
"Bagaimana Sira?"
"Sudah selesai nona" sahutku.
"Baiklah kalau begitu… hum, cahaya apa itu?" ucap nona sambil memalingkannya
"Ada apa nona?" tanyaku sambil mengikuti nona.
"Entahlah, tapi itu cukup menarik perhatian" sahut nona Shea sambil perlahan masuk ke dalam semak-semak.
...***...
"Memangnya apa yang dilihat nona
di dalam sana?" ucapku sambil duduk mengawasi keadaan sekitar.
Melindungi nona dari belakang aku terus menerkam para undead yang mendekat ke arah kami sampai para undead mulai berkurang dan tidak bermunculan lagi, setelah memastikan tidak ada lagi undead yang mendekat aku kemudian kembali ke dekat nona untuk berkumpul dengannya.
Tak lama setelah aku kami berbincang nona tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah semak-semak yang ada di sampingnya, dan entah apa yang dilihatnya nona Shea kemudian masuk ke dalam semak-semak itu sementara aku menunggunya di luar sambil terus mengamati keadaan sekitar kalau-kalau ada undead atau monster yang mendekat ke mari.
...*****...
"Lihat Sira, hehe aku dapat pedang ini" ucap nona sambil memperlihatkan sebilah pedang padaku.
"Pedang sihir? hm, saya seperti pernah melihat ukiran itu tapi…, apa tidak apa-apa membawa itu nona?" ucapku menatap pedang itu.
"Tidak perlu khawatir, lagipula tidak ada pemiliknya dan juga aku suka bentuk fisiknya yang ringan dan indah hehehe" ucap nona sambil sedikit tertawa.
Aku yakin pernah melihat bentuk simbol seperti itu, ini sangat mencurigakan!
Setelah cukup lama menunggu nona Shea akhirnya keluar dari dalam semak-semak sambil membawa sebilah pedang sihir yang yang cukup unik dengan ukiran tanaman menjalar di bilahan dan gagang pedangnya, sedikit mencurigakan melihat benda sebagus itu berada di hutan ini kecuali memang ada orang yang dengan sengaja meninggalkannya.
Terlihat sangat tertarik dengan pedang itu nona kemudian membawanya dengan senyuman keceriaan di setiap langkahnya tanpa ada menaruh sedikitpun kecurigaan terhadap pedang itu, nona terlihat sangat bahagia mendapatkannya.
...***...
Itu bukan pedang sihir, senjata spirit? tombak spirit dan simbol itu… aku yakin ini ada hubungannya dengan Frenya, apa yang sebenarnya direncanakan pecinta tanaman itu?
"A-anu, ada apa Sira dari tadi kau menatapku?"
S-sepertinya aku terlalu berlebihan.
"Tidak, bukan apa-apa nona" jawabku sambil mengubah arah pandangku.
Akanku cari tau nanti.
Sejak awal nona membawanya aku terus mengamati dan memperhatikan pedang itu karena aku masih merasa aneh dan tidak asing dengan bentuknya itu, setelah berpikir cukup lama aku sedikit menyadari ada kesamaan antara pedang itu dengan aura Frenya yang samar-samar menyatu dengan alam sekitar.
Setelah diperhatikan dengan jelas ukiran yang ada di pedang itu sangat mirip dengan apa yang ada di tombak spirit milik Frenya dan memang itu adalah tombak roh kepunyaan Frenya, walaupun bentuknya yang sekarang adalah sebilah pedang, tapi aku sangat yakin kalau itu hanya penyamaran saja sedangkan sejatinya senjata itu adalah sebuah tombak.
Sejak awal perlakuan dan cara memandang Frenya terhadap nona membuatku menaruh pandangan curiga padanya, Frenya adalah wanita liar yang penuh misteri dia selalu bergerak dengan tujuan dan alasan yang jelas dan aku tidak suka dengannya karena sifatnya yang sering membuat orang kesal juga karena setiap alasan tujuannya yang sulit untuk dimengerti oleh orang awam.
Apalagi sekarang entah apa yang dia rencanakan Frenya secara tidak langsung meminjamkan barang berharganya itu kepada nona Shea dan itu sangat mencurigakan, walaupun aku tau nona Shea memang memiliki daya tarik tersendiri, tapi jika hanya karena alasan itu aku yakin dia tidak pernah mau meminjamkan tombak roh miliknya, senjata itu tidak bisa dipegang sembarangan oleh orang lain.
