
"Huhh... syukurlah untungnya masih sempat, tapi..."
"Nona."
"Owh! bagaimana Sira, apa kau sudah selesai?" tanyaku pada Sira.
"Ya nona, yang terakhir sudah mati karena tertusuk pedang anda." Jawabnya sambil kembali menjadi harimau kecil.
"Yahh... kalau begitu sebaiknya aku mengeluarkan mereka dari dinding kristal itu." Ucapku sambil berjalan mendekati pelindung kristal yang kubuat.
Aku benar-benar sangat lega karena masih sempat membunuh monster itu dan berhasil menyelamatkan para gadis manusia itu dari serangan monster, beberapa saat setelah itu Sira kemudian datang ke arahku dan kembali berubah menjadi wujud harimau kecilnya, karena kami sudah berkumpul aku kemudian berjalan mendekati dinding kristal yang sebelumnya aku buat untuk melindungi para gadis manusia itu.
"Hm... ini bukan darah monster... eh! apa mereka terluka?!" ucapku khawatir sambil menatap bercak darah di semak-semak.
Krakk
Crass
Ternyata mereka memang terluka...
"A-apa kalian baik-baik saja?" tanyaku pada mereka.
" ... " " ... " " ... "
Apa setakut itukah mereka padaku?
Saat mendekati pelindung kristal tempat para gadis manusia itu berada aku mencium aroma darah yang bertebaran di sekitarku dan benar saja ada banyak bercak darah yang terlihat di semak-semak juga di daun rerumputan hutan, awalnya aku mengira bahwa itu adalah darah dari monster yang sebelumnya telah aku bunuh, tapi aroma darah yang kucium itu sangatlah berbeda dari darah monster itu dan malahan aroma itu tercium berasal dari dalam dinding pelindung yang aku buat.
Aku kemudian mengarahkan tanganku ke depan lalu menghancurkan kristal pelindung itu dan benar saja mereka bertiga memang sedang dalam keadaan terluka, tapi mereka bertiga benar-benar terlihat sangat ketakutan ketika melihatku, mereka bahkan tak henti gemetar saat menatapku berdiri di hadapannya, mereka saling berpegangan dengan satu orang terdepan yang terlihat sangat gemetar ketakutan dan bahkan hampir meneteskan air matanya dengan memegangi kedua tangan rekannya.
Mereka bertiga seperti orang-orang yang sedang terpojok oleh monster yang menyeramkan dan tidak bisa pergi ke mana-mana dan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka memang sedang terpojok di antara batang pohon di belakang dan juga aku yang ada di hadapan mereka, aku merasa tidak enak karena telah membuat mereka tidak nyaman dekat denganku apalagi sampai sangat ketakutan seperti itu.
"Apa kalian/"
"J-jangan s-sakiti kami, j-jangan bunuh kami." Ucap salah seorang dari mereka.
"Eh! t-tenanglah a-aku tidak mungkin melakukan itu/" Ucapku sedikit mendekati mereka.
"Hiks... ampuni kami ampuni kami... hiks... jangan apa-apakan kami." teriak gadis yang paling depan sambil menunduk ke bawah.
Sepertinya memang tidak mungkin untuk bicara, mereka sangat ketakutan.
"Heal... baiklah bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?" tanya pada mereka.
" ... "
Begitu ya, sepertinya ini momen yang tidak tepat huhh...
"Kalian akan aman lewat sana dan maaf menakuti kalian." Ucapku sambil mengarahkan tanganku ke sebelah kiri.
.
.
Akhh!!
"Apa anda baik-baik saja nona?"
"Ya tentu."
Saat aku ingin menanyai keadaan mereka sekali lagi tiba-tiba saja gadis yang di sebelah kiri bicara terbata-bata meminta ampun padaku sambil menatapku dengan tatapan yang tegang dan ketakutan, tidak terkecuali dengan kedua rekannya yang hanya terdiam sambil memegangi kepalanya tidak berani menatap ke arahku, padahal aku bukan orang yang sejahat itu perlahan aku berjalan mendekati mereka untuk menenangkan dan menghilangkan kesalahpahaman ini.
__ADS_1
Tapi saat aku mendekat malah gadis paling depan yang juga ikut meminta ampun padaku sambil terus menangis dan menundukkan kepalanya sementara gadis yang di sebelah kanan hanya terdiam tidak berani berkata-kata dan hanya terlihat pasrah dengan keadaannya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka kecuali permintaan ampun agar tidak disakiti, padahal aku hanya ingin menolong dan mengobati mereka, aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti mereka.
