
"Yang ketiga!" ucap gadis itu sambil memukul dinding batu di depan kami dengan keras.
Duarr!!
.
.
"Aku merasakan aura keberadaan mereka di depan sana…/"
"Ada apa, nona?"
"T-tidak, tidak ada apa-apa hehehe" sahut gadis itu sambil tersenyum.
"Aku akan berjalan lebih dulu! permisi!" ucapku bergegas pergi menuju ke tempat teman-temanku.
"Baiklah, kami akan menyusul" sahut harimau itu padaku.
.
.
Cukup lama berlari menyusuri gua dan menghancurkan ketiga dinding batu yang sebelumnya dibuat Lia dan Luna, aku dan gadis iblis itu bersama dengan harimau putihnya akhirnya tiba di belokan terakhir tempat Jun dan rekanku yang lain berlindung.
Akan tetapi, tiba-tiba saja gadis itu menghentikan langkahnya dan terdiam dengan wajah yang terlihat sedang ragu, meski begitu aku tidak terlalu mempedulikannya dan kemudian pergi lebih dulu untuk menemui teman-temanku.
...
"Jun! bagaimana keadaanmu dan yang lainnya?" ucapku bertanya sambil terengah-engah.
"Zoe!? kau kembali! apa bantuan sudah datang?! di mana mereka?!'' ucap Jun sembari bertanya balik padaku.
"Y-ya... seperti itulah… mereka akan menyusul"
Seorang gadis iblis dan satu monster buas.
Sesampainya di depan mereka tidak banyak perubahan yang terjadi di tempat ini, orang-orang yang terluka dan tampak lelah duduk berjejer bersandar di dinding gua dengan senjata dan baju besi yang tergeletak di tanah, aku kemudian menanyai Jun tentang keadaannya dan juga keadaan prajurit lainnya dan dijawab dengan pertanyaan yang telah sangat berharap akan ada pertolongan.
Jujur aku bingung harus bagaimana menjelaskannya pada mereka, orang yang akan menolong kami bukanlah prajurit atau petualang dari kerajaan, akan tetapi hanyalah seorang remaja iblis dan satu monster buas.
"Hei sebenarnya apa yang terjadi di luar sana? kenapa tempat ini mengkristal seperti ini? apa kalian bertarung dengan iblis yang kuat?" ucap Fio salah satu penyihir perempuan di kelompok kami.
"Ya, aku juga ingin tau itu" sahut Jun bersama prajurit lainnya dengan ekspresi keheranan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan itu, selagi situasi masih aman kita harus pergi dari tempat ini…/" ucapku berbalik.
"A-anu… permisi, a-apa ada yang bisa aku bantu?" ucap gadis iblis sebelumnya muncul dengan perlahan di belakangku.
Bagus, benar-benar saat yang tidak tepat.
Bertanya dengan kebingungan Fio salah seorang penyihir di kelompok kami berdiri dan terlihat sangat keheranan dengan dinding beserta lorong gua yang telah terselimuti oleh kristal bersinar terang, begitupun dengan Jun yang juga terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi, dan sekali lagi aku dibuat bingung bagaimana harus memilih kalimat yang tepat untuk menjelaskannya.
Dan akhirnya aku mengalihkan perhatian dengan berbalik badan lalu memberitahu mereka untuk segera pergi dari gua ini, akan tetapi sebelum sempat aku menyelesaikan ucapanku gadis iblis itu berdiri tepat di hadapanku dengan tersipu ragu menawarkan bantuan pada kami.
Dia menggenggam tangannya malu-malu dengan pandangan mengarah ke bawah dan sayapnya yang sedikit menurun, sementara itu berbeda dengan majikannya harimau itu terlihat sangat santai rebahan di atas kepalanya dengan kedua tangan - kaki depan - yang menjuntai hampir ke dahi gadis itu, dan kemunculan mereka berdua benar-benar sangat tidak tepat karena aku belum menjelaskan apapun tentang mereka pada rekan-rekanku.
"I-iblis!" ucap seorang prajurit ketakutan.
Sudah kuduga...
