I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 107: Khawatir ~ POV Frenya ~


__ADS_3

"Hehehehe, seperti biasanya kau selalu bisa menghiburku Shea, yaah undead memang sangat mengganggu penciuman, wajar saja jika kau sampai muntah-muntah seperti itu" ucapku sambil tersenyum menahan tawa.


"Jika saja aku bisa menemuimu secara langsung aku pasti akan terus mengelus-elus kulitmu, tapi belum saatnya untukku bertemu denganmu."


Melihat Shea yang sangat bersemangat ingin membantu pertarungan benar-benar membuatku terhibur apalagi saat dia muntah-muntah setelah menghadapi beberapa undead, tindakannya benar-benar sangat menggemaskan begitupun dengan kepribadiannya yang sangat imut, tapi satu hal yang pasti Shea tetap tipe orang yang tidak bisa diam menonton jika bisa memberikan bantuan.


Sangat disayangkan aku tidak bisa bertemu dengannya karena aku ingin terlebih dahulu melihat kehidupan yang dia jalani dari kejauhan sebelum aku bertemu dengannya secara tatap muka, padahal aku sangat ingin mencubit kulit pipinya yang putih lembut itu, meski aku sudah beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku ingin melihat raut wajahnya secara sadar saat aku melakukan itu aku ingin melihat ekspresi menggemaskan seperti apa yang muncul dari wajahnya.


...*****...


DUARRR!!


"Orang-orang di sebelah sana sangat ricuh, benar-benar sangat mengganggu" ucapku menatap jengkel ke cermin daun dari tempat dudukku di balkon pohon.


"Haah, ya sudahlah sebaiknya aku membantu Shea, baiklah hutan hijauku hancurkan semua undead pengganggu dan bantulah perjalanan si putih!"


...***...


"Duh, dasar pengganggu/"


"Nona!!"


Ssttt!!


"Apa itu?!" ucap Shea terkejut sambil menghindar ke belakang.


"Waspadalah nona!" seru Sira sembari berdiri di hadapan Shea.


"Ayo kita pergi Sira."


"Y-yahh baik nona"


...***...


Dari jalur yang dilewatinya Shea akan bertemu dengan salah satu iblis itu, yaah tak masalah aku yakin dia bisa mengatasi itu.


Aku sangat senang bisa melihat ekspresi wajah Shea yang imut, tapi melihatnya yang menjerumuskan diri dalam kesulitan untuk menolong orang lain aku tidak menyukai itu, dengan tatapan tidak suka bercampur dengan rasa jengkel aku menatap cerminku dan melihat ke arah lokasi hutan yang berada tidak begitu jauh dari Shea, seorang pemuda yang didampingi oleh makhluk roh petir dan laki-laki berbadan besar yang sedang bertarung melawan iblis cakram ruang seorang komandan iblis, aku juga melihat seorang iblis yang bertarung dengan seekor makhluk roh petir dari sisi hutan yang berbeda.


Mereka semua benar-benar menciptakan kericuhan di dalam hutan yang membuatku tidak bisa menikmati petualangan Shea dengan tenang, melihat wajah Shea yang sangat ingin mengetahui apa yang terjadi aku kemudian mengubah beberapa tumbuhan menjadi tanaman karnivora yang memangsa para undead agar dapat memudahkan perjalanannya.


...


"Undead busuk itu, haaah mereka sangat banyak ya!" ucapku sambil menghela napas.


"Seribu dua ribu, ada lima ribu lebih pasukan undead yang berkeliaran di dalam hutan! yaah vetra memang sudah mulai bergerak."


"Tapi, meski sudah mengerahkan pasukannya sepertinya gelombang pertama kali ini sangat tidak beruntung" ucapku sambil tersenyum.


Setelah sempat terdiam memandangi tanaman karnivora yang bermunculan Shea kemudian melanjutkan perjalanannya, meski aku sudah membantu mengurus perjalanannya tetap saja undead terus berdatangan menembus hutan dan menghalangi langkahnya, tentunya itu tidak terlepas dari banyaknya jumlah undead yang sangat banyak, tapi walaupun begitu mereka memilih waktu yang kurang tepat untuk melakukan serangan gelombang pertama karena harus berpapasan dengan seseorang seperti Shea.