Karena tidak ingin membuat mereka semakin takut aku kemudian mengobati semua luka-luka mereka lalu mengangkat tanganku ke sebelah kiri menunjukkan jalan keluar hutan yang aman untuk mereka, tapi walaupun begitu mereka tetap saja berekspresi ketakutan menatap ke arahku, setelah itu mereka kemudian kembali berlari dengan cepat ke arah yang aku tunjukkan itu bahkan tanpa menatap ke belakang.
"Sira..."
"Ya nona?"
"Pergilah dan lindungi mereka sampai ke tempat yang aman."
"A-apa anda yakin?"
"Ya... aku akan menunggu di sebelah sana." Ucapku sambil berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka.
.
.
"Ughh!! rantainya sudah aktif... hahh... mau bagaimana lagi... tidak masalah aku masih bisa menahannya."
Walaupun aku sudah menunjukkan jalan yang aman dan tidak ada pergerakan monster pada mereka aku masih merasa khawatir dengan keadaan para gadis itu jadi aku mengirim Sira untuk mengawal mereka sampai ke tempat yang aman, meskipun aku tidak sempat berkenalan dengan mereka, tapi aku sudah senang bisa menolongnya walaupun bayarannya tubuhku akan merasakan sakit lagi karena telah menggunakan kekuatan sihirku.
Setelah memerintahkan Sira aku kemudian pergi meninggalkannya ke arah yang berlawanan dengan mereka, tapi tetap menuju ke jalanan besar yang kulihat dari atas saat aku terbang sebelumnya, jalan itu adalah jalanan bercabang sementara mereka pergi ke jalan kiri aku mengambil jalanan kanan tentunya karena aku tidak ingin membuat mereka ketakutan lagi.
"Ini sangat sakit... duh tenggorokanku terasa kering, aku harap ada air di sekitar sini."
.
.
"Woah! itu jalannya! apa aku bisa mendapat barang bagus hehehe." Ucapku sambil berjalan ke tepi jalan.
Aku terus berjalan mengikuti arah jalan yang kuambil dengan tidak terlalu mempedulikan kondisi rantai di leherku ini, meskipun begitu sangat sulit untuk berpura-pura tidak merasakannya bahkan tenggorokanku terasa kering karena tubuhku terasa sangat panas akibat rantai ini, cukup lama berjalan aku akhirnya melihat tepian hutan di depanku yang artinya aku sudah sampai di jalanan yang aku tuju.
Deg
"S-setelah d-dipikir-pikir sebaiknya aku mencari tempat istirahat dulu."
Ughh! ini sangat tidak menyenangkan.
Jalanan ini tidak seramai yang aku kira setelah aku tiba di sini jalanannya sangatlah sepi dan tampilan jalanan ini juga tidak semodern yang ada di dalam pikiranku, jalanan ini hanyalah jalan tanah biasa yang sedikit berdebu dan tidak tertutup beraspal lebih mirip dengan jalanan setapak di dalam hutan hanya saja dengan ukuran yang lebih besar dan luas,
Di jalan ini tidak terlihat ada orang atau karavan pedagang yang berlalu lalang sejauh mata memandang yang aku lihat hanyalah jalanan kosong dan tentunya itu karena ada tikungan di depanku jadi aku hanya dapat melihat beberapa meter saja jalan di depanku hehehe.
Lain halnya dengan jalanan di belakangku yang terlihat sangat panjang dan jauh, tapi tetap saja aku tidak dapat melihat adanya orang yang berlalu lalang tempat ini sangat sepi dan juga senyap, aku berencana untuk pergi sebentar berkeliling di sekitar tempat ini sambil menunggu ada karavan pedagang yang lewat di jalan ini, tapi sayangnya aku harus mengurungkannya karena tiba-tiba tubuhku terasa semakin sakit.
"Sebaiknya aku istirahat di sana."
.
.
"Wahh... rumput di sini sangat empuk, ini sangat nyaman." Ucapku sambil bersandar di batang pohon.
Karena tubuhku sudah cukup sakit aku kemudian masuk lagi ke dalam hutan untuk mencari tempat yang bagus agar bisa istirahat dengan tenang, dan tak berapa lama kemudian aku duduk di atas rerumputan semak sambil bersandar di sebuah batang pohon berusaha untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya, walaupun itu tidak akan pernah berkurang.
Wusss
"Ah tempat ini sangat nyaman."
Cling Cling
__ADS_1
"Owhh!! bukannya ini cahaya roh tadi malam!? kenapa mereka ada di sini, tempat ini... sangat jauh... dar..."
...*****...
"Hoahhh... loh... apa aku tertidur? ekhh!! sakit!!" ucapku sambil memegang leherku.
" ... " °-°
.
.
"Eh! S-sira k-kapan kau ada di sini?"
