I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 136: Minotaur ~POV Sam~


__ADS_3

"Waspada pada minotaur itu!" seruku pada rekanku.


Ini mustahil! kami tidak mungkin sanggup menghadapi tiga monster mengerikan secara bersamaan!


"Noel cepat obati Kroz!"


"B-baik" sahut Noel pergi ke seberang sungai.



"Apa langkahmu selanjutnya, Sam? kita jelas tidak akan menang!" ucap Toki padaku.


"Aku tau, tapi tidak ada pilihan lain… kita harus melawan mereka" sahutku pelan.


Setelah kemunculan gadis iblis yang bisa mengendalikan naga, seekor minotaur datang menghantam Kroz hingga tak sadarkan diri di seberang sungai, dengan cepat aku kemudian langsung menyeru rekan-rekanku untuk waspada dan bersiap dalam segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, tapi melihat lawan yang kami hadapi ditambah dengan anggota kami yang suka terluka cukup parah saat menghadapi monster naga kemungkinan untuk bertahan hidup sangatlah kecil, jika saat menghadapi monster naga sebelumnya saja sudah sangat kewalahan kami benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan untuk menang melawan iblis dan minotaur itu secara bersamaan.


Akan tetapi, meskipun sedikit memaksa aku tetap tidak mau menyerah dengan keadaan ini karena menjadi petualang setiap hal akan menjadi sangat tidak terduga, aku kemudian langsung meminta Noel yang merupakan penyihir di kelompok kami untuk mengobati Kroz yang terkapar di seberang sungai, sementara aku, dan tiga rekanku lainnya bersiap untuk menyerang ketiga monster itu bersama dengan Toki yang seorang ras manusia hewan/beastman serigala yang juga adalah wakil ketua dari party ini yaitu aku.


"Kaov, Jaz, Nath! kalian urus minotaur itu! aku dan Toki akan mengurus naga dan si iblis!"


"Tunggu!! aku bukan iblis, aku hanya ingin membantu/"


"Jangan mudah percaya dengan ucapan iblis itu, dia pasti memiliki niat jahat yang disembunyikan!" ujar Toki sembari mengeluarkan tombak baru dari dimensi penyimpanannya.


"Ya, aku mengerti!" sahutku padanya.


Berbagi tugas untuk mengahadapi monster-monster di hadapan kami, aku meminta ketiga rekanku untuk menghadapi minotaur karena mereka memiliki pertahanan yang kuat dan aku yakin mereka sanggup untuk menghadapinya, sementara aku dan Toki yang akan menghadapi naga dan gadis iblis itu dikarenakan mereka terlihat lebih kuat dari minotaur, tapi cukup aneh bagiku gadis iblis itu terlihat tidak senang ketika aku menyebutnya sebagai iblis.


Dia bahkan mengaku bukan seorang iblis dan berdalih ingin membantu kami padahal gerak-geriknya sangat mencurigakan, selain itu auranya yang besar terasa sangat menakutkan meskipun dia terlihat sangat cantik dan anggun dalam penampilan, dan dengan mengeluarkan tombak barunya Toki kemudian memperingatkanku agar tidak terpengaruh dengan ucapan gadis itu karena dia tetap musuh yang sangat berbahaya.


"Tidak! aku tidak seperti yang kalian kira/ " sahut gadis iblis itu.


"Kau pikir aku akan tertipu dengan iblis mencurigakan sepertimu?" kataku padanya.


"Sudah kubilang aku bukan iblis, aaa…! kenapa kalian tidak percaya padaku?!" ucap gadis itu terlihat murung.


"Aku akan mengurusnya, kau hadapi naga itu!" ucap Toki sembari mulai akan menyerang gadis iblis itu.


"Kau serius? tampaknya dia sangat kuat!" kataku padanya.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain lagi kan? mau tidak mau salah satu dari kita harus melakukannya" jawabnya dengan serius.


"Kita lawan berdua! lagipula sepertinya naga itu tidak ingin pisah dengan si iblis" kataku sembari mengangkat pedangku.


Berpisah hanya akan menambah masalah, setidaknya melawannya berkelompok akan mengurangi kemungkinan terjadinya hal buruk.


Masih membantah dengan ekspresi yang meyakinkan gadis iblis itu terus saja berucap bahwa dirinya bukanlah iblis, meskipun aku bisa memikirkan ras lainnya selain iblis aku tetap tidak mau percaya dengan apapun yang dia ucapkan, dan itu membuatnya terlihat bingung juga murung dengan naga besar yang masih berada di belakangnya, dan setelah ketiga rekanku mulai menyerang minotaur, Toki kemudian membagi tugasnya denganku dan berniat untuk melawan si iblis.