Sring! Sring!


"Hm! apa yang terjadi di dalam?" ucapku sambil berjalan masuk ke dalam rumahku.


...***...


Sring!


"Pedang itu?!" ucapku menatap ke sebilah pedang yang terkurung di dalam dinding kamarku.


"Ada apa, kau ingin pergi? apa kau ingin membantunya?"


Sring!


"Jadi begitu, kau sangat ingin pergi ya… haaah baiklah lagipula aku sudah tidak berhak lagi untuk menjagamu, kalau begitu jagalah Shea" ucapku menghela napas seraya melepaskan segel kurungan pada pedang itu.


Ssttt!!


Sibuk mengamati setiap pergerakan yang ada di berbagai bagian hutan menggunakan cerminku tiba-tiba aku mendengar suara gemerincing besi yang menghantam sesuatu dari dalam rumahku atau lebih tepatnya dari dalam kamarku, karena aku sedang berada di balkon kamarku.


Secara perlahan aku meletakkan gelas minumku di meja lalu berjalan masuk menuju ke arah sumber suara itu yang terdengar berada di samping tempat tidurku, dan benar saja saat aku menghampirinya suara benturan besi itu berasal dari pedang yang aku simpan di dinding kamarku sebuah pedang istimewa yang memiliki banyak sejarah, pedang itu sengaja kusimpan dan kusegel karena tidak ada yang bisa mengendalikannya.


Red roses pedang itu sangat istimewa karena yang bisa menggenggamnya hanya para wanita dengan garis keturunan naga murni itupun jika dia memiliki kekuatan yang cukup untuk menyentuhnya, sedangkan untukku sendiri mungkin hanya sebuah kebetulan karena aku yang diminta untuk menjaganya.



"Red roses, kau pun sudah mencium aura keberadaannya ya… kembalilah kepadanya" ucapku kembali berjalan ke balkon kamarku sambil menatap pedang rose yang terbang melesat meninggalkan rumah pohonku


"Dengan begini sisanya hanya perlu mengawasi Shea" ucapku berdiri di depan pagar balkon.


Sesaat setelah aku melepaskan segel yang mengurungnya pedang itu langsung melesat pergi meninggalkan rumah pohonku, pedang itu memang memiliki pemikirannya sendiri dan itu adalah salah satu keistimewaannya, perlahan aku kembali berjalan ke arah balkon dengan memandang kepergian pedang putih dengan ukiran bunga mawar itu.


"Hoahh, benar juga aku belum tidur dari kemarin sebaiknya aku tidur siang sebentar lagipula ada Sira sebagai tenaga tambahan untuk membantu melindunginya" ucapku sambil kembali berjalan masuk ke dalam kamar.


.........


"Ahhh, saking bersemangatnya ingin tau kehidupan Shea aku sampai melupakan kehidupanku sendiri" kataku sambil berbaring di tempat tidur.


Merasakan hembusan angin dan ketenangan yang ada di tempatku benar-benar membangkitkan rasa kantukku, dengan perlahan aku berjalan menuju tempat tidurku lalu membaringkan tubuhku di atasnya aku benar-benar lupa untuk tidur saat sedang mengawasi keadaan Shea dari kemarin siang.


Dengan suasana yang hening dan tenang walaupun hutan penuh dengan keributan aku perlahan memejamkan mataku untuk menikmati tidurku yang tertunda.





...***...


Tap Tap Tap


"Ya ampun, sudahku bilang kau tidak perlu datang sesering ini Lolovi" ucapku sambil bangkit dari tempat tidurku.

__ADS_1


"Ah, aku ketahuan hehehe" sahutnya sambil tertawa kecil.


"Aku dapat mendengar suara langkah kakimu dengan jelas."


"Maaf mengganggu tidurmu Frenya" ucapnya seraya duduk di kasurku sambil memegang cangkir tehnya.


"Apa kau ada masalah?"


"Eh! t-tidak bukan begitu! akhir-akhir ini ratu Delima tidak memiliki banyak aktivitas dan tidak terlalu membutuhkan bantuanku, jadi aku hanya bosan tidak ada kerjaan saat berada di istana, j-jadi aku mampir ke sini untuk melihat keadaanmu beliau juga sudah memberiku ijin untuk menghampirimu" ucapnya sambil menatap ke dalam gelas tehnya.


