah kejutan untukku.
"Ada apa?" tanyanya padaku.
"T-tidak, bukan apa-apa, saya hanya... terkejut... ehe-hehe..." jawabku sambil menundukkan pandanganku.
"Terkejut dengan apa?"
"Y-ya, apa yang saya lakukan adalah kejahatan besar iyakan? j-jadi, saya rasa ini terlalu cepat.../"
"Apa kau masih ingin dihukum?"
"T-tidak..."
Jelas aku tidak ingin, sangat sangat tidak ingin. •_•"
"Kalau begitu lupakan saja, yang mati tidak akan bisa hidup kembali."
Benar-benar sangat mendebarkan, meski aku senang karena masa hukumanku sudah berakhir, tapi malah bersikap seolah masih ingin menjalaninya, aku hanya merasa bersalah dan tidak enak hati bukan berarti aku tidak ingin hukumanku berakhir, aku justru sangat ingin keadaan menyakitkan ini cepat selesai, tapi jika terlalu cepat seperti ini aku merasa ada sesuatu keanehan yang terjadi.
Sangat membingungkan, tapi entah kenapa aku seperti penyuap handal yang bisa bebas dari jeratan hukum hanya dalam beberapa bulan saja, padahal kejahatan yang aku lakukan adalah pembunuhan yang seharusnya aku akan menjalani hukuman selama belasan hingga puluhan tahun.
Apa mungkin karena ini hukum dunia lain sehingga sangat berbeda dengan hukum di duniaku yang dulu?
Krak!
Gelasku pecah berkeping-keping menumpahkan air tehku yang hangat, tubuhku kaku tidak bisa bergerak sedikitpun ketika aku mendengar ucapan itu, ada suara aneh yang mengganggu di gendang telingaku, sangat keras hingga aku tidak bisa mendengar apapun lagi.
Ah... ini mustahil... •_•
"Aku sangat tertarik denganmu... bukan secara harafiah, aku hanya tertarik dengan cara hidupmu, aku sudah lama hidup di dunia ini dan baru kali ini aku menemukan naga bodoh sepertimu."
"Ehe-hehe... m-maaf untuk itu..."
Setidaknya tidak perlu disebutkan. •_•
Mengangkat satu persatu pecahan gelasku yang terjatuh saat aku mendengar kalimat pertama yang membuat jantungku sekilas berhenti berdetak, aku beruntung karena airnya sudah kuminum habis sebelum gelasku jatuh. Karena itu, aku tidak perlu membersihkan tumpahan air yang akan mengotori gaunku.
Orang itu memang datang dengan tampilan yang sopan dan tampak sangat ramah, tapi aku merasakan kesan yang berbeda dari mulutnya yang pedas dan tidak berperasaan walaupun itu adalah kenyataan dan aku sama sekali tidak bisa membantahnya, tapi aku berharap bisa mendengar kata yang lebih bagus lagi karena aku tidak benar-benar bodoh, lagipun aku ini mantan juara kelas di duniaku yang dulu. Jadi, bisa dibilang aku orang yang pintar dan bukan malah sebaliknya.
"Perlu kau tau makhluk seperti kita tidak akan pernah bisa hidup berdampingan dengan siapapun, meski tau itu apa kau akan tetap menjadi dirimu yang sekarang?"
" ... "
"Aku akan terus mencobanya hingga aku berhasil, aku tidak ingin menyerah sebelum berusaha se.../"
"Apa maksudmu tindakanmu selama beberapa bulan ini bukan usaha? mereka tetap saja menjauhimu dan tidak ingin mendengarmu meski kau berusaha, usahamu tidak akan pernah dihargai dan itu hanya akan kegagalan."
Tatapan orang itu benar-benar tertuju lurus padaku dan dengan suaranya yang terdengar datar tanpa emosi, aku hampir tidak bisa meladeninya berbicara tentu saja karena dia memotong ucapanku, dan aku benar-benar seperti kura-kura yang bersembunyi di dalam tempurungnya tanpa bisa menatap ke wajahnya ketika dia kembali mengatakan fakta di lapangan secara apa adanya.
