I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 81: Ikut Karavan ( Kieyl )


__ADS_3

"Huhh... apa-apaan mereka itu, aku memang ingin ke toko Zoe, tapi bukan untuk bertemu dengannya aku hanya ingin mengambil antingku yang jatuh di sana." Ucapku agak kesal sambil memilih barang-barang yang akanku bawa.


"Yahh... kurasa untuk sementara aku hanya akan memakai satu anting saja, padahal itu anting favoritku." Sambungku sambil menatap telinga kiriku dari cermin kamarku.


Sejak mereka meninggalkanku dengan Zoe berdua Luna dan Lia jadi lebih sering membuat candaan dan menyinggungku tentang Zoe dan aku padahal itu baru terjadi beberapa jam yang lalu bahkan untuk masalah kecil mereka masih sempat membuat candaan receh seperti itu.


Aku bahkan harus merelakan antingku yang tertinggal di toko kue Zoe karena jika aku mengambilnya sekarang candaan mereka akan semakin menggila dan aku tidak mungkin bisa menghindarinya lagi, padahal itu adalah anting yang paling aku sukai dari semua anting yang pernahku pakai bentuknya yang bulat berwarna merah terang dengan bulu burung putih bercampur merah mudanya.


Anting itu hadiah ulang tahun dari ibuku saat aku masih berusia 7 tahun dan karena itulah anting bulu merah menjadi barang yang sangat berharga bagiku, aku terlihat cocok ketika memakainya terutama dengan rambutku yang berwarna kuning dan agak kemerahan di ujung-ujungnya.


"Humm... ada apa Kie? kau tampak kesal." Tanya ibuku.


"Yahh... tidak juga, aku hanya tidak sengaja menjatuhkan antingku di toko kue... eh! apa ayah tidak kerja?" Sahutku dengan berbalik sembari bertanya.


"Ya seperti itulah, jadi hari ini ayah akan membantu ibumu di sini." Ujar ayah sambil memegang pundak ibuku.


"Owh... "


Dari belakangku ibuku datang dengan bertanya kepadaku karena aku yang tampak seperti sedang kesal dan itu benar, aku memang sedang agak marah, tapi kemarahanku lebih ke arah sedih karena aku meninggalkan barang kesayanganku yang sangat berharga bagiku.


Dan dari belakang ibuku ayahku juga datang sambil memegang pundak ibu sambil tersenyum kecil ke arahku dan itu cukup membuatku bingung karena seharusnya ayahku juga sedang berdagang di toko rotinya, tapi ternyata dia sedang tidak bekerja.


"Yoshh... aku sudah selesai." Ucapku sambil mengambil pedangku.


"Apa kau ingin pergi?" tanya ayahku kebingungan.


"Ya seperti itulah." Jawabku.


"Kau sangat mirip dengan ibu saat ibu masih muda dulu." Ucap ibu padaku sambil tersenyum tipis.


"Ya sangat mirip." Sahut ayahku.


"Tentu saja, aku kan anakmu bu." Sahutku sambil berjalan keluar kamar.


Mulai dari warna rambut, mata, sampai wajah aku memang terlihat sangat mirip dengan ibuku juga sifat dan kepribadianku lebih mengarah pada ibuku daripada dengan ayah karena itulah orang-orang seringkali keliru dalam membedakan kami jika mereka melihat dari belakang terutama ayahku sendiri.


Itulah mengapa ibuku selalu mengikat ujung rambutnya dan meletakkannya di salah satu bagian bahunya sementara aku hanya memakai pita hitam di kepalaku sebagai bandana agar orang bisa membedakan kami berdua.


"Kie kami berdua sudah siap, cepatlah." Panggil Lia dari luar rumah.


Mereka lebih cepat dari yang kukira...


"BAIK TUNGGU SEBENTAR." Sahutku dengan suara keras.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucapku sambil berlari ke arah ruang tamu.


.


.


"Ingat ya jangan sampai menyusahkan teman-temanmu, berhati-hatilah Kie." Ucap ibu padaku dari depan kamar.