"Tidak perlu khawatir, dia ada pihak kita" ucapku sambil berdiri membelakangi gadis itu.
"Zoe! ke marilah!" ucap Jun menarik kerah bajuku.
…
"Bagaimana mungkin kau bisa percaya dengan iblis di saat seperti ini?! dia mungkin sedang merencanakan sesuatu, apa kau ingin membahayakan kelompok kita hah?!" ucap Jun kesal sambil berbisik padaku.
Benar saja mereka semua tercengang setengah mati melihat gadis itu sama saat pertama aku melihatnya, jika dilihat dengan kasatmata dia memang hanya seorang gadis cantik dengan tanduk dan sayap, tapi dibalik itu semua ada aura yang sangat besar terpancar dari tubuhnya bahkan seorang prajurit yang tidak mahir dalam sihir akan sangat jelas dapat merasakannya.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman aku kemudian mengatakan pada mereka bahwa gadis itu berada di pihak kami, tapi Jun yang mendengarnya langsung menarik leher bajuku dengan kesal dan menyeretku menjauh dari gadis itu lalu berbisik sambil merangkulku bersama dengan rekanku yang lainnya.
"Sudah kubilang dia ada di pihak kita, sebelumnya dia sudah menyelamatkanku juga Luna, Lia dan Kie, aku bisa menjaminnya."
"Lalu di mana mereka bertiga? kenapa kau hanya sendirian datang ke sini?" sahut salah seorang prajurit di sampingku.
"Mereka bertiga sudah dia antar pulang ke kota…/"
"Apa kau melihatnya melakukan itu?" sambung Fio bertanya.
" … "
"Jika tidak ada yang perlu dibantu aku akan menunggu di luar, permisi… maaf mengganggu kalian" ucap gadis itu sambil sedikit menunduk sembari berbalik meninggalkan kami.
__ADS_1
Berbisik selama beberapa saat mereka terdengar kesal dan tidak percaya pada ucapanku tentang gadis itu, yah meski aku menyebutkan bahwa Kie, Luna, dan Lia telah dia selamatkan sejujurnya aku sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak karena aku tidak melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri, dan aku sama sekali tidak bisa bersuara ketika Fio menanyakan itu.
Dan dengan terlihat tersenyum tipis gadis iblis itu kemudian sedikit menunduk lalu pergi meninggalkan kami, walau aku merasa takut padanya, tapi entah kenapa aku justru juga merasa tidak enak melihatnya seperti itu, meski dia tersenyum ekspresi wajahnya justru terlihat murung dan sangat sedih.
...***...
"Zoe, jelaskanlah maksud dari tindakanmu ini!" ucap Jun padaku.
"Ini memang sulit untuk dijelaskan... tapi aku percaya padanya! aku tau kita sedang berperang, tapi bukan berarti semua iblis itu sama jahatnya dengan musuh kita, jika dia memang jahat lalu kenapa dia tidak membunuh kita sejak awal? itu karena dia iblis yang baik… percaya atau tidak itu terserah pada kalian! kalian boleh memukulku nanti jika dia memang…/"
Brukk...
"Uakhh!!! kenapa kau tiba-tiba memukulku hah!!?"
"Itu belum seberapa dasar bodoh!!! lihat saja nanti jika dia membunuh kita semua meski aku mati akanku pukuli wajahmu sampai kau terlempar ke dalam neraka!!" ucap Jun berteriak sembari berjalan melewatiku.
"Woi, kau tau itu mustahil bukan?" ucapku padanya.
"Ayo semua! kita pergi!!" sambungnya lagi.
"BAIK!!!" sahut yang lainnya bersamaan.
...
"Haah, terserah saja yang penting mereka mau percaya dan keluar dari tempat ini" ucapku menatap barisan prajurit yang melewatiku.
Masih dengan tatapan kekesalan Jun kemudian memintaku untuk menjelaskan perbuatanku yang terkesan ceroboh ini, dan dengan tenang aku langsung menjawabnya bahwa aku mempercayai gadis itu karena aku yakin dia orang yang baik, tapi aku juga tidak memaksa mereka untuk ikut mempercayainya karena yang terpenting sekarang adalah keselamatan mereka untuk keluar dari hutan ketakutan ini.
