
"A-aku tidak…/" ucap lelaki itu sembari mengikutiku dari belakang.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa" ucapku memotong ucapannya dengan tersenyum murung.
Meski begitu rasanya tetap tidak berbeda.
Melihat aku dan Sira pergi orang itupun kemudian mengikuti kami dari belakang sembari berusaha bicara dengan nada terbata-bata, tapi aku langsung memotong perkataannya karena aku dapat menebak apa yang ingin dia katakan, yahh walaupun begitu aku tetap merasa sangat tidak nyaman karena ingatan masa laluku yang kembali muncul di masa sekarang.
.
.
Aghhh…! tidak ada gunanya terus bersedih, aku tidak akan bisa hidup tenang jika terus terpaku pada masa lalu, tapi ini sangat menjengkelkan!
"Nona, anda terlihat…/"
"Diam!" bentakku pada Sira.
"Anu… m-maaf nona" sahut Sira terkejut sambil kembali menatap lurus ke depan, "•_•
"Haaah, jadi… di mana tepatnya teman-temanmu berada?" tanyaku pada lelaki itu tanpa menatapnya sedikitpun.
"M-mereka berada di dalam tebing besar itu" ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke tebing yang berada jauh di depan kami.
Hm… tebing itu ya… itu cukup jauh, yahh tidak masalah. ("•_•)
Berjalan melewati retakan-retakan tanah yang hancur tanpa pohon wilayah hutan di sekitarku benar-benar hancur akibat efek dari pertarungan sebelumnya, hutan yang dulu sangat lebat kini sudah berubah menjadi lahan kosong yang sangat luas dengan banyak pepohonan tumbang di sekitarnya, mungkin mirip dengan situasi penebangan liar yang dilakukan oleh oknum tertentu dan siapa lagi kalau bukan akulah pelakunya.
Setelah setengah jalan aku melewati area pertarunganku yang hancur lebur ini aku kemudian kembali berusaha untuk menenangkan diri dan pikiranku agar aku tidak terlalu mengambil perasaan dalam keadaan ini, apalagi sampai mencampurkannya dengan masa laluku yang cukup bermasalah, meski begitu tetap saja aku merasa kesal dan sedih mendengar ucapan orang itu.
Berusaha keras untuk mendapatkan ketenangan Sira kemudian ingin bicara padaku, tapi aku langsung memotong ucapannya sambil sedikit membentaknya untuk diam, dan tanpa banyak bicara setelah aku melakukan itu Sira langsung mengalihkan pandangannya ke depan dengan terkejut dan diam tak bersuara sedikitpun.
Setelah bisa sedikit lebih tenang aku kemudian bertanya kepada pria itu tentang keberadaan teman-temannya karena aku tidak mungkin berjalan tanpa arah dengan menyusuri hutan sebesar ini, dan dengan sedikit kaku pria itu kemudian menatap lalu mengarahkan jari telunjuknya ke tebing besar yang berada jauh di hadapan kami.
"Ada kemungkinan kita akan berpapasan dengan undead atau monster jadi jangan sampai lengah…"
"Groahh!!"
Dasar hantu sialan! jangan mengganggu jalanku! pikirku sambil menyentil dahi undead yang muncul di sampingku hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Tak!
DUARR!!
__ADS_1
"… kau mengerti?!" sambungku serius sembari sekilas melirik ke arahnya.
"I-iya s-sangat m…engerti" sahutnya dengan ekspresi tegang sembari mengalihkan pandangannya ke depan.
Sesaat sebelum masuk ke dalam hutan aku terlebih dahulu memperingatkan padanya untuk tetap waspada dengan keberadaan undead juga monster yang selalu mengintai mangsa dari semak-semak, tapi baru satu langkah kakiku masuk ke dalam hutan sudah ada satu undead yang akan menyerangku dengan tangan tulangnya yang menjijikkan.
