I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Vol 1. Chapter 2 : Pilihan


__ADS_3

‌"Ya... kalau begitu cukup sekian perkenalan kita, mari kita kembali ke topik utama" ucap Dewa Ryuu kembali memulai pembicaraan.


Setelah terdiam beberapa saat untuk menenangkan diriku, Dewa Ryuu kemudian kembali berbicara dengan suara dan sikap yang formal bahkan kakek Dewa dan Dewi Salia juga seperti itu, melihat ekspresi dan situasi yang terasa sangat formal ini sontak saja aku langsung bersikap serius untuk mendengarkan ucapannya dan kali ini akan kudengarkan dengan jelas karena mungkin saja ini adalah hal yang sangat penting, dan aku tidak ingin dimarahi lagi.


"Tanpa harus dijelaskan pun, kau pasti sudah menyadari bahwa dirimu sudah matikan?" lanjutnya dengan sedikit serius.


Tentu saja aku sudah tau itu dan aku tidak lagi terkejut mendengarnya membicarakan kematianku, aku hanya mengangguk kecil ketika Dewa Ryuu mulai membicarakan masalah itu untuk memberinya isyarat bahwa aku mengerti apa yang dia ucapkan.


"Baiklah akanku jelaskan mengenai alasan kenapa kami memanggil jiwamu kemari" ucap Dewa Ryuu sambil menatapku.


" ... "


"Ada dua alasan mengapa kami memanggilmu, alasan yang pertama adalah karena kami kasihan dan prihatin dengan kehidupanmu yang menderita, dan yang kedua ialah untuk kepentingan dunia yang akan kau tinggali nanti" ucap Dewa Ryuu sambil terus menatapku sembari mengatakan alasannya.


" ...? "


Mengangguk kecil sembari mendengarkan penjelasan Dewa Ryuu yang mengatakan alasan mereka ketika memanggilku ke tempat ini, aku menyimak setiap ucapannya dengan teliti dan serius karena memang aku sudah sangat menunggu penjelasannya karena itulah yang ingin aku ketahui sejak awal, dengan perlahan Dewa Ryuu kemudian mengatakan dua alasan terkait pemanggilanku, tapi meski dia sudah mengatakannya aku tetap bingung dengan perkataan Dewa Ryuu, aku bisa mengerti yang ucapannya yang pertama tapi tidak dengan yang kedua dan malah konsentrasiku menjadi sedikit terganggu karena kebingungan dengan pernyataan Dewa Ryuu.


"Maksudnya kau akan direinkarnasi ke dunia yang berbeda, proses reinkarnasi sangat diperlukan untuk mempertahankan usia dunia itu, karena kau berasal dari dunia di mana tidak ada sihir sama sekali, dengan demikian jika dirimu direinkarnasi ke dunia lain maka jiwamu akan membawa energi murni yang besar yang cukup untuk mempertahankan dunia itu sampai reinkarnasi selanjutnya dilakukan" ucap Dewa Ryuu menjelaskan.


"Energi murni yang sangat besar itu akan diserap oleh sistem dunia dalam proses reinkarnasi guna mempertahankan usia dunia, itulah yang dimaksud demi kepentingan dunia, apa kau sudah mengerti?" sambung kakek menjelaskan kata-kata Dewa Ryuu.


Menatap ke arahku dengan alis yang terangkat heran Dewa Ryuu kemudian memberikan penjelasan lebih lanjut tentang perkataannya yang sebelumnya walaupun masih ada beberapa hal yang membuatku bingun, tapi aku bisa mengerti tentang apa itu reinkarnasi karena aku pernah membacanya dari buku-buku novel fantasi, dan untuk memperjelas perkataan Dewa Ryuu sebelumnya kakek Dewa kemudian berbicara sembari mengusap-usap janggut panjangnya menatap ke arahku, sebagai seorang Dewa kakek pasti tau kalau aku sedang kebingungan apalagi saat aku sedikit memiringkan kepalaku aku benar-benar terlihat sangat kebingungan bahkan Dewi Salia tampak tersenyum melihatku dan itu membuatku cukup malu.


