
"Hey Sira apa pedagang yang kau bilang itu akan melewati hutan ini lagi?" tanya nona Shea padaku.
"Hm... entahlah nona." Jawabku singkat.
"Ehhh! tapi pasti ada pedangan lainnya kan?"
"Ya sepertinya begitu, karena jalan itu adalah salah satu jalur perdagangan yang sering dilewati."
"Yoshh... kalau begitu ayo kita pergi ke sana Sira." Ucapku pada Sira.
N-nona s-sedang sangat bersemangat ya...
"T-tapi nona harinya masih sangat pagi, mungkin tidak akan ada orang yang lewat di sana sepagi ini." Ucapku pada nona.
Nona benar-benar sangat ingin berbelanja, terlihat dari topik pembicaraan pagi ini, sambil duduk meminum tehnya nona bertanya-tanya padaku tentang pedagang yang aku temui waktu itu dan bahkan nona ingin segera pergi menemuinya pagi ini, tapi jujur saja ini masih sangat pagi walaupun aku tidak melihat keluar secara langsung aku dapat menebak embun pagi masih belum hilang.
Dan juga tidak mungkin ada pedagang yang lewat sepagi ini di jalan yang seberbahaya itu, walaupun ada itu pasti rombongan pedagang yang ingin pergi ke negeri yang jauh dan perlu waktu lama untuk sampai ke tempat tujuannya.
Entah apa yang ada dipikirannya nona terlihat sangat bersemangat ketika membahas tentang pedagang, bahkan dari kemarin nona sangat ingin menemui pedangan itu, tapi sayangnya pedagang itu berada sangat jauh di jalan utama sedangkan kami ada di tengah hutan dan juga rombongan itu pasti juga sudah pergi jauh jadi sangat mustahil untuk bertemu dengan pedagang itu lagi.
"Ya... kalau begitu sekalian saja aku ingin jalan-jalan dulu di sekitar hutan ini Sira... tapi ada sesuatu yang ingin aku lakukan terlebih dahulu."
Sesuatu...? ya tidak perlu dipikirkan.
"Em... yahh... kalau begitu tunggu aku di ruang tengah Sira."
"Baik nona." Ucapku sambil berjalan ke ruang tamu.
.
.
.
"Hm... aku nyaris tidak memperhatikan ini, apa nona yang memoles ruangan-ruangan di rumah ini?" ucapku sambil berbaring menatap ke sekitarku.
"Ah ya... ini gawat, jadi sebelum-sebelumnya nona juga menggunakan sihirnya ya, tapi sudah berapa kali nona melakukan ini? akan sangat berbahaya jika nona terlalu banyak menggunakan sihirnya."
Mendengar ucapan nona aku langsung pergi ke ruang tamu untuk menunggunya di sana, sesampainya di sana aku duduk berbaring di dekat dinding dan barang-barangnya yang masih ada di ruang tengah, sambil berbaring di lantai aku sedikit menyadari bahwa ruangan ini sudah terlihat berbeda dari sebelumnya lantai, dinding, dan langit-langitnya jauh lebih rapi dari apa yang aku buat.
Dari apa yang kulihat aku dapat mengira kalau ini adalah perbuatan nona, dia pasti sudah sering menggunakan kekuatan sihirnya tanpa memberitahuku, walaupun begitu aku sepertinya sedikit terlambat menyadari tentang rantai itu, aku baru saja sadar setelah aku melihat nona tersandar lemas di kepala kura-kura raksasa itu.
"Apa nona akan baik-baik saja? seharusnya nona bisa menghancurkan rantai itu dengan mudah, tapi walaupun begitu kenapa nona tidak ingin melepaskan diri dari itu?"
"Apa dia sengaja membiarkannya? nona memang kuat, tapi itu bukan alasan untuk menyiksa diri sendiri itu sangat tidak masuk akal, tapi apa yang dilakukan nona memang selalu di luar akal..."
"Hahh... pikiranku terlalu dangkal untuk mengerti isi pikirannya." Ucapku sambil berguling-guling di lantai.
Sambil berbaring dan berguling aku memikirkan tentang kondisi yang dialami oleh nona Shea, seharusnya nona bisa dengan mudah melepaskan diri dari rantai kutukan yang melilit lehernya itu, tapi meskipun begitu tidak ada tanda-tanda dia akan melepaskannya.
Nona orang yang kuat, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyakiti diri sendiri.
"Hm... ini sudah cukup lama, apa yang dilakukan nona?" ucapku sambil kembali berjalan ke arah dapur.
.
.
.
