
"Frenya, bukankah itu pedang yang ada di rumahmu?"
"Ya memang" sahut Frenya seraya tersenyum.
"Kenapa itu bisa ada di tangannya?" tanyaku lagi.
"Dia pergi sendiri dari rumahku" jawabnya sambil meminum tehnya.
P-pergi sendiri? hehe… ya... itu bukan hal mustahil sih... mungkin saja pedang itu memiliki kesadarannya sendiri... tapi, kenapa dia pergi ke tempat gadis itu?
Duduk saling berhadapan dalam satu meja yang sama aku dan Frenya sama-sama menatap ke arah cermin besar yang berada di samping kami, memperhatikan seorang anak gadis naga yang cantik dengan rambut putih yang berkilau terkena terik matahari, tapi satu hal yang membuatku terkejut juga heran adalah pedang putih yang sedang dia gunakan untuk memotong dan membersihkan ikan, aku merasa sangat tidak asing dengan pedang berkilau itu terutama dengan ukiran bunga mawar yang ada pada bilahannya, dan dengan cukup penasaran aku kemudian bertanya pada Frenya tentang pedang itu karena seingatku aku pernah melihat pedang itu di dalam rumah pohonnya ini.
Tersenyum tipis menatap ke arah anak gadis itu Frenya langsung menjawabnya dengan singkat dan itu sangat mengejutkanku, bahkan juga terdengar membingungkan karena Frenya berkata pedang itu pergi dengan sendirinya, tapi mengingat kembali beberapa kemungkinan yang bisa membuat itu terjadi, bukan hal mustahil untuk sebuah benda bisa bergerak sendiri selayaknya makhluk hidup jika dia memiliki kesadaran karena terbuat dari bagian tubuh makhluk hidup yang sangat kuat, dan aku bisa memaklumi hal itu walaupun masih ada hal yang membuatku kebingungan.
"T-tapi, dia menggunakan itu untuk memotong ikan? apa kau tidak ingin mengambilnya lagi?"
Itu bukan pisau dapur loh…
"Bukan masalahku, itu adalah miliknya dan akan selamanya menjadi miliknya" sahut Frenya menatap ke dalam gelas minumnya.
"Kau serius?" tanyaku lagi.
"Aku sangat serius" jawabnya sembari menatapku.
"Dia anak yang unik ya" ucapku memalingkan wajah menatap ke arah anak gadis itu.
Baiklah aku tidak akan membicarakan itu lagi.
Terasa sangat aneh bagiku pedang yang digunakan untuk bertarung malah digunakan sebagai alat pengganti pisau dapur, tapi Frenya terlihat biasa-biasa saja dengan cara anak itu menggunakannya bahkan dia tidak peduli dan tidak ingin mengambilnya kembali padahal pedang itu adalah pedang yang bagus, tapi melihat Frenya yang tidak keberatan kehilangan pedang itu aku juga tidak ingin terlalu mempermasalahkannya karena dilihat dari segi manapun Frenya memang sudah memberikannya kepada anak gadis itu.
Karena tidak ada perubahan dari kata-kata Frenya aku kemudian langsung menatap ke arah anak gadis itu dari cermin Frenya untuk menghindari tatapannya yang mulai tersenyum aneh ke arahku, tanpa harus berkata-kata ekspresi wajah Frenya terlihat jelas sedang mengisyaratkan padaku agar tidak membahas masalah itu, lagipula pedang itu bukan milikku jadi aku tidak berhak untuk mengungkit-ungkitnya.
"Ya seperti itulah, lagipula itu hal yang bagus, jika dia tidak menggunakan pedangnya untuk menebas seseorang itu artinya dia tidak memiliki musuh, dan itulah yang terbaik untuknya saat ini..." ucapnya kembali menatap ke arah anak gadis itu.
"Hidup damai... ya… tampaknya akan lebih menyenangkan jika hidup tanpa musuh."
"Apa yang kulihat saat ini sangat jauh terbalik dengan apa yang pernah aku saksikan, dia masih sangat lemah" ucap Frenya menatap keluar ke arah langit sebelah kirinya.
