I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 156: Gadis pembuat keheningan


__ADS_3

"Sira bisa kau berpindah tempat dulu, aku ingin pergi melihat-lihat hutan."


"Sebaiknya anda jangan mencari masalah lagi nona, kondisi anda baru saja membaik" sahut Sira padaku.


"Iya iya aku tau Sira, kau sudah cukup sering mengingatkanku dalam beberapa saat terakhir" ucapku sambil menjinjit leher Sira.


"Kalau begitu anda cukup diam di sini dan jangan bergerak terlalu jauh" sahut Sira padaku.


"Aku cuma jalan-jalan Sira" ucapku sembari menurunkan Sira.


Cukup lama duduk memandangi pegunungan yang sangat memanjakan mata, aku kembali ingin jalan-jalan melihat area hutan dari ketinggian, aku tidak akan pernah bosan untuk melakukannya karena itu sangat menyenangkan, aku kemudian meminta Sira untuk menjauh dari kakiku karena aku ingin terbang, tapi dia malah tidak mempedulikan perkataanku dan tetap berbaring di pangkuanku tanpa bergeser sedikitpun, dia juga berbicara seolah melarangku untuk jalan-jalan dan itu cukup mengesalkan jadi aku langsung mengangkat Sira dari lehernya seperti kucing yang membawa anaknya, tapi Sira malah semakin terdengar mengesalkan dengan tetap melarangku untuk pergi.


"Ya saya tau, tapi di sanalah masalahnya akan muncul" sahutnya padaku.


"Ugh! akukan cuma ingin melihat dunia luar apa itu salah? lagipula keadaanku sudah jauh lebih baik" ucapku sambil merangkul kakiku.


"Tidak ada yang salah nona, hanya saja untuk sekarang anda sebaiknya jangan bergerak terlalu jauh, apa anda lupa kejadian beberapa hari lalu?" sahut Sira sembari duduk di sampingku.


" ... "


Benar-benar sangat menyebalkan kucing gemukku yang seharusnya mematuhi ucapanku malah terlihat sebaliknya dengan bertindak seperti bos yang melarang bawahannya, sedangkan aku hanya terdiam merangkul kakiku dengan mulut menggembung dan ekspresi yang cemberut karena ingin segera pergi mengepakkan sayapku yang sedikit kaku, aku malas mendengar suara ocehan Sira.


"Hahh… saat ini pergerakan anda sangat terbatas nona, jika anda melewati batas wilayah meski hanya sedikit kejadian tempo hari pasti akan terulang lagi" sambungnya padaku.


"Batas?"


"Iya nona, rantai itu bukan hanya sekedar untuk membatasi kekuatan, tapi juga pergerakan anda menjadi lebih terbatas pada titik yang sudah ditentukan... jadi, jangan berjalan terlalu jauh lagi" jawab Sira sembari menunjuk ke arahku.


"Hm... apa karena itu kemarin rantainya tiba-tiba aktif?" ucapku pelan sambil menatap tanganku.


Walaupun Sira tampak tenang memejamkan matanya, tapi dia sangat banyak mengoceh padaku, suasana ini bahkan menjadi sangat membosankan meskipun aku bersama dengan ketiga monster yang mengagumkan aku merasa ada sesuatu yang kurang dari hidupku, perasaan ini benar-benar membosankan dan bahkan terasa sangat menyebalkan, tapi walau begitu aku akhirnya dapat mengetahui penyebab rantaiku yang tiba-tiba aktif dan itu juga terdengar sangat menyebalkan, pria naga itu tampaknya tidak puas sudah mengekang kekuatanku dan sekarang dia juga merantai kebebasanku.


"Ugh aku benci ini! yahh… lagipula aku tidak pergi jauh" sambungku sembari berjalan mendekati danau.


...


"Hm... ternyata taringku memang tumbuh, ini terlihat cukup panjang" ucapku menatap air sembari membuka mulutku.


Aku tidak begitu suka dikekang karena aku sudah cukup puas dengan batasan yang aku dapatkan di duniaku yang dulu, tapi untuk saat ini aku akan menerimanya karena ini salah satu dari hukumanku, meskipun aku tidak bisa bergerak bebas semauku setidaknya aku masih bisa melihat jalan utama hutan El'o, berjalan ke arah tepi danau aku sedikit memainkan lidahku untuk mendorong-dorong gigiku karena aku merasa ada sesuatu yang aneh di mulutku, dan benar saja saat aku bercermin di air danau taringku yang mungil kini sudah tumbuh lebih panjang sekitar satu setengah cm untuk taring atas sedangkan taring bawahku sedikit lebih pendek dari bagian atasnya, bahkan mungkin aku bisa menghisap darah seperti vampir dengan taring-taring sepanjang itu.


