I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 26: Berburu Makan Malam


__ADS_3

Setelah bantuan yang ditunggu datang aku langsung mengajak Sira pergi dari sana agar keberadaanku tidak menggangu dan menakut-nakuti para prajurit bala bantuan yang datang.


Aku terbang cukup tinggi di udara sangat menyenangkan, aku bisa melihat berbagai macam keindahan alam yang menakjubkan padang rumput, aliran sungai, danau, bunga yang bermekaran, dan juga pedesaan.


"Ahhh... ini sangat indah! udaranya juga bersih dan menyejukkan berbeda dari saat aku berada di dalam labirin."


"Aku akan menikmati ini sedikit lebih lama."


Aku kemudian terbang berkeliling di atas hutan menikmati pemandangan pepohonan rindang yang terlihat berkilauan terkena sinar matahari, ini akan menjadi pemandangan yang tidak akan kulupakan.


.


.


.


.


.


"Yup itu dia tempat yang di tuju."


Cukup lama terbang akhirnya aku sampai di tempat tujuanku, itu adalah padang rumput yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang sangat indah dan juga harum tentunya.


"Hey Sira! kita sudah sampai." Ucapku memanggil Sira.


"Sira!?"


Apa dia tertidur?


"Sira!? apa kau baik-baik saja?"


"Um... halo?"


Beberapa kali aku memanggilnya tapi aku tidak mendapatkan jawaban apapun, mungkin dia tidur, tapi aku merasa dia berpegang sangat erat ditandukku dan orang yang tidur tidak mungkin bisa seperti itu.


Kemudian aku membuat sebuah kristal cermin untuk melihat keadaannya dan benar saja dia masih bangun, hanya saja dia berpegang sangat erat dengan keempat kakinya yang melingkar di tandukku dengan mata yang tertutup dan dengan cakar yang keluar.


Sira benar-benar terlihat seperti gumpalan bulu yang sangat lembut.


"Ano... Sira! kita sudah sampai, apa kau tidak mau turun?"


Setelah melihat keadaannya aku membatalkan sihir cerminku dan lalu memanggilnya sekali lagi dengan sedikit menggoyangkan kepalaku.


"Y-yaa...! maaf tuan"


Shuttt


Sira kemudian melompat turun dari atas kepalaku dan langsung terbaring di atas tanah,


sekarang dia seperti sebuah karpet bulu, melihatnya saja membuatku ingin memeluknya, tapi sayangnya dia terlalu kecil jadi sebaiknya kuurungkan saja niatku itu.


Zzz... Zz..


Eh...! dia tidur, mungkin dia kelelahan, sebaiknya aku tidak mengganggunya.


.


.


.


Ah... imutnya


Aku terus memandanginya dengan tanpa memalingkan wajahku, dia sangat imut dan juga menggemaskan saat tidur, aku jadi tidak ingin berhenti melihatnya, hehe.


Kriuk kriuk


"ukhh... lapar, padahal aku sudah memakan cukup banyak orang di ibu kota."


"Ah... lebih baik aku cari makan lagi pun sekarang sudah sore, aku akan menyiapkan makan malam."


Aku kemudian pergi ke dalam hutan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan dan meninggalkan Sira yang tertidur pulas di padang rumput.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Hmm... aku yang terlalu tinggi atau memang pepohonan di sini yang terlalu kecil?" ucapku dengan bingung sambil melihat-lihat pepohonan sekitar.


Saat memasuki hutan aku sedikit bingung dengan ukuran pepohonan yang tidak lebih jauh tinggi dari badanku apalagi saat aku berdiri dan berjalan dengan dua kaki, pohon-pohon di sekitar sini terlihat kecil, tapi semakin aku masuk ke dalam hutan pepohonan ini juga semakin tinggi.


Senang mengetahuinya kupikir tinggi badanku yang tidak normal karena pohon-pohon sebelumnya tampak terlihat kecil, ternyata itu hanya karena pepohonannya saja yang masih muda.


"Hm hm hm... makanan... makanan... kumencari makanan..."


