
"Ah... sial! aku tidak bisa melihat apa-apa, tempat ini sangat gelap."
"Hm... ada apa Sira?"
"Tidak tidak! bukan apa-apa tuan, hehe."
"Ooh."
Cukup lama berjalan kami belum juga bisa menemukan pintu masuk menuju lantai 17, kami hanya berputar-putar melewati jalanan gelap yang tidak ada pencahayaan, padahal kami sudah ke sana kemari, tapi tetap tidak bisa menemukannya dan mungkin juga kami sedikit tersesat karena buta arah.
"Hey! Sira apa itu?" ujar tuan.
"Entahlah tuan, saya tidak bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana kalau kita lihat lebih dekat tuan?" jawabku padanya.
Dia tampak sangat senang melihat bebatuan itu, tapi aku justru merasakan sebaliknya, aku merasa ada yang aneh dari bebatuan itu, setiap kali aku memperhatikannya semakin aku merasa ada bahaya yang akan datang.
"Wooah...! sangat indahkan Sira?"
"Entahlah tuan, tiba-tiba saya merasa tidak enak, seperti ada yang aneh dengan batu-batu itu." Ucapku sedikit khawatir.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"I-iyaa mungkin."
Tuan benar-benar sangat tertarik dengan bebatuan itu, dia bahkan ingin menjadikannya sebagai hiasan sangat kekanak-kanakan, aku tidak tau seberapa polos pikiran tuan muda ini, tapi ya... itu memang sifatnya entah apa yang ada dipikirannya dia selalu terlihat ceria dan penuh semangat, tapi itu wajar mengingat usianya yang masih muda belia.
Mengingat kembali hal ini membuatku merasa kesal aku yang telah hidup lebih lama darinya bahkan memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk mencapai kekuatanku yang sekarang, ribuan tahun telah ku lewati, tapi kekuatanku bahkan tidak bertambah sama sekali aku seakan buntu dengan kekuatanku sendiri lalu bagaimana bisa dia mendapatkan semua itu dalam waktu sesingkat ini.
Saat tuan ingin mengambil salah satu batu itu tiba-tiba saja batu itu menyemburkan lava panas yang langsung mengarah pada kami, sejak awal itu memang bukan batu, untungnya tuan memiliki refleks yang bagus untuk merespon serangan kejutan seperti itu, jadi dia bisa menghindarinya dengan sangat mudah.
"Tuan!!!"
"Ya... aku bisa melihatnya."
Mereka cukup banyak... dasar merepotkan, kalau begitu biar ku bereskan mereka...
Setelah serangan kejutan itu semakin banyak dari mereka yang bermunculan di sekeliling kami, mulut mereka penuh dengan bara api yang siap untuk disemburkan.
Dugaanku ternyata benar batu terang itu hanya sebuah pemikat agar mangsa mau mendekat apalagi dalam kegelapan seperti ini pasti banyak monster kecil yang akan mendekat, tapi di sini mereka tampaknya sedikit salah mengambil lawan.
Saat aku ingin turun meladeni para monster ini tiba-tiba tuan memintaku untuk tetap diam karena dia ingin menyelesaikannya sendiri dengan cepat, memang benar monster seperti itu bukan tandingan untuk tuan, mereka tak lebih dari sekedar tikus yang siap untuk dibasmi.
Dengan cepat tuan menghentakkan tangannya sangat keras sampai-sampai menciptakan retakan pada tanah pijakannya, tak cukup sampai di situ ternyata hentakan itu juga diikuti dengan munculanya ranjau-ranjau besar dan runcing seperti ujung tombak.
"Apa aku berlebihan?"
"T-T-tidak... itu serangan yang sempurna."
Yahh itu memang serangan yang sempurna... bahkan terlalu sempurna.
Seketika saja semua monster itu langsung tertusuk dan mati di tempat, walaupun masih ada beberapa yang masih hidup, tapi mereka tetap mati karena tuan langsung membekukan area sekitar, lantai labirin yang gelap pun berubah menjadi terang benderang aku bahkan dapat melihat keadaan sekitar dengan sangat jelas, tidak seperti sebelumnya yang bahkan untuk melihat setitik cahaya pun terasa sangat sulit.
Bagaimana dia melakukannya? aku tidak melihat tuan menyemburkan es dan kenapa yang tertusuk bisa ikut membeku? apa ini semacam pembekuan, jika benar seperti itu mungkin para monster itu terkena efek dari sihir ini...
Entah bagaimana tuan melakukannya tempat ini benar-benar berubah drastis memang terlihat sangat indah berkilauan, tapi aku tau ini adalah sihir yang mematikan tak hanya tanah dan dinding yang membeku, tapi juga semua monster yang sebelumnya telah tertusuk, sementara monster yang selamat dari tusukan ranjau itu tidak ikut membatu menjadi es.
__ADS_1
Setelah membekukan area sekitar tuan memintaku untuk membereskan sisanya, tidak banyak hanya ada tiga ekor yang masih hidup, aku langsung melompat dan menebas mereka dengan sihir angin, mereka terlalu mudah untuk dibunuh.
"Mari kita simpan itu dan beristirahat sejenak di tempat ini."
"Baik tuan."
Eh...! memangnya monster batu seperti ini bisa dimakan? tidak tidak! mungkin tuan hanya ingin menjadikannya hiasan.
Aku tidak tau apa yang diinginkannya, tuan tiba-tiba memintaku untuk menyimpan ketiga monster ini, sementara dia berkeliling memeriksa kondisi lorong kemudian menutupnya dengan tanah dan es yang tebal lalu berbaring dan tidur,
Dia sangat mudah untuk tertidur... yahh biarlah, sebaiknya aku berjaga selagi tuan beristirahat.
