
"Emhh... yahh... mari mulai petualangan ini." ucapku sambil meregangkan tanganku ke atas.
"Tapi, tentunya setelah aku menjemur pakaian itu."
"Sira."
"Iya nona." Sahut Sira sambil duduk di depan pintu rumah.
Setelah selesai bersiap-siap aku kemudian pergi menuruni tangga lalu berhenti sebentar di anak tangga paling bawah kemudian kembali ke dapur untuk mengambil bajuku untuk menjemurnya, tapi karena aku tidak punya wadah untuk membawanya aku hanya memegangnya dengan tanganku saja, aku kemudian langsung pergi ke ruang tamu lalu menghampiri Sira yang sedang duduk di depan pintu rumah.
"Hm... kau kenapa Sira? apa ada sesuatu?" tanyaku dengan heran.
"T-tidak nona, bukan apa-apa hehehe."
Sangat jelas kau sedang tidak fokus... "•_•
"Hm... yahh... kalau begitu tolong bantu aku membawa pedang itu."
Sira tampak termenung duduk di depan pintu sambil menatap ke luar dengan tatapan yang kosong seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sulit, tapi saat aku bertanya padanya dia hanya bertingkah seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa, karena Sira baik-baik saja aku kemudian memintanya untuk membawa pedangku karena tanganku penuh dengan memegang gaun basah.
"Baik nona." Ucap Sira sambil mengambil pedang dengan mulutnya.
Hm... Sira kenapa...? dia jauh lebih kaku dari biasanya, yahh... ini mungkin hanya perasaanku saja.
"Ahhh... aku beruntung tidak ada monster di tempat ini, jadi tidak akan ada yang mengganggu ketenanganku." Ucapku sambil terus berjalan.
"Yahh... mungkin akan lebih baik lagi kalau juga aku menutup semua jalur yang mengarah ke tempat ini." Ucapku pelan sambil menengok ke belakang.
"Yap itu dia jalan keluar kita, mulut gua dengan pintu untaian hijau dari tanaman merambat."
Hm... tidak biasanya dia cuma diam?!
Perlahan aku menutup pintu setelah Sira keluar dengan membawa pedangku seperti yang aku katakan sebelumnya, lalu kemudian aku berjalan menyusuri gua labirin menuju ke arah mulut gua diikuti oleh Sira yang juga berjalan di sampingku sambil menggigit sebilah pedang di mulutnya, dan seperti biasa tempat ini selalu kosong dari monster pengganggu jadi aku tidak perlu khawatir dengan serangan monster di saat aku sedang bersantai.
Tidak perlu waktu lama untuk kami bisa mencapai mulut gua, tentu saja karena jaraknya yang lumayan dekat, tapi satu hal yang membuatku bingung adalah sikap Sira yang terlihat tidak biasa, mulai dari rumah sampai kami berada di depan pintu keluar gua Sira hanya diam dan tidak bicara apa-apa, sikap Sira terasa lebih kaku dari hari-hari sebelumnya, melihatnya seperti itu membuatku kebingungan dan kesulitan untuk memulai pembicaraan bahkan tidak ada pembicaraan yang terjadi selama kami berjalan keluar gua.
"Hey Sira apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? dari tadi kau hanya diam saja."
Dengan sambil menarik ke samping tanaman merambat yang menghalangi jalan keluar lalu mengikatnya seperti gorden, aku kemudian mencoba untuk memulai pembicaraan dan bertanya pada Sira tentang sikapnya yang kaku dan terasa sangat berbeda ini.
"Apa kau ada masalah?" tanyaku sambil berdiri di depan mulut gua.
"Uouuwituwuukziaya..."
"Anu... apa yang kau katakan Sira?"
"Fuihh... huhh... sulit untuk bicara dengan pedang dalam mulut nona." Ucap Sira sambil meletakkan pedang di tanah.
__ADS_1
"Ooh... y-ya hehehe maaf ya, tapi apa kau yakin tidak ada masalah atau hal yang kau pikirkan?"
