I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 172: Rapat> Perspektif Lorena


__ADS_3

Penari kematian, itulah julukan yang aku dapatkan setelah membunuh banyak orang dengan tarian darah yang aku lakukan, banyak orang di dunia ini membenci dan mengutuk keberadaanku karena aku berasal dari ras iblis terkutuk, yaitu ras Vampir.


Memasuki ruangan yang sangat minim pencahayaan, aku berjalan sedikit lebih lambat dari orang-orang dan tetap mempertahankan jarak dengan hanya menatap punggung mereka.


Komandan ke-2: Eary Chirl, berpenampilan seperti wanita anggun yang mengenakan gaun hitam dengan rambut panjang berponi menutupi sebelah matanya.


Komandan ke-3: Augis astolfod, pria berotot yang selalu mengenakan baju besi dengan sebilah pedang besar di punggungnya.


Komandan ke-4: Tire, wanita bertubuh ideal yang memakai seragam komandan pasukan dengan satu pedang berbilah tipis di pinggangnya.


Komandan ke-5: Marckley Kin, orang licik akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.


Komandan ke-6: Aku, Lorena Valten dan karena aku penari, tentunya aku mengenakan pakaian menari yang cukup terbuka dengan delapan lonceng kecil di kedua kakiku.


Komandan ke-7: Cel Wiston, anak-anak yang sangat terobsesi dengan pertarungan dan membunuh, padahal dia punya tubuh yang mungil. Dan yang terakhir Komandan ke-8: Riston Afrid, dia sangat mahir mengendalikan cuaca karena dia adalah pengguna tombak cuaca.


Duduk di antara para penjahat keji bergelar komandan iblis, aku memang layak untuk mati, entah apa yang kupikirkan 30 tahun lalu hingga aku menerima tawaran mereka untuk bergabung dan mengikat kontrak dengan Raja Iblis Undead yang hasilnya aku semakin membenci diriku sendiri.


...


Semua Komandan yang hadir langsung menuju tempat duduknya masing-masing di depan sebuah meja bundar yang cukup besar, begitupun juga denganku yang menarik kursi lalu duduk dengan tenang tanpa membuat suara berisik.


Beda halnya dengan Komandan lain yang justru dengan sengaja membuat keributan.


"Hahahaha!! ada apa dengan dahimu, Kin?" ucap Red sambil tertawa.


"Berisik!"


"Oh~ dia marah~ hehehe~!" balas Cel sambil menahan tawanya.


Semua orang di sini sangat suka merendahkan orang lain, mereka cenderung tidak menghargai orang-orang di sekitarnya dan selalu membangga-banggakan diri mereka sendiri yang dengan kata lain mereka angkuh dan sombong.


Terutama Cel, penampilannya memang seperti anak-anak usia 11 tahun dengan rambut berkepang dua, tapi kata-katanya jelas sangat terasa tajam dan menusuk.


Mereka menertawai Kin yang baru pulang dari tugasnya sebagai Komandan pasukan gelombang pertama, jika dilihat dari ekspresi wajahnya Kin memang gagal dalam menjalankan tugasnya, ditambah lagi dengan luka yang sangat mencolok tepat berada di dahinya dia benar-benar menjadi bahan tertawaan.


"Apa kau mencari mati, Cel!?" sahut Kin dengan tatapan tajam.


Suasana meja bundar terasa sangat mencekam dengan nuansa gelap dan aura pekat yang sangat kuat, terlebih lagi saat ini Kin sedang mengeluarkan aura intimidasinya yang langsung dibalas oleh Cel dengan kekuatan yang sama, mereka seperti akan saling membunuh, setidaknya untuk sementara.


"Cukup, kita berkumpul bukan untuk bermain..." ucap Komandan Bayron seraya menduduki kursi terakhir.


Setelah Komandan Bayron memasuki ruangan dan mengambil posisi di tempat duduknya, semua guncangan yang terjadi di di tempat ini langsung lenyap tanpa sisa seperti sedia kala, dia memang orang yang disegani karena ia adalah komandan pertama Raja Iblis Undead. jadi, wajar saja jika komandan lain terdiam di tempatnya masing-masing, meskipun mereka masih memasang ekspresi yang menyeramkan.


