
"Emhhh... lapar... hey ayolah aku sudah cukup lama berjalan, tidak mungkinkan tidak ada makanan di sini?" ucapku sambil memegang perutku.
"Yahh... aku harus bersabar mungkin di depan sana ada makanan."
Aku sudah cukup lama menyusuri hutan ini, tapi aku belum menemukan satupun makanan yang bisa kumakan, kakiku bahkan sudah sulit untuk berjalan.
"Aghhh istirahat sebentar." Ucapku sambil duduk di bawah pohon.
"Hey bunga cantik, apa kau tau di mana ada makanan?"
"..."
Ah... apa aku hampir tidak waras? itu hanya bunga rumput.
Perlahan aku duduk di bawah pohon sambil menghilang rasa penat dan lelah, entah apa yang kupikirkan aku malah bertanya pada bunga rumput di sampingku, tidak makan beberapa hari mungkin hampir membuatku kehilangan akal sehat.
Hehehehe...
"Siapa itu?" ucapku sambil menatap ke samping.
"Siapa di sana?" tanyaku pada seseorang di depanku.
Saat aku memejamkan mataku tiba-tiba aku mendengar suara tawa wanita itu lagi dari suatu arah di sampingku dan benar saja jauh di depanku ada seseorang yang sedang berdiri menatapku, tapi aku tidak bisa menatap jelas wajah dan tubuhnya karena ada cahaya terang dari matahari yang menghalangi pandanganku.
"Eh! apa yang dia katakan?" ucapku sambil berdiri.
Wanita itu menunjuk ke suatu arah sambil mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak bisa mendengar suaranya karena jarak kami yang terbilang cukup jauh ditambah dengan suaranya yang pelan, aku hanya bisa melihat gerak bibirnya dan itu pun tidak terlalu jelas karena dia menoleh ke samping.
"Eh! tunggu!!"
.
.
.
"T-tunggu!! huhh huhh huhh... k-kemana dia pergi?" ucapku dengan nafas yang terengah-engah.
Aku kemudian berlari ke arahnya dan dengan nafas yang terengah-engah aku sampai di tempat di mana dia berdiri sebelumnya untuk melihatnya lebih dekat dan ingin menanyakan apa yang dia katakan padaku sebelumnya, tapi saat aku menghampirinya dia sudah pergi menghilang entah kemana.
"Sebenarnya apa yang dia katakan padaku?" ucapku sambil kembali mengatur nafasku.
"Hm... apa ada pesan yang ingin dia sampaikan padaku? kalau tidak salah... tadi dia menunjuk ke arah sana."
.
.
Karena tidak berhasil bertemu dengannya aku kemudian pergi ke arah di mana dia menunjukkan tangannya padaku, mungkin saja dia ingin meminta sesuatu hal atau ingin memperlihatkan sesuatu yang penting padaku, wanita itu tampak begitu misterius dia muncul dan menghilang begitu saja.
"Hm... apa di sana tempat yang ingin dia tunjukkan... woahh!!! itu danaunya!!"
Aku terus mengikuti arah yang ditunjukkan oleh wanita itu sampai akhirnya aku tiba di ujung hutannya dan melihat sebuah danau besar yang hijau dan ada beberapa pegunungan yang terlihat di belakangnya, itu adalah danau yang ingin aku kunjungi sebelumnya saat aku ingin keluar dari labirin, tidak kusangka kalau danaunya akan seluas itu.
"Wahhh!!! ini jauh lebih besar daripada yang ada di dalam labirin, tapi tidak kusangka akan seluas ini." Ucapku sambil menatap ke arah danau itu.
Danau ini di kelilingi oleh rerumputan yang cukup luas dan hutannya pun agak sedikit jauh dari tepiannya, aku bahkan dapat melihat keseluruhan bentuk dari danau itu dan di depanku saat ini atau lebih tepatnya di pinggiran danau itu ada satu pohon yang cukup besar berdiri dengan kokoh.
"Hm... pohon itu tampaknya sedang berbuah..."
Dan juga sepertinya pohon itu sedang berbuah karena aku melihat ada bunga-bunga dan juga buah kecil di antara daun-daunnya.
Brukk
"Apa itu?" ucapku sambil mencari arah sumber suara jatuh.
Saat aku mengamati pohon yang ada di tepi danau itu aku tiba-tiba mendengar suara benda jatuh di sampingku, karena penasaran aku kemudian mencari tau dari mana asal suara itu di semak-semak hutan, dinilai dari suaranya benda itu tidaklah terlalu besar karena aku mendengar suaranya cukup dekat.
"Kalau tidak salah asalnya dari sini." Ucapku sambil menyusuri semak-semak hutan.
__ADS_1
"Em... apa itu?"