"Nona Shea apa yang anda laku... kan." Ucapku sambil tercengang.
"Hm... ada apa Sira?" ucap nona sambil memperbaiki lilitan handuk di kepalanya.
"Eh! tidak tidak... tidak perlu dipikirkan maaf menggangu nona, permisi." Ucapku sambil berbalik kembali ke ruang tamu.
"Um... yahh terserah kau saja." Ucap nona sambil terus memperbaiki rambutnya.
Cukup lama aku menunggu di ruang tamu, tapi nona tidak kunjung keluar dari dapur jadi aku kembali ke sana untuk menghampirinya dan saat aku tiba di depan dapur aku sangat tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat pemandangan di depan mataku saat ini, seorang gadis cantik bertubuh bagus dan hanya berlilitkan handuk putih yang bahkan sulit untuk dijelaskan, tapi sesaat setelah itu aku langsung sadar bahwa gadis cantik muda belia di hadapanku ini adalah nona Shea aku langsung memutar langkahku kembali ke ruang tamu.
.
.
Aarrggghhhhhh!!! sialan!! apa itu tadi?!! *i*ni gawat! ini sangat gawat!! ini berbahaya!
.....
"Yahh... kurasa aku tau mengapa kedewasaan selalu tumbuh beriringan dengan pikiran yang matang." Ucapku pelan sambil termenung di depan pintu.
"Ah ya... ini tidak bagus, pekerjaan ini benar-benar mulai sangat meresahkan." Ucapku sambil menatap ke luar pintu.
Aku duduk termenung di depan pintu menatap ke luar dengan tatapan yang kosong memikirkan tentang apa yang kulihat sebelumnya, aku tau nona masih anak-anak, tapi seharusnya nona bisa sedikit bersikap lebih dewasa dan memperhatikan keadaan sekitarnya, nona memiliki perawakan yang bagus walaupun terlihat seperti gadis 16 tahun dan sayangnya pikirannya pun jauh sangat berbeda dari yang tampak di luar, entah polos, sederhana, atau rumit pikiran nona sulit untuk ditebak, sejak terjadi perubahan pada tubuh nona pekerjaan ini benar-benar sangat melelahkan.
"Jika dipikir-pikir ucapan Frenya ada benarnya, aku harus bisa bersikap lebih profesional sebagai bawahan."
"Sira!" Ucap nona memanggilku.
"Ya nona."
"Hm... kau kenapa Sira? apa ada sesuatu?" tanya nona Shea padaku.
"T-tidak nona, bukan apa-apa hehehe." Jawabku sedikit tertawa.
Sangat banyak masalah...
"Hm... yahh... kalau begitu tolong bantu aku membawa pedang itu." Pinta nona padaku.
"Baik nona."
Aku termenung cukup lama dengan isi pikiran yang kacau sampai akhirnya nona datang dan memintaku untuk membawa pedangnya, sesuai dengan perintahnya aku langsung mengambil pedang itu lalu menggigitnya kemudian kembali berjalan mengikuti nona.
.
.
.
"Ahhh... aku beruntung tidak ada monster di tempat ini, jadi tidak akan ada yang mengganggu ketenanganku." Ucapnya sambil terus berjalan.
...*****...
"Yap itu dia jalan keluar kita, mulut gua dengan pintu untaian hijau dari tanaman merambat."
Aku terus mengikuti nona dari samping membawa sebilah pedang dengan mulutku, di sepanjang jalan nyaris tidak ada percakapan di antara kami hanya terus berjalan, sangat senyap bahkan saat kami sampai di depan mulut gua pun yang terdengar hanyalah suara jejak kaki orang yang berjalan dan juga suara nona tentunya karena dari tadi hanya nona sedang yang berbicara.
__ADS_1
"Hey Sira apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? dari tadi kau hanya diam saja."
"Apa kau ada masalah?" tanya nona padaku.
"Uouuwituwuukziaya..."
"Anu... apa yang kau katakan Sira?"
"Fuihh... huhh... sulit untuk bicara dengan pedang dalam mulut nona." Ucapku sambil meletakkan pedang di tanah.
Sesampainya kami di depan mulut gua nona akhirnya memulai pembicaraan, tapi tetap saja sulit untukku menjawabnya karena mulutku sedang terhalang oleh bilahan pedang ini apalagi pedang ini sama sekali tidak memiliki sarung dan hanya berlilitkan kain usang, menggerakkan rahangku untuk bicara mungkin akan melukai mulutku karena itulah aku tidak bicara di sepanjang jalan tadi dan setelah meletakkan pedang itu barulah aku bisa bicara dengan tenang.
