I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 124: Ardner's Perspective


__ADS_3

"Sepertinya perlu waktu dan kekuatan lebih untuk mengembalikan kondisi tubuhnya... sekuat apa orang yang kau lawan Grea?"


Crass!


"Dasar pembangkang! sebenarnya apa yang diinginkan anak itu?! apa dia hanya mengejekku?!" ucapku berjalan keluar dari ruangan penyembuhan.


.


.


"Ggrrrr!"


"Kurasa aku tidak bisa meninggalkannya sekarang..." ucapku kembali berbalik ke arah naga Grea.


"Baiklah, akanku biarkan kau bersenang-senang!"


Mengamati keadaan naga Grea yang masih tak sadarkan diri aku menciptakan sebuah penghalang khusus yang dapat meningkatkan proses penyembuhannya, dua belas pilar besar dan kristal sihir bertebaran mengelilingi danau tepat naga Grea tertidur, tapi enam tahun lamanya dia tertidur dan menjalani penyembuhan tidak ada sedikitpun tanda-tanda dirinya akan sembuh.


Menyadari itu membuatku merasa heran dan penasaran dengan kekuatan orang yang telah bertarung dengannya sampai-sampai naga air Grea harus kembali kebentuk semulanya sebagai naga dan menerima luka separah ini.


Saat aku memikirkan semua itu tergambar jelas di depan mataku rantai yang sebelumnya telah aku pasang untuk mengekang dan menghukum gadis naga pembangkang tempo hari telah hancur berkeping-keping, dan itu membuatku merasa sangat kesal dan marah lalu pergi berjalan ingin keluar dari ruangan penyembuhan Grea, akan tetapi beberapa langkah aku berjalan naga Grea yang tertidur tiba-tiba menggeram dengan suara yang terdengar seperti sebuah rintihan dan aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti itu.


.


.


"Sepertinya dia sudah lebih tenang, kalau begitu waktunya aku pergi… akanku buat anak itu menyesal karena berani menantangku!" ucapku menggunakan sihir teleport untuk keluar dari labirin.


Cukup lama aku menyalurkan energi sihirku untuk mengurangi rasa sakit pada naga Grea meski hanya sedikit itu akan sangat berguna, karena sedikit saja terjadi penurunan pada kondisi tubuhnya itu akan sangat berbahaya dan mungkin dia akan mati, setelah Grea cukup tenang aku kemudian pergi meninggalkannya dengan berjalan lurus melewati beberapa pilar besar lainnya yang berjejer rapi sampai ke pintu masuk ruangan ini dengan api yang menyala di setiap ujung dan tengahnya, aku kemudian menggunakan sihir teleport untuk keluar dari labirin ini.


...*****...


DUARR!!!


"Jangan harap kau bisa lari dariku!" ucapku mendarat di tempat rantainya hancur.


"Rupanya ada pertarungan di tempat ini… dia pergi ke sana" ucapku sambil menoleh ke arah tebing besar di depanku seraya kembali menggunakan sihir teleport.


...***...


"Di dalam sana…"


Tap Tap Tap


Berteleport langsung ke luar labirin aku sampai tepat di depan mendapati seonggok besi rantai yang sebelumnya telah hancur karena gadis itu dan sesampainya aku di tempat ini area hutan di sekitarku benar-benar terlihat hancur dan berantakan, banyak sisa-sisa pertarungan terjadi di tempat ini bahkan banyak bau mayat yang mengganggu.


Tidak berlama-lama diam di tempat ini aku kemudian menggunakan sihir deteksi untuk mencari keberadaan gadis itu dan langsung berteleport ke arah tebing besar di depanku tepat di mana aku merasakan aura keberadaannya, dan benar saja baru sampai di depan mulut gua aku sudah dapat merasakan auranya dengan jelas dan mulai mendekat.


" … "


"Apa kau bersenang-senang?" tanyaku padanya.


"A-aku..." ucapnya perlahan menoleh ke arahku.


Duarr!!


"Nona.../!"


"Jangan mengganggu, Sira!!" ucapku pada Sira seraya mencekik leher gadis itu.


" ...! "


Dengan langkah kaki yang terdengar jelas perlahan dia keluar dari gua dengan wajah menunduk bersama dengan Sira yang mengikutinya, sempat terdiam sejenak aku kemudian bertanya dengan tatapan tajam yang mengarah padanya, akan tetapi saat dia ingin menjawab itu dan mulai menolehkan wajahnya ke arahku aku dengan cepat mencekik lalu menghantamkan tubuhnya pada dinding di mulut gua.


Melihatku melakukan itu tentu saja Sira tidak akan menerimanya dan terlihat ingin menyerang balik padaku, tapi dengan tanganku yang mencengkeram erat pada leher gadis itu aku memperingatkannya agar dia tidak ikut campur dalam urusanku.