...
"Woaa!! ini apel!! tapi tunggu... apa apel memang memiliki corak hijau seperti ini?" ucapku sambil memegang sebiji buah.
"Yahh... siapa peduli mungkin ini adalah apel dari dunia ini hehe, dan yang penting ini bisa dimakan... aaa... ehhh!!! a-ada b-banyak apel..." ucapku sambil menatap ke atas.
Setelah mencari ke sana-kemari aku akhirnya bisa menemukan asal suara jatuh itu yang ternyata adalah sebuah buah apel merah dengan corak berwarna hijau, bahkan saat aku ingin memakannya mataku tak sengaja melihat ke atas dan melihat ada banyak sekali buah apel itu yang bergantungan di pohon-pohon, mungkin saja karena sekarang sedang musim buah.
"Woahh!! aku akan petik yang ini dan yang ini... owh! yang ini juga... dan di sana..." ucapku sambil memetik buah apel itu.
.
.
"Hehehe... sepertinya kali ini aku akan pesta apel." Ucapku sambil duduk di bawah pohon tepi danau.
"Hm... sepertinya ini juga pohon apel... woaa! ada satu buah yang matang... yahh tambah satu lagi tidak masalahkan?"
Melihat ada banyak buah apel yang bergantungan aku kemudian sedikit terbang lalu memetik buah itu sebanyak yang aku bisa, setelah cukup banyak aku kemudian kembali turun dan membawanya ke bawah pohon yang ada di tepi danau agar bisa bersantai sambil menikmati pemandangan danau yang indah.
Dan ternyata pohon yang ada di dekat danau itu juga pohon apel, tapi bedanya tidak ada corak di buahnya sangat berbeda dengan apel yang sebelumnya aku petik, buah apel yang satu ini terlihat lebih normal daripada yang sebelumnya dan karena ada satu buahnya yang matang aku kemudian memetiknya dan meletakkannya di kumpulan buah apel itu.
"Yahh... waktunya makan... aaa...mm..."
"Aekhh!!... p-pahit k-kenapa buah apel bisa sepahit ini?" ucapku sambil memuntahkan gigitan apelku.
Saat aku menggigit salah satu apel entah kenapa buah apel itu terasa sangat pahit rasanya sangat berbeda dari buah apel pada umumnya, aku bahkan langsung memuntahkan gigitan apel itu karena tidak tahan dengan rasa pahitnya.
"Seandainya aku tau kalau rasanya sepahit ini, aku tidak akan memetiknya sebanyak ini." Ucapku sambil memandangi buah apel itu.
"Hm... sepertinya apel yang memiliki corak itu bukan buah yang bisa dimakan... kalau begitu bagaimana dengan apel yang satu ini." Ucapku sambil memegang apel merah.
Karena rasa pahit yang kumakan berasal dari apel yang memiliki corak aku yakin kalau itu adalah buah yang tidak bisa dimakan, rasanya begitu pahit aku bahkan tidak sanggup untuk menelannya, aku kemudian mengambil satu apel merah yang kupetik dari pohon yang ada di tepi danau untuk mencoba rasanya, apakah sama pahitnya dengan yang bercorak atau tidak.
"B-baiklah mari kita gigit... bertahanlah lidahku." Ucapku sambil mengarahkan apel itu ke mulutku.
Aku perlahan memasukkan apel merah itu ke dalam mulutku dan menggigit sedikit bagiannya untuk berjaga-jaga karena lidahku sudah mati rasa karena rasa pahit dari buah sebelumnya.
Dan di luar dugaan buah apel itu memiliki rasa yang sangat manis berbeda dengan apel sebelumnya yang hampir membuatku memuntahkan semua isi perutku yang sudah kosong, bahkan rasa pahit itu masih membekas di lidahku.
"Hiks hiks... akhirnya aku menemukan makanan yang layak." Ucapku sedikit terharu.
"Yahh kalau begitu hiks... selamat makan."
Citt Citt Citt
Hm... tupai?
"Ada apa tupai manis? apa kau mau ini?"
Bahkan tupai pun tau makanan yang enak dan yang tidak ("•_• )
Di saat aku ingin memberikan gigitan kedua pada apel itu tiba-tiba ada seekor tupai bertanduk melompat turun dari ranting pohon di atasku dan mengendus-endus buah apel bercorak itu, tapi dia tidak memakannya dan malah mendekat ke arahku menatap ke buah apel di tanganku.
"Hm... yahh... kurasa tidak masalah sedikit berbagi... ini untukmu tupai."
...
"Jaga dirimu baik-baik tupai imut." Ucapku sambil sedikit melambaikan tanganku.