Walaupun ada ratusan juta orang baik yang meminta meminjam senjata itu untuk alasan menyelamatkan dunia dia tidak akan pernah memberikannya, Frenya tidak akan pernah peduli dengan siapapun ataupun dunia ini meskipun dunia ini akan hancur, tentunya karena dia bisa bolak-balik ke dunia roh kapanpun dia mau.
...*****...
Pedang itu menjadi sedikit mengganggu, sepertinya aku benar-benar harus menanyakannya pada Frenya. •_•
"Hei Sira, kau marah padaku?"
"Marah? apa maksud anda nona?"
"Aku akan mengembalikan ini nanti, jadi kau jangan marah ya" ucap nona dengan ekspresi agak murung.
"Eh! "
Jadi begitu ya… •_•
"Y-yah… sepertinya anda salah paham nona, saya tidak pernah menentang apa yang anda lakukan… anda bebas melakukan apa saja" sahutku sambil terus berjalan.
"Jadi, kau tidak marah?"
"Tentu tidak nona."
Berjalan menuju ke arah sumber suara sebelumnya nona terus membawa pedang itu di tangannya, sementara aku berjalan dengan berpikir tentang masalah pedang itu, Frenya benar-benar membuatku tidak bisa berpikir tentang apa yang dia lakukan, fokus pada pikiranku nona tiba-tiba saja menanyakan hal yang cukup membingungkan bagiku, ' apa aku marah? ' tentu saja tidak memangnya ada alasan untukku melakukan itu?
Aku hanya tidak tenang dengan keberadaan pedang itu dan berpikir keras tentang maksud semua ini tidak lebih dan tidak kurang.
"Memangnya apa yang anda pikirkan nona?"
"Y-yahh, kupikir kau marah karena ekspresimu terlihat berbeda saat aku membawa pedang ini" jawab nona sambil sedikit menunduk.
"Apa saya memang terlihat begitu?"
"Ya seperti itulah" sahutnya menatap lurus ke depan.
DUARRR!!!
"Sira!!"
"Baik nona!!" sahutku sambil berlari kencang.
Selesai membicarakan kesalahpahaman ini tiba-tiba saja terdengar lagi suara ledakan keras yang berasal dari tempat sebelumnya, mendengar itu nona langsung bergegas menaiki punggungku hanya dengan ekspresinya aku tau kalau nona ingin segera pergi ke tempat itu jada tanpa pikir panjang dengan cepat aku melesat ke arah asal ledakan itu dengan tidak mempedulikan beberapa undead yang juga sudah bermunculan kembali dari balik pepohonan.
__ADS_1
Groahhhh!!!
"Suara apa itu Sira?"
"Entahlah nona, tapi yang jelas itu seperti rintihan kesakitan" jawabku sambil terus berlari.
Monster? tidak! dari auranya itu bukan monster! Jika dilihat dari kilatan cahaya sebelumnya itu pasti roh, tapi iblis ya… mengingat kemunculan para undead ini memang sudah saatnya.
"Sira, aku pergi lebih dulu!"
"Baik nona, eh!" •_•
"Bye bye" ucap nona padaku sambil terbang melesat.
...
"Jangan berhenti Sira!!" teriak nona dari atas.
"B-baik…"
Entah apa dan bagaimana situasi di depan kami, lagi-lagi terdengar suara raungan keras yang menggema sampai ke telinga kami, mendengar suara raungan keras itu sontak membuat noba menjadi sedikit khawatir, aku dapat merasakan itu karena nona mencengkeram kulit punggungku dengan sangat kuat sebelum akhirnya nona Shea perlahan berdiri lalu terbang melesat dengan sangat cepat.
Walaupun samar-samar karena jarak yang cukup jauh aku dapat merasakan kalau yang ada di depanku saat ini adalah makhluk roh atau singkatnya sama sepertiku, tapi dari dunia yang berbeda, di sisi lain aku juga merasakan aura kehadiran iblis yang cukup kuat berasal dari arah yang sama dan setelah cukup memperhitungkan aku yakin kalau sedang terjadi sedang pertarungan di antara mereka.
