
Hu Huhu Hu Hu.
"Hey Sira? Sira? ehh!! huhh... hey ayolah Sira setidaknya temani aku sampai mulut gua."Ucap nona padaku.
Hm... apa nona takut dengan suasana hutan? ini menarik... maaf ya nona... hehehehe.
Setelah nona memutuskan untuk pulang aku kemudian naik ke atas kepala nona lalu duduk di sana seperti biasanya, hari yang gelap dan malam yang diiringi oleh lolongan menakutkan adalah hal yang biasa di dalam hutan, tapi sepertinya itu adalah hal yang baru bagi nona dia tampak sedikit gemetar saat sedang berjalan.
Dan mungkin juga karena malam ini memang cukup dingin atau mungkin keduanya, tapi yang jelas kata-katanya mulai sedikit goyah dan meminta teman bicara, padahal suasana dalam labirin adalah hal yang paling menakutkan di dunia ini, seharusnya nona sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini jadi ini adalah hal yang langka dan harus sedikit di nikmati hehe.
Aku hanya diam dan memejamkan mataku sambil pura-pura tidur di atas kepalanya dan sedikit tersenyum kecil mendengar ucapan nona yang terdengar lucu.
Hu Huhu Hu Hu
"Cih brengsek! hey kau jika kau mencari lubang kubur cepatlah datang ke hadapanku! jangan bersembunyi di balik kegelapan!" ucap nona mulai sedikit kesal.
Hehe... itu terdengar cukup lucu nona... hehehehe...
Nona terus berjalan di kegelapan malam dengan sesekali berhenti karena banyaknya suara mengganggu, nona juga terdengar sangat kesal dengan suara-suara yang terbawa oleh angin malam, sikap nona saat seperti itu terdengar cukup lucu dan menggemaskan ini hiburan yang menyenangkan walaupun nona adalah majikanku, tapi dia pasti tidak akan keberatan kalau aku melakukan ini hehehe.
"Huhh... duh ini menyebalkan, Eh! apa ini?"
...
"Woahh!! dia tertangkap... hehehe." Ucap nona dengan ceria.
Hm... ada yang aneh di sini... sepertinya sudah cukup sandiwaranya...
"Wahh!! ini sangat indah." Ucap nona terdengar sangat kagum.
"Hoahh... ada apa nona." Tanyaku padanya.
"Lihat Sira!" ucap nona penuh semangat.
"Hm... cahaya roh ya."
Atau mungkin hanya sihir cahaya? dari auranya itu memang roh, tapi Siapa yang memanggil mereka?
Saat kembali melanjutkan perjalanan tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang aneh seperti banyaknya aura dari roh yang berdatangan dan benar saja saat membuka mataku aku melihat banyak cahaya putih keemasan yang bertebaran di mana-mana, sebagian mengelilingi kami dan yang lainnya membentuk sebuah jalan yang terang di depan kami.
Nona terlihat sangat biasa-biasa saja dan malahan dia terlihat sangat senang melihat itu padahal jelas ada yang aneh di sini, tapi bukan nona namanya jika dia tidak terkesan dan terlihat ceria ketika melihat hal seindah ini, terkadang aku berfikir betapa polosnya orang yang menjadi majikanku ini.
"Ehh... cahaya roh?!" ucap nona kebingungan.
"Yahh... itu mungkin sihir cahaya yang biasanya digunakan untuk menerangi jalanan yang gelap dan yang sering menggunakan itu hanyalah para peri elf saja."
"Itu karena mereka memang terlahir dengan membawa warna sihir seperti itu... bisa dibilang pendekatan terhadap alam... daripada harus menggunakan api yang membakar dan merusak lingkungan." Lanjutku menjelaskan.
Baiklah... sekarang bagaimana nona, apa anda sudah mulai merasa aneh?
"Oh begitu."
I-itu r-reaksi yang diluar dugaan.
Aku menjelaskan kepada nona tentang gemerlap cahaya itu dengan tujuan agar nona bisa sedikit curiga dengan keadaan ini, tapi sepertinya pikiran nona jauh lebih polos dari dugaanku nona hanya terlihat biasa-biasa menanggapi penjelasan itu, nona tidak memahami maksud yang ada di dalam penjelasan yang aku berikan padanya.