"Baiklah, sekarang apa ada yang ingin kau katakan, Kin?" tanya Komandan Bayron.


"Ada kejadian tidak terduga di rute penyerangan yang kuambil."


"Hm... kejadian tidak terduga apa yang kau maksud?" tanya Komandan Bayron sambil mengangkat alisnya.


"Dua ribu Undead yang aku bawa, semuanya sudah dimusnahkan... termasuk Undead para Komandan terdahulu."


"Tidak mungkin! padahal mereka pion yang berharga!" sahut Augis.


Jujur saja aku pun terkejut mendengar pernyataan Kin, karena bagaimanapun juga semua Undead yang dia bawa adalah Undead yang kuat dan memang dengan sengaja digunakan untuk pertempuran gelombang pertama.


Tapi, meski terkejut beberapa Komandan lainnya tidak begitu menanggapinya, mereka justru membuat senyuman yang kaya akan gairah membunuh, dalam keadaan ini aku hanya diam tanpa bergerak sedikitpun mendengarkan semua yang mereka bicarakan tanpa ikut berbicara, sambil menunggu keputusan dari Komandan Bayron.


"Sekuat apa orang yang kau lawan dan berapa banyak jumlah mereka?" tanya Komandan Bayron sambil memegang dagunya.


"Hanya dua orang."


Duarr!!!


"Dan kau kalah hanya dengan melawan dua orang saja! apa kau sudah selemah itu, Kin!?" ucap Komandan Bayron sambil menghentakkan tangannya dengan keras.


"Hahahaha!!! dasar pecundang!"


"Ya, mungkin dia sudah melemah setelah setengah abad tidak bertarung."


Hal seperti inilah yang kerap terjadi ketika kami mengadakan pertemuan meja bundar, semuanya menjadi sangat ricuh dan penuh dengan emosi kekesalan.

__ADS_1


"Jangan meremehkanku!! atau mungkin kalian ingin aku bunuh!?"


"Coba saja jika kau bisa!" balas Tire.


Keributan demi keributan terus terjadi sampai akhirnya semua orang kembali terdiam setelah melihat raut wajah dari Komandan Eary.


"Tolong jangan membuat keributan, lagipula ini hanya gelombang pertama dan tujuan kita hanya untuk mengintimidasi musuh saja, kalah atau menangnya kita tidak tergantung pada serangan kali ini" ucap Eary melerai situasi.


Wajahnya terlihat sangat tenang dengan senyuman yang elegan, tapi semua orang di sini tau apa yang ingin dia sampaikan dan itu adalah "diam!" setelah semua orang diam barulah dia berkata-kata dengan memperjelas tugas dari gelombang pertama.


"Jadi, siapa dia orang yang kau lawan? Apa mereka dari kerajaan Amonia?" tanya Eary.


"...?"


Para Komandan terdiam dengan wajah penuh tanya menunggu jawaban dari Kin yang nampak sedang tertekan.


"Tidak, mereka bukan berasal dari kerajaan itu, mereka berasal dari tempat yang lebih buruk... salah satunya, Sira Raja Monster Harimau dan yang satu lagi gadis berambut putih panjang itu, dia... Ras Naga, mungkin salah satu dari True Dragon."


"...!"


Semua mata langsung tertuju pada Kin, bahkan aku yang awalnya tampak tidak pedulipun langsung membuka mata dengan tatapan yang serius, tentu saja ini karena Kin telah membuat keributan dengan sesuatu yang sangat berbahaya, dan kemungkinan akan merugikan pihak Raja Iblis Undead.


"Ras Naga, ya... aku tidak ingin berurusan dengan mereka," ujar Cel sambil memejamkan sebelah matanya.


"Jika yang kau katakan memang benar, sebaiknya kita menghindari konflik yang tidak perlu dengan mereka, menantang salah satu dari mereka hanya akan memancing yang lainnya untuk berdatangan," ucap Komandan Bayron.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Eary.


