I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 47: Reuni Laba-Laba


__ADS_3

"Memangnya ada apa nona?" tanya Sira.


"Tidak apa-apa, hanya saja ada sedikit kenangan di tempat ini." jawabku.


"Ya... kenangan, kenangan yang menyakitkan."


Melihat jaring laba-laba, membuatku mengingat kembali masa lalu, masa lalu yang hampir membuatku terbunuh, mengingat itu memang membuatku merinding, tapi aku tidak selemah yang dulu aku jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Mereka masih di atas ya... yahh... sama seperti dulu.


"Sira sebaiknya kau diam di sini dulu." Ucapku sambil meletakkan Sira di atas batu.


Aku meletakkan Sira di atas sebuah batu lalu membuat pelindung transparan untuk melindunginya agar tidak terkena serangan racun dari laba-laba yang ada di sini.


"Jadi waktunya kita mulai, serangga..."


Ssttt


Duarrrr...


Aku melancarkan serangan tombak es ke atas untuk memancing para laba-laba agar mau turun ke bawah, puluhan tombak langsung melesat cepat ke atas menyerang sarang utama dari laba-laba itu.


Tombakku jauh lebih sempurna dari yang dulu jika aku mengingat-ingat tombakku yang dulu hanya seperti tanah yang dibentuk runcing, tapi sekarang bentuknya mirip dengan senjata tombak asli, aku dapat membentuk berbagai macam jenis senjata dari sihir esku.


Brukkkk


Craahhhhh!!


Setelah beberapa saat kemudian yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul, laba-laba merah dan para koloninya melompat dan berjatuhan walaupun sebagian ada yang merayap di dinding untuk turun ke bawah.


Seperti biasa jumlah mereka ada ratusan, tapi itu tidak membuatku takut, karena aku sudah pernah merasakan betapa sakitnya serangan mereka.


"Lama tidak berjumpa laba-laba, senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucapku dengan tatapan mengerikan.


"Dulu kau menyerangku dengan racun dan kaki sabit itu, sekarang biarkan aku yang melakukannya padamu." Lanjutku sambil memunculkan senjata tongkat sabit di tangan kananku.


Aku menyimpan dendam tersendiri dengan laba-laba yang satu ini, salah satu monster yang hampir membuatku terbunuh, mengingat kembali hal itu membuat darahku meluap-luap, tapi sekarang tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi, aku yang akan membunuhnya dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan padaku dulu.


"Oww...! apa ini?! apa kalian ingin main lompat tali?"


Para laba-laba kecil yang ada di sekelilingku melilitkan jaring mereka ke tubuhku dan tanganku mungkin untuk menghentikan pergerakanku, tapi itu percuma saja karena aku motongnya dengan sabit besarku lalu membakar sisanya dengan api biru yang berkobar.


"Huhh... menjijikkan! apa hanya ini?!"


Mereka kemudian menyemburkan cairan racun ke arahku, tapi lagi-lagi itu percuma, karena racun itu sudah terhenti bahkan sebelum sempat mengenai tubuhku, tentu karena aku menggunakan sihir pelindung di sekelilingku yang berfungsi sebagai perisai transparan dengan diameter 2 meter.


Wusss...


Sring...


Laba-laba besar itu tampaknya tidak senang dengan ejekanku, dia kemudian menyerangku dengan kakinya yang berbentuk seperti sabit itu, tapi dengan cepat aku menahannya menggunakan senjata tongkat sabit sampai-sampai terjadi benturan dan percikan api di antara kedua senjata kami.


"Owh! lumayan, tapi... itu belum cukup!!" ucapku sambil melompat.


Ssttt!!


"Hey! tidak adil main keroyokan!"


Saat aku melompat untuk menebas kepala laba-laba besar tiba-tiba para gerombolan laba-laba kecil melancarkan jaring-jaring mereka ke arahku, spontan aku langsung menghindar dengan terbang lebih tinggi dan langsung menyiapkan serangan untuk ku arahkan pada mereka.


"Kalau begitu... rasakan ini!!"


Sstt!! Sstt!!


Duarrrr!!!


Aku melancarkan serangan hujan es dari atas dan seketika ratusan bahkan ribuan kristal tajam dan runcing berjatuhan menusuk para laba-laba kecil yang berada di bawah.


Mereka yang tertusuk berubah menjadi es karena efek dari freezing dan hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"NONA AWAS!!!" teriak Sira.


"Upsh...! hampir saja." Ucapku sambil mengarahkan tanganku ke titik serangan dan membuat perisai.


Aku hampir saja lengah karena harus mengurus gerombolan laba-laba kecil itu dan hampir saja aku terkena serangan racun dari laba-laba besar di belakangku, untungnya ada Sira yang memberitahuku dan juga karena aku memiliki refleks yang bagus dan langsung memasang perisai dengan corak kepingan salju.


Hm... mereka masih banyak, sebaiknya aku jangan terlalu lama bermain-main.


.


.


"Huhh... selamat tinggal." Ucapku sambil sedikit menghela nafas untuk mempersiapkan serangan.


Clikk...


Duarrrr!!!


Perlahan aku turun lalu menjentikkan jariku dan seketika kristal-kristal tajam bermunculan dari tanah dan membunuh semua monster laba-laba kecil yang ada dengan cepat dan hanya menyisakan monster laba-laba besar saja.


"Jadi bagaimana? hanya kau yang tersisa." ucapku pada laba-laba besar.


CRAAHHHHH!!!


"Hoo... kau marah hehehehe."


Aku sedikitpun mengejek-ejeknya untuk mengurangi semangat bertarungnya, tapi sepertinya monster tidak bisa diejek dia terlihat sangat marah walaupun begitu aku tidak takut dengannya.