Setidaknya nona seharusnya bisa sedikit curiga dengan cahaya itu, karena tentunya setiap sihir pasti ada penggunanya dan aku sangat yakin kalau orang yang menggunakan sihir ini adalah orang yang kuat, aku sama sekali tidak bisa mendeteksi adanya orang di sekitar sini dan jelas itu semakin mencurigakan.
"Jarang ada ras lain yang bisa menggunakannya walaupun terlihat sederhana... tapi mungkin aja ini adalah sihir pemanggilan." Ucapku melanjutkan penjelasanku.
"Ehh!! bukannya itu sangat berbeda dari yang kau katakan sebelumnya Sira?"
"Y-yahh... saya hanya mengambil kemungkinan yang lain nona."
Apa anda benar-benar tidak bisa memahami maksud dibalik itu nona!!
__ADS_1
"K-karena sangat sulit membedakan antara sihir cahaya dan cahaya roh... orang-orang kadang bisa keliru jika baru pertama melihatnya."
"Memangnya apa perbedaannya Sira?" ucap nona sambil membuka telapak tangannya.
"Coba anda dengarkan dengan baik ada apa dengan cahaya terang itu?!"
Y-ya sudahlah lagi pula nona bukan orang yang lemah... tapi apa sebenarnya tujuan orang ini? aku merasa tidak asing dengan suasana seperti ini.
Aku terus menjelaskan pada nona dengan pesan tersembunyi di setiap penjelasannya, tapi tidak ada satupun yang di respon oleh nona, dia hanya fokus pada cahaya roh kecil yang ada di tangannya, aku tidak memberitahu nona secara langsung karena aku tau orang yang menggunakan sihir pemanggilan itu sedang mengawasi kami dari kejauhan.
Tapi aku tidak merasakan adanya ancaman dari orang yang melakukan ini, orang itu tidak menunjukkan pergerakan yang aneh dan juga aku seakan pernah merasakan hal yang sama di suatu waktu.
"Hm... memangnya ada apa dengan cahaya ini?" ucapnya pelan sambil memandangi cahaya itu.
...
"Yahh tidak ada apa-apa." Ucap nona sedikit bingung.
.
.
"Eh! apa itu?! apa itu Sira?" tanya nona kebingungan.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu sesuai dengan dugaan nona, itu adalah sihir pemanggilan." Jawabku sambil mengetuk-ngetuk kepala nona.
Sepertinya kemungkinan yang kedualah yang benar itu adalah sebuah sihir pemanggilan, terdengar jelas dari suara tawa kecil para roh yang berterbangan, tapi mungkin tawa itu hanya terdengar seperti suara hembusan angin jika tidak di perhatikan dengan teliti.
"Jadi monster seperti apa ini Sira!?" tanyanya sekali lagi.
"Seperti namanya nona itu bukanlah monster, tapi roh kecil yang berbentuk seperti cahaya kunang-kunang... sebaiknya jangan samakan mereka dengan monster nona... mereka bangsa yang terhormat." Jelasku pada nona.
"Oh y-ya... maaf hehehe."
Begitulah para roh, mereka bangsa yang menjunjung tinggi kehormatan, kejujuran, rasa keadilan, dan kesetiaan, mereka adalah ras yang terhormat, mereka tidak mungkin mau dibandingkan dengan monster yang tidak memiliki itu semua, dan bahkan aku sendiri belajar banyak dari mereka saat aku mulai memiliki kesadaran ini.
"Hoahhh... malam sudah semakin larut, sebaiknya kita cepat pulang..." ucap nona sambil kembali berjalan.
"Baik nona." Sahutku padanya.
Aku tidak perlu khawatir dengan ini... yahh... sebaiknya aku tidur saja...
Setelah mendengar semua penjelasanku nona kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulang, karena memang kami sudah terlalu banyak membuang waktu dengan memperhatikan para roh kecil ini dan tidak terasa hari sudah semakin larut dan gelap, tapi tentunya tidak dengan jalan di depan kami itu cukup terang karena para roh membanjiri jalanan hutan ini dengan cahaya merah.