"Ya, mereka seperti lebah yang berhamburan," sahut Riston.


"Mungkin sebaiknya kita mengambil rute kedua, gadis itu terlalu berbahaya," sambung Kin.


"Hm... baiklah, sudah diputuskan! Kita akan mengambil rute kedua dari hutan El'o, dan sekarang siapa yang akan memimpin pasukan gelombang kedua?"


Setelah Kin mengatakan laporannya tentang apa yang terjadi di medan pertempuran gelombang pertama, keputusan barupun akhirnya dibuat dengan dialihkannya rute penyerangan untuk menghindari konflik dengan salah satu dari True Dragon.


Selain itu pimpinan penyerangan untuk gelombang keduapun diundi, tapi sayangnya tidak ada satupun komandan yang tampak tertarik untuk memimpin pasukan, dan akhirnya "Aku" ucapku mengangkat tangan mengajukan diri untuk memimpin pasukan Undead gelombang kedua.


"...?"


"Ya."


Hanya sepatah kata yang selalu keluar dari mulutku ketika kami sedang berkumpul, karena aku tidak ingin meladeni pembicaraan mereka yang selalu pada tema membunuh dan itu membuatku muak.


"Baiklah, jika kau sudah bulat dengan keputusanmu, dengan begini pertemuan delapan Komandan Undead telah berakhir! Pergilah!"


Dengan kalimat yang jelas dan keras pertemuanpun berakhir dan para komandan akhirnya pergi meninggalkan tempat ini.


"Lorena."


"Ada apa Eary?"


"Apa kau yakin ingin pergi?"


"Ya" sahutku sambil tersenyum.


"Begitu ya, aku tidak akan menghalangimu, tapi berhati-hatilah karena tubuhmu sudah mencapai batasnya."


"Terima kasih atas bantuanmu selama ini, dan maaf jika ini adalah pertemuan terakhir kita" ucapku perlahan pergi meninggalkan ruangan.


"Semoga kau beruntung..."


Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Eary, aku kemudian pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi.


...


( 3 bulan kemudian )


Berjalan di tengah hutan rimbun yang menjadi rute kedua dari penyerangan iblis Undead, segala persiapanku telah usai setelah tiga bulan berlalu.


"Sudah saatnya ya..., akan kulakukan sebaik mungkin... Gate..."

__ADS_1


DUARR!!


Hutan bergetar hebat dengan pepohonan yang bergoyang bahkan ada sebagian yang tumbang ketika aku membuka gerbang Undead, ledakan yang tercipta dari sihir ruang berskala besar saat aku memanggil 3 ribu Undead dari kerajaan iblis, gerbang itu membelah tanah yang disertai dengan munculnya cahaya ungu kehitaman dari setiap retakannya.


"Sungguh aura yang luar biasa, meskipun berada jauh dari sini, dia tetap menunjukkan eksistensinya."


Tatapan yang sangat tajam dan aura intimidasi yang luar biasa, aku seolah melihat bayangan monster yang sangat besar dari tebing yang berada jauh di depanku, tidak ada kata yang lebih cocok untuk menggambarkan keadaan ini selain "mengerikan!"


Dia yang berada di depanku adalah sosok yang sangat kami hindari dalam peperangan ini, dia yang berambut putih panjang dengan sepasang sayap yang terbentang dari sisi kanan dan kirinya. Benar, dia adalah True Dragon yang menghadang Kin.


"Apa dia sudah mengetahui rencana kami ataukah ini hanya kebetulan saja? Tapi, itu tidaklah penting, karena sudah terlambat untuk mundur."


Aku menggores tanganku sendiri dan mengeluarkan tetesan darahku sebagai barier darah yang melayang-layang di sekitarku. Selain itu, aku juga menggerakkan seluruh Undead yang aku bawa menuju ke arahnya atau tepatnya menuju target pembantaian kami di balik bukit yang berada di belakang gadis Naga itu.


"Itu terlihat berbahaya, tapi... Lightning blood!"