Kesal dengan itu aku kemudian mengarahkan tanganku padanya lalu dengan satu jentikan jariku yang tepat di tengah dahinya kepala undead itu langsung terlempar meninggalkan tubuhnya yang terkapar dan membusuk dengan cepat, melihat tidak ada gangguan lagi aku kembali melanjutkan ucapanku dengan tatapan serius melirik ke arah pria itu.
Melihat tatapanku yang sangat serius mengarah padanya dia kemudian mengangguk dengan sangat tegang sembari mengalihkan pandangannya dariku, begitupun dengan Sira yang terus berjalan menatap ke depan dengan bulu yang mengembang seperti kucing bertengkar dan mungkin lebih mirip seperti landak.
...✿✿✿...
Sejauh ini masih aman, apa di sini tidak ada monster? um… mungkin mereka pergi menjauh dari kawasan hutan ini untuk berlindung karena pertarungan sebelumnya, yahh ini keadaan yang menguntungkan.
"Ada baiknya kita jangan terpengaruh dengan kesunyian ini, nona!" ucap Sira padaku.
"Ya, aku tau itu… tapi haaah, kakiku terasa berat untuk digerakkan, padahal kita dapat melihat tebing itu dengan jelas, tapi kenapa kita tidak kunjung sampai di sana?" sahutku padanya.
Yahh, aku bisa saja berlari sih, tapi apa orang ini bisa mengimbangiku? akan sangat merepotkan jika dia tertinggal di belakang.
"Anda perlu tumpangan?" tanya Sira berhenti berjalan sembari merubah tubuhnya menjadi harimau besar.
Hm, jika aku menungganginya bagaimana dengan pria ini? um… owhh!! benar! bagaimana aku bisa lupa?! hehe.
…
Hehehe, untuk apa ada sayap jika tidak digunakan…
Setelah masuk ke area hutan hanya ada ketenangan dari suasana hutan hijau yang menyejukkan mata bahkan terasa sangat hening, suasana tenang tanpa monster mungkin adalah sesuatu yang bagus, tapi kaki yang lelah adalah masalah yang serius dalam suatu perjalanan.
Meskipun aku dapat melihat tebing itu dengan sangat jelas, akan tetapi hutan yang lebat dan subur juga terlihat sejauh mata memandang yang bahkan itu terlihat seperti tiada akhirnya, jujur saja aku sangat ingin berlari secepat mungkin agar lebih cepat sampai di tempat itu.
Tapi keadaan memaksaku untuk tetap berjalan lambat dengan kaki yang berat karena aku tidak mungkin meninggalkan orang itu seorang diri di dalam hutan yang jelas selalu ada bahaya yang mengintai di setiap saatnya.
Melihat aku yang sedikit mengeluh Sira kemudian berhenti berjalan dan langsung berubah menjadi harimau besar lalu menundukkan tubuhnya untuk memberikan tumpangan padaku, tapi saat aku ingin menungganginya lagi-lagi aku teringat pada lelaki itu yang bahkan terlihat lebih buruk dariku, setelah memperhatikan keadaan itu aku kemudian sedikit berpikir dan tidak sangaja aku menggerakkan sayapku yang membuatku kembali tersadar bahwa aku memiliki sayap.
Berada dalam bentuk human kadang membuatku lupa bahwa aku adalah naga yang memiliki sayap, ingat akan hal itu aku kemudian memilih untuk terbang menikmati udara segar dari balik awan yang sejuk, aku juga meminta Sira agar memberikan tumpangan pada orang itu sembari melambaikan tanganku pada mereka.
…
"Ahhh… udaranya masih sangat segar, apalagi dengan pemandangan indah yang sangat menakjubkan… ini adalah penerbanganku yang terbaik hahahaha!" ucapku tertawa bahagia sambil terus mengepakkan sayapku menuju ke arah tebing besar di depanku.
“Kau terlihat sangat jelas tebing! yoshh, baiklah waktunya untuk menambah kecepatan!!"
__ADS_1
Ssttt!!