...*****...
"Huhh... kenapa sangat dingin." Ucapku pelan sedikit mengigau.
"Eh!! Waaa!!! kenapa aku ada di atas sini?!! turunkan aku!! woy!! turunkan aku!!" ucapku sambil berpegangan erat pada salah satu sulur tanaman.
Karena merasa kedinginan dengan angin yang berhembus aku kemudian perlahan membuka mataku untuk melihat apa yang terjadi dan ternyata tanpa kusadari aku sudah berada di atas sebuah daun tanaman merambat yang sangat tinggi menjulang ke atas, aku berbaring di atas daun tanaman merambat setinggi 50 meter di udara dan entah kenapa aku bisa berada di sana.
Jantungku terasa hampir terlepas ketika melihat permukaan tanah yang jauh dari kakiku ditambah lagi nyawaku bahkan belum terkumpul sepenuhnya untuk mencerna situasi ini, langsung saja aku dengan spontan menancapkan cakarku berpegangan dengan erat pada batang pohon itu masih tanpa membuka mataku, aku nyaris trauma dengan kejadian ini.
"Eh! Ehhh!! WAAAAAA!!"
Saat aku berpegangan tiba-tiba saja tanaman itu menyusut dan menghilang, aku yang awalnya berpegangan pada tanaman itu nyaris saja tidak bisa bernafas lagi dan jantungku yang berdebar nyaris tak berdetak lagi, bagaimana tidak kau bisa membayangkan bagaimana rasanya jika jatuh dari ketinggian ditambah dengan menggunakan tubuh kecil ini mungkin aku akan remuk saat menghantam permukaan tanah.
.
.
.
"Hm... sampai kapan kau akan menutup matamu Sira?" tanya seseorang padaku.
__ADS_1
"Eh! huhh huhh huhh selamat." Ucapku lega dengan nafas berat
"Kau! Frenya!"
Aku berteriak cukup kencang dengan sambil menutup mataku melayang-layang di udara meratapi kematian yang menyedihkan karena terjatuh dari ketinggian, tapi tiba-tiba saja aku mendengar suara wanita dewasa yang menyebutkan namaku sontak saja aku perlahan membuka mataku dan sekali lagi tubuhku tergantung pada sulur-sulur tanaman yang melilitku setengah meter sebelum aku mencapai tanah.
Dan sosok wanita itu tidak lain adalah Frenya sang Dryad, dia roh hutan yang cukup menyebalkan setiap kali aku bertemu dengannya, bahkan tindakannya saat ini hampir membuatku trauma seumur hidup.
"Hm... kenapa kau terlihat sangat kaget Sira?"
"Jangan pura-pura tidak tau! apa maksudmu dengan menjatuhkanku dari ketinggian hah!!?" ucapanku dengan kesal.
"Hehehehe... kau terlihat sangat lucu Sira." Ucapnya sambil tertawa kecil ke arahku.
"Hah!! apa maksudmu!!?"
"Hehehehe... yahh kau terlihat sangat lucu Sira, seorang bawahan yang bertindak seperti majikan." Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Hey jangan lakukan itu, cepat turunkan aku dari sini! cepatlah!"
"Hoy ayolah Frenya aku tidak bisa berpikir di atas sini!" lanjutku sedikit putus asa.
Dia menaikkan tubuhku lalu menatap dekat wajahku sambil sesekali mendorong-dorong kepalaku dengan jarinya, dan sempat mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak bisa tenang jika belum menyentuhkan kakiku di tanah, tapi tetap saja dia masih menggantungku dan semakin mendorong-dorong tubuhku mengayunkannya seperti sebuah ayunan.
Aku sama sekali tidak bisa bergerak di dalam lilitan tanaman ini dan akhirnya cukup lama menggantung di tanaman ini secara perlahan Frenya mulai melepaskan dan menurunkanku, aku sangat lega dengan itu, tapi kakiku sulit untuk berdiri.