.
.
.
"Apa memang sudah selarut ini? dia tidur cukup lama." Ucapku sambil melihat jam kalung arloji yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Setelah cukup lama aku menunggu akhirnya tuan bagun juga dan seperti biasa dia kembali lapar, selain kebiasaan tidurnya dia juga memiliki kebiasaan cepat lapar, tubuh sebesar itu memang perlu banyak makanan, tuan kemudian mengajakku untuk makan malam.
Flashback end.
"Sira bisa kau ambilkan monster yang sebelumnya?"
" ... "
Eh...! apa tuan memang berniat untuk memakannya?
"Eh! Y-Y-ya... tuan tunggu sebentar."
Aku kemudian membuka ruang penyimpananku dan mengeluarkan ketiga monster itu lalu menumpuknya di depanku, sama sepertiku tuan juga mengeluarkan beberapa monster dari dimensi ruangnya dan dengan sedikit percikan api dari mulutnya semua tumpukan monster ini matang terpanggang.
"Ini untukmu Sira."
"T-terima kasih tuan."
Serius apa ini memang bisa dimakan? tampaknya tidak...
Disaat aku kesulitan untuk memakan ini tuan malah dengan sangat mudahnya mengunyah monster ini seperti mengunyah roti.
Hey tuan rahangku tidak sekuat itu.
"Ada apa Sira? apa kau tidak mau?" tanyanya.
"T-tidak... bukan begitu, ya... begini tuan..."
"Owh! apa kau kesulitan memakannya? kenapa kau tidak bilang dari tadi? biar kubantu."
Krak
"Ini dia, Sira"
Tuan mengambil monster itu lalu meremukkannya dengan genggaman tangannya seketika daging monster itupun terlihat tuan pun langsung menyerahkan monster remuk itu padaku, rasanya tidak buruk dan malah aku menyukai ini.
__ADS_1
"Hahhh... enaknya, tapi ini masih kurang yahh... untuk sekarang cukup ini, aku bisa mencarinya lagi nanti, apa kau sudah selesai Sira?" tanya tuan padaku.
"Y-ya... sudah tuan."
Dia sangat cepat menghabiskan makanannya, makanan itu memang lebih sedikit dari porsi makannya yang biasa jadi wajar saja jika cepat habis, aku tidak ingin buru-buru menghabiskan makananku jadi aku menyisakan sedikit untuk nanti sebagai cemilan perjalanan.
"Yoshh baiklah, aku tidak ingin membuang-buang waktu, ayo kita pergi." Ujarnya.
"Baik tuan."
Kami pun langsung berjalan melewati lorong yang sebelumnya ditutup oleh tuan menuju ke lantai 17 meskipun kami belum menemukan pintu masuknya.
.
.
.
"Hey Sira!"
"Ya tuan, ada apa?"
"Mungkin sedikit terlambat untuk menanyakan ini, tapi kenapa kau mengikutiku?"
"Eh! B-bukannya anda yang mengajak saya?"
"Bukan itu yang aku tanyakan, maksudku bukannya tugasmu yang sebelumnya sudah selesai lalu kenapa kau masih mau mengikutiku? bukankah seharusnya kau kembali ke tempat asalmu?" jelasnya.
"ya tidak juga, saya memiliki prinsip saya sendiri, saya akan mengikuti orang yang telah melakukan sihir pemanggilan pada saya sampai orang itu tiada atau setidaknya jika dia sudah tidak memerlukan saya lagi."
"Apa kau yakin? aku ini cukup merepotkan loh... mungkin aku akan mengusahakanmu atau mungkin juga akan membahayakanmu."
"Itu tidak masalah tuan, saya pernah bertemu dengan orang yang lebih menyusahkan dan mungkin lebih parah, saya sama sekali tidak merasa kesusahan justru tampaknya sayalah yang lebih menyusahkan anda, dan untuk keselamatan saya itu adalah risiko yang saya jalani, jadi anda tidak perlu khawatir."
"Ya... baiklah kalau begitu, semuanya terserah padamu." Ucap tuan.
Aku tidak mungkin meninggalkanmu tuan, aku penasaran kejutan seperti apa yang akan kau perlihatkan padaku nantinya, hahahaha.
Kami berdua mengobrol satu sama lain sambil terus berjalan menyelidiki kasus yang menimpa tuan, walaupun aku sendiri sudah tau tentang itu, tapi aku tidak ingin mengatakan itu padanya.
Meskipun tuan kuat, tapi kekuatan itu masih belum cukup untuk menandingi Dragon of Calamity orang yang paling menyusahkan dan merepotkan.
Untuk sekarang aku akan memperlambat perjalanannya agar dia tidak langsung bertemu dengan orang itu, berharap saja kejadian ini tidak semakin memburuk dan semoga kami tidak bertemu dengan banyak naga, tapi hampir sangat mustahil tidak bertemu dengan naga disepanjang perjalanan ini.
Jika kita diserang kita pasti akan melawan itu adalah hal yang wajar dalam hal membela diri
Hahh... hari yang berat dimulai dari sini...
...~•~...
Sedikit info:
Chapter/episode kali ini mengakhiri masa 3 tahun dari White (ini cuma nama sementara, aslinya belum punya nama, hanya agar lebih mudah menyebutkannya) dan selanjutnya akan di Skip ke 6 tahun kemudian yaitu saat usianya 9 tahun.
Selamat menikmati... ( >_< )
__ADS_1