Aku juga mempersilahkan mereka untuk memukulku jika memang gadis itu ada iblis yang jahat dan berniat untuk mencelakai kami, tapi belum sempat untukku menyelesaikan ucapanku dengan keras Jun memukul wajahku dan aku cukup kesal dengan itu, karena aku memperbolehkannya jika memang aku salah menilai gadis itu, akan tetapi saat ini bahkan keadaan masih sangat aman tanpa adanya pergerakan yang aneh darinya.
Meski begitu Jun malah kembali meneriakiku dengan kesal dan mengancamku dengan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi, dia terlihat sangat yakin dengan perkataannya itu, tapi itu tidak masalah bagiku karena aku cukup lega mereka mau percaya dengan ucapanku.
...🏵️ POV Jun🏵️...
" Hei kau terlihat sangat segar bugar, apa lukamu sudah membaik?" tanya Zoe padaku.
" Ya sepertinya begitu, aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya..." sahutku sambil mengepal-ngepalkan tanganku.
"… aku merasa ada yang aneh dari gua kristal ini, apa kalian juga merasakannya?" sambungku bertanya sambil dengan terus berjalan sembari sedikit menoleh ke belakang
"Ya aku merasa tubuhku jauh lebih baik" ucap salah seorang prajurit.
"Aku juga merasakannya, bahkan luka di tanganku juga menghilang!" sahut prajurit lainnya.
"Jadi begitu ya..." ucapku sambil terus berjalan.
Cukup lama berjalan di dalam gua kristal ini aku merasa ada perubahan yang signifikan terhadap kesehatan tubuhku, bahkan bisa dikatakan aku telah sembuh dari luka besar yang sebelumnya aku dapatkan dari pertarunganku dengan beberapa pasukan undead, dan bahkan bukan hanya aku yang merasa demikian, tapi juga seluruh rekan-rekanku.
Kondisi tubuhku benar-benar terasa sangat berbeda seolah kekuatan dan staminaku telah kembali dan mungkin itulah yang mendasari pertanyaan Zoe sebelumnya.
"Zoe, apa gadis itu yang mengubah gua ini?" ucapku bertanya sambil mengambil sebuah batu yang mengkristal.
"Bagaimana kau bisa tau? aku bahkan belum mengatakannya" sahut Zoe.
"Aku melihat antingnya sama dengan kristal di gua ini..." ucapku mengamati batu yang kuambil sebelumnya.
"Saking waspada terhadapnya, kau sampai memperhatikannya sedetail itu" sahut Zoe padaku.
Cukup dengan mengamati keadaan gua ini aku dapat menebak bahwa gua ini mengkristal karena kekuatan dari gadis iblis yang dibawa oleh Zoe, selain melihat dari aksesoris yang dia kenakan aku juga menyimpulkannya dari aura besar yang dia miliki, aku seperti berada di dalam balok es sambil menggenggam kobaran api di tanganku, auranya terasa dingin, tapi juga menghangatkan.
Hm... batu kristal ini sangat keras!
"... aku tidak pernah melihat ada orang yang menggabungkan empat elemen sihir secara bersamaan, dia berada di level yang sangat jauh berbeda dari kita, aku bahkan tidak bisa menghancurkan kristal es sekecil ini."
Bagiku keanehan ini adalah sesuatu yang luar biasa karena seumur hidupku baru kali ini aku melihat penggabungan sihir yang sangat memukau dan karena inilah aku bisa sedikit mempercayai gadis itu, kekuatannya sangat jauh melampaui kami bahkan saat aku menggunakan sihirku untuk menekan kristal kecil di tanganku aku tetap tidak bisa menghancurkannya.
"Tunggu sebentar, bukannya cuma tiga?" tanya Zoe padaku sambil mengangkat alisnya keheranan.