"Singkatnya seperti seorang pengirim bantuan untuk korban bencana" ucap Dewi dengan memberikan istilah sederhana.


"Ooo... em em..." gumamku sambil mengangguk.


"Tentunya jika kau memilih untuk direinkarnasi, jika kau tidak mau kami tidak akan memaksamu karena kaulah yang menentukannya" ucap Dewa Ryuu mengangkat bahunya.


"Kalau begitu, Silahkan pikirkan dengan baik apa yang akan kau pilih? apa kau ingin direinkarnasi dan mengulangi kehidupanmu di dunia lain atau tidak?" lanjut Dewa Ryuu dengan santai sambil bertanya.


Mengangguk kecil setelah mendengarkan ucapan Dewi Salia yang memberikan sebuah perumpamaan sederhana, aku cukup terbantu untuk memahami keadaannya saat ini, tapi aku kembali kebingungan dengan dua pilihan yang di ucapkan oleh Dewa Ryuu padaku, aku takut dengan pilihan yang akanku buat, aku sudah lama menyerah dengan kehidupanku, tapi di sisi lain aku juga ingin kembali merasakan kehidupan yang lebih baik.


Selama ini aku hanya memaksakan diriku untuk tersenyum dan bahagia tak peduli seberapa menyakitkannya hinaan dan perlakuan yang diberikan orang lain kepadaku, benar-benar kehidupan yang sangat buruk, tapi aku tetap menyukainya karena aku punya keluarga yang menyayangiku dan selalu mendukungku.


Terdiam dengan tanpa mengangkat wajahku, aku benar-benar bingung dengan langkah yang harus aku ambil.


"Bagaimana? apa yang akan kau pilih?" tanya Dewa Ryuu padaku.


Yoshh...


Berpikir dengan keras untuk menentukan pilihanku pada akhirnya aku memutuskan untuk mengulangi kehidupanku, aku membulatkan tekadku lalu mengangguk setuju setelah Dewa Ryuu kembali bertanya padaku, bukannya aku tidak bersyukur dengan hidupku ataupun membenci takdirku yang terlahir dengan kekurangan, tapi satu-satunya alasanku menerima tawaran untuk hidup kembali hanyalah karena aku ingin hidup dengan cara yang lebih baik dan lebih jujur, bagiku keluargaku tidak akan pernah bisa tergantikan.


"Owhh... kau sudah sangat yakin yaa" ucap Dewa Ryuu.


"Em em..." gumamku sambil mengangguk kecil.


"Yahhh... kalau begitu akan kuberikan beberapa pilihan kehidupan yang kau inginkan, kau ingin terlahir dari keluarga, ras, dan lingkungan seperti apa?" ucap Dewa Ryuu kembali bertanya.


Setelah aku menyetujui untuk mengulangi kehidupanku Dewa Ryuu kemudian tersenyum sambil memperlihatkan beberapa cermin transparan yang mengambang di depanku, alih-alih melihat ke arah Dewa yang sedang bicara pandanganku malah teralihkan ke cermin-cermin transparan itu, mataku membulat heran dan kebingungan setelah melihat itu, semua cermin itu terlihat seperti hologram, di dalamnya terdapat berbagai macam gambaran kehidupan, mulai dari yang kaya raya sampai petani sederhana bahkan ada gambaran tentang kehidupan dunia fantasi.

__ADS_1


"Oiii...! kau mengabaikan ku lagi!" sambil mengkerutkan keningnya Dewa bicara dengan wajah yang cemberut karena aku yang tak mendengarkannya.


Hehe... maafkan aku…!


"Yahhh... orang awam memang selalu seperti itu saat melihatnya, singkatnya itu adalah sihir, dunia yang kau tinggali nanti adalah dunia yang penuh dengan hal semacam ini, jadi kau harus terbiasa" ucap Dewa Ryuu sambil menghela nafas.