"Ooh... y-ya hehehe maaf ya, tapi apa kau yakin tidak ada masalah atau hal yang kau pikirkan?" tanyanya sekali lagi.
"Y-yahh tidak ada." Jawabku sambil berbalik.
Ya benar-benar tidak ada masalah...
"Um... mencurigakan... tapi ya sudahlah, kalau begitu tolong pegang ini." Ucap nona sambil meletakkan gaunnya di atas punggungku.
Uh... d-dingin...
.
.
"Apa yang dicari nona?"
"Hm... Oowh! sepertinya ini cocok... yoshh tinggal satu lagi." Ucapnya sambil memotong dahan pohon.
"Hm... dahan pohon ya."
Setelah sempat bertanya padaku nona kemudian meletakkan gaun basahnya di atas punggungku sementara dia pergi membawa pedangnya berkeliling di sekitar tempat ini mencari sesuatu di semak-semak, aku merasakan dingin dan juga basah saat nona meletakkan itu di punggungku setetes demi setetes suara air terdengar jelas di telingaku berjatuhan dari gaun itu sampai ke tanah bahkan ada aliran kecil air yang mengalir melewati bulu-buluku sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
Aku kemudian naik ke atas sebuah batu di dekat sebuah pohon yang rindang dan berbaring di sana dengan gaun basah yang masih ada di atasku, sambil melihat nona yang sedang berkeliling mencari sesuatu di dalam semak-semak hutan yang ternyata nona hanya mencari tongkat kayu.
............
"Sira bisa bawakan gaun itu kemari."
Setelah mendapatkan tiga buah tongkat kayu lurus nona kemudian menancapkan kedua tongkat kayu itu dengan tinggi yang sejajar lalu meletakkan tongkat kayu yang satunya lagi secara horizontal di atas kedua tongkat sebelumnya, nona Shea kemudian memanggilku dan memintaku untuk membawa gaun basah yang sebelumnya dia letakkan di atas punggungku.
"Ini nona."
"Wah...! maaf ya Sira, punggungmu jadi basah karena gaun ini."
"Tidak masalah nona... ini... akan... kering dengan sendirinya." Ucapku sambil menjilati air punggungnya.
"Hehehe... ya baiklah."
Ooo... ternyata hanya untuk itu.
Nona Shea kemudian mengambil gaunnya lalu meletakkannya di atas tongkat kayu itu, aku sempat kebingungan dengan apa yang dilakukan nona dia berkeliling di semak-semak, memotong kayu, lalu menggali lubang itu cukup membingungkan, kupikir nona ingin melakukan hal yang tidak terduga, tapi ternyata dia hanya membuat tempat untuk menjemur pakaian.
"Hm... ini tidak seperti sebelumnya."
"Ada apa nona?" tanyaku padanya.
"Lihat Sira, biasanya kulitku akan langsung memerah saat terkena sinar matahari, tapi ini bahkan tidak semerah yang kemarin." ucap nona sambil menatap tangannya.
"Ya... mungkin itu karena anda belum terbiasa dengan keadaan di luar labirin."
Dengan terlihat kebingungan nona melihat ke tangannya yang sedikit memerah karena matahari, tapi setelah dilihat-lihat itu memang tidak semerah sebelumnya bahkan terlihat seperti merah biasa saja seperti orang yang tersipu malu sangat berbeda dengan kemarin yang terlihat seperti merah memar.
Meskipun begitu mungkin itu hanya karena nona belum terbiasa dengan keadaan di luar labirin, karena nona biasanya berada di dalam labirin yang dingin dan gelap kulit putih pucat mungkin hal yang biasa dan karena nona sudah keluar labirin kulit kemerahan itu reaksi yang bagus untuk penyesuaian keadaan.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat Sira."
"Baik nona."
"Hehehe... aku tidak sabar untuk melihat peradaban di dunia ini."
.
.
.
"Hm... Sira, apa pedagang itu punya barang yang kuinginkan?" tanyanya sambil berjalan.
"Y-ya... entahlah... itu tergantung barang seperti apa yang anda inginkan... jika hanya makanan mungkin mereka punya." jawabku.
"Yahh... kita lihat saja nanti."
Setelah selesai dengan pakaian dan kulitnya nona kemudian kembali ke tujuh utamanya yaitu untuk pergi bertemu dengan para pedagang agar dia bisa mencari dan membeli barang yang dia inginkan, walaupun aku tidak yakin apa yang sebenarnya nona inginkan dari pedagang itu, tapi sepertinya nona sangat menginginkan untuk membelinya.
