
"Yoshh! mari obati lukamu, ekhh! ini sakit! haah, tanganku berlubang…" kataku seraya mencabut belati itu dari tanganku.
Cukup dengan melihat Sira yang sudah selesai meminta maaf aku kemudian kembali menatap ke arah lelaki itu lalu berniat untuk mengobatinya, akan tetapi sebelum itu aku terlebih dahulu mencabut belati yang ada di telapak tanganku dengan cepat, dan sama seperti biasanya saat aku terluka rasanya sangat sakit walaupun aku memiliki regenerasi tetap saja rasa sakit itu terasa sangat nyata bagiku.
Tidak menghiraukan rasa sakitnya meskipun aku sempat menelan ludah saat mencabut belati itu, aku kemudian membolak-balikkan telapak tanganku melihat lubang yang penuh darah dan pastinya menembus telapak tanganku, tapi dengan cepat pula luka itu langsung mengantup dan sembuh dengan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun kecuali hanya bercak darah merah yang melumuri tanganku.
"…!"
"Jangan takut ya, aku hanya ingin membantu" ucapku sambil meletakkan tanganku di depan dadanya.
Um… lukanya sangat parah, tapi baiklah itu tidak masalah…
"Tolong tahan sedikit!" pintaku sambil memulai penyembuhan.
"Akhh!!"
.
.
"Haaah, selesai" ucapku dengan lega sembari menghela napas.
Melihatku yang kembali menatapnya sontak membuat lelaki itu terlihat sangat tegang dan juga mungkin sedang ketakutan, apalagi saat aku mengarahkan tanganku padanya dia benar-benar terlihat sangat tidak nyaman dan itu membuatku terlihat seolah-olah sedang ingin menyakitinya.
Tanpa berlama-lama aku kemudian memulai proses penyembuhan dengan menyalurkan energi sihirku padanya dan itu membuatnya bergelimang dengan cahaya biru cerah di sekujur tubuhnya, dan entah bagaimana caranya aku dapat melihat semua luka yang ada di tubuh lelaki itu, luka gores, lebam, dan luka besar yang ada di dadanya aku dapat melihatnya dengan jelas walaupun semua itu masih tertutup dengan pakaiannya.
Dan setelah memastikan semua luka yang ada pada tubuhnya aku kemudian memintanya untuk menahan sedikit rasa sakit saat aku memulai penyembuhan, dengan sedikit jeritan kesakitan aku terus berusaha untuk fokus menutup luka dan memulihkan kondisi lelaki itu, meskipun dia masih terlihat sangat waspada dengan tatapan tajam yang terus mengarah padaku, dan itu membuatku sedikit terganggu dengan sedikit menurunkan pandanganku sambil sesekali menatap ke arah wajahnya untuk memastikan apakah dia masih menatapku atau tidak.
Tak berselang lama setelah aku memulai penyembuhan, aku akhirnya berhasil menyembuhkan semua lukanya dan wajahnya yang awalnya pucat dengan banyak keringat kini sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, walaupun tidak ada yang berubah dari ekspresi waspada dari wajahnya.
Shuttt…
"Apa tubuhmu sudah jauh lebih baik?" tanyaku padanya.
"…!"
"Akan lebih baik seandainya kita membuatnya pingsan sekali lagi…" ucap Sira sambil menatap ke arah lelaki itu.
"Sira!! hentikan itu!!"
"Tapi nona, bicara baik-baik pada orang seperti dia juga tidak ada gunanya, dasar tidak tau terima kasih!" sambung Sira memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Hei sudah kubilang hentikan itu, ngomong-ngomong bukannya tadi aku sudah bilang padamu untuk mengobatinya, tapi kenapa luka-lukanya masih sangat banyak?" ucapku sambil bertolak pinggang menatap Sira
__ADS_1
"Saya hanya bilang 'pertolongan pertama' bukan 'menyembuhkan' itu hal yang berbeda, nona" sahut Sira padaku.
"Siraa! aku sudah bilang untuk menyembuhkannya, bukan untuk pertolongan pertama!!" ucapku kesal mengangkat tubuh Sira sembari menggelitiknya.
"Nona, nona! aaa!! hahaha!!"