"Ya... sejauh ini memang begitu, tapi! itu terjadi hanya karena mereka belum mengenalku saja, aku akan tetap berusaha untuk berteman dengan mereka semua!" ucapku mengepal tangan sambil tersenyum meyakinkan.
...
"Menarik... jika itu yang kau inginkan, aku ingin melihatnya dengan mataku ini, jika kau berhasil memperlihatkannya padaku... aku dengan senang hati akan mengikutimu."
" ... "
"Tapi, jika tidak ataupun kau telah merubah keyakinanmu ini, aku akan mengurungmu di dalam labirin... tanpa pengecualian."
"A-anu... apa... maksudnya itu...?"
__ADS_1
"Aku akan menunggu hingga kau bisa membuktikannya padaku... sampai hari itu tiba, berikan perintahmu padaku" ucapnya sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Eh! eegghhhh!! t-tolong angkat kepalamu...!"
Ini sangat mengejutkan dan bahkan juga terdengar membingungkan, dia baru saja mengancamku dengan tatapan yang sangat serius dan sekarang dia menundukkan kepalanya, aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Dia memintaku untuk memerintahnya, tentu saja itu membuatku tidak bisa berpikir jernih, orang ini baru saja selesai menghukumku dengan hukuman yang sangat menyiksaku, tapi sekarang dia menjadi sangat lunak padaku hingga mau aku perintah, walaupun ini adalah kesempatan yang bagus untuk membalasnya, tapi kurasa aku tidak akan sanggup untuk melakukan itu padanya karena walau bagaimanapun juga dari sudut pandangku dia masih sangat menyeramkan.
Dukk!!
"Apa maksudmu!! apa kau.../"
"Aku tidak bicara denganmu, Sira."
" ... "
"Y-ya... t-tidak apa Sira... dan t-tolong jangan bertengkar di sini ehe-hehe..."
Aku tidak ingin rumahku hancur lagi
"Baik nona" sahut Sira seraya kembali duduk tenang.
Berbeda denganku yang sangat terkejut, Sira justru terlihat sangat marah pada orang itu sambil menghentakkan kakinya dengan keras bahkan keadaan di ruangan ini terasa mulai memanas dengan Sira yang beradu tatapan.
Melihat itu aku langsung menghentikan mereka karena jelas aku dapat merasakan aura kekuatan yang menggebu-gebu dari mereka berdua, dan aku tidak ingin rumahku kembali hancur seperti dulu, aku sudah terlanjur menyukai rumahku ini.
Aku tidak tau apa yang menyebabkan Sira bisa terlihat semarah itu, sangat berbeda denganku yang malah terkejut tanpa mengerti apa-apa.
"Aku tidak akan memintanya untuk yang kedua kali, apa perintahmu?" tanyanya padaku.
Dia ini, sebenarnya mengancam atau meminta? ^_^''
Aku benar-benar bingung dengan apa yang sekarang harus aku lakukan terlebih lagi orang ini tampak seperti memaksa ketimbang meminta, ekspresinya sangat tegas dengan mata merah yang menusuk jauh ke dalam tubuhku.
"A-aku masih tidak mengerti, ta-tapi... jika kau bersikeras... anu... boleh aku tau apa saja yang biasanya kau lakukan?"
"Biasanya? hm... biasanya aku mengawasi keadaan labirin ini."
"Mengawasi labirin, y-ya... kalau begitu, tolong lakukan itu saja dan jika bisa tolong beritahu aku keanehan apa saja yang terjadi di labirin ini."
Dikarenakan aku tidak bisa langsung memberikan perintah kepadanya, apalagi karena aku memang belum pernah memerintah sesuatu dengan jelas, aku benar-benar sangat kebingungan dan akhirnya aku hanya memintanya untuk melakukan hal-hal yang menjadi kesehariannya, dengan begitu dia tidak akan merasa sangat tersinggung dengan ucapanku jika aku memintanya melakukan sesuatu yang berlainan dengan keinginannya.
"Dimengerti, kalau begitu aku pamit, permisi." ucapnya sambil perlahan berdiri.
