
"Yahh... memang sudah waktunya untuk makan."
Aku kemudian mengambil dan memasak makanan seperti biasanya lalu dengan perlahan memakannya dan tetap dengan porsi kecil.
"Apa kau mau Sira?"
"Tidak perlu nona, hehehe."
Tentu saja tidak perlu, kau sudah makan banyak saat ada di dalam dimensiku "•_•
Aku mengajak Sira untuk ikut makan walaupun aku tau itu tidak perlu, karena dia sudah makan saat berada di dalam dimensi ruangku, perutnya juga sudah terlihat bulat.
"Apa itu nona?" tanya Sira sambil menunjuk ke vas bungaku.
"Itu bunga, tadi aku menemukannya tumbuh sendirian jadi kupindahkan ke vas bunga untuk hiasan, memangnya kenapa Sira?" jawabku.
"Bukan apa-apa nona, hanya sedikit penasaran."
.
.
"Ahh... rasanya sudah lebih baik, terima kasih makanannya."
"Oh ya Sira, bagaimana kalau kita lanjutkan belajar berbicara? kurasa aku sudah hafal semua hurufnya jadi tidak masalah langsung ke sana." Ucapku pada Sira.
"Tentu saja nona." Jawabnya.
Setelah selesai makan aku meminta Sira untuk melanjutkan pelajarannya sambil berjalan menuju ke lantai 9, lebih sering belajar maka akan semakin cepat aku bisa berbicara menggunakan bahasa dunia ini.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan menyebutkan kalimat sederhana seperti ' ja-la-n dan ma-ka-n ' cobalah nona."
"Ja...la...n, ja...lan, jalan, ma...ka...n, ma...kan, makan... jalan, makan." Ucapku mengeja.
"Ya seperti itu nona, itu sudah bagus."
"Be-nar-kah... Benarkah Sira?"
"Tentu nona." Jawabnya.
Aku sangat senang bisa mengucapkan kalimatku dengan mulutku sendiri, walaupun masih terdengar agak kaku, tapi itu sudah cukup, mungkin aku akan bisa menyebutkan kalimat dengan benar sebelum sampai di rumahku di lantai delapan.
.
.
.
"A-apa ini sudah terdengar bagus?"
"Ya nona, semua katanya sudah tepat, anda cepat belajar."
Sepanjang perjalanan aku terus belajar bicara menggunakan kata-kata yang sederhana dan itu sangat mudah, tidak ada kendala dalam pembelajaran ini jadi aku dapat memahaminya dengan cepat.
"Sira itu pintu lantai 9 kan?" tanyaku pada Sira.
"Sira? ada apa Sira?"
Dia tidak tidurkan?
"Nona jika anda bicara gunakanlah mulut anda, untuk apa anda belajar jika anda masih menggunakan telepati untuk berkomunikasi." Ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Oh dia marah.
Sira tidak menjawab saat aku memanggilnya padahal aku yakin dia masih bangun, setelah beberapa saat kemudian Sira akhirnya menjawabnya, tapi dia tampak marah padaku karena aku masih menggunakan telepati untuk berbicara.
__ADS_1
"Maaf."
"S-sira bisa berhenti memukul-mukul kepalaku?!"
Bahkan setelah setelah aku minta maaf dia masih saja menepuk-nepuk kepalaku dengan tangan kecilnya itu, itu tidak terasa sakit dan malah terasa sangat menggelikan.
"Hehehehe, ini cukup menyenangkan nona."
Apa maksudnya itu, rambutku bukan bola benang. "•_•
"Sudah kubilang hentikan itu." Ucapku sambil mengangkat Sira.
"Hehehehe maaf nona."
Aku mengangkat tubuh Sira sepertinya anak kucing kemudian meletakkannya kembali seperti biasa, aku memang suka tingkah lucunya itu, tapi lama-lama itu mulai sedikit menyebalkan.
Walaupun aku suka seperti itu, tapi aku juga bisa marah dengan hal yang kecil apalagi kalau rambutku diacak-acak padahal aku sudah susah payah merapikannya.
"AAAA... ekhem... j-jadi itu lantai 9 kan Sira?" tanyaku sekali lagi.
"Ya nona."
"Kalau begitu... ayo kita masuk..." ucapku sambil mengambil ancang-ancang untuk terbang.
"AAAAA!!!" teriak Sira.
Wussstt...
.
.
.
.
.
"S-sedikit kurang baik nona." Jawab Sira.
Maaf ya hehehe.
Aku mengambil sedikit ancang-ancang lalu terbang melesat menuju ke lantai 9 dengan begitu aku bisa menghemat waktu dan dapat bergerak lebih cepat untuk sampai ke rumahku di lantai 8.
Tapi karena kondisi Sira yang tidak memungkinkan aku hanya terbang sampai di pertengahan lantai 9, karena yang kulewati ini adalah jalur tercepat – setidaknya yang aku tau – aku dapat dengan cepat sampai di pertengahan lantainya, walaupun aku tidak yakin ada di tengah lantai 9, tapi setidaknya aku sudah sangat jauh melesat ke dalam lantai 9 hehehe.