"Y-yahh tidak ada." Ucapnya sambil berbalik.
"Um... mencurigakan... tapi ya sudahlah, kalau begitu tolong pegang ini." Ucapku sambil meletakkan gaunku di atas punggung Sira.
Setelah aku bertanya pada Sira dan memastikan tidak ada masalah yang dia hadapi aku kemudian memintanya untuk memegang gaunku yang basah sementara aku mencari dahan pohon untuk membuat tiang jemuran agar aku bisa menjemur gaunku itu, walaupun tingkah lakunya masih sedikit mencurigakan.
"Hm... Oowh! sepertinya ini cocok... yoshh tinggal satu lagi." Ucapku sambil memotong dahan pohon.
Aku mengambil pedangku yang dibawa oleh Sira kemudian melihat-lihat sekelilingku untuk menemukan beberapa buah dahan pohon lurus dengan ujung berbentuk seperti huruf Y agar lebih mudah meletakkan dahan pohon lain di atasnya, dan setelah mencari-cari di dalam semak aku akhirnya menemukan satu pohon kayu kecil yang lurus dan dengan ujung berbentuk Y.
Tanpa berlama-lama aku langsung memotongnya dengan menggunakan pedang yang aku bawa sebelum lalu meletakkannya di dekat pintu gua kemudian mencari lagi batang pohon lainnya.
"Di sana... owh!! ada dua hehehe."
"Yahh... semuanya sudah terkumpul, tinggal mencari tempat yang bagus untuk menjemur pakaian..." ucapku sambil meletakkan dua buah tongkat kayu di dekat gua.
"Sepertinya tempat ini bagus, cahaya matahari dapat bersinar dengan sempurna." Ucapku sambil berdiri di sebelah kiri gua.
"Ok... sudah selesai... tinggal menjemur pakaiannya."
Dengan sedikit berkeliling di sekitaran gua aku akhirnya bisa mengumpulkan tiga buah tongkat dahan kayu yang sesuai untuk digunakan sebagai tempat menjemur pakaian, sambil berdiri di sisi kiri(barat) gua menatap ke arah sisi kanan(timur) tempat matahari pagi terbit dan bersinar.
Mulut gua ini berada di selatan mengarah ke utara sehingga sinar matahari terbit berasal dari sisi kanan ke sisi kiri, dan di sisi kirilah aku membuat tiang untuk menjemur pakaian karena matahari dapat bersinar sempurna dan juga bersinar dengan lebih lama, karena aku berada di dalam hutan sulit untuk mencari sinar matahari yang sempurna kecuali jika aku menjemur pakaian di sebuah padang rumput.
"Sira bisa bawakan gaun itu kemari."
"Ini nona."
"Wah...! maaf ya Sira, punggungmu jadi basah karena gaun ini."
"Tidak masalah nona... ini... akan... kering dengan sendirinya." Ucap Sira sambil menjilati punggungnya.
"Hehehe... ya baiklah."
Setelah aku menyelesaikan merakit tongkat-tongkat itu menjadi tempat menjemur baju aku kemudian mengambil lalu meletakkan gaunku di atasnya, bulu tebal Sira tampak basah kuyup saat aku mengangkat gaun itu dari punggungnya, aku hanya tersenyum melihatnya sedang menjilati bulunya itu, dia terlihat menggemaskan saat seperti itu.
"Hm... ini tidak seperti sebelumnya."
"Ada apa nona?" tanya Sira.
"Lihat Sira, biasanya kulitku akan langsung memerah saat terkena sinar matahari, tapi ini bahkan tidak semerah yang kemarin." ucapku sambil menatap tanganku.
"Ya... mungkin itu karena anda belum terbiasa dengan keadaan di luar labirin."
Kurasa itu ada benarnya, tapi kelainan genetik mungkin juga salah satu penyebab ini, walaupun aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya ini akan berangsur-angsur pulih.
__ADS_1
"Yahh... tidak masalah, itu artinya tidak akan ada kulit terbakar lagi hehehe."