"Tu-tunggu...! a-anu... siapa namamu? a-aku tidak bermaksud apa-apa, sungguh...! i-ini hanya agar aku bisa lebih mudah memanggilmu..."
Setelah mendengar ucapanku dia kemudian mengangguk kecil sebelum akhirnya berniat untuk meninggalkan ruang tamu, tapi aku langsung menghentikan langkahnya karena aku sama sekali tidak mengetahui namanya, kami belum pernah berkenalan sejak pertama bertemu hingga sekarang, satu-satunya yang terjadi saat kami bertamu hanyalah pertikaian yang menyakitkan.
"Panggil aja Ardner, itu sudah cukup."
"Ardner ya... namaku Shea, kalau begitu mulai sekarang mohon bantuannya" ucapku sambil tersenyum tipis.
"Ya, permisi." sahutnya sembari pergi meninggalkan ruang tamu.
Jujur saja meski sangat terlambat untuk perkenalan, tapi aku sangat senang dengan percakapan terakhir kami hari ini walaupun dia sangat kaku padaku dan aku cukup kesulitan untuk berbicara dengannya, aku benar-benar sangat senang tentu saja ini juga karena aku sudah bisa menggunakan kekuatanku lagi yang artinya aku sudah bebas melakukan apa yang kuinginkan.
"Hahh...! akhirnya aku bisa bernapas lega! kupikir aku akan dihukum untuk selamanya, ya... walau masih ada yang harus aku lakukan."
Setelah Ardner pergi, aku langsung menghela napas dengan sangat lega seraya berbaring telentang di ruang tamu, pembicaraan ini sangat banyak memberiku tekanan bahkan untuk tetap tersenyum sangatlah menyulitkan.
Tapi, semua itu telah berakhir dan hanya menyisakan satu PR untukku, yaitu aku harus bisa meyakinkan Ardner bahwa aku sanggup untuk berteman dengan banyak orang dan hidup berdampingan dengan mereka.
"Baiklah, selanjutnya apa? aku sudah bisa menggunakan kekuatanku lagi, hm... owh!! benar juga! aku akan mengubah tampilan rumah ini hehehe" ucapku sambil kembali duduk.
"Hah... waktunya mengubah tanah ini menjadi keramik yang bersih."
Berdiri dengan satu rencana yang sederhana karena aku sudah bisa memakai sihirku, aku kemudian menghentak satu kakiku ke lantai dan dengan seketika kepingan salju berhamburan memenuhi seisi rumahku membentuk keramik-keramik putih bersih, selain itu aku juga melapisi seluruh rumahku dengan es yang sama.
Mengubah sepenuhnya pemandangan rumah ini menjadi putih susu dengan lantai yang bermotif kepingan salju, sekarang rumah ini sangat mirip dengan rumahku yang dulu hancur karena serangan Ardner.
"Yoshh...! semuanya sudah rapi... hm... karena kekuatanku sudah kembali seharusnya aku bisa menjelajah lebih jauh lagi, ya... kalau begitu, mari berangkat! ehehe..."
Selesai mendekorasi rumahku yang terlihat hampa dan penuh dengan nuansa batu juga tanah menjadi bersih berkilauan, aku kemudian berniat untuk melanjutkan penjelajahanku yang sebelumnya sangat terbatas ke tempat yang lebih jauh.
"Oh ya, apa kau mau ikut Sira?"
"Tidak nona, saya ada sedikit urusan" sahutnya sambil berjalan keluar rumah dinding.
"Oh begitu ya... baiklah, semoga berjalan dengan lancar... Sira..."
Ekspresi Sira sama sekali tidak berubah semenjak kedatangan Ardner ke sini, Sira seperti sedang menahan kekesalan dalam raut wajahnya bahkan saat aku mengajaknya untuk pergi berpetualang, dia sama sekali tidak menengok ke arahku dan hanya menyahut sambil berjalan pergi meninggalkanku di ruang tamu.
...
__ADS_1
"Hm... ada apa dengannya? tapi, biarlah... tidak masalah... Yaahooo!!! selamat datang kebebasan!!! aku akan segera berjalan lagi."
...🌹🌹🌹🌹🌹...