
Setelah sempat bertarung dengan lima monster naga di persembunyian lantai 75 dan berhasil membunuh semuanya tuan memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu, entah apa yang dipikirkan tuan dia memilih untuk pergi ke lantai atas dan berhenti untuk pergi ke lantai bawah.
Kami berjalan menuju ke lantai atas dan sempat berhenti di dekat sebuah tikungan lalu beristirahat di sana, setelah cukup lama aku dan tuan beristirahat, tuan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Anda kenapa tuan?" tanyaku
"T-tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." Jawab tuan.
Pusing? apa tuan baik-baik saja?
Tuan terlihat sedang tidak enak badan, terlihat dari pergerakannya yang terlihat lemas dan juga dia sempat memegang kepalanya.
"Anda mau kemana tuan?"
"Aku ingin melihat-lihat keadaan sekitar sini." Jawabnya.
"Sebaiknya anda istirahat, biar saya yang memeriksanya." Ucapku padanya.
"Hm... sepertinya tidak perlu, aku ingin memeriksanya sendiri, tapi jika kau mau kau boleh ikut memeriksanya, ayo naik."
"Baik tuan."
Karena tuan terlihat kurang baik aku menawarkan diri untuk melihat-lihat keadaan sekitar, tapi tuan menolaknya dan tetap ingin memeriksanya sendiri, tapi tuan tetap mengajakku ikut bersamanya dan sesuai dengan perintahnya aku naik ke atas kepalanya walaupun itu terlihat kurang sopan.
"Eh... aaa!!!" teriak tuan.
Setelah mencapai belokan tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh kepala naga yang tiba-tiba muncul dari balik dinding labirin.
Huhh... selamat.
Aku sempat terjatuh dari atas kepalanya karena tuan tiba-tiba saja melompat kaget, untungnya aku tidak terjatuh terlalu tinggi hanya ke punggungnya saja.
Terjatuh dari ketinggian puluhan meter, itu adalah mimpi buruk, jika saja aku tidak berpegang erat dipunggungnya mungkin akan ada beberapa bagian yang patah.
Naga itu sempat menyerang kami, tapi dengan mudahnya tuan berhasil menghindarinya.
Duk Duk Duk
"Suara apa itu Sira?" tanya tuan.
"Ada yang datang!" jawabku.
Ini gawat, yang satu ini bukan monster yang lemah.
Saat tuan ingin menyerang naga itu tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari balik dinding yang sama dengan tempat kemunculan naga sebelumnya, suara langkah kaki yang pastinya milik monster yang berukuran besar dan juga memiliki aura kekuatan yang terbilang besar.
Perlahan monster itu mulai menunjukkan dirinya dari belakang naga sebelumnya, aku tidak menyangka kalau yang datang adalah seekor monster naga juga.
Sstt! Sstt!
"Tuan!!"
"Aaa!!! woi!! aku masih belum siap tau!!" teriak tuan.
Tuan langsung membalas serangan mereka dengan membuat kristal-kristal yang bermunculan dari atas tanah, tapi serangan itu dapat dihindari dengan mudah oleh para naga itu, mereka terbilang cukup gesit dan juga cepat.
Aku juga tidak ingin tinggal diam melihat dan menonton saja, aku langsung melompat dan melancarkan serangan kepada para naga itu, tapi serangan itu tidak berpengaruh sama sekali, naga memiliki pertahanan yang kuat dari sisiknya.
"Apa kau tidak apa-apa Sira?" tanya tuan.
"Ya tuan."
"Sepertinya serangan itu kurang efektif untuk menghadapi mereka." Ucap tuan sambil menatap ke arah para naga.
"Sira aku punya satu rencana, apa kau bisa membantuku?" lanjutnya bertanya.
"Rencana?"
"Apa kau bisa menggunakan sihir itu sekali lagi? bukan untuk melukai, tapi untuk menghalangi penglihatan mata mereka, sementara aku menyiapkan serangan lain untuk mengalahkan mereka, bagaimana?" Usulnya.
"Apa itu akan berhasil?"
"Kita tidak akan tau jika tidak mencobanya." Lanjut tuan meyakinkan.