Tapi, tentunya aku tidak mungkin membiarkannya melakukan itu seorang diri dikarenakan gadis iblis itu memiliki aura yang mengerikan dan pastinya kekuatannya pun sangatlah besar, jadi aku tetap menyarankan untuk melawannya berdua denganku karena naga itu terlihat tidak ingin menjauh dari si iblis, dan dengan memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi bertarung dengan berkelompok memang hal yang bagus karena dapat menutupi kekurangan tim.


...🌺~The Tiger King's Perspective ( Sira )~🌺...


"Haaah, untungnya aku langsung pergi sebelum nona bertanya lebih banyak."


"Yah… sebaiknya aku mencari makanan untuk mengalihkan perhatian nona saat nanti nona kembali bertanya" ucapku sambil berjalan di pinggiran jalanan hutan El'o.


Pergi meninggalkan nona Shea di depan meja makan aku langsung keluar dari rumah di dinding menuju ke arah danau sebelum akhirnya aku pergi dengan sihir teleport ke jalanan utama hutan El'o, aku berjalan di pinggiran jalan sembari mengamati keadaan jalanan jikalau ada orang atau pedagang yang lewat dengan membawa banyak makanan, hanya untuk sekedar jaga-jaga jika nona Shea kembali menanyakan hal yang sama, jadi menyogoknya dengan makanan mungkin akan membuat nona lupa dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


Setidaknya itu salah satu cara yang kutau untuk mengalihkan perhatian nona Shea karena aku tidak ingin mengatakan apapun perihal kedatangan Frenya padanya, aku tidak ingin nona Shea tau tentang Frenya karena aku tidak ingin nona Shea terpengaruh dengan kepribadian dari Frenya yang sangat berbahaya terutama untuk orang lain, selain dari itu karena memang Frenya mengancam akan menjadikanku sebagai hiasan dinding di perapian jika aku berani mengatakan tentang keberadaannya pada nona Shea, dan karena itulah aku tidak ingin mengatakan apapun yang berhubungan dengan Frenya saat nona mulai bertanya tentang keanehan yang ia rasakan.


"Bagus, tepat sesuai keinginan! akhirnya ada pedagang yang lewat… aaaa!!!"


***


"Tidak, tapi aku bisa melemparmu dari atas jendelaku" sahutnya sambil tersenyum.


Setelah cukup lama berjalan untuk mencari pedagang yang lewat aku akhirnya melihat sebuah barisan gerobak yang tepat berada di depanku dalam kejauhan jalanan yang berdebu, tapi baru selangkah kakiku berjalan untuk mendekati rombongan orang-orang itu seutas akar menjalar menarikku masuk ke dalam semak-semak dan berakhir di dalam sebuah ruangan yang sepenuhnya terbuat dari kayu dan angin yang berhembus cukup kencang dari arah jendelanya, hanya dengan melihat keadaan sekitarku yang dipenuhi oleh tumbuhan aku dapat mengenali orang yang melakukan ini tanpa harus melihat orangnya secara langsung, dia adalah Frenya roh menyebalkan yang akhir-akhir ini sering datang dalam kehidupan nona Shea dan selalu muncul untuk menggangguku.


Masih dengan menghela napas karena jemputan Frenya yang tiba-tiba, aku langsung mengomentari caranya yang sangat tidak ramah saat meminta orang lain bertamu ke rumahnya, tapi seperti yang selalu dia lakukan Frenya kemudian tersenyum menolak mentah-mentah pernyataanku itu sembari mengancam akan melemparku dari jendelanya, bagi orang yang baru pertama kali bertemu dengannya senyuman Frenya sangat menggambarkan karakteristiknya sebagai seorang perempuan yang anggun dan berkelas, tapi bagiku yang sudah lama mengenalnya senyuman seperti itu bagaikan sebuah pertanda akan datangnya malaikat maut.


"Lupakan saja ucapanku tadi, jadi apa yang kau inginkan, Frenya?"


"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu…" ucap Frenya sambil memperlihatkan cermin daunnya padaku.


"Hm… apa itu? eh! nona?!"


Melihat senyuman berbahaya dari Frenya aku langsung mengalihkan perhatian pada tujuannya ketika memanggilku ke tempatnya ini – bukan karena aku takut dilempar dari jendela, tapi jatuh dari ketinggian ribuan meter kurasa itu patut untuk diperhitungkan – sambil menggerakkan satu tangannya Frenya membuat sebuah lingkaran dari akar dan tanaman menjalar yang kemudian muncul gelombang tetesan air di tengah lingkaran tanaman itu, lingkaran tanaman itu sangat mirip dengan cermin besar dengan diameter satu meter dan dari cermin besar itu terlihat bayangan nona Shea yang sedang kesulitan menangani sekelompok orang petualang dan aku sangat terkejut saat melihat itu.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sana, nona hanya mengambil langkah bertahan…" ucapku sembari melihat nona Shea yang terus menghindar dari serangan ayunan tombak wanita serigala.

