
"Berarti hanya tersisa mencari buah strawberry, tapi di mana kita bisa mendapatkannya?" ujar Jeane bertanya.
"Kita akan pergi ke dalam labirin untuk mencarinya." jawabku.
"Labirin?" ujar Mary kebingungan.
Tentu kami akan pergi ke labirin elo (el') untuk mencari buah strawberry, seperti yang kukatakan sebelumnya buah berry ini hanya tumbuh di pedalaman labirin di daerah yang dipenuhi oleh mana dan tempat yang minim pencahayaan.
"Ya... buah itu ada didalam labirin, lebih tepatnya di lantai kedelapan." sahutku menjawab Mary.
"Ehhhhh... bukankah itu terlalu berbahaya?" ujar Mary sedikit ketakutan.
"Ya... memang, tapi hanya itu satu-satunya tempat tumbuh tanaman ini." ucapku pada Mary.
Memang benar bahwa labirin adalah tempat yang menakutkan, setiap lantai dalam labirin diisi oleh monster mengerikan yang jauh lebih berbahaya daripada monster yang ada diluar.
Tapi, aku sudah punya rencana untuk menanganinya.
"Lalu bagaimana cara kita untuk memasuki labirin yang besar itu, tanpa tersesat?" tanya Han.
"Tak perlu khawatir, aku sudah meminta Lucy untuk mencarikan pemandu arah agar kita tidak tersesat." Jawabku.
"Jadi, dimana kita bisa bertemu dengan pemandu arah itu?" tanya Jeane.
"Kita akan bertemu dengannya di pintu masuk labirin." Ujarku pada Jeane.
"Ookeh, ayo kita bergegas pergi, semakin cepat semakin bagus kan!" ucap Mary bersemangat.
Kami berempat pun pergi keluar dari hutan menuju jalan utama sebelum akhirnya pergi menuju pintu labirin.
"Hey hey hey Shaly, dimana pintu labirin itu berada?" ujar Mary bertanya kepadaku.
"Pintu labirin itu ada di sebuah padang rumput di sebelah barat dari jalan utama yang kita lalui saat ini." Sahut Jeane.
"Owhh... apa kau pernah pergi ke sana Jeane?" lanjut Mary bertanya pada Jeane.
"Tidak... aku hanya pernah mendengarnya dari ibuku." jawab Jeane.
Kami berempat bicara dan bercanda sepanjang perjalanan menuju lokasi pintu labirin, itu cukup membantu untuk menutupi rasa takutku, ahh... ini menyenangkan, kuharap kesenangan ini tak pernah berakhir.
"Coba lihat kita sudah sampai!" ucapku sambil menunjuk ke arah tembok besar didepan kami.
"Kenapa ada benteng disini, padang rumput ini masih berada di wilayah Amonia kan?" ucap Han terheran-heran.
"Benteng itu bertujuan untuk mencegah keluarnya monster berbahaya dari labirin, bisa dibilang untuk pertahanan dan pengawasan labirin." ujarku menjelaskan fungsi benteng itu.
"Woaahhhh... benarkah?" tanya Mary dengan polos.
"Ya..." jawabku dengan singkat.
Benteng itu memang terlihat mengagumkan berdiri dengan kokohnya walau diserang oleh banyak monster berbahaya dan dibalik benteng beton ini terdapat sebuah retakan tanah yang merupakan pintu masuk labirin.
"Kau lambat sekali Shaly, aku sampai menunggu berjam-jam di tempat ini!" seru seseorang padaku.
Ada seorang pria berambut merah yang sedang kesal padaku, yap dia adalah Noro petualang level 49 yang sering memasuki labirin untuk pemetaan.
"Kenapa kau ada disini?" tanyaku sedikit kasar.
"Hah... bukan kau yang memintaku untuk jadi pemandu arah." Jawabnya dengan sedikit tersinggung.
"Pemandu arah? cih! ini pasti ulah Lucy " ucapku dengan pelan.
"Hah... apa kau tidak suka denganku! kalau kau tidak mau cari saja orang lain!" ujarnya dengan kesal.