"Lemah?"
__ADS_1
"Hehehehe... tidak, aku hanya bicara sendiri, jadi lupakan saja" ucap Frenya sambil tersenyum dan tertawa kecil.
"Kau sangat tertarik dengannya ya, Frenya?" ucapku sambil tersenyum.
"Aku penasaran seperti apa masa depannya nanti" balas Frenya sembari tersenyum.
Dia benar-benar sangat tertarik padanya, memangnya siapa anak gadis itu?
...❄️❄️❄️❄️❄️...
...🌹Shea🌹...
"Sekali lagi maaf Shea, aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa… aku hanya penasaran dengan itu… kau masih marah?" ucap Toki padaku sembari bertanya.
"Hahh… tidak" jawabku singkat seraya menghela napas.
Dengan wajah yang terlihat bersalah Toki beberapa kali meminta maaf padaku karena ucapannya yang sebelumnya, dan memang pertanyaannya itu terdengar sangat menyinggung perasaanku karena bagaimana mungkin aku yang imut ini disamakan dengan iblis succubus yang suka menggoda lelaki, dan tidak itu sangat berbeda dengan kepribadianku sebagai perempuan baik-baik.
"Hei Toki, lihatlah Shea merajuk gara-gara ucapanmu" ucap Sam menyindir Toki.
"Diamlah bodoh!" bentak Toki padanya.
"Uuhhh! lihatlah serigala ganas ini menolak untuk bersalah" lanjut Sam masih mengejek Toki.
"Hohoho aku takut, serigala ini mulai menunjukkan taringnya, hey Kroz bolehkah aku berlindung padamu?" ucap Sam seraya bersembunyi di belakang tubuh Kroz.
" …! "
"Oi!! Menyingkirlah payah! hey hey tenanglah Toki jangan sampai masalahmu melibatkan orang lain" ucap Kroz pada Toki.
"Hehehe hahahaha!"
Groah...
Di tengah perasaan tidak enak itu Sam tiba-tiba membuat sebuah candaan receh yang menyindir Toki dan itu sangat sukses membuatnya jengkel dengan gigi yang bergertak dan taring yang mulai nampak, sementara teman-temannya yang lain terlihat berusaha untuk tidak ikut campur dalam urusannya dan menjauhi mereka berdua kecuali si pak tua Kroz yang malah ikut terseret karena Sam bersembunyi di belakangnya, melihat mereka bercanda aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tertawa apalagi dengan tingkah Sam yang mengejek Toki dia terlihat sangat konyol, mereka semua seketika terdiam saat mendengar aku tertawa -apa tawaku terasa horor bagi mereka?- bahkan tidak ada satupun suara yang terdengar kecuali geraman naga yang kebingungan saat aku tertawa.
"Shea?" ucap Toki kebingungan.
"Hahahaha! hehehe… maaf maaf" ucapku sambil mengusap mataku.
__ADS_1
"Tampaknya suasana sudah lebih baik, bagaimana kalau kita membahas langkah selanjutnya untuk misi kita" ujar Kaov angkat bicara.
"Ah benar, aku hampir lupa" sahut Toki padanya.
"Hm... memangnya misi apa yang kalian lakukan?" tanyaku pada mereka.
"Ini Toki" ucap Noel memberikan sebuah gulungan kertas yang cukup besar.
"Terima kasih…" balas Toki padanya sambil tersenyum.
"… ya hanya pemetaan daerah hutan" jawabnya sembari memperlihatkan sebuah peta.
"Owh! apa ini peta hutan ini?" tanyaku padanya.
"Ya seperti itulah, tapi ini hanya bagian kecilnya karena hutan ini sangat luas" jawabnya sambil mengamati petanya.