__ADS_1


"Dia masih anak-anak dan pikirannya cukup polos, tapi tak banyak orang yang mengerti dengannya… ya… penampilan selalu menjadi kunci penilaian bagi orang-orang" ucap Frenya sambil memperhatikan keadaan nona Shea.


"Ya… bahkan pintu tanpa kunci masih bisa dibuka." sahutku padanya.


"Mungkin auranya yang besar juga menjadi masalahnya" sambung Frenya.


"Auranya?"


Sepertinya itu normal, tapi...


"Bagimu mungkin itu hal yang biasa karena kau selalu berada di dekatnya, tapi bagi orang-orang baru menatapnya mungkin auranya berada jauh dari kenormalan" sahut Frenya padaku.


Memperhatikan nona Shea yang terus menghindar dari serangan tombak seorang wanita serigala, aku sangat yakin bahwa ada kesalahpahaman yang terjadi di tempat itu karena nona Shea tidak mungkin mengambil langkah bertahan dalam pertarungan kecuali ada sesuatu yang menghalanginya terlebih lagi lawannya sangat lemah, nona Shea terlihat sangat kebingungan dengan terus berusaha untuk menjelaskan sesuatu, meski begitu wanita dengan telinga dan ekor serigala itu terus menyerang nona Shea dengan tombaknya tanpa mempedulikan ucapan nona.


Meskipun tidak suka dengan perbuatan orang itu, aku dapat memakluminya karena bagi mereka nona Shea mungkin sangat menyeramkan terutama untuk auranya yang sangat besar, pintu tanpa kunci masih bisa dibuka mungkin adalah kiasan yang bisa menjelaskan keadaan nons Shea, ucapan yang sopan tanpa penampilan yang mendukung tidak akan membuat orang lain mudah percaya dengan apa yang ia katakan, terutama dengan aura yang sebesar itu pasti akan membuat orang lain berpikir ribuan kali untuk mempercayainya.


"Hahh… mungkin percuma memberitahukan itu pada nona, lagipula nona Shea tidak bisa menggunakan sihirnya untuk menekan itu."


"Meskipun dia bisa, Shea tetep tidak akan bisa menurunkan auranya ketingkat yang sama dengan orang-orang itu, dia masih belum begitu mahir dalam sihir" ucapan Frenya menatap nona Shea dengan serius.


"Aku setuju, tapi nona orang yang berbakat, dia bahkan mengembangkan sihirnya sendiri... tunggu dulu, apa itu?" ucapku memperhatikan keadaan nona Shea dari balik cermin Frenya.


"Hm… ada apa?"


"Naga itu… apa Ardner melepaskan naganya untuk membantu nona?" ucapku bertanya-tanya.


"Hehehehe… tidak, itu mustahil… pria dingin itu tidak mungkin melakukannya karena dia tau Shea bukan orang lemah yang harus dibantu" sahut Frenya padaku.


Berbincang tentang nona Shea dan bakat luar biasa darinya, pandanganku langsung teralihkan saat melihat nona Shea yang tampak sedang memerintah seekor naga bumi, dan itu membuat pikiranku sedikit terganggu karena aku tidak pernah tau jika Ardner bisa meminjamkan naganya untuk membantu nona Shea, tapi Frenya langsung mengatakan hal sebaliknya dan itu sangat masuk akal mengingat sifat Ardner yang keras dan dingin sangat mustahil baginya untuk memerintahkan naganya agar mau diperintah oleh nona Shea yang sedang dalam masa hukumannya, terlebih lagi nona adalah orang yang kuat, hal seperti bantuan mungkin sudah tidak diperlukan lagi.


"Lalu bagaimana mungkin naga itu…/"


"Kau sendiri yang bilang jika Shea adalah anak yang berbakat…" sambungnya memotong ucapanku sembari tersenyum


" … "


"… meskipun sebenarnya itu bukanlah sebuah bakat" ucapnya lagi sembari tersenyum mencurigakan.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Hehehehe… kau tidak perlu tau Sira, kau hanya perlu terus berada di dekatnya jika ingin mengetahui apa yang terjadi" ucapnya lagi sembari tersenyum dan tertawa kecil.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


__ADS_2