"Kenapa tidak ada monster yang berkeliaran di sini?" ucapku pelan.
"Hey Sira apa kau merasa ada yang aneh?" tanyaku pada Sira.
"Saya juga merasa demikian nona, sejak kita memasuki lantai 10 sampai ke lantai 9 saya tidak melihat ada satupun monster yang berkeliaran." Jawab Sira.
Ternyata bukan hanya aku yang merasa ada hal yang janggal, tapi juga Sira, sejak kami berteleport ke lantai 10 dan sampai sekarang aku tidak melihat ada monster yang berlalu-lalang padahal aku yakin kalau di sini dulunya ada banyak monster yang berkeliaran.
"Tapi..."
"Tapi apa Sira?"
"Tapi, sebaiknya anda lihat dulu aura anda nona mungkin itu penyebabnya."
"Eh!? aura? bukannya ini normal?"
Aku sedikit bingung dengan ucapan Sira mengenai auraku, aku merasa tidak ada yang aneh dengan itu karena auraku masih kutekan seperti biasanya dan belum pernah kubuka.
"Begini nona, anda menyamarkan aura saat anda berada di lantai 70 ke bawah yang artinya masuk dalam zona bawah yang dihuni oleh monster terkuat yang ada di labirin, sedangkan sekarang kita sedang berada di lantai 9 zona atas yang hanya dihuni oleh monster yang lemah tentu itu sangat berbeda, aura anda sekarang seperti para monster yang ada di zona bawah tentu itu menakuti monster yang ada di sini nona." jelas Sira.
__ADS_1
Yahh... kurasa itu ada benarnya, aku memang menyamarkan auraku sama seperti monster di lantai bawah.
Setelah Sira menjelaskan aku mengerti mengapa tidak ada satupun para monster yang berkeliaran, ternyata memang karena auraku yang menakut-nakuti mereka.
Aku tidak sadar kalau auraku lebih besar dari monster-monster yang ada di tempat ini dan menyebabkan mereka menjauh dan menghindariku karena takut, tapi aku senang karena tidak ada yang menghalangi dan menghambat perjalananku jadi tetap ada keuntungan dari keadaan ini.
Pada awalnya aku mengira ada sesuatu yang akan datang atau ada monster kuat yang sedang lewat, tapi ternyata monster itu adalah aku sendiri.
Aku suka dengan ketenangan ini, tapi aku tidak terlalu suka dengan keheningan yang berlebihan, seperti kata pepatah ' air yang tenang belum tentu tiada buaya ' jadi aku tetap harus waspada dan berhati-hati.
"Sira bersiaplah aku akan terbang lagi."
"T-tunggu nona lebih baik kita menggunakan sihir teleport saja."
"Tidak aku ingin sedikit olahraga."
"Tapi.../
"Bersiaplah Sira..."
Wussstt...
Dengan sedikit ancang-ancang aku terbang kembali agar lebih cepat sampai di lantai delapan, tapi kali ini aku tidak terbang secara mendadak, terlebih dahulu aku bilang pada Sira kalau aku ingin terbang agar dia bisa bersiap, Sira selalu berteriak saat aku terbang dia mungkin sangat takut karena kejadian yang sebelumnya.
.
.
.
"Hup... sekali lagi mendarat dengan sempurna."
Setelah terbang cukup lama dan melewati tikungan-tikungan yang ada aku berhasil terbang sampai ke lantai delapan dan mendarat di sana dengan selamat, tapi seperti biasa Sira berpegangan sangat erat aku bahkan dapat merasakan cakar-cakar kecilnya menempel di kulit kepalaku dan ya itu sakit, tapi aku tetap membiarkannya seperti itu, aku tau dia sangat takut.
.
.
.
"Aduh!! apa ini?!"
"Ada apa nona?" tanya Sira.
Saat aku berjalan tiba-tiba saja aku tidak sengaja menabrak sarang laba-laba karena terlalu fokus pada ucapan Sira, apalagi sarang laba-laba yang satu ini sangat lengket dan menjerat rambutku.
"Aaa!! rambutku...!! dasar jaring sialan!!"
"Waa!! nona! nona!! saya...aku aaa!! terbakar.../
"Tenanglah Sira! kau tidak terbakar, aku hanya membakar jaring laba-laba ini." "•_•
Aku tidak menyukai itu, tentu karena aku sudah membersihkan dengan susah payah dan itu hancur hanya karena sarang laba-laba, karena kesal aku langsung menyelimuti tubuhku dengan api untuk membakar seluruh jaring laba-laba yang menempel, untungnya rambutku sangat lembut jadi sangat mudah untuk di rapikan kembali.
"Tunggu jaring?! Sira kita sudah berada di lantai 8 kan?" tanyaku pada Sira.
"Benar nona, mungkin sekitar satu jam yang lalu kita memasukinya."
"Ooh jadi begitu, jadi itu sebabnya aku merasa pernah mengenal tempat ini."
"Memangnya ada apa nona?"
"Tidak apa-apa, hanya saja ada sedikit kenangan di tempat ini." jawabku.
...~•~...
__ADS_1