
"Wah wah, dia sangat memaksakan diri ya" ucapku perlahan muncul di hadapan mereka.
Lukanya cukup parah...
" … "
Hm... ya ampun, prajurit macam apa yang takut pada wanita hehehe... ya sudahlah... akan merepotkan jika mereka berlarian ke dalam hutan tanpa penjagaan.
"Ah maaf mengejutkan, aku tidak bermaksud menakut-nakuti kalian" ucapku pada orang-orang itu sambil berjalan ke arah Sira dan Shea.
Selesai dengan urusanku pada Ardner aku kemudian kembali berteleport ke tempat Shea berada sambil menyamar sebagai Shea dewasa, tapi sesampainya aku di sana Shea sudah terlihat tidak sadarkan diri terbaring di atas tubuh harimau Sira dengan wajah yang terlihat kesakitan dan banyak goresan di tubuhnya.
Menahan serangan Ardner tanpa menggunakan perlindungan apapun dia sangat memaksakan diri untuk melindungi orang yang bahkan tidak ingin dia ada, begitupun dengan Ardner yang terlihat kekanak-kanakan menghakimi Shea hanya karena hal seperti itu.
Para manusia di belakang Sira terlihat sangat terkejut dan tegang saat melihatku datang menghampiri mereka, ekspresi wajah mereka cukup untuk menghiburku karena hari-hari yang membosankan, tapi aku langsung menenangkan mereka agar tidak satupun dari mereka yang lari meninggalkan tempat ini karena Shea sangat tidak akan menyukai jika mereka mati.
"Apa-apaan penam…/"
..
"Shuttt… apa kau pikir aku sudi menampakkan diriku di hadapan orang-orang, Siraa?" ucapku berbisik dengan perlahan di telinga Sira.
"Ti-tidak" sahutnya padaku.
...
Ya aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini...
"Karena aku sudah ada di sini, aku akan membawanya pulang untuk merawat ' adikku yang manis ini ' dan sebelumnya maaf atas keributan yang terjadi" sambungku sembari menggendong Shea.
Seperti yang aku pikirkan penyamaranku terlalu mencolok di mata Sira, ya karena memang aku menyamar sebagai Shea, tapi aku menginginkan ekspresi yang lebih dari Sira dan sayangnya dia bersikap biasa-biasa saja.
Dan karena dia terlihat ingin membongkar penyamaranku aku langsung berjongkok di hadapannya lalu berbisik di telinga harimau mungilnya itu dengan maksud agar dia tidak lagi mengungkit tentang siapa aku sebenarnya, karena aku tidak ingin memperlihatkan diriku di hadapan banyak orang, dan setelah aku selesai berbicara dengannya aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah tubuh Shea yang terbaring di sampingku lalu mengangkatnya sembari berjalan pergi dari tempat ini.
"Sira, kau kawal mereka sampai di tempat yang aman… bala bantuan sudah menunggu mereka di sisi lain hutan ini…" ucapku sambil berteleport perlahan menghilang dari tempat mereka.
"Y-ya b-baik" sahut Sira berbaring sambil mematung.
Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan mereka dengan membawa tubuh Shea aku memerintahkan Sira agar dia melanjutkan keinginan Shea mengantarkan mereka pulang dengan selamat.
__ADS_1
...*****...
"Baiklah kita sampai, tidurlah dengan nyenyak Shea... hm... sebaiknya aku mengganti pakaiannya dan juga lukanya perlu dibersihkan" ucapku sambil menatap Shea yang masih penuh dengan bercak darah.
"Apa aku perlu menggunakan mantra tidur? tidak, tidak perlu... lagipula dia tidak akan bangun dalam waktu dekat" ucapku perlahan membuka pakaian Shea.
Sesampainya di kamar Shea aku langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan karena gaun yang dia gunakan terdapat banyak bercak darah aku kemudian berniat untuk mengganti pakaiannya agar dia bisa tidur dengan nyenyak.
Sambil mengangkat tubuh Shea ke posisi duduk aku menyandarkannya pada sandaran kasur lalu melepaskan pakaiannya sambil menggunakan sihir air yang aku tampung dengan daun besar dari tanamanku, aku juga mengarahkan sulur-sulur tanamanku untuk mengambil pakaian baru juga handuk dua handuk kering yang ada di dalam lemari, yah tiga tugas di waktu yang sama itu akan mempersingkat pekerjaanku.
"Hehehehe… sepertinya aku mulai menyukai ini, kau terlihat seperti putri tidur Shea hehehe… tapi, Ardner… haah, dia bahkan tidak mengijinkan orang lain untuk mengobati Shea, meski begitu ini bukan masalah besar untukku" ucapku sambil membersihkan luka Shea.
Tapi, mungkin ada baiknya jika seperti ini, Shea akan belajar untuk tidak sembrono melukai dirinya.
.
.
"Baiklah, tinggal mengobati lukanya… tapi, sepertinya ini tidak bisa menggunakan cara biasa, walaupun begitu… sihir penyembuhan; serbuk sari pemulihan."
Menyapu bersih sisa darah yang ada di dekat luka Shea aku juga mengelap tubuhnya dengan handuk basah mulai dari wajah sampai ujung jari kakinya, meski sedang dalam keadaan terluka sama seperti awal aku melihatnya Shea sangat manis dan imut, aku dapat melihat dan menyentuh kulitnya yang sangat lembut dan halus seputih salju itu, aku benar-benar sangat betah berlama-lama bersamanya.