Tuan sepertinya memiliki sebuah rencana untuk menghadapi para monster naga itu, dia memintaku untuk menggunakan sihir yang sama untuk menghambat dan mengecoh naga-naga itu.
Aku sempat ragu dengan rencana itu, tapi tampaknya tuan sudah sangat yakin dengan rencananya dan pasti bisa mengalahkan mereka.
Ssttt!!!
"Awas!!"
Duarr
Belum sempat menyelesaikan pembicaraan kami, tiba-tiba monster-monster naga itu kembali menyerang kami, beruntung aku dan tuan menyadari serangan itu dan bisa menghindarinya.
"Bersiaplah Sira!"
"Baik tuan."
Sesuai yang di perintahkannya aku langsung menyerang para naga itu sementara tuan menyiapkan serangan yang lebih kuat, aku berhasil menghalangi penglihatan mereka dan dengan cepat tuan melancarkan serangan kristal yang meledak menjadi debu kristal.
"Sira menjauhlah!" ucap tuan dari kejauhan.
"Baik tuan." Sahutku.
Mendengar perintah tuan aku langsung menjauh dari pertarungan, jika tidak menjauh aku pasti terkena serangan itu.
Setelah aku pergi menjauh tuan langsung melakukan serangannya dengan menjatuhkan sebuah tombak biru pekat dari atas kepala salah satu naga, setelah terkena serangan itu seketika naga itu tergeletak di atas tanah, walaupun terluka parah naga itu berhasil bertahan dari serangan tuan, tapi naga itu pada akhirnya tetap mati karena tuan berhasil menembus lehernya dengan sangat telak.
Sementara itu naga lainnya berhasil selamat karena menjauh dari pertarungan dan hanya terkena sedikit efek dari serangan itu.
"Sekarang bagaimana tuan?" tanyaku.
Tuan terlihat menahan sakit setelah melakukan serangan tadi, itu membuatku khawatir keadaannya terlihat kurang baik, tapi dia terus memaksakan dirinya untuk tetap bertarung.
Dia kemudian kembali melakukan serangannya dengan memenjarakan naga itu dalam sebuah bola transparan yang terus mengecil dan menekan tubuh naga itu setiap saatnya, karena terus tertekan naga itu akhirnya berhasil dikalahkan walaupun dia sempat memberikan sedikit perlawanan, tapi tetap saja itu tidak ada gunanya.
"Huh...huh...huh... berhasil..." ucap tuan sambil mengatur kembali napasnya.
"Agrrhhh!!!"
__ADS_1
Eh! ada apa dengan tuan? apa tuan baik-baik saja?
"Tuan!!"
Tuan tiba-tiba saja menjerit dan langsung pergi berlari dengan cepat, melihat itu aku langsung mengikutinya dari belakang, tapi karena tuan memiliki tubuh yang sangat besar tentu dia juga memiliki jangkauan kaki yang panjang, itu membuatku sempat kehilangan jejaknya.
Tapi, karena tubuh besarnya juga lah aku akhirnya bisa kembali menemukannya, aku mengikuti jejak kaki dan bekas tabrakan di dinding sampai bertemu dengan tuan, dia terlihat berhenti dan memukul dinding dengan keras lalu masuk ke dalam dinding itu dari lobang bekas pukulannya.
"Tuan!! Eh!"
"Apa yang tuan lakukan?"
Saat mengikutinya masuk ke dalam aku terkejut melihat tuan yang berjalan menuju masuk ke dalam danau, air danau yang diinjak tuan berubah menjadi es dan membentuk kristal-kristal di pinggirannya.
Brukkkk
"T-tuan!"
Setelah membeku seluruh air danau tuan tiba-tiba terjatuh membaringkan tubuhnya di tengah danau itu, tuan kemudian merapatkan sayap dan ekornya sekarang dia terlihat seperti ular yang melingkar di dalam sarang burung.
"Apa tuan seperti itu hanya untuk tidur? yang benar saja, yah... itu memang kebiasaannya, hahahaha.
"Apa itu?" ucapku sambil tercengang melihat ke arah tuan.
