I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 113: Berakhir


__ADS_3

"Hiks hiks…"


"Anda harus tenang nona, yang sudah-sudah biarlah berlalu…/" ucap Sira sambil berusaha untuk menenangkanku.


"Haaaaagh! hiks hiks!"


"Dasar bodoh, sampai segitunya kau menangisi musuhmu, kau orang terbodoh yang pernah aku temui."


"Diam!! aku tau itu hiks… kau juga iblis yang sangat bodoh! hiks hiks… eh! eehhh!!! masih hidup?!!"


"Ya, meski tak lama lagi akan mati" jawab Leron menatap ke atas.


Setelah dengan satu tebasan aku menghentikan barisan para prajurit undead dengan perasaan campur aduk aku kemudian terjatuh dari ketinggian karena tidak bisa lagi mengendalikan sayapku, terjatuh dengan isak tangis aku menutupi mataku yang mulai menggenang air, tak lama kemudian Sira menangkapku agar aku tidak terjatuh ke tanah lalu mendudukkanku di samping pohon tumbang yang ada di dekat kami.


Menangis sesenggukan sambil terus menghapus air mataku yang mengalir, walau Sira telah berusaha untuk membuatku tenang, tapi aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis.


Sampai akhirnya tidak jauh dari tempatku menangis aku mendengar suara orang yang sedang mengejekku, mendengar itu tentunya membuatku sedikit emosi dan membentaknya sambil terus mengusap wajahku karena aku sendiri sedang dalam masa emosional.


Tapi sesaat setelahnya aku baru menyadari bahwa suara itu berasal dari iblis Leron yang sedang terkapar tak jauh dariku, dan pastinya itu sangat mengagetkanku karena aku yakin jika iblis Leron telah mati, tapi ternyata dia masih hidup walau tidak bisa bergerak lagi.


"B-biar aku obati…" ucapku sambil berusaha untuk berdiri.


"Ada apa Sira?! jauhkan tanganmu aku ingin lewat! Siraa!!!"


"…"


"Tidak perlu, Sira mengambil keputusan yang benar, kau hanya akan sia-sia mengobatiku… aku tidak perlu rasa kasihan darimu."


"Tapi… aku… "


Aku ingin menyelamatkannya.


Melihat sedikit kemungkinan iblis Leron selamat aku kemudian langsung menghapus sisa air mataku lalu kembali ingin berdiri berjalan ke arahnya, akan tetapi tiba-tiba saja Sira menghalangi langkahku dengan tangan besarnya bahkan saat aku ingin menerobosnya dia tetap saja tidak mengijinkanku untuk melewatinya.


Dan meski aku membentaknya agar dia membiarkanku untuk lewat Sira hanya tetap diam sambil menundukkan wajahnya tanpa berkata apapun, beberapa saat setelah itu Leron kemudian kembali berbicara dengan menolak bantuanku.

__ADS_1


Jujur saja aku sempat kesal dengan itu karena aku yakin jika dia masih bisa di selamatkan, tapi dia menolaknya dan tidak ingin mendapat bantuan dariku, ya aku ini aneh bukan? dia itu musuhku dan aku malah bersikap kasihan dengannya padahal sekarang aku dapat membunuhnya tanpa perlawanan, jujur saja aku sendiri juga bingung dengan diriku.


"Sudah kubilang aku tidak perlu rasa kasihan darimu, jika kau memang ingin membantu, bantu saja orang lain… tak lama lagi para rekanku yang lain juga akan memulai melakukan penyerangan lainnya" sambungnya sambil sekilas menatapku lalu kembali menatap ke atas.


"Apa maksudmu?"


"Jika aku saja bisa terperdaya, pasti masih banyak lagi orang-orang yang diperalat oleh para bajingan itu, itupun jika kau mengerti ucapanku ini" sambungnya sembari perlahan mengambil posisi duduk.


"Jika dunia ini penuh dengan orang bodoh sepertimu… pasti tidak akan ada… lagi… permusuhan…" ucapnya sambil duduk mengangkat satu lututnya.


"Kau masih saja mengatakan hal menyinggung seperti itu padahal saat ini kau sedang sekarat, meski aku setuju dengan dunia yang damai akan tetapi ucapanmu itu mungkin adalah hal yang mustahil karena aku ini bukan hanya bodoh, tapi juga sangat naif, jadi bagaimana mungkin ada dunia yang bertahan dengan orang-orang sepertiku kan?"


Cling...


"Jadi begitu, sudah berakhir ya… hiks… meski aku membencimu kau adalah orang pertama yang banyak berbicara padaku di luar sini, selamat tinggal, Leron" ucapku sambil duduk menatap tanah.


Melihat aku yang masih ingin membantunya membuat Leron sedikit emosi dan tetap bilang bahwa dirinya tidak memerlukan bantuanku, dia bahkan terlihat tidak peduli dengan niat baikku dan memintaku untuk memberikan bantuan kepada orang lain karena tak lama lagi para rekannya akan melakukan serangkaian serangan.