Selesai menjemur pakaian aku baru sadar kalau tubuhku tidak bisa terlalu lama terkena sinar matahari, tapi saat aku menatap kedua tanganku kulitku tidaklah semerah yang kemarin bahkan aku tidak merasa perih ataupun gatal lagi walaupun kulitku masih terlihat merah, tapi itu hanyalah merah biasa saja.
Walaupun begitu aku tetap merasa bingung dengan ini, karena aku tau albino itu tidak mungkin bisa disembuhkan jadi seharusnya sensitivitasku terhadap matahari tetap terasa perih dan merah atau mungkin bisa menjadi lebih parah, tapi mungkin aku memiliki kekuatan untuk menahan semua itu dan yang kurasakan hanyalah tubuh yang serba putih juga kulit yang sedikit merah saja tidak lebih dari itu atau sederhananya aku tetap gadis yang normal.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat Sira."
"Baik nona."
"Hehehe... aku tidak sabar untuk melihat peradaban di dunia ini."
"Kuharap tidak ada yang menggangu pakaianku." Ucapku pelan sambil menatap gaunku.
Aku kemudian langsung pergi meninggalkan gua seperti rencana awalku pergi ke jalanan yang Sira katakan sebelumnya untuk berbelanja membeli keperluan rumah dan barang-barang yang aku perlukan, tidak lupa juga aku tetap membawa pedangku untuk berjaga-jaga di perjalanan meskipun jika tanpa itu aku tetap bisa memukul rahang monster pengganggu sampai mati, tapi pedang itu pasti akan berguna untuk menebas-nebas sesuatu.
"Hm... Sira, apa pedagang itu punya barang yang kuinginkan?" tanyaku sambil berjalan.
"Y-ya... entahlah... itu tergantung barang seperti apa yang anda inginkan... jika hanya makanan mungkin mereka punya." jawabnya.
Um... tapi aku ingin peralatan dapur, apa mereka punya?
"Yahh... kita lihat saja nanti."
"Hey Sira apa masih jauh?"
"Ini bahkan belum sampai seperempat perjalanan nona... tapi jika anda ingin kita bisa menggunakan sihir teleport agar lebih cepat sampai."
"Itu boleh juga, tapi aku punya cara yang lebih baik untuk menikmati perjalanan."
"Eh!! t-t-tunggu nona, b-bagaimana kalau jalan saja he hehehe."
"Tiidak... kita akan terbang hehehe." Ucapku dengan aba-aba terbang.
"Waa!! waaa!!! WAAAA!!!"
"Tenanglah Sira, teriakanmu mulai menggangguku... lagi pula ini tidak terlalu tinggi."
Sangat lama kami berjalan, tapi aku bahkan tidak bisa melihat adanya jalanan di depanku yang terlihat hanyalah semak-semak hutan dan pepohonan rindang yang menghalangi pandanganku, karena merasa sangat lama aku kemudian memilih untuk terbang agar lebih mudah bergerak dan juga agar bisa lebih cepat sampai.
Tapi Sira tampaknya tidak terlalu suka dengan penerbangan dia bahkan tidak berhenti teriak sejak awal aku terbang sampai-sampai aku kesulitan untuk menikmati pemandangan karena suaranya itu.
"Aaaa!! tidak tidak tidak! nona!"
"Hey Siraa! hentikan itu... itu sakit!"
"Ini terlalu tinggi, sangat tinggi tidak tidak tidak." Ucap Sira sambil bersembunyi di balik rambutku.
__ADS_1
Sepertinya punggungku terluka, huhh... biarkan saja, tapi kuharap ini tidak mengotori rambut dan bajuku. "•_•
Saat Sira membuka matanya di udara dia kembali berteriak lalu melompat ke belakangku dan bersembunyi di balik rambutku sambil mencengkram erat bahuku dengan cakar tajamnya itu, aku dapat merasakan rasa perih di punggung dan bahuku karena cakar kucing penakut ini bahkan aku dapat mencium bau darah dari sana.