
"Apa yang terjadi di sini?!!" ucapku tercengang melihat banyak mayat berserakan di dalam api dan kepulan asap.
Sring Sring!
"Zoe!"
"Tidak masalah... tapi ini benar-benar gawat" ucapnya sambil memegang erat belatinya.
Suara guntur ditambah dengan kilatan cahaya yang menyambar benar-benar mengagetkan aku dan Zoe saat dalam perjalanan kembali ke tempat rombongan prajurit, tapi sayangnya saat kami sampai di tempat ini satu-satunya yang kulihat hanya mayat-mayat yang berserakan dan suara gemerincing pedang yang saling berhantaman satu sama lain dan sihir-sihir yang bertabrakan di dalam kobaran api dan asap yang tebal.
Dan secara tiba-tiba ada beberapa anak panah yang melesat ke arah kami, tapi untungnya Zoe dengan cepat menangkis semua anak panah itu menggunakan belatinya.
"MUNDUR!!! CEPAT PERGI DARI SINI!!!" teriak ketua prajurit sambil melayangkan serangan pedang cahayanya.
"MUNDUR!!!" ucap beberapa prajurit.
Ssttt!!!
"Apa sedang yang terjadi ketua?" tanya Zoe sambil menebas seseorang.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, kita semua harus pergi dari sini!!" jawab ketua sambil memberi isyarat untuk segera meninggalkan tempat ini.
Dalam kegaduhan pertempuran terlihat ketua prajurit yang sedang terluka memerintahkan semua orang untuk mundur dari pertarungan yang brutal ini, dan secara tiba-tiba ada sesosok prajurit bersenjata yang ingin menyerangnya dari belakang, tapi berhasil di tebas oleh Zoe, dalam kebingungan kami yang tidak tahu-menahu tentang keadaan yang terjadi Zoe melontarkan pertanyaan kepadanya dan dengan sangat serius dia memerintahkan kami untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Lalu bagaimana dengan Luna dan Lia? di mana mereka?" tanyaku dengan panik.
"Entahlah aku tidak tau..." jawabnya.
Luna di mana kalian?
Dengan sangat cemas dan panik aku bertanya kepada ketua prajurit tentang keadaan Luna dan Lia mengingat mereka sebelumnya masih berada di tempat ini, dan sayangnya ketua tidak mengetahui tentang keadaan mereka yang membuatku menjadi sangat cemas dan takut terjadi sesuatu dengan mereka.
"... para penyihir buat asap tebal di sini!! kita harus berlindung dari tempat ini" sambungnya.
"Tapi/
"Musuh terlalu banyak, kita tidak punya kesempatan untuk menang" tegasnya.
"Ayo Kie!" ucap Zoe menarik tanganku.
Luna... Lia...
Perasaanku benar-benar campur aduk tidak karuan berusaha untuk mencari Luna dan Lia dari dalam asap tebal itu, tapi sayangnya aku sama sekali tidak melihat keberadaan mereka di antara banyaknya prajurit dan petualang yang sedang bertempur, ketua kemudian memerintahkan para penyihir untuk membuat asap yang lebih tebal sebagai jalan pelarian dan dengan cepat tempat ini dipenuhi oleh asap tebal yang mengganggu penglihatan.
Melihat banyaknya musuh dan juga orang-orang yang sudah mundur Zoe kemudian menarik tanganku untuk segera pergi mengikuti ketua prajurit, dan dengan sangat terpaksa aku harus meninggalkan tempat ini tanpa tau bagaimana keadaan Luna dan Lia.
Banyak dari prajurit dan petualang yang terluka parah karena serangan itu mundur dan mengikuti ketua prajurit karena kewalahan menghadapi banyaknya musuh yang menggempur kami, jumlah prajurit hanya tersisa sebelas orang saja dengan empat petualang di dalamnya termasuk Jun yang terluka.
***
DUARRR!!
"Terus berlari dan jangan berhenti!" ucap Zoe padaku.
"Tidak..."
"Hah! jangan bodoh Kie kau bisa saja terbunuh!"
"Aku yang membawa Luna dan Lia ke dalam situasi berbahaya seperti ini, aku harus menemukan dan memastikan keselamatan mereka" ucapku sambil berbalik.
"T-tunggu Kie... hah hah hah… ekhh! aku yang mereka baik-baik saja" ucapku Jun memegang pundakku sambil menahan luka di perutnya.
"Bagaimana kau bisa yakni dengan itu, mereka bersamamu kan?!! hiks… ini semua salahku" ucapku padanya sambil mulai meneteskan air mata.
__ADS_1
Suara ledakan serangan sihir terdengar jelas dari belakang kami, tapi aku kemudian berhenti dan melepaskan tanganku dari genggaman Zoe untuk kembali ke tempat sebelumnya mencari Luna dan juga Lia, di saat aku ingin berbalik Jun yang terluka parah di bagian perut tiba-tiba memegang pundakku sambil mengatakan bahwa bahwa Luna dan Lia baik-baik saja, tapi tetap saja aku tidak percaya dengan itu.