Karena tupai itu tampak sangat ingin makan aku kemudian membelah apel milikku menjadi empat bagian dan memberikan salah satu bagiannya padanya, setelah aku memberikan itu padanya tupai itu langsung melompat dan pergi ke arah hutan membawa potongan apel itu.
"Yahh sudahlah... aaaa..."
Citt Citt Citt
"Ada apa lagi tupai?"
__ADS_1
Eh! tunggu warnanya sedikit berbeda, apa ini tupai lainnya? y-yahh tupai tidak hanya satu di dunia ini.
Sama seperti sebelumnya saat aku ingin menggigit apel itu tiba-tiba tupai lain turun dari atas dan menghampiriku dan juga mengendus-endus buah apel bercorak yang ada di depanku, tapi dia juga tidak mau memakannya dan malah justru menatap ke arah tanganku.
"Apa kau juga mau ini?" tanyaku pada tupai itu.
Citt Citt Citt
"Kalau begitu ini untukmu manis." Ucapku sambil memberikan potongan apelku padanya.
Aku kembali memberikan potongan kecil dari sisa tupai sebelumnya padanya, tupai itu pun langsung berlari melewati rerumputan ke arah hutan dan kemudian menghilang diantara hijaunya pepohonan, sekarang apel di tanganku hanya ada setengah bagian.
"Huhh...tenang saja masih ada setengah bagian... aaaa..."
Citt Citt Citt
"Ahh... ada apa lagi tupai imut?"
Kenapa banyak sekali tupai di sini... ">_<
"K-kau juga mau ini?"
Citt Citt Citt
"Jadi begitu... hiks... i-ini untukmu." Ucapku sambil memberikan potongan apel pada tupai itu.
.
.
"S-sampai jumpa tupai... hiks hiks...aghh!! kenapa aku ini? kenapa aku terlalu baik hiks hiks... pokoknya aku tidak akan memberikan potongan terakhir ini pada siapapun, selucu apapun itu, seimut apapun penampilannya, tidak akan pernah."
Seperti sebelum-sebelumnya saat aku memberikan potongan apel itu dia langsung pergi melewati rerumputan dan berakhir menghilang di dalam hutan, sekarang aku prihatin dengan diriku sendiri dan menyalahkan kebaikan yang terlalu baik ini.
Dari satu apel manis yang ada sebelumnya hanya tersisa seperempat bagian yang ada di tanganku, aku akan mempertahankan sisa terakhir itu sampai saat-saat terakhir.
"Aaaa... eh! tunggu dulu! aku harus memperhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu." Ucapku sambil memegang erat potongan apel.
...
"Yoshh tidak ada tupai di sini."
Citt Citt
"Waaaa!!!"
Brukkkk
Aku memegang erat dan menyembunyikan potongan apel itu dan karena tidak ingin ada yang mengambil apelku lagi aku kemudian memperhatikan keadaan sekitarku terutama keadaan sekitar hutan karena para tupai itu datang dan pergi dari arah hutan, tapi sialnya kali ini ada tiga tupai yang datang menghampiriku.
Karena kaget aku tidak sengaja membenturkan kepalaku di batang pohon dengan cukup keras, tapi aku tetap tidak melepaskan apel itu dari genggamanku.
"A-aduh...! d-dari mana k-kalian d-datang?"
Citt Citt
"Tidak! tidak akan pernah! kalian cari saja makanan sendiri apel ini milikku dan tidak akan pernah kuberikan pada kalian... aa!!! Eh!!"
"Hey!! itu milikku jangan pergi!! hey!!"
Aku terus mempertahankan apel itu, tapi tiba-tiba ada salah satu tupai menggigit tanganku, karena terkejut aku sampai melepaskan apel itu dan akhirnya dibawa oleh para tupai itu ke dalam hutan, walaupun aku sempat ingin mengejarnya, tapi tupai-tupai itu sudah menghilang dari pandanganku masuk ke semak-semak hutan.
"Kenapa nasipku begitu buruk? hee... haa... hiks hee... haaa!!! SIRAA!!!" panggilku sambil merengek.
"Apa boleh buat hiks hiks yang tersisa hanya apel pahit itu hiks, lagipula aku yang memetiknya." Ucapku kembali duduk sambil menghapus air mataku.
"Pahit... Pahit... hiks... pahit." Ucapku sambil menggigit apel-apel itu.
Karena tidak bisa mengejar tupai-tupai itu aku kembali duduk di bawah pohon tepi danau dan memakan semua apel pahit yang sudah aku petik sebelumnya, walaupun aku sangat tidak ingin memakannya, tapi karena aku yang sudah memetiknya aku tidak ingin menyia-nyiakan itu meskipun rasanya tidak enak dan sangat pahit.
__ADS_1
...~•~...
...🌷...