I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 61: Belanja [The Tiger King's Perspective]


__ADS_3

"Fuhhh... kurasa aku akan membeku." Ucap nona sambil menggosok-gosok tangannya.


"Itu tidak mungkin nona."


Setelah sempat beristirahat dan kembali melanjutkan perjalanan kulit nona tampak sangat pucat saat ini nona pasti sangat kedinginan, tapi dilihat dari kondisinya aku bisa memahaminya terutama dari segi penampilan semua orang yang berpakaian seperti itu pasti akan kedinginan jika tidak berada di bawah sinar matahari.


Dan juga udara di sini sedang sangat dingin karena hembusan angin dari luar.


"Apanya yang tidak mungkin?! lihat tanganku bahkan sudah sedikit es." Ucap nona sambil memperlihatkan telapak tangannya.


"Y-yahh... tapi membeku itu sedikit berlebihan." Sahutku.


Kuharap istriku tidak marah dengan ini...


Kadang aku lupa betapa mudanya usia nona jika melihat penampilannya yang sekarang, nona tumbuh terlalu cepat melampaui usianya, tapi jika dilihat lebih jelas penampilannya sangat cocok dengan bentuk perawakannya yang sekarang, nona memancarkan aura elegan, anggun, imut ,dan juga cantik.


Tapi memperhatikan itu akan menggangu pekerjaanku sebagai seorang bawahan, terutama akan menggangu keselamatan nyawaku sendiri, di samping mati dengan tragis di tangan nona mungkin mayatku akan dicincang habis oleh istriku dan bahkan dia pasti akan mengutukku habis-habisan.


Membayangkannya saja membuatku sangat merinding dan ingin membenturkan kepalaku di dinding berulang kali, menyeramkan adalah sebuah definisi yang sesuai untuk seorang istri.


"Umhhh... tidak ada yang berlebihan di sini." Ucap nona sambil sedikit cemberut.


.


.


.


"Hey Sira apa kau merasakan itu?" tanya nona padaku.


"Memangnya ada apa nona?"


"Dari balik dinding ini? hm... kehangatannya... woahh!! sepertinya tidak salah lagi... hey Sira apa kau bisa menggunakan sihir bumi?"


"Tentu nona saya bisa."


Nona tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kemudian menyentuh tanah dan bebatuan yang ada di sekitarnya sambil mengamati sesuatu, setelah selesai nona langsung berdiri dan menanyakan padaku tentang sihir bumi dan tentu saja aku bisa melakukannya itu sangatlah mudah dilakukan.


"Apa kau ingat bentuk rumah dinding yang kubuat dulu?" tanya nona.


"Y-yahh saya ingat nona, memangnya kenapa nona?"


B-biar kutebak...


"Kalau begitu apa kau bisa membuatnya di dalam dinding ini?"


Ahh... ini sulit.


"Y-ya entahlah... tapi mungkin tidak akan sebagus milik anda nona."


Aku memang bisa menggunakan sihir bumi, tapi saat mendengar permintaan nona itu adalah hal yang cukup sulit, nona memintaku untuk membuat rumah di dalam dinding sama seperti yang telah dia buat sebelumnya, aku memang bisa mengingat bentuk dari setiap ruangan rumah itu, tapi untuk membuatnya mungkin tidak akan semudah mengingatnya.


Mungkin bagi nona membuat sebuah rumah seperti itu adalah hal yang mudah, tapi bagiku itu sangatlah sulit dan pasti tidak akan sebagus miliknya, jujur saja aku sedikit terheran-heran dengan keahlian yang nona miliki, sejak kapan dia mengetahui bentuk mendetail dari keseluruhan isi rumah sedangkan dia sendiri tidak pernah melihat itu.


Jenius saja mungkin tidak cukup untuk menggambarkan itu, terlalu banyak misteri yang ada di dalam diri nona.


"Tidak perlu khawatir, aku akan memolesnya nanti." Ucap nona padaku.


"B-baiklah nona... t-tunggu sebentar."


"Ya... semangat Sira."


"Y-yahh... akan saya coba nona."


.


.


.


"Sudah selesai nona." Ucapku pada nona.