"TENANGLAH KIE!!! mereka berdua pergi mencarimu… aku yakin mereka berdua juga sedang menghindar dan bersembunyi setelah mendengar ledakan besar sebelumnya... ekhh!!" ucap Jun terengah-engah menahan sakitnya dengan sedikit membentakku.
"Jun!! lukamu..."
"Kita terkepung!" ucap Zoe dengan tegang dari sampingku.
"KE SINI!!" seru ketua prajurit pada kami semua.
...
"Aku tidak apa-apa…" ucapnya pelan.
Bagaimana ini? aku tidak bisa mengobatinya di sini
"Zoe tolong gendong Jun!" pintaku padanya.
"Baiklah" sahutnya.
Dengan terus menyapu air mataku aku menyalahkan diriku karena telah bersikeras tetap ingin masuk ke hutan dan malah membawa mereka berdua ke dalam situasi seperti ini, dan secara tiba-tiba dengan keras Jun membentakku agar aku bisa tenang dan berpikir jernih, setelah itu Jun terjatuh karena lukanya yang semakin parah dan banyak mengeluarkan darah, aku yang tidak bisa mengobatinya di tempat ini kemudian meminta Zoe untuk menggendongnya dan membawanya pergi mengikuti ketua.
***
"Kita terjebak!!" ucap salah satu prajurit menatap tebing besar.
"Sial! mereka semakin mendekat!" ucap ketua menatap kepulan asap yang semakin mendekat.
"B-bagaimana i-ini?!" ucapku gemetar.
Kami semua masuk ke dalam hutan dan semak-semak yang lebih tebal untuk menghindari kepungan dari prajurit raja iblis yang mengejar kami, dengan terus disudutkan oleh asap dan ledakan sihir kami mempercepat pelarian menembus tebalnya pepohonan, semua prajurit dan petualang yang bersama kami terluka parah dan ringan karena serangan itu, hanya aku dan Zoe yang tidak terluka sama sekali karena kami datang saat ketua sudah memerintahkan untuk mundur.
Dan sialnya karena terus disudutkan oleh para iblis kami tidak mengetahui kalau ternyata yang ada di depan kami adalah tebing yang sangat besar, dengan suara keras dari ledakan sihir yang terus mendekat kepanikan di antara kami semakin menjadi-jadi tak terkecuali denganku yang gemetaran juga ketua dan Zoe dengan wajah seriusnya menatap ke belakang, sedangkan Jun sendiri hanya terdiam lemah di punggung Zoe sambil menahan sakitnya.
Brukkk
"A-apa ini?!" ucapku terkejut melihat tebing yang kusandari berlubang.
"Kenapa ada lubang di sini? bagus, semuanya masuk ke dalam!" seru ketua prajurit untuk sambil masuk ke dalam gua misterius ini.
...
"Segera tutup mulut gua ini dengan sihir bumi!"
"Baik!" sahut beberapa penyihir.
Aku benar-benar sangat cemas dan panik dengan keadaan kami karena sangat jelas bahwa kami sedang terkepung dan hanya perlu menunggu beberapa saat lagi saja kami semua akan dibunuh oleh pasukan iblis, dalam kepanikan itu aku dengan perlahan bersandar pada tanah tebing sambil memegangi kepalaku berusaha berpikir untuk mencari jalan keluarnya dan tiba-tiba saja tebing yang kusandari berlubang membentuk sebuah gua dengan lebar dan tinggi sekitar dua meter.
Dan tanpa ragu ketua prajurit kemudian memerintahkan kepada para prajurit dan petualang yang tersisa untuk masuk ke dalam gua itu, karena sudah tidak ada jalan lain kami semua kemudian memasukinya lalu dengan cepat setelah kami masuk ketua memerintahkan kepada para penyihir untuk menutupi mulut gua dengan sihir bumi yang sangat tebal.
"Torch fire..."
DUARRR!!
"Sebaiknya kita masuk lebih dalam lagi" ucap Zoe sambil menatap ketua.
"Baiklah, kalian tambahkan lagi ketebalan mulut guanya" sahut ketua sambil memerintahkan penyihir untuk menutupi mulut gua dengan lebih tebal.
Berada di dalam gelapnya gua misterius ini para petualang penyihir kemudian merapalkam mantra sihirnya dan dengan sekejap api-api menyalakan dari ujung tongkat mereka dengan tanpa membakarnya, dan di saat yang bersamaan terdengar suara ledakan yang cukup besar menghantam tebing ini sampai-sampai getarannya dapat kami rasakan dengan sangat jelas, dalam situasi seperti ini Zoe kemudian mengusulkan agar kami semua masuk lebih dalam lagi untuk menghindari kalau-kalau mulut gua itu terbuka.
...
Tap Tap Tap
__ADS_1
"Siapa itu?!" ucapku salah seorang prajurit menatap ke sisi gelap gua.
Saat kami ingin melangkahkan kaki menuju gua yang lebih dalam, tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat juga seorang prajurit yang mengangkat pedangnya mengarah ke sisi gelap gua, dan sontak saja membuat para prajurit lainnya juga melakukan hal yang sama begitupun dengan ketua prajurit yang siap melancarkan serangannya.