"Baiklah waktunya pergi, Sira kau mau ikut?" tanyaku pada Sira.


"Hahh… anda masih mau jalan-jalan nona?" sahut Sira menghela napas sambil balik bertanya padaku.


"Hehehe tidak perlu khawatir Sira, aku hanya jalan-jalan ke tempat yang pernah aku datangi sebelumnya, jadi apa kau mau ikut?" jawabku padanya sembari bertanya.


"Iya baiklah nona, saya ikut" sahutnya padaku.


Groah...


"Aku tidak ingin mengganggu aktivitasmu, kau boleh pergi bye bye! selamat bersenang-senang Blue" ucapku sambil melambaikan tanganku.


Berusaha untuk tidak mempedulikan taringku, aku kemudian mengajak Sira untuk pergi berkeliling hutan karena aku sudah bosan dengan ocehannya yang menyebalkan, walaupun dia tampak kurang setuju dengan tindakanku, tapi pada akhirnya Sira tetap ingin ikut denganku.


Setelah aku meletakkan Sira di atas kepalaku aku kemudian meminta Blue untuk pergi karena aku akan segera meninggalkan area hutan ini, aku tidak ingin mengganggu keseharian naga besar itu setidaknya dia pasti ingin berburu untuk sarapan dan jika Blue terus bersamaku dia tidak akan mendapatkan makanannya karena aku tidak bisa membuka dimensi ruangku yang penuh dengan tumpukan daging.


*****


"Sira, kau masih takut ketinggian?" tanyaku pada Sira.


"Tidak" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Cakarmu mulai terasa loh Sira."


" … "


"Ya sudahlah, ini akan menjadi penerbangan yang menyakitkan" ucapku sambil terus mengepakkan sayapku.


Apa aku bisa bertemu lagi dengan Toki ya?


Kembali terbang setelah cukup lama tidak mengepakkan sayapku aku sangat menyukai pemandangan hijau ini, gunung-gunung yang berjejer dan pepohonan yang bergoyangan pandanganku bersih dari polusi asap kendaraan, pemandangan ini benar-benar mengagumkan sama seperti saat pertama aku melihatnya, tapi meski begitu aku tetap tidak diberikan ketenangan untuk menikmatinya, Sira yang tadinya berada di antara sela-sela tandukku perlahan turun dan kini berpegangan di pundakku, bukannya aku tidak menyukainya, tapi aku lebih suka jika itu adalah tangan anak kecil daripada harus tangan kucing kecil yang penuh dengan cakar runcing, ini adalah penerbangan kedua terburuk yang pernah aku alami.


Walaupun Sira bisa berdalih bahwa dia tidak takut dengan ketinggian, tapi tentunya aku tau kalau itu hanya sebuah pembelaan harga diri, kucing kecil ini punya harga diri yang tinggi, tanpa mempedulikan hal itu aku kemudian mempercepat kepakan sayapku agar aku bisa sampai lebih cepat ke dekat jalanan hutan El'o yang pernah aku datangi, aku sudah tidak tertarik lagi dengan pedagang walaupun begitu aku tetap ingin jalan-jalan ke sana berharap bisa bertemu dengan kelompok Toki meski aku tau itu percuma karena mereka baru saja pulang dan tidak mungkin datang lagi ke hutan ini.


*****


"Wah itu dia jalanannya, baiklah waktunya untuk mendarat" ucapku sembari mengurangi ketinggian.


"Sira bersiaplah mungkin akan ada sedikit guncangan" sambungku pada Sira.


"I-iya nona" sahut Sira padaku.


.


.


"Anu... Sira kita sudah mendarat loh… sampai kapan kau akan berpegangan?"


"Ekhem m-maaf nona" sahut Sira melompat turun sambil balik bertanya padaku.


Mengudara di hamparan daun hijau hutan ini aku sama sekali tidak merasa lelah karena harus terus mengepakkan sayapku dan malah aku merasa sangat bersemangat untuk menyusuri jalanan hutan ini sama seperti sebelumnya, dan setelah mendapatkan tempat yang bagus untuk berpijak aku kemudian mendarat di atas dahan pohon yang cukup besar sambil menyentil dahi Sira yang menempel erat di bahuku bahkan mungkin juga cakarnya, karena aku bisa merasakan cakar kucing itu menggores kulitku, bahu dan punggungku benar-benar terasa nyeri karena goresan yang Sira buat.