"T-tunggu... a-aku bi...sa m-menjelaskannya..."


"Bagus, jelaskanlah!"


"Ra... rantainya... t-terlepas sen.../"


Brukk!!


"Akhh!!"

__ADS_1


"Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu?!!"


Dengan rintihan suara yang terputus-putus dia berpegangan pada tanganku dengan kedua tangannya lalu memintaku untuk mendengarkan penjelasannya, aku kemudian mempersilahkannya untuk mengeluarkan kata-kata pembelaan itu meski aku tidak begitu tertarik dengan ucapannya.


Akan tetapi, sebelum sempat menyelesaikan ucapannya aku langsung melemparkan tubuhnya ke sebuah batu besar di sampingku sampai batu itu hancur dan tubuhnya terkapar dengan jeritan kesakitan, bagiku semua ucapannya itu hanyalah omong kosong belaka yang dia katakan sebagai pembelaan untuk menutupi kesalahannya.


"Eekh!! s-sakit!" rintihnya memegangi pundaknya.


"Rantai yang kupasang di lehermu tidak mungkin terlepas dengan sendirinya tanpa sebab yang jelas, kau pasti melepaskannya!" ucapku berjalan mendekatinya.


"Aku tidak melakukan it... ekhh!!"


"Jangan pikir karena kau pernah mengalahkanku kau bisa melakukan segala hal semaumu, tempat ini sangat luas dan tidak terbatas oleh apapun… jika kau meminta keseriusanku cepatlah katakan itu!! aku tidak akan menahan diri lagi!!" ucapku mengangkatnya sambil mencekik lehernya.


"T-tidak, a-aku minta maaf... hiks... maafkan aku... aku tidak bermaksud melakukannya hiks..."


"Jangan harap bisa membodohiku dengan air matamu itu... manusia?!" ucapku menoleh ke samping.


Sambil merintih kesakitan gadis itu berusaha bangkit dengan masih memegangi pundak kirinya duduk di antara bebatuan, aku berjalan ke arahnya sembari menatap padanya dengan tatapan tajam kemarahan, aku kemudian kembali mencekik lehernya dengan kuat sampai-sampai ada darah yang keluar dari ujung-ujung jariku yang menembus kulitnya.


Hanya karena ada batasan labirin yang membuatku tidak bisa bertarung bebas dia malah bersikap seolah dialah pemenangnya, bertatap muka secara langsung aku menantangnya untuk kembali bertarung denganku melanjutkan pertarungan kami sebelumnya yang terjadi di dalam labirin, dikarenakan sudah tidak ada batasan lagi yang menghalangiku untuk menggunakan kekuatan penuhku, akan tetapi bukannya menjawab tantanganku itu dia malah merengek dengan mata yang penuh air.


Meskipun begitu tindakannya tidak akan pernah bisa menipuku untuk yang kedua kalinya, dan saat aku memutar tubuhku ingin menghempaskannya ke dinding tebing mataku tertuju pada segerombolan manusia yang berdiri tepat di belakang Sira.


"Jadi mereka yang membuatmu melupakan hukuman dariku! baiklah aku akan membunuh mereka.../" ucapku sambil melepaskan cekikikanku.


"Tidak! kumohon jangan sakiti mereka..." ucapnya sambil memegangi kakiku.


Bug!


"… akhh!!"


"Cih! jadi kau menentangku hanya untuk mereka?! kalau begitu lawan aku atau mereka akan mati!"


" ... "


"Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, mereka tidak bersalah... tolong jangan libatkan mereka!" ucapnya menggelengkan kepala merentangkan kedua tangannya menghalangiku.


"Menyingkirlah!!"


Melihat segerombolan orang itu aku kemudian melepaskan cekikikanku dan berjalan ke arah mereka untuk membunuh mereka semua, akan tetapi gadis pembangkang itu malah menahan kakiku dan memintaku untuk tidak melakukannya, tapi tentunya itu percuma karena dilihat dari keadaannya orang-orang itulah yang telah membuatnya melanggar hukumanku, dan dengan satu tendangan yang mengenai pundaknya gadis itu melepaskan tangannya dan terlempar beberapa meter.


Cukup kesal dengan sifat naif darinya aku memberikan dua pilihan padanya untuk membiarkan mereka mati atau melawanku dengan sekuat tenaganya, tapi dis tidak menjawab apapun dan itu membuatku kembali berjalan menuju gerombolan orang yang sedang ketakutan itu dengan kepalan tangan yang diselimuti oleh aura hitam.


Akan tetapi, gadis itu malah berlari ke depanku dan langsung merentangkan kedua tangannya untuk menghalangiku dan kembali memintaku untuk tidak menyakiti orang-orang itu, tapi dengan cukup keras aku memukul wajahnya hingga dia terjatuh dengan darah yang mengalir dari ujung bibirnya.