"Di mana kau menaruh isi kepalamu Zoe?" sahutku padanya. •_•
"Empat? tiga? apa yang kalian maksud?" ucap seorang prajurit di belakangku.
"Normalnya kebanyakan dari orang-orang hanya bisa menggunakan dua penggabungan sihir, sederhananya air dan angin menjadi es, dan sama saat kita memasak air yang dihangatkan dengan api dapat membuat airnya mendidih, kadang orang-orang tidak sadar telah menggunakan dua kekuatan yang berbeda" jelasku pada mereka.
Sedikit berdebat dengan Zoe karena sesuatu yang mengherankan aku kemudian menjelaskan sedikit tentang penggabungan sihir yang sering tidak disadari oleh orang-orang, tapi dalam prosesnya kebanyakan orang hanya akan bisa menggabungkan dua kekuatan sihir dan itu adalah batas normal semua makhluk hidup yang artinya kekuatan gadis iblis itu berada jauh dari kenormalan.
"Jadi apa maksudmu dengan empat sihir sekaligus?" tanya Fio.
"Perhatikanlah sekitarmu Fio, kau seorang penyihir bukan?" sahut Zoe padanya.
"Hm...?"
"Aku meragukan kemampuanmu sebagai penyihir" sahut Zoe padanya.
__ADS_1
"Eh! aku bahkan belum menjawabnya!!"
"Ini sihir es… tapi dengan level kekuatan yang sangat berbeda, awalnya aku juga mengira bahwa ini adalah kristal, tapi kristal ini terasa dingin di tanganku" ucapku menjelaskan padanya.
Kebingungan dengan pernyataanku Fio terlihat sedang memutar otak untuk mengamati keadaan gua ini setelah Zoe memintanya untuk memperhatikan sekelilingnya, tapi dia terlihat sulit untuk dipahami keadaan sekitarnya jadi aku kemudian memberitahunya bahwa gua ini ditutupi oleh sihir es.
Akan tetapi, sihir es yang digunakan oleh gadis itu sangatlah kuat dengan level yang tinggi, normalnya es akan mencair jika terlalu lama beranda di atas tanah, tapi es dari gadis itu tidak mencair dan malah mengkristal menyatu dengan alam yang membuktikan bahwa kekuatannya sangatlah luar biasa.
"Oh, lalu bagaimana dengan dua lainnya?"
"Sihir cahaya dan juga penyembuhan" jawabku.
"Bukannya sihir cahaya dan penyembuhan itu sama?" sahut Zoe.
"Setelah dipikir-pikir Zoe ada benarnya Jun" ucap Liyt teman sesama penyihir Fio
"Aku tau itu, bodoh!"
"Jadi kenapa kau bisa menyimpulkannya seperti itu?" tanya Zoe.
"Kalian tau kakakku adalah pendeta sucikan? jadi kalian tidak perlu mengkritikku tentang sihir cahaya!!" ucapku sambil mengepalkan tanganku.
"Y-ya m-maaf" sahut mereka bersamaan.
"Haah, karena kakakku itulah aku menjadikannya dua tipe sihir yang berbeda saat melihat cara penggunaannya, kakakku menggunakan sihir cahaya murni untuk melakukan penyembuhan pada 'kutukan', tapi apa kalian pernah berpikir menggunakan sihir cahaya untuk melakukan penerangan?! itu hal yang gila... terlebih lagi sihir penyembuhan ada bentuk sederhananya yang dapat menyembuhkan semua luka di luar 'kutukan' bukan? jadi itu sudah menjadi dua sihir yang berbeda" jelasku pada mereka.
" … "
"Sihir cahaya adalah sihir untuk mencabut dan menyembuhkan kutukan, sedangkan sihir penyembuhan adalah untuk menyembuhkan luka biasa, sedangkan luka yang kita alami adalah luka fisik yang artinya dia menggunakan sihir penyembuhan dan karena itulah aku yakin bahwa dia menggunakan empat penggabungan sihir, kau mengerti tukang kritik?!!!" ucapku sambil melotot ke arah Zoe.
"Y-ya a-aku mengerti… aku mengerti, ha haha" sahut Zoe mengangkat tangannya sambil memalingkan wajahnya.