Karena nona memerintahkanku aku tidak ada pilihan lain selain mengikutinya, aku kemudian berjalan mendekat ke dinding dan memulai sihirku, aku harus benar-benar fokus berkonsentrasi pada setiap bagian rumah itu dan membentuknya sesuai dengan rumah yang dibuat oleh nona.


Tapi sekali lagi membuat tidak semudah memikirkan dan setelah dengan sedikit perjuangan aku bisa menyelesaikannya walaupun aku tidak begitu yakin dengan keadaan di dalamnya.


"Oww... benarkah?! kalau begitu mari kita lihat."


...


" ... "


"Y-yahh... saya cuma bisa membuatnya seperti ini nona."


Nona dan aku kemudian masuk ke dalamnya untuk melihat keadaan isi dari rumah itu dan seperti dugaan awalku itu tidak sempurna, lantai dan dindingnya tidak semulus milik nona.


"T-tidak apa-apa ini sudah cukup." Ucap nona padaku.


Nona langsung terdiam sejenak sambil menatap ke arah ruang tamu, dia memang bilang tidak masalah, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa ini di luar dugaannya, aku memang hanya bisa seperti itu saja.


Perlahan nona berjalan mengelilingi kamar dan dapur kemudian pergi ke lantai atas, sedangkan aku hanya duduk menunggunya di samping barang-barang yang nona tinggalkan di ruang tamu.


.


.

__ADS_1


.


"Hey Sira bisa carikan aku makanan?" ucap nona sambil duduk di anak tangga.


"Biar saya ambilkan beberapa d.../


"Aku ingin makan yang lain Sira... aku ingin mencoba rasa yang berbeda dari daging." Ujar nona memotong ucapanku.


Yang lain?


Cukup lama aku menunggu nona lalu turun dari lantai dua dan duduk di atas anak tangga kemudian memintaku untuk mencarikannya makanan, tapi saat aku ingin mengambil beberapa potong daging di dalam dimensi ruangku tiba-tiba nona menghentikannya dan meminta padaku untuk mencarikan makanan yang berbeda.


"Hm... k-kalau begitu saya akan mencari makanan di luar, permisi nona."


.


.


.


"Makanan? mungkin aku bisa mencarinya di jalanan utama, tapi ini ada di mana?" ucapku sambil menatap sekitar.


Mendengar permintaan nona aku kemudian pergi ke luar dari labirin, tapi saat aku keluar dari labirin aku sedikit kebingungan dengan tempat ini, aku di kelilingi oleh hutan yang lebat dan aku sama sekali tidak tau di mana aku berada saat ini.


"Sebaiknya aku mencari tau tentang tempat ini." Ucapku sambil berjalan.


...*****...


"Padang rumput? terlebih lagi pegunungan itu... hm... gunung itu... jadi begitu, mulut gua itu berada di tengah hutan el'." Ucapku sambil menatap ke atas.


Itu sebabnya mengapa aku tidak begitu mengetahui tentang tempat ini.


Perlahan aku berjalan lalu kemudian berlari melompat ke sana-kemari dengan cepat dan akhirnya aku sampai di sebuah padang rumput yang luas dan cukup jauh di sampingku ada pegunungan yang sangat besar dan berjejer yang membuat aku yakin kalau aku sedang berada di tengah hutan walaupun tidak pasti berada di tengah-tengahnya.


Tapi seingatku hanya ada beberapa pegunungan seperti itu yang ada di dalam hutan el'o dan itulah yang membuatku sangat yakin dengan itu.


"Jika ini berada di pedalaman hutan itu artinya aku tidak bisa menggunakan sihir teleport jaraknya terlalu jauh... apa boleh buat aku harus menyusuri hutan sampai aku bisa menggunakan teleport."


"Aku akan memasang sihir teleport di sini agar bisa lebih cepat kembali ke tempat ini." Ucapku sambil menggambar sebuah lingkaran kecil di atas batu.


Aku kemudian memasang sihir teleport di atas batu kecil di samping pohon dan mengubah tubuhku menjadi harimau besar lalu berlari dengan cepat menggunakan sihir percepatan agar bisa lebih cepat sampai di jalanan utama hutan el'o dan agar nona tidak terlalu lama menunggu makanannya sampai.