Saat aku berbalik tiba-tiba saja aku merasakan ada aura besar yang terpancar dari tubuh tuan, aura itu menyelimuti tubuh tuan dan perlahan tubuhnya juga mengecil sedikit demi sedikit.
Krek Krek
"A-apa lagi itu?"
Ketika ukurannya tersisa lima meter tubuhnya terlihat mengkristal dan perlahan kristal itu menutupinya lalu berubah menjadi sebuah cangkang telur besar.
"S-sebenarnya apa yang terjadi?"
Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini, semua aura yang sebelumnya terpancar tiba-tiba menghilang sesaat setelah telur itu terbentuk.
"Tuan?"
Tok Tok Tok
"Tuan?"
Aku mengetuk-ngetuk cangkang telur itu dan memanggil-manggil tuan, tapi tidak ada jawaban sama sekali, telur itu berdiri tegak dengan kokohnya tanpa terjatuh atau terguling.
(Hari pertama)
"Hm... sebenarnya apa yang terjadi pada tuan?
.
.
(Hari kedua)
"Sepertinya masih belum hoaahhh... berapa lagi lama tuan berada di dalam sana?" ucapku sambil berbaring menatap ke arah telur tuan.
.
.
"Twiga hari... tapi tuan masih belum keluar dari sana, owhh! ini cukup enak." Ucapku sambil mengunyah ikan yang kuambil dari danau beku itu.
.
.
(Hari keempat)
Karena tuan sedang berada di dalam telur aku tidak ada pilihan lain selain menjaganya dari gangguan yang mungkin akan datang.
"Ini hari keempat." Ucapku sambil menatap ke kalung arlojiku.
"Huhhh." kira-kira sampai kapan tuan di dalam sana?
"Sebaiknya aku mencari makanan..."
Krakkk
"Eh!"
Saat aku ingin pergi tiba-tiba telurnya mulai terlihat retak dan perlahan ada seseorang yang keluar dari telur itu.
Seorang gadis cantik baru saja keluar dari telur itu, mungkin terlihat seperti gadis 16 tahun dengan rambut putih panjang, sayap yang berkilauan, kulit putih mulus dan mata biru yang terlihat bersinar karena pantulan cahaya dari kristal es yang ada.
Saat aku sadar bahwa yang di depanku ini adalah tuan aku langsung memalingkan wajahku dan menghadap ke bawah, bagaimana tidak? karena itu tindakan yang tercela, aku tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan dari keadaan ini sekalipun itu adalah surga dunia, aku bisa saja mati dengan sekejap mata jika melakukan itu.
"Ada apa Sira?"
"E... A-A-anu maaf tuan, eh maksudnya nona, maaf atas kelancangan S-saya." Ucapku sambil menunduk.
"Eh!! apa ini? tangan? kaki? wajah? tubu...h eh! aaaaaa!!!!"
Brussss
Nona langsung menggunakan sihirnya membuat dinding tajam untuk menutupi dirinya, aku hampir tertusuk salah satu kristal tajam itu untungnya sempat menghindar dari sana.
"M-maaf nona, sekali lagi ma.../
"Carikan aku baju cepaattt!!!"
"B-baik tuan, eh! nona."
"Cepaatttt!!!!"
.
.
.
Aku langsung pergi menggunakan sihir teleport ke lantai atas mencarikan pakaian untuk tuan yang ternyata adalah seorang perempuan.
__ADS_1
"Tak kusangka tuan sudah mencapai fase evolusi dari naga dalam usia semuda itu dan juga... agrhh!!! d-dia wanita, yah... naga memang sulit untuk dibedakan, ini tidak baik untuk kesehatan mentalku."
"Agrrhhh!! lupakan itu! aku harus cepat."
.
.
.
Dengan cepat aku berpindah-pindah tempat dari lantai yang satu dengan lantai yang lainnya menggunakan teleport untuk mempersingkat waktu.
"Itu dia, t-tapi apa ini bisa dipakai?"
Aku hanya bisa menemukan sebuah jubah hitam usang yang terlihat sudah mulai rusak, bahkan sudah ada bagian yang robek.