"Bosan ya…"


Aku tau itu hanya alasanmu, lagipula dari dulu ratu pemalas itu memang tidak memiliki banyak aktivitas.


Tidak begitu lama setelah aku tertidur samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan berulang kali melewatiku, bahkan tanpa harus membuka mataku aku tau bahwa itu adalah Lolovi karena hanya dia yang sering bolak balik ke tempatku dia hanya tersenyum sambil tertawa kecil saat aku memergoki seperti itu, walaupun aku sudah sering bilang padanya untuk tidak datang ke rumahku, tapi Lolovi selalu datang bahkan tanpa diundang sekalipun.


Setelah meletakkan teko air dan beberapa gelas kecil di meja balkon kamarku dia kemudian perlahan menghampiriku lalu duduk di sampingku dengan kaki yang menjuntai ke luar tempat tidur, dari raut wajahnya sangat jelas bahwa dia sedang berada dalam masalah, tapi dia menolak untuk memberitahukannya padaku dan beralih beralasan dengan membawa nama ratu agar aku percaya padanya.


...**...


"Kenapa kau tidak menindak tegas orang-orang yang bersikap buruk padanya, bukannya semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri?"


"Itu memang benar, tapi itu adalah urusannya bukan urusanku, aku sudah memberi perintah pada semua roh agar tidak bertindak demikian dan semuanya tergantung pada diri mereka masing-masing, sedangkan untuk Lolovi sendiri aku telah memberikan hak istimewa padanya agar dia tetap berada di dekatku, agar dia tidak menerima hinaan setiap saat, yaah mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantunya, sisanya dia sendirilah yang harus bisa menyelesaikannya dengan caranya sendiri semua itu tergantung padanya untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi."


"Walau dia tidak mengingatnya?"


"Ya walaupun dia tidak mengingat satupun penyesalan dan kesalahannya.


...**...


Tidak ada yang salah dari rasa cinta mendalam dengan ketulusan, tapi terkhianati mungkin adalah hal yang menyakitkan dan itulah yang terjadi padanya, jatuh cinta pada manusia apalagi dari dunia yang berbeda Lolovi berani menentang ratu agar tetap mempertahankan perasaannya pada lelaki manusia yang telah memanggilnya, satu aturan mutlak yang harus dianut dan tidak boleh dilanggar oleh setiap roh adalah mencintai pemanggilnya apalagi jika itu seorang manusia yang rentan usianya jauh lebih pendek daripada bangsa roh yang berasal dari dunia yang berbeda.


Sangat jarang ada pria manusia yang tulus dengan perasaannya, saat Lolovi menentang perintah ratu untuk kembali dan memutuskan untuk pergi dari dunia roh agar bisa tinggal bersama dengan lelaki manusia itu bukan cinta yang dia dapatkan, tapi sakit hati yang teramat dalam karena orang yang sangat dia cintai memiliki pujaan hati yang lain.


Beruntung hubungan mereka masih belum terlalu jauh, tapi walau begitu rasa sakit hati benar-benar menusuk hatinya dan di saat itu juga Lolovi membunuh lelaki itu bersama dengan wanita simpanannya, aku melihat semua kejadian itu seluruh kesedihan dan penyesalannya waktu itu yang membuatnya memohon agar kembali diterima di dunia roh dan bersedia untuk menjalani ritual penyucian diri dengan menghapus semua ingatannya.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur meski sudah terlahir dengan ingatan yang berbeda dikarenakan dirinya yang telah melanggar aturan mutlak para roh apalagi sampai menentang ratu, Lolovi menjadi sasaran empuk para roh yang benci dengan dirinya dia dikucilkan, dijauhi, dihina, dan diperlakukan dengan tidak pantas oleh para roh lainnya, orang-orang menganggapnya hanya sebagai sampah.