Terbang tinggi sambil menikmati setiap hembusan angin yang sejuk aku terbang menembus awan dengan memperhatikan keindahan alam yang sangat menakjubkan, hutan yang subur dan pegunungan hijau yang berjejer benar-benar sebuah pemandangan alam yang sangat indah, hanya dengan melihat itu suasana hatiku menjadi sangat tenang dan semua bebanku seakan terangkat pergi dari kehidupanku, alam memang obat alami yang sangat baik untuk mengatasi permasalahan hidup.
Tanpa berlama-lama aku kemudian kembali fokus pada tujuanku untuk pergi ke tebing besar di hadapanku, dan dengan sedikit senyuman juga ancang-ancang yang bagus aku langsung mengepakkan sayapku dengan cepat menuju ke tebing itu.
...✿✿✿...
“Ternyata terbang memang sangat menyenangkan hehehe" ucapku terbang sambil tersenyum.
.
.
"Yeah!! waktunya mendarat…" ucapku menurunkan kecepatan.
"… hup!! pendaratan yang sempurna! hehe" sambungku mendarat di atas tebing besar itu.
"Baiklah sisanya tinggal menunggu mereka dan memastikan keamanannya" ucapku mengawasi keadaan Sira dan pria itu dari ketinggian tebing.
Aku sangat menikmati setiap detik dari momen penerbanganku ini sampai-sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa karena sangat menyenangkannya ini, tak lama kemudian untuk sudah berada sangat dekat dengan tebing itu dan langsung menurunkan kecepatanku.
Setelah memastikan titik pendaratanku aku kemudian mendarat di puncak tebing itu dengan sangat sempurna tanpa guncangan sedikitpun, dan perlahan menutup sayapku lalu berbalik menatap ke arah Sira dan pria itu yang masih berada jauh dari tebing besar ini untuk memastikan keamanan mereka.
Aku cukup duduk manis di ujung tebing sambil menjuntaikan kakiku dan tidak perlu khawatir dengan rabun jauh karena aku memiliki sihir penglihatan jarak jauh yang dapat mengamati setiap pergerakan bahkan jika itu berada di tempat tertutup seperti labirin.
"Hm, ternyata cukup banyak undead yang menyebar di hutan ini, tapi tidak apa aku akan mengurus mereka… dan sepertinya aku cukup beruntung karena cuaca sedang berawan…" ucapku mengarahkan tanganku pada awan di depanku sambil mengubah awan menjadi jarum-jarum sumpit yang tajam.
"… baiklah, dengan begini tidak akan ada undead yang tersisa di hutan ini!" ucapku mengangkat tanganku seraya menjatuhkan jarum-jarum itu tepat di atas para undead yang berkeliaran.
Ssttt Ssttt Ssttt!!
Duarr!!
“Yoshh! sudah selesai
Saat mengawasi keadaan sekitar aku melihat ada banyak undead yang masih berkeliaran di hutan ini dan sebagian berada di jalur yang Sira lewati, walau berbahaya aku tidak langsung menjatuhkan seranganku pada mereka, tapi aku terus mengamati setiap pergerakan yang ada untuk mengetahui jumlah pasti undead yang ada di hutan ini.
Setelah memastikan semuanya aku kemudian mengarahkan tanganku pada awan-awan yang berada di depanku lalu mengubahnya menjadi bilahan jarum sumpit yang tajam, jarum-jarum es yang bergesekan akibat tertiup angin menciptakan sebuah ketukan nada musik yang sangat indah, dan memberikan kesan seolah-olah dia adalah sebuah alat musik besar yang menggantung di udara.
Dan dengan satu ayunan tanganku suara indah dari kumpulan jarum itu langsung berubah menjadi sebuah ledakan setelah aku menjatuhkan puluhan hingga ratusan jarum sumpit pada setiap kelompok undead, tidak peduli seberapa jauh mereka berada seranganku dapat mencapai jarak yang sangat jauh selama masih berada dalam ruang lingkup penglihatanku.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1