...........


"Hutan ini cukup merepotkan, tapi ini tidak ada artinya untuk raja rimba sepertiku hahahaha... " ucapku sambil terus berlari.


Wusss


Krakkk


Srekk Srekk


"Sepertinya aku salah masuk hutan, ini merepotkan." Ucapku sambil menatap ke arah monster di depanku.


Saat aku berlari tiba-tiba ada akar-akar pohon yang menyerangku dari bawah dan atasku berusaha untuk menangkapku, tapi dengan cepat aku menghindarinya dan memotong habis semua kayu-kayu menjalar itu.


Perlahan monster yang menyerangku muncul dari balik semak-semak dan jumlahnya tidak hanya satu, ada banyak monster kayu yang bermunculan di depanku dengan akar-akar runcing mereka yang siap untuk menyerang, mereka monster yang cukup merepotkan.


Monster kayu memiliki tangan yang banyak, tentunya karena semua rantingnya adalah tangan, selain itu mereka juga cukup cepat dan sulit dilawan jika sedang berkelompok seperti ini, tapi kayu-kayu ini terbilang cukup rapuh untuk monster sepertiku.


"Aku tidak ada waktu untuk menghadapi mereka."


Ssttt!!


"Ha ha... maaf kayu lapuk, aku tidak ada waktu untuk melayani kalian."


Ssttt!!


"Wind Blade..."


Krakkk


"Sampai jumpa hahahaha..." ucapku sambil melompati monster itu.


Karena aku tidak memiliki banyak waktu aku hanya menghindar dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain sambil sesekali membalas serangan monster kayu itu dengan sihir angin memotong akar-akar mereka yang menggangguku dan akhirnya aku bisa melewati mereka.


Setelah berhasil melewati mereka aku kemudian kembali mempercepat langkahku dan berlari meninggalkan para monster kayu itu untuk menghemat waktuku.


.


.


.


"Huhh huhh huhh... sepertinya ini sudah terjangkau... teleport." ucapku sambil menggunakan teleport.


...........


"Berhasil."


Aku berlari dengan cepat tanpa mempedulikan sekitarku, aku terus mempercepat cepat setiap langkah kakiku semakin cepat dan semakin cepat karena aku berada sangat jauh dari jalan utama dan juga aku tidak bisa menggunakan sihir teleport secara langsung ke sana di karenakan jaraknya yang masih terlalu jauh.


Dan setelah merasa cukup terjangkau aku langsung menggunakan sihir teleport menuju ke dekat jalanan utama karena aku sudah sangat banyak membuang-buang waktu dalam perjalanan ini.


"Sekarang tinggal mencari karavan pedagang yang lewat." Ucapku sambil menoleh ke arah jalanan di depanku.

__ADS_1


.


.


"Huhh... kenapa tidak ada rombongan pedagang yang melewati jalanan ini?"


Setelah berhasil sampai di dekat jalan utama aku kemudian kembali berubah menjadi harimau kecil dan berjalan di pinggir jalan sambil mencari rombongan pedangan yang lewat di jalan ini, tapi tidak ada tanda-tanda adanya pedangan yang akan lewat.


"Hahahaha... itu tidak mungkin, kalau ada monster di sini aku pasti akan menghajarnya..."


"Itu dia..." ucapku sambil menoleh ke belakang.


.


.


"Oi! berhenti!!" ucapku mencegat para pedagang itu.


Setelah cukup lama berjalan aku akhirnya mendengar suara langkah kaki kuda yang menarik kereta dan juga suara orang-orang yang mengiringi langkah kuda itu dari arah belakangku, dan langsung saja aku berdiri di tengah jalan lalu mencegat rombongan pedagang itu.


"Kenapa berhenti?" tanya salah satu petualang pengawal.


"A-anu a-ada monster di depan kita." jawab pedagang yang ada di depan.


Saat ini ada dua kereta kuda di depanku dengan tiga orang pedagang yang dikawal oleh enam orang petualang, dua wanita dan sisanya laki-laki dan kakek-kakek pedagang.