...*****...
"Hey Sira apa masih jauh?" tanya nona padaku.
"Ini bahkan belum sampai seperempat perjalanan nona... tapi jika anda ingin kita bisa menggunakan sihir teleport agar lebih cepat sampai." Jawabku.
Cukup lama kami berjalan menyusuri tebalnya hutan, tapi kami tak kunjung sampai di tempat tujuan dan memang perjalanan ini sedikit mustahil untuk ditempuh dengan berjalan kaki karena kami yang berada jauh di tengah hutan setidaknya mungkin perlu waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa melewati hutan ini, kemarin aku bahkan menggunakan sihir teleport untuk mencapai jalanan itu karena jika tidak itu pasti akan memakan waktu yang lama.
"Itu boleh juga, tapi aku punya cara yang lebih baik untuk menikmati perjalanan."
Lebih baik?
"Eh!! t-t-tunggu nona, b-bagaimana kalau jalan saja he hehehe."
"Tiidak... kita akan terbang hehehe." Ucapnya dengan aba-aba terbang.
"Waa!! waaa!!! WAAAA!!!"
Nona sudah mulai terlihat sangat tidak sabar untuk segera sampai di jalanan utama itu jadi aku memberikan usul agar menggunakan sihir teleport saja, tapi sayangnya nona lebih memilih untuk mengepakkan sayapnya daripada harus menggunakan sihir teleport, sontak saja aku langsung menutup mataku dan berteriak cukup keras itu memang memalukan, tapi aku sudah cukup trauma dengan ketinggian.
"Tenanglah Sira, teriakanmu mulai menggangguku... lagi pula ini tidak terlalu tinggi." Ucap nona menenangkanku.
"Aaaa!! tidak tidak tidak! nona!" ucapku sambil melompat naik ke atas punggung nona.
"Hey Siraa! hentikan itu... itu sakit!"
"Ini terlalu tinggi, sangat tinggi tidak tidak tidak." Ucapku sambil bersembunyi di balik rambutnya.
Saat aku membuka mataku aku sudah berada di ketinggian terbang melayang di udara, seketika saja pandanganku langsung buram dan melompat ke atas panggung nona bersembunyi di balik rambutnya, sambil terus menutup mata jantungku berdebar kencang dan seluruh buluku berdiri merinding aku berpegangan erat pada bahunya dengan tubuh yang gemetar, aku punya masalah tersendiri dengan ketinggian.
__ADS_1
Tidak tenang tenanglah arrggghhhh!!! sial! aku tidak bisa tenang.
Bagaimana ini AARRGGGHHHHHH!!!
Sebagian besar orang sangat sangat menikmati pemandangan dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus menyegarkan, tapi tidak denganku bagiku ini adalah penyiksaan aku tidak pernah bersahabat dengan ketinggian, apalagi setelah apa yang dilakukan Frenya padaku tadi malam kejadian ini benar-benar sangat tidak menyenangkan.
Takk
"Aduhh!!"
"Jadi, apa sekarang kau bisa melepaskan cakarmu itu? ini sangat menggangu."
"Eh! m-maaf nona." Ucapku sambil melompat turun.
"Hahh... tak apa, lagi pula aku yang salah." Ujar nona dengan menghela nafas.
Darah? hm... eh! nona!
"Ini lebih mirip luka sayatan daripada luka akibat cakar kucing." Ucap nona berjalan sambil menatap ke punggungnya.
"Hahh... untungnya ini bisa sembuh dengan cepat."
.
.
.
Setelah turun aku langsung duduk di dekat sebuah pohon dan bersandar dengan menghela nafas lega, namun tiba-tiba aku terkejut melihat keempat kakiku yang bergelimang darah padahal aku sama sekali tidak terluka setelah aku melihat sekitar sekilas aku melihat ada darah yang mengotori tubuh belakang nona dan di sanalah aku menyadari kalau darah itu adalah darah milik nona.
Aku tidak sengaja melukai nona saat masih berpegangan di pundaknya, perlahan nona berjalan dan duduk di dekat sungai sambil membersihkan sisa darah di punggungnya dengan air di sana, aku merasa sangat bersalah pada nona karena kebodohanku ini aku merasa sebagai bawahan yang tidak berguna.
"A-anu... m-maaf nona, s-saya tidak sengaja." Ucapku meminta maaf pada nona.
"Tidak perlu dipikirkan... seharusnya aku menurunkan egoismeku dan berteleport saja, maaf ya Sira." Ucapnya sambil duduk kembali di atas batu.