Ssttt!!


CRAAHHHHH!!!


.


.


Ssttt!!!


CRAAHHHHH!!!


Brukkkk


Shittt...


Craahhhhh!!!


Aku melompat ke atas tubuh laba-laba itu kemudian dengan satu tebasan membelah punggung sampai ke perut bawahnya, menyisakan darahnya yang berhamburan mengalir meninggalkan tubuhnya, monster laba-laba itu bahkan tidak sanggup lagi untuk bersuara keras.


"Ahhh... ini menyenangkan, hey hey! apa kau ingat?! kau dulu membelah perutku seperti ini, lihat darahmu keluar persis seperti yang kau lakukan dulu padaku." Ucapku sambil berdiri menatap ke wajah monster itu.


"Oowh... itu pasti sakit iyakan? hehehe... sekarang nikmatilah rasa sakit itu!! inilah balasannya karena sudah membuatku marah!!"


Aku kemudian menendang kepala monster laba-laba itu sampai hancur, setelah sekian lama akhirnya aku berhasil membalas laba-laba ini.


"Nona.../


"HAH!!!"


..


"Eh! maaf Sira, kurasa aku sedikit terbawa suasana." Ucapku pada Sira.


Aku benar-benar terbawa suasana pertarungan dan agak sedikit berlebihan sampai-sampai aku tidak sengaja membuat Sira takut karena tatapanku yang tajam, Sira sedikit mundur dan tidak berani menatapku, itu membuatku merasa bersalah.


"T-tidak apa-apa nona saya mengerti."


Perlahan aku mendekati Sira kemudian mengeluarkannya dari sihir pelindung yang kupasang lalu kembali meletakkannya di kepalaku.


"Sekali lagi maaf ya Sira."

__ADS_1


"Tidak tidak, bukan masalah nona." Sahut Sira.


"Nona, ada jaring laba-laba di rambut anda." Lanjut Sira.


"Eh! d-di mana? di mana?"


"Di ujung rambut nona." Jawabnya.


Aku kemudian mengambil jaring laba-laba yang tersangkut di ujung rambutku, aku tidak ingin rambutku rusak karena jaring laba-laba ini cukup lengket.


"Wahh... terima kasih Sira."


Jaring... hm... ini mirip benangkan? benang bisa jadi kain lalu jadi...


"Oowhh!! benar! tapi apa aku bisa?"


"Ada apa nona." Tanya Sira.


"Aku hanya berpikir apa aku bisa membuat baju dengan benang laba-laba ini?"


Baju itulah yang ada di pikiranku saat melihat gumpalan benang yang berserakan di sekitarku, tapi apa aku mampu membuatnya? dulu aku membuat bajuku sendiri saat aku masih hidup di dunia lamaku, orang tua dan nenekku selalu mengajarkan hal yang berguna.


"Apa itu mustahil untuk dilakukan?" tanyaku pada Sira.


"Entahlah nona, jika menggunakan benang biasa mungkin bisa, tapi jaring laba-laba itu terlihat sangat lengket untuk dijadikan benang jahit." Jawabnya.


"Itu ada benarnya, tapi..."


Bagaimana jika aku membuat benang sendiri? tapi apa itu mungkin? apa naga bisa membuat utas benang?


"Yahh... aku tidak akan tau jika tidak dicoba, lagipula kalau dilihat lebih jelas benang ini terbuat dari mana sihir, yup apapun yang berhubungan dengan sihir aku pasti bisa melakukannya."


"Saya rasa juga begitu, tidak ada salahnya untuk mencoba nona." Ucap Sira.


Aku suka mencoba hal baru, walaupun itu tampak mustahil untuk dilakukan, tapi dengan sedikit keyakinan, ketekunan dan kesabaran itu yang mustahil pasti bisa kulakukan hehe.


Yang perlu aku lakukan hanya membayangkannya sama seperti saat aku membayangkan puluhan tombak waktu itu, bayangkan utas benang keluar dari ujung jariku.


"Tidak terjadi apa-apa, huhh... sekali lagi, aku harus fokus."


"Nona?"


"Tunggu Sira, tolong jangan menggangguku dulu, aku bisa merasakan sensasinya di ujung jariku." Ucapku sambil menutup mata.


Aku memejamkan mataku untuk mendapatkan konsentrasi dan fokus untuk merasakan dan membayangkan utas-utas benang itu, terasa geli di ujung jariku seperti ada sesuatu yang akan keluar.


"Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar... WOOAHH!!! Sira! aku berhasil! Sira?"


.


.


"Anu nona, b-bisa turunkan saya? di sini terasa sangat tinggi."


"Ehh! apa yang kau lakukan di atas sana Sira?" ucapku sedikit kaget sambil menatap ke atas.


"Y-yah... hanya bermain tali hehe." "^_^


Saat aku ingin menunjukkan utas benang yang ada di jariku, Sira tiba-tiba tergantung di atas kepalaku oleh untaian tali benang yang berserakan di sekitar kami dan tentu itu adalah utas benang yang terhubung dengan tanganku, sepertinya aku tidak sengaja melilitkan benangku padanya hehehe.


"Terima kasih nona."


"Hehehe maaf ya Sira."


Aku kemudian melepaskan benangku lalu menurunkan Sira dan meletakkannya di atas batu di depanku.



Sedikit info: jangan lihat orangnya, tapi lihat senjatanya, karena mungkin ada yang bingung bagaimana bentuk tongkat sabit. (ini dari shining nikki) wk 🤣

__ADS_1


...~•~...


...~Selamat membaca dan jangan lupa dukungan anda~ (>_<)...


__ADS_2