Walaupun ratu melarang adanya diskriminasi terhadapnya dan meminta Lolovi untuk tetap berada di dekatnya agar dia tidak menerima banyak penghinaan, tapi tetap saja banyak roh yang menatap sinis padanya dan mungkin karena itulah mengapa dia selalu datang ke tempatku untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Haaah, ya sudahlah terserah padamu saja" ucapku menghela nafas sambil beranjak pergi ke balkon kamarku.


Sekarang bagaimana kelancaran perjalanan Shea? pikirku sambil kembali memunculkan cermin daunku.


"Apa itu Frenya?"


"Hanya keributan biasa" jawabku.


...***...


"Nah nona, biarku lihat sejauh mana tubuhmu yang rapuh bisa bertahan!"


"Baiklah, tapi sepertinya akan lebih menarik jika kita membuat kesepakatan dalam pertarungan ini" ucap Shea padanya dengan nada yang meyakinkan.


"Sederhana saja, jika anda kalah hentikan semua ini dan agar terlihat adil jika saya yang kalah silahkan lakukan apa yang anda inginkan, saya tidak akan menentang apa yang anda katakan" ucap Shea padanya.


...***...


Sepertinya aku melewatkan banyak hal selagi masih tertidur, tapi aku akan mencari tau itu nanti untuk sekarang cukup melihat ini saja.


Dengan menghela napas panjang aku kemudian beranjak pergi ke balkon kamarku diikuti oleh Lolovi yang yang berjalan di sampingku, sambil menatap hutan-hutan yang rimbun aku duduk di salah satu kursi lalu kembali mengawasi keadaan Shea dengan cerminku, sesuai dengan tebakanku sebelumnya Shea bertemu dengan kedua iblis itu walaupun begitu tampaknya iblis Kin tidak ikut ambil bagian dalam menghadapi Shea dan itu adalah keputusan yang tepat baginya.


Walau cukup banyak yang terlewat saat kutinggal tidur sebelumnya, tapi aku melihat sesuatu yang bagus saat kembali mengawasinya, yaah aku melihat sesuatu yang menyenangkan karena Shea mau bertarung dengan taruhan yang meyakinkan.


"Wah wah anak itu sangat cantik ya" ucapku Lolovi sambil menatap ke arah cerminku.


"Ya dia juga imut" sahutku sambil tersenyum tipis menatap Shea dari balik cerminku.


"Hehehehe."


"Ada apa Lovi?"


"Tidak bukan apa-apa, aku hanya terkejut kau bisa tersenyum tulus seperti ini" sambung Lolovi sembari menahan tawanya.


"Apa maksudmu senyumanku karena paksaan?" •_•


"Tidak bukan begitu, hanya saja biasanya kau terlihat kurang bersemangat, tapi sekarang kau memiliki kesan yang berbeda, kau sangat tertarik padanya ya Frenya?" ucapnya sembari menyesap teh hangatnya sambil melirik ke arahku.


"Yaah kau bisa menganggapnya seperti itu" ucapku sambil tersenyum tipis padanya.


Menatap ke cerminku dengan penasaran Lolovi yang sedang berada di dekatku juga ikut serta memperhatikan keadaan Shea dari cerminku, dia bahkan terlihat kagum dengan kecantikan Shea dan aku dapat memahami itu karena Shea memang sangat cantik walaupun masih di usia muda, tapi tiba-tiba saja dia tertawa dengan menutupi mulutnya sambil menyinggung tentang kebiasaan senyumanku, yaah dan itu memang benar cukup lama berada di tengah hutan kadang membuatku merasa bosan dan tidak terlalu bersemangat meski banyak kejadian menarik di dalamnya, tapi tidak ada yang benar-benar bisa membuatku puas.


Meskipun hanya gurauan sederhana, tapi melihat Lolovi yang mulai kembali tersenyum bahagia membuat kekhawatiranku padanya sedikit berkurang, walau dia temanku aku tidak bisa berbuat banyak untuk bantuannya karena aku punya tugasku sendiri yang harus aku jalankan.


Baiklah waktunya kembali memantau keadaan Shea.


...***...


Sritt!


"Cih! aku benar-benar akan menghilangkan kedua tangan itu darimu!" ucap iblis itu dengan kesal.


"Silahkan saja!" sahut Shea sambil tersenyum.


"Aku tidak akan segan melakukannya!" ucap iblis Leron masih dengan kesal.