Aku sedikit bersenandung kecil sambil berjalan dengan ceria melewati pepohonan besar yang rindang, hutan ini cukup lembab, tapi juga hangat karena ada sinar matahari yang menerobos masuk melewati sela-sela dedaunan, dan juga tempat ini tidak selembab labirin yang terasa sangat dingin serta udara yang menekan.


Aku suka hutan ini udara yang bersih dan segar, sinar matahari yang hangat dan yang terpenting tidak ada bau menyengat dari monster.


"Malam ini aku makan apa ya? hmm... yah... apapun itu yang penting bisa di makan."


Srrkkk


Krakkkk Krakkkk


"Apa itu?!"


Tiba-tiba saja aku mendengar suara dedaunan saling bergesekan disertai dengan suara pepohonan yang tumbang dan ranting yang patah seperti ada sesuatu yang besar sedang berjalan menuju ke arahku.


[ Eyes of vision ]


"Wooaaaa...! itu ular! ular besar!" ucapku dengan girang.


"yoshh... itu adalah mangsaku, mari berburu, hehehehe." Lanjutku dengan tawa jahat.


Perlahan aku mulai mendekati ular itu dan mengintainya di balik pepohonan, ini adalah ular terbesar yang pernah kulihat, sisik hitam dengan dua garis merah di samping kiri dan kanan, mata merah menyala dengan gerigi tajam menyerupai duri disekitar lehernya, sangat menyeramkan.


Memang terlihat menyeramkan, tapi bagiku itu adalah sebuah hidangan makan malam yang menggoda.


Dagingnya pasti banyak dan tebal, aku tak sabar untuk memanggangnya, hehehehe... bersiaplah.


Sssssss


Ah... dia melihatku.


Sstttt!!


"Waaaa!!"


"Uhh... hampir saja!"


Monster ular itu mendesis dan menatap ke arahku tampaknya dia sudah mengetahui kehadiranku, ya tentu dia mengetahuinya aku tak sengaja mengibaskan ekorku dan mengenai pohon yang ada di belakangku, itu membuat suara berisik.


Betapa bodohnya aku, kegirangan hanya karena melihat seekor ular dengan daging tebal, apa aku benar-benar telah kehilangan akal sehat.


Beruntung ular itu tidak pergi dan malah langsung menyerangku dengan tombak yang terbuat dari sihir tanah walaupun itu tidak mirip dengan tombak, itu lebih mirip dengan payung yang ditutup singkatnya gundukan tanah runcing yang melayang.


Beruntung serangannya tidak terlalu cepat jadi aku bisa menghindarinya dengan sangat mudah, serangan itu kemudian mengenai sebuah pohon besar di belakangku dan seketika pohon itu tumbang, tapi serangan seperti itu tidak akan pernah bisa menembus pertahanan sisik nagaku.


Sisikku adalah pertahanan mutlak yang kumiliki dan sulit untuk ditembus terlebih lagi monster ini terbilang cukup lemah jadi aku bisa membanggakan pertahananku, jika saja dia monster yang kuat mungkin aku akan berpikir dua kali untuk melakukan ini.


"Sekarang giliranku ular! rasakan ini!"


Crusss


.


.


.


Craahhhhhh!!


.

__ADS_1


.


Brukk


Aku menyemburkan es ke tanah dan menciptakan gundukan-gundukan kristal tajam yang langsung menghantam tubuh monster ular itu, seketika dia menjerit dan langsung terjatuh, sepertinya seranganku berhasil membuat beberapa lubang di tubuhnya, bahkan aku dapat melihat sisiknya yang retak.


"Yeahhh... satu serangan fatal untukmu ular." Ucapku dengan girang.


Aku kemudian mendekati tubuh monster ular itu untuk memastikan apa dia sudah benar-benar mati atau tidak.


"Apa dia mati?!"


Ssttt


"akhhh"


Apa ini? kenapa tubuhku tidak bisa bergerak? rasanya ada tarikan kuat yang menarikku ke bawah, apa mungkin ini gravitasi?! dia bisa menggunakan sihir gravitasi!


"Aghhhh!!! brengsek kau ular!!"


[ Frozen eyes ]


Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan tanganku dan langsung mencengkeram leher ular itu lalu menggunakan sihir mata beku untuk membekukan area kepalanya dan lalu menghancurkannya sampai berkeping-keping.