"Huhh... jadi apa maksudmu dengan bawahan yang bertindak sebagai majikan itu?" tanyaku sambil berusaha untuk berdiri tegak.
"Dia memang orang yang baik, tapi jangan pernah memanfaatkan kebaikannya untuk memanjakan dirimu sendiri, walau bagaimanapun dia adalah tuanmu yang harus kau layani dan bukannya dia yang melayanimu." Ucapnya sambil menatap nona yang tertidur.
" ... "
"Huhh... jadi begitu... apa kau marah dengan itu?"
"Hm..."
Aku sempat kebingungan dengan perkataan Frenya dan terdiam sejenak untuk mencerna keadaan saat ini, dia tampak sedikit marah saat mengatakan itu walaupun tidak ada ekspresi kemarahan yang terlihat dari wajahnya, tapi aku tau kalau dia sedang cukup kesal padaku.
Saat Frenya bicara dia hanya fokus menatap ke arah nona yang sedang bersandar di batang pohon tertidur dengan lelap, Frenya duduk di depan nona memandanginya dan juga sesekali terlihat membelai halus rambut dan wajah nona dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Dia tersenyum kecil dengan wajah terharu seperti seseorang yang sedang bertemu dengan kenalan lama yang sudah sangat lama tidak berjumpa, kesenangan, kegembiraan, kerinduan entahlah aku tidak yakin dengan itu ekspresinya sangat sulit untuk di jelaskan.
Aku tidak merasakan adanya rencana aneh darinya ataupun niat yang kurang baik terhadap nona, dia murni hanya tampak sangat senang bisa bertemu dengan nona.
"Yahh... aku sadar dengan itu Frenya, aku tau letak kedudukanku terhadapnya, tapi dialah yang memintaku untuk menjadi seperti ini, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu dan memanfaatkan kebaikannya semua yang kulakukan ini adalah atas perintahnya." Jelasku padanya.
"Setidaknya lihatlah keadaannya sebelum kau melakukan itu, dia sudah cukup lelah dan tersiksa dengan semua rasa sakit itu." Ucapnya sambil kembali berdiri dengan masih menatap nona dengan kasihan.
Aku semakin kebingungan dengan pernyataan Frenya bukannya aku tidak setuju dengan itu, tapi aku justru merasakan bingung dengan dirinya dia tidak pernah memperlihatkan sikap kepedulian seperti itu kepada siapapun, Frenya bahkan tidak pernah mau muncul memperlihatkan sosoknya kepada siapapun kecuali ada yang berniat untuk merusak hutannya.
Lalu bagaimana mungkin dia mau muncul di hadapan orang yang baru pertama kali dijumpainya walaupun nona sendiri masih dalam keadaan tidur, tapi itu adalah hal yang aneh dan sangat langka untuk terjadi.
"Ekhhh... s-sakit...!" Ucap nona secara tidak sadar.
"Sebaiknya kita bawa dia pulang untuk beristirahat di tempat yang lebih layak." Ucap Frenya sambil melakukan sihir teleport.
"Hm... memangnya kau tau letak rumah dinding milik nona Frenya?" tanyaku padanya.
"Apa kau meragukanku Sira? karena seingatku ada bunga lily biru di rumah itu."
"Y-yahh..."
Seharusnya aku tidak perlu menanyakan itu "•_•
Saat kami sedang berbicara tiba-tiba nona menggerakkan tangannya dan berbicara secara tidak sadar berusaha memeluk dirinya sendiri, mendengar suara nona Frenya kemudian membuat sulur-sulur melingkar dan membuat jalur teleport dari itu untuk membawa nona pulang ke rumah dinding.
__ADS_1
Pada awalnya aku memang meragukan itu karena dia tiba-tiba menggunakan sihir teleport padahal dia tidak tau letak rumah dinding milik nona, tapi setelah dia mengatakan bunga itu aku kembali sadar kalau dunia tumbuhan ada di tangannya, Frenya bisa melacak dan mengetahui apapun yang ada di dekat tumbuhan, mengingat dia adalah seorang Dryad.
...🌹~•~🌹...