Owhhh... jadi itukah sihir? apa aku juga bisa melakukannya? °-°


"Hahh... untuk menghemat waktu aku tidak akan membahas sihir, mari kembali ke topik utama" ucap Dewa Ryuu padaku.


Melihat hal yang sangat mengagumkan ada di depan mataku, aku menjadi sangat terpukau dengan semua cermin yang muncul di hadapanku itu bahkan aku nyaris tidak memperhatikan perkataan Dewa Ryuu dan membuatnya kembali mengomel padaku, dia kemudian menjelaskan padaku bahwa apa yang kulihat ini adalah bentuk gambaran sihir dari dunia yang akanku tinggali nanti, tapi karena tidak ingin membuang banyak waktu Dewa Ryuu tidak menjelaskan secara lebih tentang sihir itu.


"Nahh... Aya keluarga seperti apa yang kau inginkan? kau bebas memilihnya, apakah kau ingin menjadi anak raja, bangsawan, pengusaha, kepala desa, atau hanya warga sipil biasa, silahkan pilih?" lanjut Dewi dengan lembut sambil menunjuk satu persatu cermin itu.


Hmm... apa yang ku pilih yaa?


Jika aku memilih anak raja mungkin aku akan menjadi pewaris tahta dan menjadi pemimpin kerajaan, tidak mungkin itu terlalu berat untukku.


Bangsawan? tidak tidak bangsawan itu merepotkan, kepala desa?


Hmm...


Pengusaha? aku memang pernah bekerja dan mengerti sedikit tentang kewirausahaan, tapi tidak ini juga sedikit merepotkan.


Yoshh...! kalau begitu aku akan pilih warga sipil biasa...


Memperlihatkan satu persatu bentuk kehidupan yang akan menjadi pilihan untukku Dewi Salia menunjukkan gambaran kehidupan beberapa orang mulai dari seorang raja sampai warga desa biasa, dan setelah berpikir dengan semua kemungkinan yang akan terjadi, aku kemudian menunjuk ke arah cermin dengan gambar warga biasa sama seperti kehidupanku sebelumnya, aku memutuskan untuk mengulangi hidupku dengan menjadi warga biasa saja karena aku ingin hidup dengan tenang dan damai, aku tidak ingin melakukan hal merepotkan yang akan mengganggu ketenanganku.


" ... "


Mendengar keputusanku yang ingin menjadi seorang warga biasa Dewa Ryuu tampak terkejut dengan mengangkat alisnya dan menatap heran ke arahku, dia juga kembali memberiku pilihan untuk menjadi anak raja, tapi tentunya aku tidak mau dan langsung menggelengkan kepalaku karena aku sudah bulat dengan keputusanku.


Aku bukan orang yang mengincar harta dan kekuasaan, aku tidak tertarik dengan semua itu karena yang aku inginkan adalah kebahagiaan, hidup di lingkungan yang sederhana dan berkecukupan dengan suasana yang damai, bukan hidup dalam dunia politik kerajaan yang pastinya akan sangat merepotkan.


"Baiklah kalau begitu, mari kita lanjutkan, kau ingin terlahir dari ras apa? di dunia ini juga terdapat berbagai ras yang menghuni setiap daratan dan lautan, seperti misalnya ras manusia, iblis, manusia hewan, elf, duyung, dan lain sebagainya" ucap Dewi Salia kembali menunjuk ke arah cermin-ceminnya.


Hm... duyung? Elf? tidak, aku memang suka tumbuhan, tapi... elf biasanya hidup jauh dari keramaian, hm... menjadi manusia hewan tampaknya akan menyenangkan, apa aku pilih itu saja ya?


Eh! tunggu dulu, kalau tidak salah ras manusia hewan itu biasanya sering didiskriminasi ras lain, tidak tidak itu menyeramkan, oke sebaiknya aku pilih manusia saja.