Kalau dipikir-pikir lebih baik bersama orang yang berpengalaman dan ahli di bidangnya ketika memasuki labirin, apalagi orang ini sering melakukan pemetaan dilantai labirin.
"Baiklah baiklah, apa kau mau jadi pemandu kami? tuan ramah yang baik hati!" ucapku sedikit terpaksa.
"Tentunya jika kau membayar ku dengan harga yang pantas." ujarnya sambil bertingkah sombong.
"Ano... apa anda yang akan memandu kami?" tanya Mary perlahan muncul dari belakangku.
"..."
"Ehh... ada apa?" tanya Mary sekali lagi.
"M-maaf... benar aku yang akan memandu kalian, perkenalan namaku Noro salam kenal." jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya karena salah tingkah.
Woy apa-apaan perlakuan pilih kasih itu! Kau orang yang tidak adil, kau berlaku sopan hanya karena ada gadis imut di depanmu, kau memang yang terparah.
"ya... salam kenal kak Noro, aku Mary dan yang di sampingku ini Jeane dan juga Han, sekali lagi salam kenal kakak." ucap Mary memperkenalkan diri.
"..."
"Salam kenal." ucapku Jeane.
Lagi-lagi Noro hanya terdiam menatap ke arah Jeane dengan mata yang terpelongo.
"Ano... permisi." ujarnya sambil berbalik arah memegang bahuku.
"Woy!! kenapa kau tidak bilang kalau sedang bersama gadis cantik hah!!" ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Hah!! memangnya aku ijin dulu sebelum membawa seseorang!?" kataku padanya dengan sedikit kesal.
Sial orang ini menyebalkan, perlakuannya padaku benar-benar berbeda dengan apa yang dia perlihatkan pada Mary dan Jeane.
"Yoshh, baiklah mari kita berangkat ke dalam labirin." ujarnya dengan semangat.
Kami pun pergi berangkat kedalam labirin, suasana labirin benar-benar mencekam tapi semakin lama semakin tenang.
"Jangan tertipu dengan ketenangan ini, tetaplah fokus dan jangan menurunkan kewaspadaan kalian sedikitpun." ucap Noro memperingatkan kami dengan serius.
__ADS_1
"B-baik..." kata Mary sambil gemetar.
"Kita akan menuju jalur teleport untuk menghemat waktu agar lebih cepat sampai." Lanjut Noro.
"Dimana tempat jalur teleport itu?" tanya Han.
"Kita akan sampai disana setelah melewati belokan didepan kita." Jawabnya
Stttt!!!
"Awas!" seru Jeane memperingatkan.
Ada seekor monster Mantis setinggi dua meter dengan dua tangan berbentuk sabit bergerigi muncul dari tikungan di depan kami, sontak saja kami langsung menghindar
[ Split wind ]
[ Fire ball ]
Sling!!
Doarrrrrr!!
Mary dan aku langsung menyerang balik dan berhasil menjatuhkan monster itu.
"Kita harus lebih berhati-hati lagi mulai dari sini kita akan sering bertemu dengan monster, jadi persiapkan diri kalian." ujar Noro pada kami.
"B-baik" ucap Mary
Kami melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan kami bertemu dengan berbagai monster seperti Mantis, laba-laba hitam, dan salamander api, dan beruntungnya kami Han, Jeane, dan Noro dapat mengatasinya sementara aku dan Mary melindungi dari belakang dengan melancarkan serangan sihir.
Beberapa saat kemudian kami berhasil sampai di jalur teleport, disana terdapat sebuah lingkaran sihir yang tergambar disebuah batu besar, yap itulah jalur teleport kita.
Tanpa menunda-nunda waktu kami langsung berangkat ke lantai dua dan lagi-lagi kami dihadang oleh monster yang mengerikan, padahal jalan yang kami lalui adalah jalur teraman yang masuk dalam pemetaan.
Setelah bertarung sepanjang jalan kami akhirnya sampai di jalur teleport lantai kedelapan dan seperti sebelumnya seekor cave bear setinggi 3 meter menyerang kami dengan cakar tajamnya.
Serangan itu mengenai tangan Jeane, seketika tangan Jeane menderita luka yang cukup serius, cakarnya merobek tangan Jeane.