Tepat setelah aku selesai menyembuhkannya lelaki itu kemudian melompatiku dan berdiri cukup jauh dariku dengan posisi siap siaga untuk bertarung, tidak ingin terjadi kesalahpahaman aku langsung mengangkat pembicaraan dengan menanyakan keadaan tubuhnya, tapi dia hanya terus menatapku dengan waspada tanpa menjawab sepatah kata pun.
Melihat reaksi orang itu yang tampak sangat tidak sopan padaku sontak membuat Sira terlihat kesal dan berniat seakan ingin membuat orang itu kembali pingsan, tapi aku langsung membentaknya untuk menghentikan ucapannya akan tetapi Sira yang masih belum puas kembali melanjutkan ucapannya dengan melontarkan kritik atas sikap lelaki itu yang sama sekali tidak menunjukkan rasa terima kasih karena telah ditolong.
Karena tidak ingin membuat orang itu memikirkan sesuatu yang buruk aku sekali lagi memintanya untuk berhenti mengatakan hal itu, dan langsung mengalihkan pembicaraan pada perintahku sebelumnya untuk menyembuhkan lelaki itu sembari bertolak pinggang menatap ke arahnya, akan tetapi tepat seperti ucapannya pertolongan pertama berbeda dengan menyembuhkan.
Sontak saja setelah mendengar itu aku mengepalkan tanganku dan langsung mengangkat tubuh Sira lalu menggelitik gumpalan bulu itu sampai-sampai Sira tertawa terbahak-bahak.
"Jangan pernah mengurangi apapun perintahku, mengerti!" ucap sambil cemberut kesal pada Sira.
"Hahaha! iya iya! nona!! hahahaha!!"
"Siapa sebenarnya kalian?!" tanya lelaki itu pada kami.
"Owhh benar! kita belum berkenalan, sebelumnya saya minta maaf karena telah menakut-nakuti, perkenalkan nama saya Shea dan ini…" ucapku meminta maaf sembari memperkenalkan diriku pada lelaki itu.
"Tu tu tu… tu tu tu…" gumam Sira sembari berjalan di belakang kakiku.
"Ekhem…!"
"Jadi, boleh saya tau siapa nama anda?" tanyaku padanya sambil tersenyum tipis.
"…!"
Dengan terus menggelitiki Sira tawanya yang keras menyebarkan memecah keheningan di tempat ini membuat lelaki itu terdiam seraya berdiri dengan tegak dan tidak dalam posisi siap bertarung, walaupun matanya masih sangat tajam dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadapku.
Setelah cukup puas dengan gumpalan bulu itu aku kemudian dengan ekspresi sedikit kesal meminta Sira untuk tidak mengurangi sedikitpun perintah yang aku ucapkan padanya, sama seperti yang sebelumnya saat aku memintanya untuk mengobati orang itu, tapi dia malah hanya melakukan pertolongan pertama saja dan hasilnya orang itu nyaris kembali tidak sadarkan diri.
Bersamaan dengan saat aku menurunkan Sira orang itu kemudian memulai pembicaraannya dengan bertanya pada kami, tidak ingin terlihat seperti sesuatu yang mengancam aku langsung menjawabnya dengan terlebih dahulu meminta maaf kepadanya lalu akhirnya memperkenalkan diriku dan juga Sira.
Tapi karena Sira yang sehabis tertawa keras hanya mondar-mandir di belakang kakiku aku kemudian memberinya sebuah kode suara agar dia mau memperkenalkan dirinya, dan setelah Sira melakukan itu aku melanjutkannya dengan bertanya balik kepada pria itu meskipun dia hanya diam dengan tatapan yang sangat serius mengarah padaku.
Emhh! ini menyebalkan! bergerak sedikit aku akan dicap sebagai penjahat, tapi aku sudah menjawab pertanyaannya sisanya tergantung bagaimana dia menilaiku.
Groahh!!
Ah yang benar saja! undeadnya mulai bertambah banyak, tapi sepertinya memang benar hanya mereka yang tersisa dari seranganku, haaah tidak masalah lagipula jumlah mereka sudah sangat sedikit dari sebelumnya,, pikirku sambil sekilas memejamkan mata seraya menggunakan sihir deteksi.
__ADS_1
"Anu… permisi, apakah anda akan menjawabnya atau tidak? karena makhluk menyeramkan di sebelah sana sudah mulai bergerak mendekati kita" ucapku sambil menoleh ke hutan sisi kananku.