Saat aku sedang duduk bersandar merasakan angin lembut yang berhembus menerpa tubuhku dan meniup rambutku sampai terurai tiba-tiba saja di depanku bermunculan kembali cahaya roh yang cukup banyak, sebagian cahaya roh itu ada yang mengelilingiku dan ada pula yang hanya diam saja gemerlapan di depanku seperti bintang-bintang di langit malam, dan sesaat setelahnya aku tiba-tiba merasakan kantuk yang cukup berat lalu akhirnya tertidur dengan lelap di sana.
Entah berapa lama tertidur aku merasa sedikit heran dengan itu, tapi keherananku langsung tertutupi oleh rasa sakit yang kembali menerkamku dan saat sedang sedikit merintih mataku tiba-tiba tertuju pada Sira yang sudah ada di sampingku.
Dan dengan tatapan kebingungan kami terdiam sambil menatap satu sama lain tanpa bicara sedikitpun sampai akhirnya aku benar-benar terkejut melihat kehadirannya di dekatku, refleksku sedikit kurang bagus jika dalam keadaan seperti ini.
Aaa... Sira pasti mendengarku tadi, aku pasti ketahuan.
"Mungkin beberapa menit yang lalu." Jawabnya.
"Anu... nona."
"Y-ya ada apa Sira."
"Apa anda/"
"Owh ya Sira b-bagaimana k-keadaan orang-orang itu? apa kau sudah mengantarkan mereka sampai ke tempat yang aman?" ucapku memotong ucapannya dengan sembari bertanya.
"Ya nona saya sudah mengikuti dan memastikan keamanan mereka sampai di tempat yang aman, tapi nona..." jawabnya.
"Y-ya ada apa?"
"Apa anda sudah sering menggunakan sihir?" tanyanya padaku.
" ... "
Aku sedikit mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kondisi orang-orang sebelumnya agar Sira tidak khawatir denganku, awalnya itu memang berjalan baik, tapi setelah Sira bertanya padaku tentang seberapa sering aku menggunakan kekuatanku aku hanya terdiam tidak bisa menjawabnya, bukan karena aku tidak memiliki Jawaban untuk pertanyaan itu, tapi jika Sira bertanya seperti itu artinya dia sudah mengetahui tentang keadaanku saat ini dan artinya aku tidak bisa lagi menutupinya.
Aku hanya menggunakan sihirku beberapa kali saja, walaupun begitu benar-benar kewalahan dengan rantai ini dan efeknya tidak akan hilang semudah membalikkan telapak tangan.
"Selagi itu masih belum terlalu jauh, jangan terlalu sering menggunakan sihir dan sebaiknya untuk sementara anda tidak perlu menggunakan kekuatan sihir... ini demi keselamatan anda nona." Ujarnya padaku.
"Jadi kau sudah tau ya Sira?" ucapku dengan sedikit menunduk melihat ke rerumputan.
"Walau sedikit terlambat bagi saya untuk menyadarinya, tapi gerak gerik anda sedikit mencurigakan nona... anda tidak terlalu pandai melakukan kebohongan."
"Anda memang orang yang baik, tapi jangan menjadikan alasan kebaikan itu untuk menyakiti diri anda sendiri." Sambungnya.
"Yahh... mungkin kau benar, tapi aku tidak terlalu sering menggunakannya, melawan golem, merombak rumah, menahan kura-kura, dan menyelamatkan orang-orang tadi, aku berpikir untuk menyembunyikan kondisi ini darimu, karena aku tidak ingin membuatmu khawatir... aku ini pembohong yang besar dari dulu aku selalu membohongi orang-orang di sekitarku dengan senyuman ini, yahh... tapi ternyata kebohonganku ini sudah terlalu basi untuk dilakukan." Ucapku tersenyum sedu dengan sedikit meneteskan air mata.
"Sebagai bawahan kekhawatiran itu hal yang wajar nona."
" ... hiks."
"Eh! a-anu m-maaf nona s-sepertinya saya s-sudah berlebihan."
"Tidak apa-apa hiks... terima kasih Sira..."
__ADS_1
Aku hanya bisa berterus terang kepadanya karena sudah tidak ada lagi yang bisaku sembunyikan dari Sira dia sudah terlanjur mengetahui kebohonganku, dan tanpaku sadari aku juga mengatakan kebenaran tentang diriku di masa lalu saat sebelum aku direinkarnasi, mengingat itu semua membangkitkan kembali kesedihan yang sudah kupendam untuk bisa hidup tenang dan bahagia, pada akhirnya aku hanya bisa menangis tak bersuara karena ingatan masa lalu kembali tergambar jelas di kepalaku.
...🌹*****🌹...