"Baik Bu, aku sayang kalian bye bye."


Dengan sedikit perbincangan bersama orang tuaku di depan kamar aku kemudian pergi berlari ke luar rumah meninggalkan mereka berdua yang berdiri di depan pintu kamarku untuk menemui Luna dan Lia yang sudah terdengar memanggilku dari luar rumah.


...***...


"Jadi, apa kalian sudah siap?" tanyaku pada mereka berdua dengan bersemangat.


"Tentu hehe." Sahut Lia sambil tersenyum.


"Sudah sudah cepat berangkat, lebih cepat sampai lebih cepat selesai dan lebih cepat pula kita pulang beristirahat." Ucap Luna pada kami sambil berjalan.


"Ookeh." Sahut Lia dengan semangat.


Tanpa berlama-lama lagi setelah aku turun menemui mereka berdua yang sedang duduk menunggu di kursi depan rumahku, kami bertiga langsung pergi untuk memulai perjalanan petualangan kami mencari beberapa tanaman obat, kami bertiga berjalan ke gerbang kota dengan membawa perlengkapan masing-masing sesuai dengan kebutuhan kami.


Di sepanjang jalan kota saat berjalan kami bertemu dengan teman-teman petualang lainnya dan saling menyapa dengan senyuman juga dengan sedikit melambaikan tangan, tapi tidak dengan Lia yang sangat energik menanggapi semua sapaan itu karena memang seperti itulah kepribadiannya.


...*****...


"Jadi, apa kita akan berjalan kaki?" tanya Luna padaku sambil terus berjalan.

__ADS_1


"Hm... jika bisa sebaiknya tidak, itu akan memakan waktu yang lama, bagaimana kalau kita menumpang karavan pedagang?" ucapku sambil balik bertanya.


"Itu ide yang bagus." Sahut Luna.


Dengan terus berjalan menuju ke gerbang kota kami sedikit memikirkan tentang cara untuk pergi ke tempat tujuan kami di hutan agar dapat mempercepat waktu perjalanan kami, tak terkecuali dengan Lia yang masih sibuk menyapa setiap orang yang lewat dengan menggunakan senyumannya yang manis itu


Aku kemudian memberikan sedikit saran untuk ikut menumpang bersama karavan pedagang untuk mempersingkat waktu perjalanan kami karena tidak mungkin kami pergi hanya dengan berjalan kaki ke tempat sejauh itu, setidaknya menumpang sampai ke dekat pinggiran jalannya saja itu sudah sangat membantu.


.


.


.


"Woaa!! itu Rin!" ucap Lia sambil berlari menuju seseorang yang sedang duduk di dekat sebuah kereta kuda pedagang.


...


"Dia gadis yang aktif." Ucapku sambil menatap Lia yang sedang menyapa seseorang.


"Aku setuju." Sahut Luna.


.


.


Cukup lama kami berjalan di jalanan kota akhirnya kami sudah melihat tembok besar dari gerbang kota di depan kami, dan tepat di hadapan kami Lia dengan ekspresi sedikit terkejut sambil mengarahkan tangannya menunjuk seseorang seperti telah mengenali beberapa wajah yang ada di depan kami yang sedang duduk di dekat sebuah kereta kuda para pedagang dan langsung berlari menuju orang itu.


Dari jauh aku melihat Lia yang sangat bersemangat berbicara dengan salah seorang dari orang-orang itu yang terlihat seperti seorang wanita, orang itu juga sesekali menatap ke arah aku dan Luna sambil melemparkan senyumannya yang terasa tidak asing lagi bagiku, Lia tampak sangat senang saat berbicara dengan orang itu seperti seorang sahabat dekat.


"Hai Kie... Luna, bagaimana kabar kalian?"


"Oh ternyata itu kau Rin, ya tentu kami baik-baik saja." Sahut Luna padanya.


"Aku dengar kalian perlu tumpangan, apa kalian mau ikut dalam rombongan kami?" ucap Rin memberikan tumpangan.


"Benarkah?" tanyaku memastikan.


"Hahh... syukurlah kami sangat tertolong, terima kasih Rin." Ucap Luna padanya.