.


.


"Ini sangat kebetulan, aku sudah cukup lama tidak membunuh seseorang" ucapku menatap mereka dengan tajam.


"Sebaiknya hentikan itu Ardner…/"


"Apa kau berniat melawanku dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu? jangan bermimpi terlalu tinggi Sira... jika kau merasa mampu cobalah untuk menghentikan seranganku ini" ucapku mengibaskan tanganku sambil menggunakan sihir cakar naga pada mereka.


Ssttt...


Dasar bodoh!!


DUARR!!


"Hahh hahhh hahh... ekhh!!" rintih gadis itu tersimpuh dengan memegang tangannya yang penuh darah.


Dengan sangat tajam aku menatap ke arah orang-orang itu dan terlihat sangat jelas para manusia yang berkumpul di belakang Sira ketakutan dengan tubuh yang gemetaran, melihatku mendekat tentunya membuat Sira terlihat sangat waspada, tapi dengan kekuatannya yang sekarang dia tidak akan pernah bisa menang jika melawanku.


Aku kemudian melancarkan satu serangan sihir yang cukup besar untuk membunuh mereka semua, meski begitu aku tidak menargetkan Sira untuk ikut mati bersama mereka karena aku menghormati persahabatan kami, tapi saat serangan itu aku lancarkan gadis itu secara tiba-tiba berdiri tepat di depan jalur seranganku tanpa menggunakan sihir perlindungan apapun.


Melihat tindakan bodohnya aku langsung menarik sebagai besar kekuatan serangan itu sehingga jika dia terkena seranganku gadis itu tidak akan menerima luka yang begitu parah karena ada kekuatan regenerasi naga pada dirinya, dan benar saja sihirku meledak tepat mengenainya membuat banyak goresan di tangan dan tubuhnya yang membuat gadis itu tersimpuh dengan darah yang mengalir.


"Apa kau ingin mati?!!" tanyaku pada gadis itu.


"S-sejak awal aku sudah mempersilahkannya, tapi tolong kumohon jangan sakiti mereka."


"Dasar naif!! ada baiknya jika kau menyadari posisimu terlebih dahulu daripada harus mengetahui penghianatan dan kekecewaan, hentikanlah selagi masih sempat..." ucapku kembali menggunakan sihir rantai kutukan padanya sembari berteleport ke dalam labirin.

__ADS_1


"ARGHHH!!!!" jeritnya dengan keras.


Dengan tatapan ketidaksukaan aku bertanya padanya tentang tindakan bodoh yang baru saja dia lakukan, tapi dengan tersenyum tipis dia malah merelakan dirinya sendiri untukku bunuh dan kembali meminta agar aku tidak menyakiti para manusia itu, geram dengan kenaifannya itu aku kemudian memasangkan rantai kutukan yang lebih kuat pada lehernya lalu menyarankan agar dia tidak jatuh dalam keinginannya yang mustahil untuk dicapai.


Bagi seorang monster berdampingan dengan para makhluk hidup lainnya adalah hal yang mustahil, karena seakrab apapun hubungan itu tetap saja ada batasan yang sangat jelas terlihat dan ketakutan makhluk yang lemah terhadap yang lebih kuat akan selalu muncul yang membuat hubungan itu berakhir dengan kekecewaa.


Setelah memasangkan rantai yang baru dan memperingatkannya agar dia sadar dengan tindakannya itu aku langsung pergi berteleport ke dalam labirin lantai 90 meninggalkannya bersama dengan Sira dan para manusia itu, berada di sana akan sangat membuatku kesal jika tanpa membunuh orang-orang itu.


...*****...


"Cih!! jika saja bukan naga aku pasti akan membunuhnya!" ucapku kesal sembari melangkahkan kakiku.


...


"Ada apa ini? ha? bukannya itu… akar pelumpuh, apa ini ulahmu Frenya?" ucapku menoleh ke belakang.


"Ya kau benar hehehe… kau sangat mudah dilumpuhkan Ard…ner…" jawabnya tertawa kecil sambil perlahan berbisik padaku.


Cih!!


"Apa maumu sampai-sampai kau datang menemuiku dengan cara seperti ini?" tanyaku padanya.


Sampai di lantai 90 atau tepatnya di depan gerbang lantai penyembuhan Grea saat ingin melangkahkan kakiku tiba-tiba saja aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, dan perlahan dari pijakan kakiku tumbuh akar menjalar yang mengikat kaki dan tubuhku, hanya dengan melihat itu ada dapat menebak bahwa orang yang melakukan ini ada Dryad Frenya sang penjaga hutan.