"Hei bocah, sebutkan saja namamu jangan bertingkah seakan-akan namamu sangat mahal untuk sekedar disebutkan!!" ucap Sira dengan kesal.
Aku tau kau lebih tua Sira, tapi bisakah kau berkaca pada keadaan tubuhmu? "•_•
Saat sedang menunggu jawaban dari lelaki itu sekilas aku mendengar geraman undead yang terdengar begitu samar-samar dengan terpaan angin yang berhembus melewati telingaku, aku kemudian sekilas memejamkan mataku dan melakukan sihir deteksi untuk memastikan jumlah undead yang mulai bergerak itu.
Setelah memastikan titik dan banyaknya undead aku langsung kembali menanyakan apakah orang itu mau menjawab pertanyaanku atau tidak dengan sedikit menoleh ke arah para undead yang mulai berjalan ke arah kami, tapi seperti sebelumnya dia sama sekali tidak mau bersuara, sontak saja itu membuat Sira membentaknya dengan kesal sembari mengangkat satu kaki depannya menunjuk ke arah pria itu.
"Bagaimana aku bisa yakin kalau kalian bukan bagian dari pasukan raja iblis?" ucapnya sembari bertanya padaku.
"Karena saya orang baik?" jawabku sembari sedikit memiringkan kepalaku.
Jujur saja aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu karena benar atau salahnya jawabanku tergantung pada caranya menanggapinya, meskipun aku berkata jujur padanya jika dia menganggap bahwa aku berbohong itu adalah hal yang percuma.
Terbangun dengan keadaan area sekeliling yang sudah hancur lebur dan hanya terdapat aku, Sira juga pasukan undead yang mulai berjalan pasti akan menurunkan angka penilaian baik dariku, menjawabnya dengan balik bertanya atau dengan terperinci mungkin akan membuatnya merasa curiga terhadapku, jadi aku hanya bertaruh pada jawaban yang terdengar lebih sederhana.
Dia hanya terdiam dengan mata yang tercengang menatapku saat aku menjawabnya dengan sangat sederhana.
"Jawabanmu itu… yang benar saja, jangan bertingkah polos di hadapanku, kau pasti bagian dari raja iblis!!"
"Eghhh!! tidak tidak! bukan! aku bukan bagian dari mereka! aghhh!! bagaimana caraku menjelaskannya?! hiks… padahal aku sudah berkata jujur" ucapku terkejut dengan kebingungan.
"GRAAAHH!!!" raungan Sira dengan keras.
DUARR!!!
"Nona, sebaiknya kita urus para undead itu terlebih dahulu!" ucap Sira padaku.
"Ah benar! tapi mereka terlihat lebih liar dari sebelumnya."
"Itu mungkin karena tidak ada lagi yang mengendalikan mereka dan sihir kutukan undead mereka telah lepas kendali tanpa ada yang membatalkan sihirnya" sahut Sira.
"Sebagian dari mereka masih tersebar di dalam hutan, tapi kita cukup mengurus yang ada di sinikan?" ucapku sambil tersenyum menatap ke arah para undead.
"Sesuai dengan ucapan anda, nona" sahut Sira padaku.
Yahh meski aku sudah berbicara dengan sopan padanya tetap saja orang itu malah menaruh kecurigaan terhadapku padahal aku sudah berkata dengan sangat jujur padanya, aku bahkan hampir kehabisan kata-kata untuk memberitau padanya bahwa aku ini bukan orang yang jahat.
Bingung harus mengambil langkah seperti apa Sira tiba-tiba meraung dengan keras sampai-sampai berhasil membuat beberapa undead yang mendekat terpental dan hancur, yahh mungkin saat ini Sira hanya sebesar kucing dewasa yang tubuhnya terlihat kecil dan imut, tapi tidak ada yang berubah dari kekuatannya, sontak saja tindakan tiba-tiba dari Sira membuat lelaki itu tercengang dengan mata membulat terkejut melihat raungan Sira yang sangat kuat.
Setelah raungan itu Sira kemudian memberi saran untuk menghadapi para prajurit undead terlebih dahulu dan aku pun setuju dengan sarannya itu karena jujur suara geraman dari undead benar-benar mengganggu pendengaranku, dengan senyuman dan posisi siap untuk menyerang aku dan Sira kemudian berbalik menatap ke arah segerombolan undead yang ada di samping kami.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...Maaf terlambat lagi 🥀...