"Hm, apa itu ancaman? karena saya tidak takut dengan itu!" sahut Shea sambil tersenyum puas.


...***...


"Hm, ternyata gadis itu cukup kuat ya, padahal dia terlihat begitu lemah" ucap Lolovi mengamati Shea.


"Jangan terlalu meremehkan orang dari penampilannya walaupun terlihat anggun dan menggemaskan, tapi dia orang yang kuat" sahutku padanya.

__ADS_1


Kalau tidak salah Leron ya, sepertinya dia hanya sedang mengamati situasi, dia sangat licik,, pikirku sambil mencari tau nama iblis itu.


Meski aku tau seperti apa kekuatan Shea, tapi yang kulihat saat ini dia terlihat begitu ceroboh dalam bertarung, dia terlihat begitu percaya diri tanpa melihat gerak-gerik dari lawannya yang sedang mengamati dirinya, Shea seperti seorang amatir yang yang tidak mengerti dengan situasi pertarungan dia hanya terus bertarung tanpa mencari tau titik lemah dari lawannya, tapi walau begitu dia tetap masih bisa bertahan dan melakukan serangan balik yang langsung mengenai tubuh lawannya.


...***...


"Apa yang kau lihat nona!!" ucap rekan Kin sambil melemparkan bola-bola api itu.


"Woaa bahaya!!"


Sring!!


DUARRR


"Walaupun kecil, tapi efeknya cukup besar!" ucapku pelan menatap ke belakang.


"Ekh! sepertinya tanganku terkena sedikit serpihan api itu!" ucapku sambil memegang tanganku.


...***...


"Iblis itu cukup cerdas untuk memilih menyerang sayap gadis itu daripada tubuh utamanya" ujar Lolovi sambil terus mengamati pertarungan Shea.


Sepertinya Shea sama sekali tidak menyadari serangan itu, ini berbahaya!


Sangat kekanak-kanakan itulah yang bisa kulihat dari Shea aku suka dengan wajah polosnya, tapi kepolosan itu tidak bisa dipakai dalam pertarungan walaupun Shea berhasil menangkis semua serangan iblis Leron dengan pedangnya, tapi itu hanya untuk serangan depan saja sedangkan tujuan utama dari serangan itu adalah untuk melubangi sayap Shea yang terbuka saat dia sibuk menangkis serangan-serangan itu.


Dia benar-benar sangat licik, tapi strategi yang bagus untuk melumpuhkan lawan sekuat Shea,, pikirku sambil menatap cerminku dengan tatapan tidak suka.


Dengan perasaan cemas dan khawatir dengan keadaan Shea aku menatap tajam ke cerminku tanpa bisa berkata-kata, iblis Leron benar-benar berhasil mencari titik lengah Shea dan melukainya walaupun Shea sama sekali tidak menyadari itu.


...***...


"Bagaimana nona?!! cukup menyakitkan bukan?" ucap rekan Kin sambil tersenyum tajam.


"Itu memang sakit, tapi tidak berguna sama sekali!" jawab Shea padanya.


"Tidak berguna ya, hei nona kau punya sayap yang indah."


"Sayap? ha!!? sejak kapan!!?" ucap Shea terlihat terkejut melihat sayap-sayapnya


"Cih! gawat!! jika terus dibiarkan…" kata Shea menjatuhkan pedangnya.


"ARGHHH!!! haah haah haah! sakit!! jadi itu gunanya serangan tadi?!"


...***...


"A-apa?!!" ucapku terkejut melihat Shea.


"Mustahil! itu pasti sangat sakit!" ujar Lolovi ikut tercengang melihat Shea.


Padahal dia sudah memegang pedang Red roses, tapi… apa mungkin pedang itu perlu sedikit penyesuaian sebelum benar-benar bangkit?


Sesuai dengan dugaanku luka yang diberikan Leron pada sayap Shea mengandung racun yang dapat menghambat kemampuan penyembuhan pada tubuh Shea, luka di sayapnya terus melebar dan membakar sayap Shea sedikit demi sedikit sampai akhirnya Leron secara tidak langsung memberitahukan hal itu pada Shea.