Beberapa saat setelah aku menyentilnya Sira kemudian sadar lalu segera turun melompat ke samping kakiku dengan tanpa memperlihatkan wajahnya, Sira mungkin bisa bersikap biasa-biasa saja walau aku mengajaknya terbang, tapi tubuh kecilnya tidak mungkin berbohong kalau dia sedang takut bahkan kaki mungilnya masih terlihat gemetaran.



"Jadi, apa yang akan anda lakukan nona?" tanya Sira padaku.


"Yang aku lakukan? hm... apa yang akan aku lakukan ya?"


"Apa tujuan anda memang hanya untuk jalan-jalan?" sambungnya bertanya. •_•


"Um... mungkin aku juga akan mencari teman baru hehe" jawabku tersenyum.


Turun dari atas pohon dengan sedikit melebarkan sayapku untuk mengurangi guncangan aku mendarat dengan sangat sempurna, tak lama kemudian Sira juga ikut turun menyusulku sambil sedikit bertanya tentang langkahku selanjutnya, jujur saja aku masih bingun dengan tujuanku karena aku hanya ingin bertemu dengan kelompok Toki, tapi setelah beberapa saat berpikir tidak ada salahnya untuk menambah teman baru dan itulah tujuanku saat ini, lagipula salah satu tujuan aku mengulangi kehidupanku adalah untuk mendapatkan banyak teman.


.


.


Hahh... walau dari atas tampak dekat, tapi tenyata aku mendarat cukup jauh.


"Hm... ada apa Sira? apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyaku pada Sira.


"Saya hanya memikirkan seberapa luas anda bisa berjalan, akan sangat berbahaya jika anda keluar dari batasan anda, nona" jawabnya serius.


Melanjutkan tujuanku dengan berjalan di antara rimbunnya pepohonan hutan, keadaan hutan yang senyap dengan suara-suara aneh yang mulai bermunculan benar-benar memberikan kesan suasana horor pada setiap langkahku, terlebih lagi aku sedikit keliru dalam pendaratanku dan membuatku harus berjalan lebih jauh untuk sampai di jalanan utama hutan, dan dalam perjalanan ini ekspresi wajah Sira benar-benar membuatku bingung karena dia terlihat sangat tegang dan serius padahal aku tidak merasakan adanya musuh yang mendekat, tapi ternyata Sira berekspresi seperti itu karena dia merasa khawatir dengan keadaanku yang tidak bisa berjalan bebas dan jika aku melewati batasanku walau hanya sedikit aku pasti akan menderita.


"Tidak perlu khawatir Sira, aku hanya pergi ke tempat yang pernah aku kunjungi" sahutku sambil tersenyum.


"Y-ya mungkin akan sedikit lebih jauh dari itu" sambungku dengan suara pelan.


"Berhati-hatilah nona, kita tidak tau di mana batasan anda yang lainnya" ucap Sira padaku.

__ADS_1


"Iya iya aku mengerti..."


Sejujurnya aku tidak begitu peduli sih, tapi ya sudahlah...


"Baiklah waktunya mencari orang yang perlu bantuan hehehe."


Aku merasa kasihan dengan Sira karena dia terlihat sangat mengkhawatirkanku padahal aku tidak mempermasalahkan hal itu bahkan aku juga tidak mempedulikan batasanku, aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang merepotkan, tapi karena aku tidak ingin wajah Sira yang menggemaskan tenggelam dalam kekhawatirannya padaku, aku kemudian memintanya untuk tetap tenang dan tidak perlu memikirkanku lagipula aku tidak pergi jauh dari tempat yang pernah aku kunjungi, walaupun aku tidak bisa menjamin perkataanku itu hehe.


Sira juga memintaku untuk tetap berhati-hati karena kami tidak mengetahui sampai di mana aku bisa berpijak, tapi seperti sebelumnya aku tidak ingin mempedulikan hal-hal merepotkan seperti itu, meskipun rasanya akan sangat menyakitkan jika aku melewati zona amanku, tapi setidaknya aku dapat mengetahui setiap batas wilayah yang tidak bisa aku langgar, dan itu jauh lebih baik daripada harus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran tanpa mengetahui apapun.


.


.


"Hm... apa kau menciumnya Sira?" tanyaku pada Sira.


"Yang bisa saya cium hanya aroma gerombolan anjing liar yang mengganggu" sahutnya padaku.


Aroma ini... manis, eh! tunggu dasar bodoh! bukannya ini bau darah!? ah... aku benci pikiranku.


"Aku mencium bau darah dari arah sana, ayo kita lihat" ucapku sambil menunjuk ke arah kananku.