Benar saja setelah kami mendekat orang itu langsung menyapa kami berdua yang ternyata dia adalah Rin salah satu dari teman dekat kami yang juga seorang petualang, dia langsung memberikan tumpangan pada kami saat mengetahui kalau kami sedang memerlukan sebuah tumpangan agar cepat sampai ke tempat tujuan kami.


Rin mungkin mengetahui itu dari Lia karena sebelumnya mereka berdua sedang berbicara terlebih lagi Lia hanya tersenyum senang ketika aku menatapnya, Lia orang yang sangat membantu jika dalam urusan meminta tolong sangat jarang ada orang yang menolak senyuman keceriaan itu setelah Lia memintanya.


...♡❁❁✧✿( Luna )✿✧❁❁♡...


"Tapi, memangnya kau mau ke mana Rin?" tanyaku padanya.


"Aku? ya aku dan yang lainnya akan mengawal karavan pedagang ini pulang ke kerajaan Felicia, yahh... setidaknya perlu waktu dua minggu untuk sampai di sana, terlebih lagi kami akan mengambil jalan memutar melewati hutan untuk mampir ke desa-desa terpencil yang ada di sana, jadi aku bisa memberikan sedikit tumpangan untuk kalian." Jawab Rin.


"Oh jadi begitu ya."


Mungkin hanya kebetulan kami bisa menumpang di karavan pedagang yang dikawal Rin karena mereka sedang mengambil jalan memutar dengan memasuki hutan untuk sampai ke kerajaan tetangga, tapi walaupun begitu tetap memerlukan waktu sekitar kurang lebih 2 hari agar bisa sampai di sana, tentunya itu karena kami berangkat menggunakan kereta kuda setidaknya seperti itulah perhitunganku.


"Jadi, kapan kita bisa berangkat?" tanya Kie pada Rin.


"Humm..." Ucap Rin menggumam menatap langit.


...


"Ini untukmu Lia." Ucap Rin memberikan apel pada Lia.


"Woaa!! terima kasih Rin."


...


"Yahh... mungkin sebentar lagi, setelah mempersiapkan gerobak angkut sebelah itu." Jawab Rin sambil menggigit apelnya dengan menunjuk ke arah kanan di belakangnya.


"Owh... baiklah, kalau begitu apa ada yang bisa kami bantu?" ucap Kie padanya.


"Tidak perlu, lagipula kami sudah hampir siap." Sahut Rin.


Sambil duduk di atas peti kayu bekas kami berbicara dengan Rin yang juga sedang duduk memakan buah di tangannya sambil sesekali menatap ke arah orang-orang yang sedang mempersiapkan beberapa peti barang dagangan dan memasukkannya ke dalam gerobak, kami semua akan berangkat setelah gerobak angkut itu selesai dipersiapkan.

__ADS_1


Selagi aku dan Kie berbicara dengan Rin tentang keberangkatan kami Lia hanya duduk diam di belakang gerobak karavan yang ada di samping Rin sambil sesekali menggigit buah apel dengan ceria yang didapatkannya dari Rin, melihatnya seperti itu benar-benar membuatku tenang karena Lia sudah tidak terlihat takut lagi, aku hanya tersenyum dengan lega melihat ekspresinya yang seperti itu.


"Owh! hai Rhom." Ucap Lia menyapa seseorang.


"Yoo... apa kabarmu Lia?" sahutnya sembari bertanya.


"Ya seperti biasanya hehe." Jawab Lia.


Di saat kami berempat sedang berbicara tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri kami dan tentunya seperti biasa Lia langsung menyapanya karena memang dia orang yang kami kenal, orang itu adalah Rhom seorang petualang yang tampak seperti pemalas, tapi sebenarnya dia adalah orang yang cukup kuat.


"Woy Rin kita sudah siap." Ucap Rhom padanya.


"Benarkah?!" tanya Rin pada orang itu.


"Hahh... apa kerjaanmu hanya duduk bersantai Rin?"