Setelah berhasil membunuhnya aku kembali bisa menggerakkan tubuhku dengan leluasa tanpa beban tarikan gravitasi lagi.


"Itu tadi sangat nyaris, ular memang tidak bisa dipercaya." Ucapku agak kesal.


Dengan tanpa melepaskan cengkeramanku aku menyeret tubuh ular tanpa kepala itu keluar dari hutan untuk kemudian kupanggang sebagai hidangan makan malam.


.


.


.


"Hmm... gravitasi ya?! jika aku bisa menguasainya itu pasti akan sangat berguna." Ucapku sambil berjalan menyeret tubuh monster ular itu.


Cukup lama berjalan akhirnya aku bisa keluar dari hutan dan kembali ke tempat Sira tidur.


Eh...! dia masih tidur, biarlah sebaiknya aku tidak berisik agar tidak menggangu tidurnya.


"Aku kembali." Ucapku dengan pelan.


Hari sudah mulai gelap, sebaiknya aku cepat menyiapkan makanan.


Karena terlalu asik dengan berburu aku tidak sadar kalau ternyata hari sudah mulai gelap, matahari terbenam memang sangat indah, tapi aku harus segera menyelesaikan membuat makanan lalu tidur, entah kenapa dari tadi aku sangat mengantuk padahal ini masih belum selarut itu.


Aku kemudian memotong-motong tubuh monster ular itu menjadi beberapa bagian agar lebih mudah untuk di panggang, bagaimana aku memotongnya? tentu saja menggunakan sihir angin.


Dan kenapa aku bisa menggunakan sihir angin? ya karena elemen yang kukuasai adalah elemen es, es adalah elemen sihir lanjutan yang merupakan gabungan dari air dan angin, aku juga baru mengetahuinya setelah mencoba banyak hal, hehe.


selain es, angin dan air aku juga menguasai berbagai elemen lainnya seperti api dan tanah hasil meniru sihir dari para monster yang pernah kukalahkan, satu-satunya elemen sihir yang tidak kukuasai adalah petir, karena tidak ada monster yang menggunakannya.


Setelah selesai memotong aku langsung memanggangnya dengan cara meletakkan setiap potongan daging di atas sebuah tombak kristal yang tertancap menjulang tinggi dan kemudian dengan sedikit semburan api semua daging itu langsung terpanggang dengan sempurna.


"Yoshh... waktunya membangunkan Sira."


"Sira, waktunya makan malam."


Aku kemudian membangunkan Sira untuk makan malam, perlahan dia mulai bangun dan menggerakkan tubuhnya.


Tapi tampaknya dia bangun dengan perasaan sedikit bersalah dan meminta maaf karena telah tertidur pulas sementara aku berburu untuk menyiapkan makan, untuk menenangkannya aku bilang bahwa itu tidak masalah, karena itu memang tak masalah untukku.


Setelah cukup tenang aku kemudian menyodorkan makanan ke depannya sebagai makan malam, kami pun langsung menyantap makanan itu dengan lahap sambil menikmati pemandangan alam yang indah.


"Pemandangan yang sangat indahkan, Sira." Ucapku padanya.


"Ya, tuan." Sahutnya.


Aku melihat pemandangan malam yang sangat indah benar-benar menakjubkan, hamparan bintang berwarna-warni dan berkilauan disertai dengan cahaya terang dari bulan yang bersinar, sulit untuk melupakan semua ini.


"Hoahhhhh... selamat malam, Sira." Dengan sedikit menguap aku mengucapkan selamat malam pada Sira.


Perlahan aku berbaring dan mulai menutup mataku, rasa kantuk ini sudah tidak bisa kutahan lagi dengan cepat aku tertidur dengan lelap di tengah cahaya bulan, beralaskan rerumputan dan beratapkan hamparan bintang di langit malam, apa yang kulakukan kemarin sampai-sampai aku bisa merasakan semua ini, tapi sayangnya hanya aku dan Sira yang bisa menikmatinya, lain kali aku akan mengajak orang lain untuk melihatnya.

__ADS_1


Semoga besok akan menjadi hari yang menyenangkan...


__ADS_2