Sambil mengelap tubuhnya aku kemudian berencana untuk langsung mengobatinya, tapi energi sihirku sempat ditolak oleh tubuh Shea karena efek dari rantai kutukan yang terpasang di lehernya, Ardner benar-benar ingin membuatnya merasakan hukuman darinya dan meski aku merasa kesal, tapi aku setuju dengan caranya ini dengan begitu Shea pasti akan belajar dan berhati-hati dalam segala hal yang akan melukainya.
Selesai melakukan itu aku langsung menggunakan sihir penyembuhan, tapi dikarenakan Shea tidak bisa diobati secara biasa karena terhalang rantai kutukan itu aku kemudian menggunakan sihir penyembuhan yang terlihat lebih identik dengan diriku, aku memunculkan setangkai bunga orange keemasan di atas tubuh Shea yang kemudian menjatuhkan serbuk sarinya pada tubuh Shea, serbuk sari itulah yang akan memulai penyembuhan pada luka-lukanya serta akan meningkatkan regenerasi pada area luka dan karena itu berasal dari tumbuhan sihir kutukan yang menghalangi penyembuhan tidak akan berfungsi untuk menolaknya.
"Ekhh!"
"Tenanglah Shea tidurlah dengan nyenyak sampai semua lukamu sembuh sepenuhnya" ucapku sambil mengelus rambutnya.
"Rambutmu terlihat berantakan, kalau begitu aku akan menyisirkannya untukmu" ucapku sambil membuka pintu dimensi mengambil sisirku yang ada di rumah pohon.
Terlihat seakan merintih saat serbuk sari itu menyentuh kulitnya aku kemudian kembali membaringkannya di atas kasur lalu meletakkan kepalanya di kakiku sembari mengelus-elus rambutnya, dan karena rambutnya terasa agak kusut aku langsung mengambil sisir rambut yang ada di rumahku dengan membuka pintu dimensi lalu memasukkan tanganku ke sana.
"Hehehehe... aku selalu ingin melakukan ini padamu, tapi aku berharap bisa melakukannya saat kau sadar Shea."
.
.
__ADS_1
.
Sambil memegangi helaian rambut Shea yang panjang lurus aku perlahan menyisir rambutnya secara bergantian sedikit demi sedikit, bukan hanya kulitnya yang sangat lembut, tapi juga helaian rambutnya yang selembut kapas, terlihat sangat lemah akan tetapi sangatlah kuat melebihi baja benar-benar sebuah keistimewaan yang menakjubkan.
Dalam keadaan seperti ini membuatku sangat ingin berbicara dan terus dekat dengannya, tapi karena aku masih ingin mengawasinya dari kejauhan aku hanya bisa bertemu dengannya saat dia tidak sadarkan diri, meski sudah tidak ada keraguan padanya aku tetap akan mengawasi Shea dari balik dedaunan untuk melihat kehidupannya lebih lanjut tanpa harus mencampurinya.
...***** ***** *****...
"Apa nona masih pingsan?" tanya Sira perlahan memasuki kamar.
"Apa seperti itu etikamu saat memasuki kamar wanita, Sira?" tanyaku sambil tersenyum tipis padanya.
"Glek…" (''•_•)
Waktu terus berlalu dan sehari semalam aku duduk menemani Shea yang masih tertidur pulas di pahaku tanpa ada ketukan di pintu kamar Sira datang dengan menerobos keheningan tempat ini, melihatnya masuk tanpa sopan santun aku kemudian langsung menyadarkannya pada etika saat masuk ke kamar wanita.
Tok... tok... tok...
"... apa aku boleh masuk?" ("◉_◉)
"Bagaimana keadaan orang-orang itu?" tanyaku padanya.
"Kau seharusnya tidak perlu menanyakan itu, Frenya."
"Hehehehe... aku tidak mudah menoleh pada sesuatu yang kecil."
"Haah, ya meski sedikit lama karena jarak dan kewaspadaan mereka padaku, aku sudah mempertemukan mereka dengan pasukan bantuan itu" sahut Sira sambil berubah ke ukuran kecilnya lalu melompat naik ke atas meja.
"Tapi, ini lebih cepat dari dugaanku."
"Ya… aku berkali-kali menggunakan sihir teleport untuk mempersingkat perjalanan" ucapnya sambil berbaring di atas meja.
"Begitu ya... mereka seharusnya masih belajar untuk menjadi seorang prajurit" ucapku sambil menatap ke arah Shea.
"Bagimu begitu? tapi, menurutku mereka memang tidak pantas untuk menjadi prajurit, sebagai seseorang yang mengambil gelar menjadi petarung di medan pertempuran mental mereka sangatlah buruk, keyakinan mereka sangat mudah dihancurkan."
"Hehehehe… mereka masih kecil Sira, jangan samakan dengan dirimu yang sudah ribuan kali melakukan pertarungan."
"Ya, setidaknya tunjukkanlah sedikit harga diri ketika dalam pertarungan" sahut Sira sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺...
...Mohon maaf sampai sini dulu ya, ini adalah penjelasan time skip saat Frenya membawa Shea pulang 🙏 hehehe 😀...