"Kau pikir kenapa aku menjadi seperti ini?! apa aku perlu mengingatkanmu siapa yang berjaga setiap malam di sepanjang perjalanan sementara kalian semua terlelap menikmati dunia mimpi indah kalian masing-masing jadi, apa salahnya jika aku bersantai?!" ucap Rin dengan tatapan agak kesal.


"Y-yahh... lupakan saja." Sahut Rhom sedikit mengalihkan pandangannya.


Sepertinya mereka punya masalah tersendiri, kuharap tidak ada masalah saat dalam perjalanan nanti.


Melihat mereka berdua yang penuh dengan perselisihan aku menjadi sedikit ragu dengan perjalanan kami, mereka memang satu party, tapi aku tau kalau mereka bukan orang yang akrab walaupun begitu sedikit perdebatan adalah hal yang biasa terjadi pada pertemanan, aku hanya berharap perjalanan ini akan bisa berjalan dengan lancar.


"Oiii... kalian cepat naik, kita sudah akan berangkat." Seru seseorang dari kejauhan.


"Woaa!! itu Cia! hai Cia..." ucap Lia sambil berlari ke arah kereta kuda di depan kami.


"Kie ayo kita naik." Ajakku


"Bagaimana dengan mereka berdua?" ("•_• ) sahutnya sambil bertanya.


"K-kita biarkan saja he hehe..." jawabku.


Ketika kedua orang itu sedang berdebat lagi-lagi seseorang menyeru kami dari kejauhan agar segera naik ke dalam kereta kuda untuk memulai perjalanan, mendengar panggilan orang itu Lia langsung pergi menghampirinya dan naik ke kereta kuda yang sama sementara aku dan Kie naik ke kereta kuda di samping kami tanpa mempedulikan Rin dan Rhom yang masih sibuk dengan urusannya.


Rin memarahi Rhom tepat di samping telinganya dan dengan tidak terlalu peduli Rhom juga masuk ke dalam kereta kuda yang sama dengan aku dan Kie begitu juga dengan Rin yang ikut naik, tapi masih dengan keadaannya yang marah.


.


.


...*****...


...


"Kalian selalu saja begitu, kalian selalu ceroboh dan membuatku kesusahan, kalian selalu saja tidur duluan tanpa mempedulikan keadaan sekitar kita dan memaksaku untuk berjaga dan karena kau yang selalu tertidur pulas saat sedang jam pergantian jaga aku harus bertarung sendirian melawan monster di setiap malamnya, kalian tidak pernah memberiku kesempatan untuk menikmati tidurku dengan tenang."


"Apa itu artinya Cia juga termasuk?" tanya Rhom sedikit datar.


"Tentu saja tidak, Cia itu masuk kecil dia pantas untuk tidur beristirahat, tapi kalian terutama kau seharusnya bisa bersikap sedikit lebih cekatan dan waspada jangan hanya memperhatikan diri sendiri..."


...


"Hoahhh... sudah berapa lama mereka berdua seperti itu?" tanya Kie bagun tidur.


"Entahlah mungkin sudah 4 jam mulai dari keberangkatan kita." Sahut padanya.


"Apa kau tidak ingin menghentikannya?" tanya Kie sekali lagi. "•_•


"Aku tidak ingin terlibat." Jawabku sedikit datar. "•_•


[2:45]


"Ini sudah lewat jam makan siang." Ucapku pelan sambil menatap jam kalung arloji.


Mulai dari kami berangkat keluar dari ibu kota sampai saat ini kami berada di jalanan hutan Rin tidak henti-hentinya mengomel sampai-sampai Rhom sudah terlihat bosan dan tidak begitu mempedulikannya lagi, begitu juga dengan kami berdua bahkan mulai Kie yang tertidur pulas di pundakku sampai dia bangun Rin masih tidak berhenti memarahi Rhom dan mengatakan semua keluhannya.


"Mereka tidak boleh berdekatan." •_• Ucapku sambil menatap ke arah Rin dan Rhom.


"Aku setuju." •_• Sahut Kie setuju.


...♡❁❁✧✿✿✧❁❁♡...

__ADS_1


__ADS_2