Berjalan dengan tenang menuju jalan utama hutan El'o sambil tersenyum berharap ada seorang yang mau menjadi temanku tiba-tiba saja langkahku kembali terhenti karena hembusan angin membawa aroma yang unik, tapi karena aku masih ragu dengan penciumanku aku kemudian bertanya pada Sira untuk memastikannya, tapi sepertinya Sira mencium aroma yang berbeda dari apa yang aku rasakan, jujur saja walau aroma yang aku endus terkesan cukup kental dan terkadang menjijikkan entah kenapa sekilas aku berpikir bau itu terasa seperti manisan yang menggiurkan, akan tetapi setelah aku mengingat-ingat kembali setiap aroma yang pernah aku cium, aroma yang kali ini sangat mirip dengan bau darah terutama darah manusia.


Setelah aku sadar dengan bau darah itu, aku merasa jiwa kemanusiaanku mulai sedikit berubah, aku merasa sangat aneh dengan pikiranku sendiri bahkan aku mulai meragukan kewarasanku karena terlalu lama terisolasi dari dunia luar dan keramaian, tidak ingin terlalu lama memikirkan hal yang tidak penting aku kemudian mengajak Sira untuk pergi ke tempat aroma itu berasal karena perasaanku mulai tidak enak dengan adanya bau darah di dalam hutan.


...*****...


Graahhh!!


"Sepertinya memang ada banyak anjing di tempat ini, bisa kau hadapi Sira?"


"Ya tentu nona, mereka monster yang lemah" sahut Sira berjalan lebih dulu.


Ssttt!! Ssttt!!


"Hm... ternyata cuma tampangnya saja yang menyeramkan."


Mengikuti arah bau darah yang kucium aroma darah segar itu tercium semakin jelas setiap langkahnya, tapi tak peduli dengan perasaanku yang sudah sangat tidak nyaman aku tetap berjalan dengan tenang tanpa tergesa-gesa karena aku tidak ingin terlalu ceroboh dalam langkahku, setelah beberapa saat aku dan Sira berjalan melewati pepohonan dan semak-semak hutan, dua ekor anjing hitam tiba-tiba muncul menghadang kami dengan mata merah dan taring yang dipenuhi air liur, anjing-anjing itu terlihat cukup menyeramkan bahkan aku juga merasa sedikit jijik dengan air liur mereka yang menetes, dan karena aku tidak ingin mengotori gaunku aku kemudian meminta Sira untuk menghadapi kedua anjing hitam itu.


Tapi ternyata kekuatan anjing itu tidak semenyeramkan bentuknya, bisa dibilang mereka sangat lemah dan mati hanya dengan satu serangan yang bahkan Sira lakukan dalam bentuk harimau kecilnya, benar-benar kekalahan yang memalukan mati di tangan kucing kecil imut dengan bulu yang menggemaskan, aku merasa kasihan dengan mereka, tapi karena aku tidak ada waktu untuk mengasihani monster anjing itu aku kembali berjalan menembus semak-semak tempat kedua anjing itu keluar untuk memeriksa keadaan di depanku.


Di manapun dunianya penampilan tidak akan bisa menjadi aspek penilaian, ya termasuk kucing ini. •_•


...***...


"Pertahankan posisi kalian dan lindungi penyihir di barisan belakang!! jangan sampai tim pendukung kita roboh!!" ucap seseorang dengan lantang.


""Baik!!"" sahut yang lainnya dengan serentak.



"Di depan sana terdengar sangat berisik ya, orang-orang itu pasti sangat kesulitan" ucapku sambil menerobos semak-semak.


"Jangan sampai lengah! cepat habisi kawanan Blackdog it…" teriak lelaki sebelumnya sekali lagi.


"Oh! halo" ucapku menyapanya.


Baru beberapa langkah aku berjalan melewati semak-semak besar di depanku, teriakan seseorang yang sedang menyeru teman-temannya terdengar sangat jelas dan keras bahkan aku juga bisa mendengar suara geraman para anjing, keributan di depanku terdengar sangat kacau bersamaan dengan bunyi goresan besi yang selalu terdengar dan aroma darah yang benar-benar segar.


Setelah beberapa saat aku dan Sira berjalan di dalam semak-semak besar yang menghalangi pandanganku, aku akhirnya bisa menembus gumpalan dedaunan hutan itu dan muncul tepat di samping orang yang sedang berteriak sebelumnya, dan entah karena apa keadaan menjadi sangat hening tanpa suara sedikitpun bahkan anjing hitam yang berada di tempat ini juga tidak lagi bersuara, dan karena itulah aku kemudian menyapa mereka Sambil mengangkat satu tanganku.

__ADS_1


__ADS_2