Dan karena nona melompat secara mendadak itu sedikit memberikan beban pada kakiku yang memaksaku untuk menghentikan langkahku, nona Shea bahkan sampai berteriak memintaku untuk terus lanjut berlari ke arah suara itu.
"… huhh, ya ampun apa nona benar-benar penasaran dengan hal seperti itu?"
"Kau seharusnya sudah tau itu Sira, karena memang seperti itulah kepribadiannya" ucap Frenya sambil tersenyum menatap ke arah nona Shea.
"Ooh, sepertinya aku tidak perlu jauh-jauh mencarimu Frenya!"
"Ouwh, apa aku melakukan sesuatu?" Sahut Frenya sambil tersenyum dengan penuh misteri.
"Jangan bercanda Frenya, apa tujuanmu sebenarnya? apa yang kau inginkan dari nona Shea? apa yang telah kau rencanakan?" tanyaku menatap tajam penuh
"Haa, segitu penasarannyakah kau denganku Sira?" ucapnya masih sambil tersenyum penuh tanda tanya.
"Jawab saja pertanyaanku Frenya!" ucapku menatap tajam ke arahnya.
Saat aku mengalihkan pandanganku untuk melanjutkan perjalanan secara tiba-tiba Frenya muncul di sampingku sambil tersenyum menatap ke arah nona Shea yang sedang terbang, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini aku langsung menanyainya dengan serius sambil menatapnya dengan penuh kecurigaan, walaupun itu semua dibalasnya hanya menggunakan senyuman yang penuh tanda tanya, tapi aku tidak semudah itu putus asa aku terus mendesaknya untuk bicara maksud dan tujuannya melakukan semua ini.
"Tidak ada" jawabnya singkat menatap dedaunan yang berguguran.
"Apa maksudmu?!"
"Hoo… kau tidak mengerti, tidak ada ya ' tidak ada ', aku tidak memiliki maksud tersembunyi dari apa yang aku lakukan padanya, lagipula dia memang sedang memerlukan senjata yang bagus untuk digunakan bukan?" jawabnya tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya.
"Jangan mencoba membodohiku Frenya!! aku tau sifatmu."
"Heumm, apa aku terlihat sedang berbohong?"
"Ahh… jahatnya, terlalu curiga juga tidak baik, dengar sira janji adalah janji tak peduli akan berapa lama agar bisa ditepati, tidak peduli berapa banyak musim yang telah dilalui aku tidak akan pernah bosan untuk menepati itu walaupun kadang terlihat seperti sebuah kebohongan karena hitam putih yang terus berganti, tapi ini adalah tugasku saat aku memutuskan untuk berada di sini…" ucap Frenya sambil berbalik berjalan ke arah yang berlawanan.
"Janji, apa yang sebenarnya kau katakan?"
"Ini semua tentang sebuah penantian…" sambungnya tersenyum sambil perlahan menghilang berubah menjadi dedaunan yang tertiup angin.
Apa-apaan itu dan juga senyuman itu terlalu tulus untuknya.
Duarr!
"Huhh, suara apa lagi itu?" •_•
Tidak masalah yang penting aku tau Frenya tidak memiliki maksud tertentu, sebaiknya aku cepat pergi ke sana.
Semakin banyak aku bertanya semakin sulit juga jawaban yang diberikan oleh Frenya padaku sampai akhirnya Frenya berbalik sampai-sampai aku hanya bisa melihat punggungnya saja, dari tatapan mata dan ekspresinya aku tau kalau dia sedang tidak bercanda denganku, cara memandangannya pada nona juga suaranya yang mulai tenang tanpa ada sedikitpun nada yang mencurigakan, Frenya sangat bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.
Sebelum dia pergi Frenya sempat mengatakan tentang sebuah janji dan penantian, tapi apa maksudnya aku juga tidak bisa memahami itu dan saat memikirkan keanehan dari ucapan Frenya dari arah sebelumnya malah terdengar suara benturan yang cukup keras dan tanpa menunggu lama aku langsung mengalihkan pikiranku dan pergi ke sana dengan kembali berlari kencang.
...*****...
"Di sana!!"
...
"Nona!"
"Owh! Sira kau sudah sampai!"
"Maaf nona, tadi ada beberapa halangan di jalan" sahutku.
"Em, tidak masalah" ucap nona sambil sedikit mengangguk.
"Wah wah wah, kita bertemu lagi Sira."