Dan benar saja sekumpulan dedaunan memutariku sebelumnya akhirnya Frenya muncul memegang kedua pundakku seraya tertawa kecil sambil berbisik pelan saat menyebutkan namaku, dan tentunya tindakannya ini benar-benar membuatku bingung karena sangat jarang dia mau repot-repot datang menemui seseorang tanpa alasan yang jelas.


"Dengar Ardner! aku akan langsung ke inti pertemuan kita ini 'aku peringatkan padamu, jika kau berani menyentuh Shea lebih dari ini, aku akan membunuhmu tanpa pengecualian!' kau mengerti?" ucapnya mendekatkan wajahnya sembari menatap tajam ke arahku.


"Apa itu ancaman?"


"Tidak, tapi itu adalah batas toleransiku!" ucapnya berjalan ke belakangku.


Berubah menjadi kumpulan dedaunan hijau yang tertiup angin Frenya berpindah ke depanku lalu mendekatkan wajahnya padaku sambil mengangkat ancaman yang membuat tulangku bergetar, meski begitu aku tetap berusaha untuk menanggapinya dengan tenang, dia memang sering bercanda dan membuat lelucon untuk menyenangkan dirinya sendiri, tapi aku tidak bisa menganggap remeh keseriusan dalam hidupnya yang akan sangat berbahaya jika dia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Untuk apa kau melakukan itu? dirimu tidak pernah peduli dengan apapun yang terjadi dalam kehidupan seseorang."


"Untuk menepati janji pada orang yang telah membuatku menginjakkan kakiku di tanah dunia ini" jawabnya sambil tersenyum ke atas.


"Aku tidak pernah tau ada orang yang bisa membuatmu seperti itu."


"Ya aneh bukan? dia orang yang sangat menarik, aku bahkan dibuatnya tercengang dengan semua permintaannya" sambungnya masih sambil tersenyum.


"Dia pasti orang yang hebat, sampai bisa membuatmu seperti itu" ucapku padanya.


"Di akhir pertemuan kami, dia memintaku untuk menjaga-nya" ucapnya lagi.


"Maksudmu gadis putih itu?"


"Ya seperti itulah hehehe... lucu bukan?" sahutnya tersenyum sambil menggantungkan tubuhnya dipunggungku.


"Begitu ya, kurasa memang ada baiknya jika kau mau merawatnya, gadis itu sangat mudah menggadaikan nyawanya pada orang lain" ucapku padanya sambil menatap ke atas.


Selama beberapa menit kami berbicara dia benar-benar terlihat kagum dengan sosok temannya di masa lalu yang bahkan aku tidak tau seperti apa orang yang telah membuatnya menjadi seperti ini, dilihat dari ekspresi dan tindakannya jelas Frenya sangat menghormati orang itu yang mungkin adalah orang yang sangat kuat sampai-sampai bisa membuat Frenya menjalankan permintaannya.


Tapi, satu hal yang membuatku bingung adalah permintaan dari orang itu yang memintanya untuk menjaga gadis putih itu, akan tetapi aku sedang tidak bisa mencerna pembicaraan ini karena setenang apapun Frenya dia adalah roh yang harus selalu diwaspadai terutama untuk ancamannya itu.


"Ya, aku merinding saat mendengarnya mengatakan itu, dia masih sangat naif..." ucapnya sambil berjalan pergi menjadi dedaunan hijau.


...


"Bagus, sekarang bagaimana aku lepas dari sini? kau benar-benar menyebalkan Frenya!"


"Jika kau naga yang kuat cobalah untuk lepas dari sulur tanaman yang rapuh itu" ucap Frenya dengan suara yang menggema di telingaku.


Senjata makan tuan ya...


DUARR!!!


"Hahh! aku benci dengan wanita yang satu itu!" ucapku berjalan masuk ke dalam ruangan penyembuhan Grea.


Pergi berjalan membelakangiku ujung gaunnya berubah menjadi dedaunan diikuti oleh kaki dan seluruh tubuhnya Frenya benar-benar pergi tanpa jejak menjadi daun, sementara aku masih kesulitan untuk bergerak dengan sulur tanaman yang melilitku, dan saat aku berusaha melepaskannya Frenya dengan telepatinya bergema di telingaku dengan nada yang sedang meremehkanku.


Dengan tersulut emosi aku kemudian membakar seluruh tubuhku dengan kobaran api hitam yang membuat tanah pijakanku meledak dan menciptakan kawah yang cukup besar, meski terlihat sangat rapuh nyatanya tanaman Frenya tidak semudah itu untuk dihancurkan dan perlu kekuatan lebih untuk membebaskan diriku dari jeratan sulur-sulur tanaman itu, kekuatan Frenya berada di level yang berbeda denganku.


...☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2