"Sekali lagi aku minta maaf Sira."
"A-anda tidak perlu minta maaf nona, saya yang salah karena t-terlalu pena...kut." Ucapku sambil mengalihkan pandangannya.
"Hehehehe... yahh... tapi aku baru tau kalau kau takut ketinggian." Ucapnya sambil tertawa kecil.
Yahh... itu memang hal yang lucu.
"Hehe... baiklah lupakan saja itu, jadi kira-kira di mana kita berada saat ini Sira?"
"Hm... entahlah nona..."
Ssttt!!
DUARR!!!
.
.
"NONA SHEA!!"
GRAAHHHHH
Saat sedang berbicara tiba-tiba saja ada seekor monster yang menyerang nona sampai-sampai nona terlempar jauh ke seberang sungai, aku yang hanya tercengang melihat monster itu menghantam nona dengan keras, aku sama sekali tidak menyadari kehadiran monster itu di dekat kami.
"Hm... tenanglah Sira aku masih di sini... tapi yahh ayo kita menjaga jarak dulu dengan monster i..." Ucap nona sambil mengangkatku
DUARRR!!
"Ughh... padahal aku belum menyelesaikan ucapanku." Ucapku sambil melompat mundur ke belakang.
"B-bagaimana bisa nona...? b-bukannya tadi anda terlempar?"
"Um... yahh... itu hanya batu tempatku duduk tadi." Jawabnya.
Aku sangat terkejut melihat nona yang tiba-tiba muncul di belakangku dan langsung mengangkatku karena pada awalnya aku mengira kalau nona sudah terlempar jauh karena hantaman monster itu, tapi ternyata yang terlempar itu hanyalah batu tempat nona duduk sebelumnya sedangkan nona sendiri sudah menghindarinya dan berpindah ke belakangku.
GRAAHHHH!!
Syutt!! Syutt!!
"Hm... serangannya memang cepat..."
Syutt!! Syutt!!
DUARR!!
"Dan juga kuat, tapi ini bahkan tidak sekuat monster laba-laba di dalam labirin, walaupun aku akui dia cukup seram."
"N-nona b-bisa t-turunkan s-saya ...?"
Tapi lagi-lagi monster itu menyerang kami dengan cakar besarnya dengan sigap nona menghindari serangan itu sambil memelukku, walaupun begitu aku tidak senang di peluk seperti ini alih-alih pelukan hangat ini adalah pelukan yang mematikan, sambil terus menghindari serangan-serangan itu nona tidak memegangku di tubuhku, tapi nona memeluk leherku aku bahkan benar-benar kesulitan untuk bernafas karena tangan nona melilit di leherku.
Aku seperti orang yang sedang dihukum gantung kepala tergantung dan tubuh yang menjuntai seakan tidak ada harapan untukku bisa hidup, dengan nafas yang tertekan apalagi dalam kondisi bertarung seperti ini, sekali lagi aku menjadi bawahan yang tidak berguna aku pingsan kehabisan nafas.
...*****...
"A-apa yang terjadi n-nona?" ucapku perlahan bangkit.
"Oh... Sira kau sudah sadar."
"Y-ya... maaf nona, lalu bagaimana dengan monster itu?"
"Tenang saja... aku sudah mengurusnya hehe... tapi kenapa tadi kau pingsan Sira?" jawabnya sembari bertanya.
Setelah aku sadar dari pingsan monster besar itu telah tewas dengan mengenaskan di hadapanku, nona benar-benar menghabisinya dengan cara yang cukup ekstrim aku bahkan sedikit terkejut melihat kepala monster itu yang terlepas dari tubuhnya dengan paksa, pemandangan yang mengerikan.
"H-hanya sedikit sesak ..." jawabku
"Sesak?" ucap nona kebingungan.
"Tidak tidak... bukan apa-apa nona hehehe." Jawabku.
"Ehhhh..."
Siapapun apa ada yang bisa mengajari anak gadis ini sopan santun memperlakukan seseorang dan tentunya juga kedewasaan.
Siapapun itu yang penting bukan Frenya.
__ADS_1
Tidak sempat berjarak satu hari aku nyaris terbunuh tiga kali sungguh kehidupan yang menyenangkan, di tambah lagi mengingat kejadian tadi pagi aku sedikit berharap ada orang yang bisa membantu nona agar bisa bersikap lebih dewasa lagi dan peka terhadap keadaan karena kehidupanku sudah sangat terancam, banyak hal yang tidak terduga selama aku menjadi bawahannya.
...🌺*****🌺...