Sttttt!!!
Groarrrrr!!!
Han langsung melemparkan tombaknya dan mengenai tubuh cave bear itu, monster itupun menjerit sebelum akhirnya terjatuh, melihat kesempatan itu Noro menancapkan pedangnya diatas kepala cave bear itu dan akhirnya monster itupun mati.
"Biar ku obati." ucapku pada Jeane sambil memegangi tangannya.
"Y-ya..." ujarnya berusaha menahan sakit.
[ Heal ]
"Terima kasih Shaly" ucapnya berterimakasih.
"Tak perlu berterimakasih lohh... seharusnya aku yang berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku." kataku pada Jeane.
"Baiklah ayo kita bergegas! tempat ini kurang aman untuk kita." ucap Noro sambil mencabut pedangnya dari kepala cave bear.
Kami langsung berlari pergi dari tempat itu untuk menghindari serangan monster lainnya.
"Kak Noro, dimana letak strawberry itu tumbuh?" tanya Mary.
"Berry itu selalu tumbuh didekat kristal sihir yang bersinar, seharusnya kita sudah dekat dengan tempatnya." jawab Noro sambil terus berlari.
"Yoshh disana ada gua, bagaimana kalau kita istirahat dulu untuk memulihkan tenaga." usul Han.
"Baiklah, aku juga setuju apalagi saat ini kita sudah sangat kelelahan setelah terus berlari tanpa henti." ucap Noro.
Kami berlima memasuki gua yang ada didinding labirin untuk beristirahat dan memulihkan luka-luka kami.
"Apa kau sudah baikan Jeane?" tanyaku sambil memeriksa kondisi luka Jeane.
"Ya... rasanya sudah lebih baik." jawabnya.
Beberapa saat kemudian kami berangkat lagi untuk melanjutkan pencarian buah strawberry.
"Hey hey Shaly, apa itu buahnya?" tanya Mary
"Hahh... dimana? " kataku balik bertanya.
"Itu liat disana, didekat batu bercahaya itu." ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah kristal sihir yang ada di balik batu.
"Owhh...! benar, itu buahnya, kita berhasil menemukannya, terima kasih Mary." ucapku dengan senang.
"Kalau begitu biar aku yang mengambilnya." sahut Han.
Ssttttt!!!!
"Arghhh...! " teriak Han kesakitan.
Tiba-tiba ada monster berduri dengan tiga cakar tajam di setiap lengannya menyerangnya dengan sangat telak, seketika Han pun menjerit kesakitan dengan luka fatal di bagian punggungnya.
Ssttt!!!
Noro langsung mengarahkan pedangnya pada tubuh monster itu tapi dengan sigap monster itu menghindarinya dan malah menyerang balik, Noro pun terpental menghantam dinding dengan luka besar di dadanya.
[ Fire ball ]
Mary berusaha untuk menyerang monster itu tapi serangan Mary tidak berpengaruh sama sekali, monster itu seperti kebal terhadap serangannya.
[ Wind slash ]
Jeane ikut menyerang monster itu tapi sekali lagi monster itu menghindarinya dengan sangat cepat lebih cepat dari serangan Jeane.
__ADS_1
Sstttt!!
"Aghhh!!"
Monster itu menyerang Mary dan Jeane dan membuat mereka berdua tak sadarkan diri.
Groaahhhhhh!!!
Kemudian monster itu mengarahkan cakarnya padaku, tapi tiba-tiba Han berlari ke arahku dan menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungiku diapun menderita luka yang sangat serius.
"Kenapa? kenapa kau melakukan itu? aku tidak memintamu untuk melakukan itu! kenapa?" tanyaku sambil menangis.
"Hah... kenapa kau menangis? bukankah... sudah sewajarnya aku melindungimu? melindungi dirimu yang lemah ini." jawab Han dengan mulut yang berdarah sembari menahan sakit.
Aku hanya bisa menangis mendengarnya, tanpa kusadari monster itu mengangkat cakarnya dan kembali menyerang ku.
"Siapapun tolong kami, kumohon tolong kami!"