Sudah cukup dengan tawaku aku kemudian menghentikannya seraya mengusap mataku karena ada air yang menggenang di sana, dan beberapa saat setelah itu Kaov kemudian datang menghampiri kami dengan mengatakan sesuatu seperti misi pada Toki, setelah mendengar ucapan Kaov dia langsung menghentikan perdebatannya dengan Sam lalu pergi ke arah Noel yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dimensi penyimpanannya, dan karena penasaran dengan misi yang mereka jalankan aku kemudian bertanya padanya tentang misi mereka, Toki kemudian mengambil sebuah gulungan kertas dari Noel lalu memperlihatkan sebuah peta yang banyak terdapat bulatan garis merah di dalamnya padaku.
Gambar yang ada pada peta itu terlihat seperti sebuah potongan dari suatu wilayah yang sangat luas, lebih tepatnya mungkin hanya bagian kecil dari suatu daerah hutan, di dalam peta itu juga terlihat jelas beberapa gunung dan danau, bahkan juga aliran sungai sangat detail digambarkan dan itu sangat mengagumkan mengingat di dunia ini tidak ada satelit yang bisa melihat suatu daratan dari atas atmosfer.
"Um... kenapa dengan garis merah itu?" tanyaku pada Toki.
"Itu tanda agar para petualang atau orang-orang lain selain kami bisa menghindari daerah itu karena wilayahnya yang tidak aman" jawab Jaz dari sampingku.
"Ya begitulah... singkatnya, ada tiga kategori wilayah dengan tiga lambang 'A' untuk aman, 'B' untuk bahaya, dan 'C' untuk sangat berbahaya, khusus untuk B dan C mendapatkan garis merah di dalam peta" sahut Toki menjelaskan.
"Hm... jadi orang-orang tidak boleh melewati kawasan hutan ini?" tanyaku lagi.
"Iya setidaknya sampai ada kabar terbaru dari para petualang penjelajah yang bertugas, mungkin… setengah sampai satu tahun sekali akan dilakukan pemetaan ulang untuk mengetahui tingkat keamanan dari wilayah hutan"sambungnya menjelaskan.
"Biasanya yang kami periksa adalah rute para monster yang berbahaya, untuk menghindari adanya korban dari petualang muda yang baru memulai perjalanan" ucap Kroz ikut bicara.
"Owh... apa kalian tidak masalah dengan pekerjaan ini? tampaknya ini sangat berbahaya lohh"
"A-ku juga sudah tidak bisa berpikir lagi dengan jalan hidup mereka" ucap Noel terduduk murung sembari merangkul kakinya.
Ah... kuharap dia baik-baik saja. ("•_•)
Merasa bingung dengan semua garis merah yang ada pada peta aku kemudian kembali bertanya kepada Toki sambil menunjuk garis-garis merah itu saat dia sedang menggarisnya, garis-garis itu sangat menarik perhatianku karena warnanya yang mencolok dan lebih tebal dari semua warna yang ada pada kertas peta itu, dan dari sampingku Jaz kemudian menjelaskan sedikit tentang garis itu yang merupakan pertanda agar tidak ada orang ceroboh yang masuk ke dalam area hutan itu -apa itu artinya aku orang yang ceroboh? rumahku berada di hutan ini-, Toki juga memberikan penjelasan mengenai warna merah dan huruf yang tertulis di atas garis-garis itu dan semua itu benar-benar sederhana.
__ADS_1
Selain tentang garis dan huruf yang ada di peta itu kami juga membicarakan beberapa hal menyangkut tugas yang sedang mereka lakukan, dan aku cukup terkejut karena mereka benar-benar menjalankan tugas yang berbahaya, mereka harus menyusuri rute yang tidak dilalui oleh orang lain untuk memastikan keamanan bagi para pemula dan itu sangat berisiko karena ada banyak monster mengerikan yang akan mengintai setiap pergerakan mereka, tujuan mereka untuk memastikan keselamatan orang lain memang sangat mulia, tapi aku sedikit khawatir dengan Noel karena jelas dia terlihat sangat terbebani dengan tugas itu, dia benar-benar sangat pasrah pada teman-temannya. ("•_•)
...🌹🌹🌹🌹🌹...