" ... "


"Ehhh...! kau yakin tidak ingin jadi ras lain? manusia hewan misalnya? aku yakin kau akan cocok dengan telinga kucing atau rubah bukankah itu terlihat imut?" ucap Dewa Ryuu padaku.


Kembali mengarahkan pembicaraan ke topik utama kami Dewi Salia menunjuk ke arah cermin-cermin di depan kami dengan setiap isi cermin yang telah berubah, cermin-cemin yang semula menggambarkan perbedaan kasta itu perlahan berubah menjadi gambaran berbagai ras seperti yang disebutkan oleh Dewi.


Setiap ras yang ditunjukkan oleh Dewi Salia benar-benar sangat mengagumkan dan terlihat imut, aku suka membaca cerita fantasi yang penuh dengan berbagai jenis kehidupan dan petualangan, tapi apa yang aku lihat saat ini terlihat lebih menakjubkan daripada hanya sekedar berimajinasi dengan ilustrasi di dalam buku, ras manusia hewan yang imut dengan telinga hewan mereka yang menggemaskan, begitu juga ras duyung dan elf yang mengagumkan.


Tapi, aku memilih ras manusia karena aku ingin mengulangi kehidupanku sebagai manusia bukan non-manusia, aku juga tidak ingin mendapat diskriminasi dalam kehidupan keduaku karena sudah sangat puas merasakannya, tapi lagi-lagi Dewa Ryuu berkomentar dengan pilihan yang aku buat dan sekali lagi aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menanggapinya karena aku tidak akan mengubah keputusanku yang sudah sangat bulat.


"Kita tidak bisa memaksanya Ryuu, dia ingin jadi manusia atau tidak... itu adalah keputusannya, dia yang memilih dan yang menentukan hidupnya" ucap kakek Dewa memberikan menasehati pada Dewa Ryuu.

__ADS_1


"Yahhh... kurasa memang benar" sahut Dewa Ryuu sambil menghela napas.


Entah apa yang dipikirkan olehnya Dewa Ryuu tampak sangat ingin membuatku terlahir menjadi ras humanoid, dia berulang kali berusaha menggoyang keputusanku dan beralih untuk memilih ras humanoid, tapi beruntung dari dulu aku sangat jarang mengubah keputusan yang sudah aku pilih dan aku akan menganggap perkataannya hanya sebagai nyamuk pengganggu saja, walaupun kakek Dewa sudah menasehatinya untuk tidak menggangu pilihanku, tapi ekspresi Dewa Ryuu tampak tidak puas dengan apa yang menjadi keputusanku padahal aku sudah dibebaskan untuk memilih seperti apa kehidupanku nanti, jika memang sangat ingin menjadikanku sebagai ras humanoid kenapa tidak langsung saja mengirim jiwaku ke dalam janin humanoid yang dia inginkan? kenapa harus membiarkan aku untuk memilih dan bertatap muka dengannya? Dewa ini cukup mengesalkan.


"Kalau begitu kita mulai saja proses reinkarnasinya, tapi sebelum itu apa ada pesan atau permohonan yang kau ingin katakan?" ucap Dewa Ryuu padaku.


Pesan ya...? hmm... mungkin tidak ada, tapi aku ada satu permohonan dan bagaimana aku mengatakannya ya? aku ingin bicara tapi suaraku tidak mau keluar, hahh... bagaimana ini?


"Ambillah ini... tulislah sesuatu dan kami akan mengabulkannya" ucap Dewi Salia sembari memberikan selembar kertas padaku.


[ Aku ingin ibu dan adikku hidup dengan bahagia penuh dengan kasih sayang ]


Beberapa saat setelah kakek Dewa menasehatinya, Dewa Ryuu kemudian kembali bersikap sedikit formal dengan mempertanyakan satu permohonan yang ingin kuucapkan sebelum aku direinkarnasi, sejujurnya aku memiliki banyak permohonan yang ingin aku ucapkan, tapi aku tidak enak dengan para dewa ini karena mereka sudah memberiku kesempatan untuk memilih kehidupanku sendiri.