Dan mungkin secara tidak langsung dia memintaku untuk menyadarkan para rekannya yang lain, dengan duduk sembari mengangkat satu lututnya Leron terlihat begitu santai seperti seorang yang sedang bersandar di pohon kelapa tepi pantai, dia benar-benar sangat tenang seperti tidak pernah merasakan sakit sedikitpun padahal saat ini darahnya mengalir deras dan tubuhnya penuh dengan luka.


Duduk sambil menengadah ke atas suara Leron terdengar semakin pelan seolah sedang merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya, meski ucapannya terdengar sangat tenang, tapi dia tetap saja mempertahankan kata-kata yang sedikit menyinggungku dengan mengatakan bahwa aku orang yang bodoh, yaah walaupun aku tidak bisa menyangkal bahwa aku memang orang yang bodoh.


Aku kembali ke posisi dudukku sambil menatap ke bawah karena kakiku cukup gemetar untuk berdiri, aku memang merasa sedih dengan kejadian ini karena walaupun aku sangat membencinya dan tidak suka dengan ucapannya aku tetaplah senang bisa berbicara dengan orang lain meskipun ucapannya agak sedikit kasar.


"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya nona?" tanya Sira padaku.


Benar, aku harus tenang.


"Haaah, kita tunggu sampai manusia itu sadar setelah itu kita tanyai dia apa masih ada orang yang memerlukan bantuan atau tidak, tapi untuk sekarang ayo kita kuburkan dulu mayat Leron" ucapku menghela napas sambil kembali berdiri.


"Baik nona."


"Kalau mari kita kuburkan dia, aku akan menggali lubang kuburnya dulu." sambungku mengangkat sedikit tanganku.


"Baiklah nona, tunggu sebentar" sahut Sira.

__ADS_1



"Ini nona" ucap Sira membawa tubuh Leron.


"Ya, silahkan masukkan dia."


"Baik nona" sahut Sira sembari masuk ke dalam lubang tanah yang aku buat.



"Sudah selesai nona" ucap Sira seraya naik kembali ke atas.


"Terima kasih Sira…"


Dewi berikanlah ketenangan dan kehangatan pada jiwanya saya mohon…


Bruk!


"…?"


"Ikuti aku!" ucapku sambil memukul kaki Sira.


"Y-yah anu… maaf nona" sahutnya sembari ikut berjongkok.


Dari sampingku Sira kemudian bertanya tentang langkah seperti apa yang akan aku lakukan selanjutnya, tidak ingin terlalu banyak bersedih aku kemudian langsung berusaha untuk menenangkan diriku lalu berdiri sambil menjelaskan apa yang akanku lakukan ke depannya.


Aku menatap ke arah manusia yang aku tolong dan mengatakan pada Sira untuk menunggu dia terbangun agar aku tau apakah masih ada orang yang memerlukan pertolonganku atau tidak, setelah mengatakan itu aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah tubuh Leron yang masih duduk dengan rambut yang bergoyangan diterpa angin lalu.


Aku memerintahkan kepada Sira agar mengangkat tubuh Leron sementara aku mempersiapkan lubang untuk menguburnya, walaupun dia musuhku aku tetap berniat untuk menguburkannya dengan layak sebagai penghormatan terakhirku padanya, aku kemudian mengangkat tanganku dengan sejajar lalu membalikkan telapak sembari mengangkat dua jariku untuk membelah dan melubangi tanah.


Tak berselang lama Sira kemudian datang dengan membawa Leron dan tidak ingin berlama-lama aku langsung memerintahkannya untuk meletakkan tubuh Leron di dalam lubang yang sudah aku siapkan, setelah Sira naik ke atas aku kemudian menutup lubang itu dengan tanah yang gembur, aku berlutut di samping kuburan itu menepuk-nepuk tangaku lalu merimpitkannya berdoa pada Dewi untuk ketenangan jiwa Leron.


Di saat aku berdoa aku sedikit melirik ke arah Sira yang masih berdiri tegak dengan menatap ke sana kemari tanpa alasan, melihat Sira yang seakan tidak memiliki rasa penghormatan pada orang yang meninggal aku langsung memukul tulang kering kakinya sampai dia sedikit menjerit memegangi kakinya, tapi yah bahkan setelah aku memberi isyarat padanya Sira malah terlihat kebingungan sambil menatap ke arahku.


Sedikit kesal dengan itu aku kemudian menyuruhnya untuk melakukan apa yang aku lakukan dan dengan sekejap akhirnya dia mengerti apa yang kumaksud, Sira langsung berlutut mengikutiku berdoa di samping kuburan Leron.

__ADS_1


Yahh karena Sira seorang monster mungkin dia bukan orang yang religius, tapi aku juga monster, emhh! tidak, aku punya jiwa dan ingatan seseorang manusia, argh!! pokoknya saya harap ini sampai ke telinga anda, saya mohon berikanlah ketenangan padanya sama seperti apa yang anda lakukan pada saya, Dewi!


...🌹🌹🌹...


__ADS_2