"Tidak waktu memikirkan itu, yang penting ini bisa digunakan."
Aku kemudian kembali berpindah ke tempat nona muda itu untuk menyerahkan jubah itu padanya.
"Nona?!" panggilku.
"A-apa kau sudah mendapatkannya?" tanya nona.
"Y-ya... hanya jubah."
"L-lemparkan ke sini." lanjutnya.
"T-terima kasih." Ucap nona.
Aku langsung melemparkan jubah itu padanya, setelah memakainya nona kemudian keluar dari dindingnya, awalnya nona terlihat senang, tapi perlahan wajah senangnya itu berubah menjadi tangisan setelah dia melihat wajahnya sendiri.
"M-M-maaf nona, maaf nona, a-anu s-saya tidak sengaja." Ucapku sambil menunduk.
"Tidak apa-a... apa ini? air? dari mana?"
.
.
"Eh! aku... menangis... kenapa? hiks... hiks..."
"A-A-anu nona, s-saya tidak.../
"T-tidak apa-apa, ini bukan salahmu, aku hanya teringat sesuatu, maaf membuatmu khawatir." Ucapnya memotong ucapanku sambil menghapus air matanya.
"Ada apa nona?" tanyaku padanya.
"T-tidak bukan apa-apa, tak perlu dipikirkan."
Walaupun air matanya sudah berhenti, tapi nona masih terlihat agak sedih, entah apa yang dia rasakan, aku sama sekali tidak mengerti dengan itu.
Kriuk kriuk
" ... "
"Y-yahh... sebaiknya kita sarapan dulu."
"Saya rasa juga begitu." Ucapku.
Nona kemudian pergi masuk ke dalam dimensi ruangnya mengambil beberapa daging, nona sering kali masuk ke dalam dimensi itu padahal dia tidak perlu sampai masuk ke dalamnya, mengambil potongan daging itu seharusnya bisa hanya dengan memasukkan tangannya saja, beberapa saat kemudian Nina keluar dengan membawa beberapa potong daging untuk sarapan dan menyajikannya di atas piring.
"Apa ada yang aneh dariku Sira?" tanya nona padaku.
"Eh! a-anu tidak ada apa-apa nona, hehe."
Sepertinya dia sedikit terganggu, sebaiknya aku tidak melakukan sesuatu yang aneh.
"Hey! jangan bohong padaku Sira."
"T-T-tidak, benar-benar tidak ada yang aneh nona."
Auranya sangat berbeda, bahkan lebih besar dari sebelumnya, para naga mungkin tidak akan menyadarinya dan tidak akan berani untuk mendekat, tapi orang itu pasti akan mengetahuinya, ini berbahaya.
"Terima kasih ya Sira." Ucap nona sambil melemparkan senyuman.
"Terima kasih untuk apa nona?"
kenapa nona berterima kasih kepadaku? dia sudah mengatakannya padaku sebelumnya.
"Tidak tidak hanya terima kasih saja." jawabnya dengan masih tersenyum.
Nina tiba-tiba saja tersenyum ke arahku dan berterima kasih, itu membuatku sedikit bingung.
"Sira."
"Ada apa nona?"
"Apa kau bisa mendekat?"
"U-untuk a-apa nona?
"^_^"
Menyeramkan...
Walaupun nona sedang tersenyum, tapi bagiku itu adalah hal yang mengerikan, senyumnya menusuk sangat tajam itu seperti bukan senyuman, aku bahkan khawatir dengan keadaanku saat ini.
"A-A-anu nona s-saya ingin pergi sebentar permisi." (!!)
"Tenang saja Sira, ini tidak akan sakit hanya sebentar saja." ^_^
Saat aku ingin pergi nona menepuk pundakku dan menahanku agar tidak pergi dari sana, tatapannya semakin menyeramkan.
"Aku hanya ingin mengambil sedikit ingatanmu, rasanya tidak akan sakit, jadilah kucing yang baik ya." ^_^
( !! )
Ah tamatlah sudah hidupku...
...~•~...
__ADS_1
...Maaf ya telat ^_^🥀...