Dengan terus memegangi tubuh Han yang terluka aku menangis meminta pertolongan walau tak ada siapapun ditempat ini selain kami.
Slingg
Crakkk!!!
Groaahhhhhh!!!!
"Eh... siapa? siapa itu?" ucapku sambil melihat kearah kananku.
Graahhhhhh!!!
Ada seseorang yang melancarkan sihir es kearah monster itu dan berhasil mengenainya aku berusaha mencari tau siapa orangnya.
Tapi aku benar-benar terkejut melihat sosok penyelamatku yang ternyata seekor monster naga putih, bagaimana mungkin.
Graahhhhhhh!!!! (raungan naga)
Naga itu melompat ke depan kami dan melebarkan sayapnya yang hanya tinggal sebelah dan tampaknya dia juga sedang terluka.
Groaahhhhhh!!!
Monster itu kembali bangkit dan langsung menyerang naga yang sebelumnya telah menyerangnya, namun seketika monster itu berubah menjadi es yang kemudian dihancurkan oleh sang naga.
Graahhhhhh!!!
Naga itu meraung keras sambil menginjak-injak tubuh monster yang telah menjadi balok es itu.
"Jangan mendekat...! jangan mendekat...!" ucapku ketakutan.
Naga itu mendekati kami secara perlahan dan mulai mengendus-ngendus wajahku, aku hanya bisa terdiam sambil menahan rasa takutku, mengingat dia bisa membunuh monster yang jauh lebih besar darinya hanya dengan tatapannya saja, mengerikan naga ini berbahaya.
Naga itu kemudian menjilat-jilat wajahku, aku menutup mataku dan menahan tubuhku agar tidak gemetar.
"Apa naga itu sudah pergi?" kataku dengan perlahan.
Merasa naga itu sudah pergi aku secara perlahan membuka mataku, tapi ternyata naga itu masih ada didepan ku duduk sambil memandangi wajahku.
Aku benar-benar tak bisa apa-apa, Naga itu terus menatapku tanpa henti, apa yang dipikirkan naga itu?
Naga itu kemudian berjalan ke arah Jeane dan Mary lalu menyeret tubuhnya mereka kearah ku, begitu juga dengan Noro, dan kemudian pergi meninggalkan kami.
Aku kemudian menyembuhkan Han, Noro, Jeane dan juga Mary.
.
.
.
.
"Arhh...! tubuhku terasa remuk, eh...! aku masih hidup!?" ucapnya dengan kaget.
Beberapa saat kemudian Noro terbangun disusul oleh Jeane dan Mary sementara Han masih tak sadarkan diri.
Tap!Tap!Tap!Tap!
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami, tampaknya Noro dan Jeane juga menyadarinya, mereka langsung mengambil posisi bertarungnya.
Dan ternyata yang datang itu adalah naga yang sebelumnya.
"Mustahil, seharusnya dia sudah pergi." ucapku sangat ketakutan.
Melihat Noro dan Jeane yang siap menyerang naga kecil setinggi 1 meter itu bersembunyi di balik batu yang ada di dekatnya, namun secara perlahan dia mulai keluar dengan sedikit menunduk dan berjalan kearah kami.
[ wind slash ] ...
Sebelum Jeane mengeluarkan serangannya monster itu mengeluarkan banyak sekali buah strawberry dari mulutnya, sebelum akhirnya kembali bersembunyi di balik batu.
"Eh...!? apa yang terjadi?" tanya Jeane keheranan.
"A-aku juga ingin tau itu?" sahut Noro.
"Mungkinkah dia tak berniat untuk menyerang kita." ucap Mary mengeluarkan opininya.
"Entahlah..." jawabku.
Kemudian Mary mendekati naga itu secara perlahan-lahan.
"Hey Mary itu terlalu berbahaya!" ucapku dengan pelan.
"Tak perlu khawatir lohh... dia tampaknya bukan monster yang jahat." Seru Mary sambil mengelus-elus kepala naga itu.
__ADS_1
Seperti memang benar naga itu sepertinya tidak berbahaya, tapi aku tak boleh lengah sedikitpun, walaupun bagaimanapun dia adalah monster mengerikan.
...~•~...