Ah ya si bajingan pengendali mayat, sudah kuduga dia dalangnya… jika dia muncul itu artinya…
"Hum, apa kau mengenalnya Sira?" tanya nona padaku dengan sedikit penasaran.
"Yah, mungkin kami pernah berhadapan satu dua kali, tapi itu sudah sangat lama." jawabku.
"Owh!"
Cukup lelah menghadapi para undead yang berkeliaran di dalam hutan, dengan satu lompatan besar aku berhasil menembus semak-semak hutan dan dengan sedikit terengah-engah berdiri mendekati nona, terlihat sangat jelas bahwa di sini baru saja terjadi pertarungan banyak pohon yang tumbang dan tanah yang terangkat, tapi tentunya itu bukan karena pertarungan nona karena jika nona bertarung kerusakannya akan sangat lebih brutal lagi bisa dibilang ini hanya kerusakan kecil.
__ADS_1
Sesaat setelah aku sampai dan menyapa nona terdengar suara orang yang juga menyapaku dengan nada penuh kesombongan dan senyuman juga tatapan yang menggambarkan seorang penjahat murni dan memang karena dia seorang penjahat.
Leron salah satu dari bawahan raja iblis vetra yang memimpin pasukan undead sebagai gelombang pertama yang menandakan kebangkitannya, aku pernah berhadapan dengannya beberapa abad yang lalu, tapi aku juga tidak begitu ingat tentang itu.
"Jadi… siapa dia?" tanya nona sekali lagi sambil sedikit memiringkan kepalanya.
Ssttt!!
Krakk!!
"Ouh, itu nyaris saja!" ucap nona sambil menatap ke bekas serangan Leron.
Itu serangan yang cukup kuat!
Penasaran dengan orang itu nona kemudian sedikit bertanya padaku, tapi belum sempat aku menjawab itu Leron sudah terlebih dahulu menyerang kami menggunakan kibasan tangannya yang mengeluarkan serangan seperti bulan sabit berwarna ungu pekat, tapi dengan santainya nona menghindari itu hanya dengan menyerongkan tubuhnya tanpa menggeser satupun kakinya.
Setelah nona berhasil menghindar serangan itu kemudian menghantam dan menghancurkan pohon-pohon di belakang kami bahkan sampai meninggalkan bekas yang cukup dalam dan besar di tanah, bahkan bisa dibilang nona terlihat sangat biasa-biasa saja dengan serangan seperti itu.
"Yah, kita bicarakan ini nanti nona… sebaiknya kita hentikan dia agar para undead ini menghilang" ucapku pada nona sambil melakukan perubahan wujud.
"Mau menghentikanku? hahahaha! jangan berharap terlalu tinggi Sira, kali ini aku akan membalas semua perbuatanmu dulu!!" ucap Leron menengadah seraya memegang kepalanya tertawa lepas.
Kurasa dia belum sadar, siapa yang sedang dalam bahaya.
"Maaf saja aku tidak begitu ingat apa yang terjadi dulu tapi, kali ini pun kau tetap akan kalah" kataku sambil menatapnya.
"Cih! aku akan membunuhmu di sini!" ucapnya dengan marah.
"Sira sepertinya kau punya urusan dengannya, kalau begitu aku akan menunggumu di sini" ucap nona sambil duduk di potongan pohon yang tumbang.
"Maaf nona."
"Tidak masalah" sahut nona sambil tersenyum.
Ada apa dengan nona? •_•
Karena waktunya yang tidak tepat untuk berbicara aku menghentikan pembicaraan kami lalu mengusulkan untuk mengalahkan Leron terlebih dahulu karena jika tidak pasukan undead pasti akan terus berdatangan dan bermunculan menyerang ke permukiman-permukiman yang ada di dekat hutan dan itu akan menjadi bencana yang besar.
Mendengar akan hal itu Leron kemudian tertawa lepas sambil dengan mengadakan memegang kepalanya seolah itu adalah hal yang mustahil, sementara itu nona menyerahkan semuanya padaku dan berjalan menuju ke potongan pohon tumbang kemudian duduk di sana sambil melebarkan sayapnya ke depan dengan wajah seperti sedang terganggu dan tidak nyaman juga dengan tangan yang disilangkannya, itu sedikit membingungkan bagiku karena baru kali ini aku melihat nona yang seperti itu.