Shea yang menyadari bahwa regenerasinya tidak bekerja langsung mengambil langkah untuk mencabut paksa kedua sayapnya dengan teriakan kesakitan keluar dari mulutnya, dan sontak saja tindakan Shea itu membuatku terkejut dan bahkan Lolovi juga sama tercengangnya denganku ketika melihatnya melakukan hal gila itu, padahal dia telah memegang pedang mawar, tapi meski begitu sepertinya pedang itu juga memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan Shea karena sudah sangat lama dia tidak digunakan.


...***...


"Akhh!"


DUARR!


Crakk!


"ARGHHH!!! tanganku?!! aaa!! ekhh!!"


"Nona nona nona! aku tau kau itu kuat, tapi kau terlalu polos dalam pertarungan, apa kau tau akan lebih mudah jika mengincar titik lemah lawan daripada harus menggunakan kekuatan!" ucapnya sambil mencekik leherku.


"J-jadi itu yang kau incar dari awal! ekhh!!"


...***...


"…!"/ "…!"


Aku dan Lolovi sama sekali tidak bisa berkomentar dengan apa yang terjadi, kami berdua hanya bisa tercengang dengan tegang melihat Shea yang menjadi bulan-bulanan Leron setelah dia terjatuh saat melepaskan kedua sayapnya dengan paksa, iblis itu kemudian mencekik leher dan mengangkat tubuhnya sampai-sampai Shea merintih kesakitan dengan ekspresi yang jelas penuh rasa sakit.


...***...


"Haa, apa itu air mata? apa kau menangis nona? HAHAHAHA!! menangislah sekeras yang kau bisa, biarkan aku yang menghapus air matamu nona" ucapnya sambil mengelus wajah Shea.


"…!"


...***...


Brakk!!


"Haaa!! dasar bajingan kurang ajar! aku akan membunuhmu!! berani-beraninya dia menyentuh Shea!!" kataku tersulut emosi sambil menghentakkan tanganku di atas meja.


"A-anu Frenya, aku tau kau tertarik dengannya, tapi kenapa kau sangat marah? dia tidak ada hubungan apa-apa denganmukan?" ucap Lolovi sembari bertanya padaku.


"Ah maaf aku hanya terbawa emosi" jawabku sambil menenangkan diri dengan meminum teh.


Jika dipikir-pikir lagi, apa yang diucapkan lovi ada benarnya, dia itu kuat dia pasti bisa mengatasi itu, justru jika aku terus membantu dan memanjakannya itu akan berakibat buruk untuk dirinya nanti, berjuanglah Shea aku tau kau pasti bisa mengatasinya.


"Itu reaksi yang wajar, aku pun juga ingin membantunya setelah melihatnya diperlakukan seperti itu, rasanya aku sangat marah melihat ada seorang gadis manis seperti dia disiksa dengan kejam" sambung Lolovi sembari menatap sedu melihat keadaan Shea.


Shea…


Dengan emosi yang berkobar aku memukul meja dengan keras dan bersiap untuk melakukan teleport ke tempat Shea, aku sangat tidak bisa menerima jika ada orang lain yang menyentuh wajah imut Shea selain aku, dan juga aku sangat marah dengan perbuatan iblis itu padanya yang telah menyakiti Shea, menginjak-injak kehormatan Shea berati juga menginjak kehormatanku yang artinya dia telah berani menantangku, tapi seketika saja aku menghentikan langkahku setelah mendengar ucapan Lolovi.


Yaah aku yakin jika Shea bisa mengatasi itu dia orang yang kuat walaupun dia sedang menangis dan terlihat putus asa, tapi aku percaya jika Shea tidak mungkin bisa kalah semudah itu, rasanya aku sangat ingin datang dan menolongnya, tapi aku sudah cukup banyak membantu untuk hari ini jika aku terus menerus membantunya mungkin tindakanku itu akan menghambat dirinya untuk lebih maju dan mandiri, dia tidak mungkin bisa lagi menyelesaikan masalahnya jika aku terus memanjakannya dengan memberikan bantuan kepadanya, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah percaya dengan berharap penuh padanya untuk menghadapi Leron.


...🌺*****🌺...

__ADS_1


__ADS_2