Terus berjalan sembari menjelaskan perkataanku sebelumnya semua orang tampak terdiam mendengarkan penjelasanku ketika menjawab semua pertanyaan dari Zoe, Fio, dan Liyt.
Zoe terlihat tidak percaya dan ragu dengan ucapanku tentang sihir cahaya dan penyembuhan karena dia menganggap kedua sihir itu adalah hal yang sama, mendengar keraguannya pada pendapatku aku kemudian sedikit membentaknya karena nyatanya ada perbedaan yang mendasar dari kedua sihir itu dan karena kakakku adalah pendeta suci aku dapat mengetahui tentang sihir cahaya lebih dari siapapun orang yang ada di sini.
Aku menjelaskan pada mereka dengan cukup detail tentang perbedaan antara sihir cahaya dan penyembuhan yang terlihat sangat jelas dari cara penggunaannya, semua orang yang mendengarkan penjelasanku itu terdiam tanpa berkata-kata lagi dan saat aku selesai berbicara aku kemudian menatap tajam ke arah Zoe dan membuatnya terlihat berkeringat sambil mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda untuk menjauh dari tatapanku.
Perjalanan kami untuk keluar dari gua dipenuhi oleh pernyataan dan perbincangan yang cukup serius tentang sihir dan perbedaan kekuatan.
...☘️ POV Zoe ☘️...
"Skakmat! akulah pemenangnya."
"Ya ya kau benar, hore" ucapku tidak bersemangat.
"Kau keberatan?!" ucap Jun sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak" sahutku memalingkan wajah.
.
.
DUAR!!
"Apa itu?!" ucapku terkejut.
...
"A-apa itu?" ucap prajurit di belakangku.
"Diamlah di belakangku dan jangan bergerak!" ucap harimau putih sebelumnya pada kami.
Dengan tersenyum sombong yang mengarah padaku Jun bersikap seolah dia sedang memenangkan permainan perang dan itu cukup menyebalkan untukku, dan sambil mengangkat satu tanganku menyorakinya dengan sikap lemas tidak bersemangat karena memang aku sedang tidak bersemangat untuk menanggapinya.
Dan secara tiba-tiba saat tinggal beberapa meter lagi dari mulut gua sebuah benturan keras terdengar dari luar gua memecahkan keheningan kami, mendengar suara benturan yang cukup keras itu sontak saja membuat kami mempercepat langkah untuk keluar dari gua dan benar saja gadis itu sedang bertarung dengan seorang pria bertanduk lainnya yang mengenakan baju jirah hitam seperti sisik ular.
Tapi sesuatu yang sangat mengejutkanku adalah gadis itu terlihat lemah ketika bertarung melawan bahkan tidak ada perlawanan terhadapnya, dia terlihat tidak berdaya ketika lelaki itu mencekiknya dengan beberapa luka dan sayap yang nampaknya telah patah, aku bahkan melihat ada air mata yang tertampung di matanya dan secara tiba-tiba harimau gadis itu melompat ke depanku dan meminta kami untuk tetap diam di belakangnya tanpa bergerak.
"A-apa yang terjadi padanya?" tanyaku pada harimau itu.
"Seperti yang kau lihat" jawabnya singkat.
"Kenapa kau tidak membantunya? dia terlihat sangat terdesak oleh orang itu!" ucapku lagi.
"Tidak, nona Shea tidak akan senang dengan itu"
"B-bukannya gadis itu sangat kuat! kenapa dia bisa terlihat selemah itu? dia bahkan tidak memberikan sedikitpun perlawanan padanya!" tanya Jun memberanikan diri.
"Sekuat apapun nona Shea, dia tidak akan pernah melawan orang itu… bukan karena dia tidak sanggup untuk bertarung dengannya, tapi karena ada sesuatu hal yang membuatnya tidak ingin melakukan itu, meskipun jika nyawanya terancam" ucap harimau itu duduk di depan kami sembari menatap ke arah gadis itu.
...☘️☘️☘️...
__ADS_1