Tap Tap Tap
"Kie?" panggil seseorang.
"Eh! suara itu… Luna?!"
"Kie!!! ahh syukurlah!" ucap Lia berlari dan langsung memelukku.
"Luna! Lia! kupikir aku tidak akan pernah bisa beraatemu dengan kalian lagi hiks… hiks… maafkan aku maafkan aku… seharusnya aku mendengarkan ucapan kalian maafkan aku…" ucapku menangis sambil memeluk mereka.
"Tidak apa-apa Kie yang penting kita bisa bertemu lagi" ucap Luna padaku sambil membalas pelukanku.
"Ya Kie kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, yahh… walaupun aku tidak terlalu suka dengan ini…" sambung Lia.
"Lia…" sahutku semakin erat memeluk mereka.
"A-anu… Kie, bisa lepaskan dulu pelukannya? sedikit sulit untuk bernafas jika seperti ini" ucap Lia padaku.
"Y-ya maaf"
Suara langkah kaki itu terus semakin terdengar mendekati kami dan setelahnya terdengar suara yang tidak asing memanggil namaku dari balik kegelapan itu, dan benar saja perlahan muncul dua sosok yang aku cari-cari sebelumnya ya… mereka adalah Luna dan Lia.
Secara spontan Lia yang melihatku langsung berlari dan memelukku begitupun sebaliknya aku juga langsung memeluk mereka dengan sangat erat sambil meminta maaf atas kebodohanku yang membawa mereka ke dalam situasi seperti ini, aku merasa sangat bersalah juga lega karena bisa bertemu dengan mereka berdua lagi.
...✧❁❁✧✿( Luna )✿✧❁❁✧...
"Jadi kalian berhasil berlindung ya?" ucap Zoe padaku.
"Yahh… walaupun harus sedikit terluka" jawabku menatap tangan kananku yang diperban.
Jun...
DUARR!!!
"Kak..." ucap Lia menatapku memberi isyarat untuk segera pergi.
"Baik, kita akan bicarakan ini nanti, sekarang ayo ikuti kami! eh... Kie!"
"Aku ingin seperti ini" ucapnya sambil memegangi tanganku.
"Huhh... ya baiklah" ucapku juga menggenggamnya.
Saat sedang mengobati lukaku aku mendengar suara berisik dari luar gua yang ternyata itu adalah rombongan prajurit juga Kie yang bersandar tepat di mulut gua yang sebelumnya aku tutupi, dengan cepat aku membuka mulut gua mempersilahkan mereka masuk untuk ikut berlindung, Kie benar-benar terlihat sangat ketakutan dan dengan rasa bersalahnya dia meminta maaf sambil memeluk erat kami berdua.
Dengan terus dihantui oleh suara ledakan dan getaran yang terasa mengguncang gua Lia menghentikan pembicaraan menatapku dengan serius agar kami segera meninggalkan tempat ini, yah… baru kali ini aku melihatnya seperti itu dia terlihat sangat berani, di saat ingin melangkahkan kakiku Kie menggenggam erat tanganku dengan terus terlihat murung ketakutan dan meminta untuk tetap dibiarkan memegangnya, dalam keadaan seperti ini aku merasa memiliki dua orang adik.
Mendengar ucapanku para prajurit juga petualang dan ketua pergi mengikutiku masuk ke dalam gua yang lebih dalam, terlihat juga Jun yang digendong oleh Zoe karena tidak bisa bergerak karena luka di perutnya terus meneteskan darah wajahnya kini bahkan terlihat pucat.
"Bagaimana kalian berdua bisa menemukan tempat ini?" tanya ketua prajurit.
"Sama seperti kalian, kami juga sempat berpapasan dengan beberapa iblis undead dan bertarung dengan mereka walaupun kami berhasil mengalahkan beberapa, tapi jumlah mereka semakin banyak dan pada akhirnya kami berlari entah kemana lalu terpojok di antara tebing tinggi ini…" ucapku menjelaskan sambil terus berjalan.
"Dan setelah menyisir tebing akhirnya kami menemukan ada satu gua dan langsung memasukinya" sambung Lia ikut menjelaskan.
"Sebenarnya ini tempat apa?" tanya seorang penyihir di belakang samping kiriku.
"Entahlah gua ini cukup panjang dan tidak memiliki cabang, tempat ini hanya ada satu jalur saja" jawabku.
Sambil dengan terus berjalan kami sedikit berbicara satu sama lain membicarakan tentang gua ini dan bagaimana kami bisa menemukannya, sedangkan Kie hanya berjalan sambil terus menundukkan wajahnya dengan ekspresi wajah murung dan tampak ketakutan, dan yah… aku sedikit bingung dengan itu, apa mungkin keberanian Kie berpindah kepada Lia dan ketakutan Lia berpindah kepadanya? entahlah, tapi mungkin dia sedang merasa bersalah dan tidak ingin kehilangan kami, itu terasa jelas dari genggaman tangannya yang sangat erat.
__ADS_1
...✧❁❁✧✿( )✿✧❁❁✧...