"Hmm... wahhh!!! imutnya."


"Hey hey! apa yang kau lakukan? lepaskan aku woy lepaskan aku."


Dari belakang kereta itu tiba-tiba muncul seorang gadis yang langsung berlari ke arahku dan kemudian mengangkat dan memelukku sambil kegirangan.


"Hey cia apa yang kau lakukan? bisa saja dia itu berbahaya."


"Tenang saja Rhom, dia tidak terlihat berbahaya... iya kan kak Rin?"


"Hoahh... ada apa ini? kenapa keretanya berhenti? hmm... woahhh!! imutnya..."


Ah... ini menyenangkan tapi...


"Woy woy woy... ini sesak lepaskan aku oi! lepaskan lepaskan, lepaskan aku atau akan kubiarkan kalian menderita."


"Wah wah... ucapannya sangat menyakitkan, tapi dia sangat imut dan lucu." Ucap salah satu wanita sambil memelukku.


Mereka sempat sedikit berdebat tentangku lalu kemudian muncul seorang wanita lain dari kereta belakang yang juga langsung memelukku seperti boneka, kedua gadis itu benar-benar mendekapku dengan erat di dadanya itu memang menyenangkan, tapi juga terlalu sesak aku hampir tidak bisa bernafas di sana.


"Kalian berdua terlalu berlebih, lihat dia hampir mati." Ucapku salah satu orang yang duduk di atas kereta.


"Eh! maaf."


Graahhhhh


"Sudah kubilang lepaskan aku." Ucapku sambil mengancam gadis-gadis itu dengan cakarku.


"B-baik."


Karena mereka sudah sedikit berlebihan aku kemudian berubah menjadi monster manusia harimau lalu meletakkan ujung cakarku dibawah rahang mereka agar mereka melepaskanku dan itu berhasil, tapi tentunya itu membuat para petualang yang lainnya menjadi sangat waspada dan bersiap untuk menyerangku.


"Kalian diamlah di sana atau kubunuh kedua gadis ini." ancamku pada para petualang.


"Hey pak tua apa yang kalian punya di kereta itu?" tanyaku pada pedagang.


"H-hanya sedikit buah dan roti." Jawabnya sambil gemetar.


"Apa tidak ada yang lain?"


"H-hanya itu yang tersisa dari barang daganganku, m-mungkin masih ada satu peti susu sapi."


Itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.


"Keluarkan semuanya." Sambungku bicara.


"B-baik t-tunggu sebentar."


Aku kemudian bertanya kepada kepala rombongan pedagang tentang barang-barang yang ada di dalam keretanya, tapi sepertinya aku sedikit terlambat karena semua barang-barangnya sudah habis terjual sedangkan yang tersisa hanyalah sedikit buah-buahan dan roti, aku juga melihat ada satu kotak yang berisi air susu sapi di dalam kereta itu jadi aku tetap akan mengambil itu semua.


"S-sudah."


"Berapa harganya?"


"Eh!"


"Ada apa?! cepat hitung semuanya aku tidak punya banyak waktu."


Setelah pedagang itu mengeluarkan semua dagangannya aku kemudian memintanya untuk menghitung semua harga totalnya, aku tidak mungkin mengambil sesuatu tanpa membayar aku bukan bandit yang suka merampok.


"Cih! lambat!! ambil ini!!" ucapku melemparkan satu kantong kecil berisi emas.


"Sampai jumpa orang-orang payah." Ucapku sambil berubah kembali menjadi harimau kecil.


Karena terlalu lama menunggu orang itu menghitung aku kemudian melemparkan satu kantong kecil berisi 20 koin emas di dalamnya lalu memasukkan semua makanan itu ke dalam dimensi ruangku dan langsung pergi menggunakan sihir teleport menuju tempat yang sudah aku tandai sebelumnya di mana aku menggambar sihir teleport.


...~•~...


...Maaf ya lambat 🌷 seharusnya lebih dari ini, tapi sudah kepanjangan hehe, jadi aku bikin part 2 😂...

__ADS_1


__ADS_2