...........
"Sudah cukup bermain-mainnya, aku akan membunuhmu Sira!!!" ucapku Leron sambil melesat ke arahku.
Duarr!!
"Sayangnya itu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan! hoarghh!!!" ucapku sambil menahan pukulannya.
Ssttt!!
Duar!!!
"Hahahaha!! aku pasti akan membunuhmu Sira!!" ucapnya sambil berlari ke arahku.
"Lakukan saja kalau kau mampu!!" sahutku sambil juga melesat ke arahnya.
DUARR
Tak lama setelah nona duduk Leron yang terlihat sangat dendam padaku menyerangku dengan amarah yang membara, tubuhnya memang lebih kecil dariku, tapi kekuatannya cukup untuk menenggelamkan mata kakiku ke dalam retakan tanah.
Kami saling mencengkeram tangan masing-masing dan dengan kuat aku melemparkannya sampai terlempar cukup jauh walaupun dia bisa mendarat dengan baik, setelah melemparnya aku langsung mengangkat tanganku lalu mengibaskan cakarku menggunakan sihir cakar angin untuk melakukan serangan jarak menengah padanya, akan tetapi seranganku itu sedikit kurang cepat untuknya karena dia masih bisa menghindarinya dengan melompat ke samping.
Dengan semangat membunuh yang berkobar Leron melesat ke arahku untuk melakukan pertarungan fisik dan dengan senang hati aku juga melakukan hal yang sama, sampai-sampai benturan pukulan kami meretakkan tanah yang ada di bawah kaki kami sebelum akhirnya aku menendangnya sampai terpental jauh menghantam pepohonan.
"Haaarghhh!!"
DUARR!!
"Itu masih belum cukup" ucapku sambil menahan serangan sihirnya.
Menggunakan sihir teleport jarak dekat aku menyatukan kedua tanganku kemudian menghantamkannya padanya, tapi sayangnya Leron berhasil menghindari itu dan balik menyerangku dengan tendangannya, kami saling berganti pukul satu sama lain sampai akhirnya Leron menggunakan sihir bola api seperti lava dengan berdiameter satu meter, dan dengan berdiri tegak aku menghentikan serangannya itu hanya menggunakan sebelah tanganku, serangan seperti itu masih tergolong cukup lemah untukku yang bisa membuatku dapat menghentikannya dengan mudah.
"Cih!! bagaimana dengan yang ini!!"
Ssttt!!
Itu tidak bisa ditahan! •_•
"Hahahahaha!! kenapa kau menghindar Sira?!! bukannya itu cuma serangan lemah hah!!" ucapnya dengan terus menyerangku dengan sihirnya.
Sstt!!
"Gawat!! nona!!"
DUARRR!!
" …? "
Ada apa dengan ekspresinya itu, apa dari tadi nona tidak memperhatikan pertarungan ini? •_•
Terpancing dengan ucapanku Leron kemudian menyerangku dengan serangan sihir beruntun yang berbentuk seperti bulan sabit berwarna ungu pekat yang berkobar, aku masih bisa menghindari itu, tapi salah satu dari serangan itu mengarah tepat ke tempat nona duduk saat ini.
Sementara serangan itu melesat dengan cepat nona terlihat hanya diam saja seperti tidak menyadari adanya serangan yang datang ke arahnya sambil melebarkan sayapnya sampai-sampai menutupi tubuhnya yang sedang duduk.
Terlihat sangat lengah nona sama sekali tidak mempedulikan serangan itu sampai akhirnya serangan itu menghantamkannya dan seketika meledak menutupinya dengan debu tebal yang menghalangi pemandangan, tapi serangan itu sama sekali tidak berbekas padanya karena ada sebuah sihir penghalang yang menyelimutinya seperti sebuah lingkaran berwarna hijau transparan
__ADS_1
Setelah terjadi ledakan itu barulah nona menurunkan sedikit sayapnya sambil mengintip dengan ekspresi kebingungan mencari tau apa yang sedang terjadi, dengan semua ledakan dan suara keras dari benturan pertarungan nona seakan tidak mengetahui apa-apa tentang pertarungan ini ekspresi wajahnya benar-benar murni kebingungan semata, nona terlihat sedang tidak fokus dengan keadaan sekitarnya. •_•
...🍀*****🍀...