Setelah memikirkan hal itu aku kemudian memilih satu permintaan terpenting di antara semua keinginan yang ingin aku katakan, dan sekarang yang menjadi masalahnya adalah aku belum bisa berbicara dan itu sangat membingungkan, aku bahkan harus berpikir keras untuk mengeluarkan suaraku, tapi beruntung Dewi Salia memberiku selembar kertas dan sebuah pensil agar aku bisa mengungkapkan keinginanku itu, tanpa berlama-lama aku kemudian menulis satu keinginan terbesarku yang sudah dari dulu aku usahakan untuk mencapainya, dan setelah selesai menulisnya aku langsung menyerahkan tulisanku itu pada Dewi Salia yang sontak membuatnya tersenyum tipis ke arahku.


"Kau memang anak yang baik" ucap Dewi padaku dengan suara lembutnya


Senang rasanya mendengar itu, aku juga tersenyum membalas senyuman Dewi Salia, tapi tiba-tiba tubuhku terangkat sedikit demi sedikit dengan diselimuti oleh cahaya terang keemasan yang berkilauan, bahkan tangan dan tubuhku terlihat mulai tembus pandang seperti akan segera menghilang menjadi cahaya.


"Selamat jalan dan selamat menikmati kehidupan barumu, Ayame" ucap Dewa Ryuu sembari mengatakan kalimat perpisahan denganku.


"Hohoho... jaga dirimu baik-baik anak manis" ujar kakek dengan tawa riangnya yang khas.


"Teruslah menjadi orang yang baik hati dan selalu tersenyum Aya" ucap Dewi Salia tersenyum sambil memelukku.


"Terima kasih... aku pasti akan menemui kalian lagi, aku berjanji " ucapku menggerakkan bibir tanpa suara.


Melayang semakin tinggi dan semakin jauh dari tempat dudukku sebelumnya, para dewa itu kemudian berdiri sambil mengucapkan kata-kata perpisahan untuk menyemangatiku, tak terkecuali dengan Dewi Salia yang langsung memelukku sebelum aku benar-benar terbang tinggi, setelah pelukan kami terlepas aku kemudian menggerakkan bibirku untuk berbicara meskipun nyatanya aku tidak bisa mengeluarkan suaraku, tapi sekali lagi aku berharap mereka bisa memahaminya karena ini adalah janjiku pada mereka.


"Ya kami akan menantikannya" kata Dewi, mengerti apa yang ku ucapkan.


Terima kasih banyak.


Tetesan air mata mulai mengalir melewati pipiku ketika tangan Dewi sudah tidak bisa aku sentuh lagi, aku terus mengucapkan terima kasih pada mereka hingga pandanganku mulai kabur, tubuhku perlahan memudar seperti hantu dan tak lama kemudian aku akhirnya tidak bisa melihat apa-apa, semuanya menjadi gelap tanpa suara.


...*****...


Krakkk!!!


"Ehh...!"


Entah berapa lama aku mengambang dalam kegelapan tanpa bisa melihat atau menyentuh apapun –setidaknya seperti itulah yang aku rasakan– saat aku bisa menggerakkan tubuhku tiba-tiba saja tanganku menyentuh sesuatu dengan diiringi suara retakan yang membuatku terkejut.


Suara retakan itu terus terdengar hingga aku bisa melihat ada pancaran cahaya yang muncul di hadapanku dengan bentuk seperti akar kayu.


Retakan itu ada tepat berada di hadapanku dengan cahaya terang yang cukup menyilaukan, dan dengan cepat aku kemudian menggerakkan tubuhku mencoba meraihnya.


"Bwaaaa!!! selamat datang dunia baru!!!"


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2