DUARR!!!


Satu serangan besar melesat cepat menuju ke arahku, berbentuk bola berwarna biru pekat dengan sedikit kilatan petir biru, hanya dengan melihatnya saja aku tau itu serangan yang sangat berbahaya, untuk mengindari itu aku kemudian membalas serangannya dengan penggabungan sihir darah dan petir.


Tapi, semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencana, serangan gadis itu terlalu kuat untuk ditahan yang membuatku harus meningkatkan daya seranganku, walaupun harus mengorbankan setengah dari jumlah Undead yang aku bawa, setidaknya aku berhasil menghindari pengurangan jumlah pasukan yang terlalu banyak.


"Salju? Apa ini karena sihirnya tadi? Tapi, apapun itu, aku harus berhati-hati."


Setelah melancarkan serangan yang besar, gadis naga itu kemudian melesat cepat ke arahku dengan pedang yang tergenggam erat di tangannya, dan saat itulah aku sadar "ah ini sangat berbahaya."


Aku langsung menyebarkan darahku sebagai kamuflase untuk mengecohnya, sementara aku melompat ke belakang dan mempersiapkan serangan yang akan menyergapnya dalam kepulan debu yang tebal.


"Dia datang!"


Apa setetes cukup? Dia monster yang kuat.


Meskipun berada dalam keraguan karena musuh yang aku lawan adalah seorang monster, tapi aku berhasil memasukkan setetes darahku ke dalam tubuhnya ketika dia sedang disibukkan dengan para Undead.


"Aaaghh!!! cepatlah keluar dasar penakut!! aku sudah muak dengan bau-bau inii~!!" ucapannya dengan lantang.


...


"Oh~! seperti kau memang memancing kemarahanku... baiklah jika itu maumu, aku sudah memperingatkan... Needle Rain!"


"Apa ini? Jarum es?"


Miliaran jarum terus berjatuhan untuk beberapa menit seperti tetesan air hujan, aku menangkis setiap jarum-jarum itu dengan darahku yang langsung menghancurkannya.


Akan sangat berbahaya jika aku terlalu lama bertahan! Dan juga gadis itu....


"Ceroboh! Kalau begitu, mari kita menari."


Meskipun memiliki aura kekuatan gadis naga itu sangat besar, tapi dari setiap serangan dan gerakan yang dia lakukan, aku sangat yakin dia masih sangat amatir dalam pertarungan, serangan membabi buta dengan skala yang cukup besar sudah cukup untuk menyakinkanku.


Karena itulah, aku terus menari di tengah gerombolan Undead dan mengendalikan tubuhnya dengan perantara setetes darahku yang telah aku masukkan ke dalam tubuhnya.


"Sudah cukup! ini menyebalkan! kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan trik murahan seperti ini...TIDAK AKAN PERNAH!!!"


DUARR!!!


Sstt!!!


Aku dapat merasakan kekuatan yang sangat besar meluap-luap dari gadis naga itu, kekuatan yang berusaha melepaskan diri dari jeratan darah vampirku, tidak berselang lama kemudian dia benar-benar terlepas dari sihir pengendalian darahku tepat setelah ia menghentakkan kakinya dengan keras.


Dan ketika debu tebal yang menghalangi kami menghilang karena ayunan pedangnya, aku langsung mengarahkan beberapa tombak darah padanya dengan kecepatan maksimum. Tapi, tentunya tidak akan semudah itu, karena dia langsung menebas semuanya.


"Oh~ akhirnya kau menunjukkan dirimu!"


Senyumnya sangat menakutkan ketika dia mengatakan itu sambil memegang bilahan pedangnya, mata sebiru lautan dengan rambut panjang selutut, jujur saja penampilan dan kekuatannya sangat berbanding terbalik, dia memiliki kekuatan yang besar dibalik kecantikannya yang mempesona.


"Hei! aku ingin bertanya satu hal padamu!"


Meskipun sangat cantik dia punya tatapan yang mengerikan.


...โ„๏ธ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนโ„๏ธ...

__ADS_1


__ADS_2