I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 160: Api yang gelap.


__ADS_3

"Owh! aku terkejut loh, Sira... tidak biasanya kau diam saat terbang" ucapku heran dengan Sira.


"Ya… saya juga terkejut" sahutnya padaku.


"Hm... kalau begitu tidak masalah kalau aku tambah kecepatankan? hahaha!"


" …! "


Hari yang gelap di dalam hutan dan cahaya matahari terbenam yang mewarnai langit benar-benar menjadi perpaduan warna yang bisa membuat seseorang merinding, apalagi dengan semua suara yang dapat menggetarkan mental seseorang hutan menjadi tempatnya rasa takut, tapi semua itu tidak berpengaruh untukku karena aku sudah terbiasa menghadapinya.


Terlihat agak mengejutkan bagiku Sira yang biasa menancapkan kukunya di kulitku kini menjadi sangat berbeda, dia bahkan bersikap sangat tenang dan sama sekali tidak memberontak ketika aku membawanya terbang tinggi di atas hutan, meski begitu aku tetap melakukan langkah pencegahan dengan hanya memeluknya dan bukan meletakkannya di punggungku karena aku tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang.


Melihat sikap Sira yang sudah terbiasa dengan ketinggian membuatku cukup bersemangat untuk terbang dengan menambah sedikit kecepatanku hehe.


...***...


"Ahh! anginnya sangat dingin! apa kau kedinginan Sira?"


"Anda tidak seharusnya bertanya seperti itu, nona" sahutnya padaku.


"Y-ya... kau ada benarnya."


Bulunya memang sangat tebal. "•_•


Menikmati hari dari atas udara yang sangat dingin, kulitku pasti akan terlihat semakin pucat karena suhu yang kurang mendukung penerbanganku, aku bahkan khawatir dengan keadaan Sira karena tubuhnya yang kecil pasti akan sangat mudah terserang hawa dingin, tapi itu hanya sekedar pemikiranku saja, dibalik tubuhnya yang kecil, Sira punya bulu yang sangat tebal dan bahkan bulunya itu jauh lebih hangat daripada tubuhku.


Terus terbang sambil menatap sepi suasana hari yang sudah terlihat mulai gelap dengan semua bagian hutan yang juga telah ikut berubah warna nyaris membuat pandanganku buta arah, tapi beruntung aku punya penglihatan yang bagus dan tidak akan terpengaruh dengan kegelapan di malam hari.


"Hm... tampaknya di sana ada keributan, bagaimana kalau kita melihatnya?"


"Ya, terserah pada anda nona, saya hanya ikut" jawab Sira sembari menatap ke arah yang sama denganku.


"Yosh! mari kita lihat!"


Setelah cukup lama aku mengudara tidak jauh di depanku cahaya jingga kemerahan bersinar dari balik dedaunan hutan dan pastinya itu bukanlah matahari senja karena benda bulat itu sudah benar-benar terbenam seutuhnya bahkan tanpa meninggalkan cahayanya, aku kemudian mengajak Sira untuk pergi melihat tempat itu karena ada satu hal yang membuatku penasaran terlebih lagi api unggun tidak mungkin bisa sebesar itu.


...ΩΩΩ...


"Wahh... ternyata memang ada yang sedang bertarung, baiklah... ayo kita bantu, mungkin saja mereka mau jadi temanku ehehehe."


"Hoahhh!"


"Kau tidak mungkin mengantukkan, Sira?" tanyaku pada Sira. •_•


"Seharusnya memang tidak nona... tapi angin memberi pengaruh yang besar, terutama di malam hari" jawabnya sambil memejamkan mata.


"Ya sudahlah… padahal malam masih belum terlalu larut" ucapku sembari perlahan menurunkan ketinggian.


Tiba tepat di atas area hutan yang terbakar, sesuai dengan dugaanku kobaran api yang kulihat dari kejauhan sebelumnya tercipta karena adanya pertarungan yang sedang berlangsung, teriakan menggelar dan suara besi yang memantul karena menghantam benda keras terdengar sangat jelas di telingaku, terlebih lagi karena suasana malam hari di dalam hutan selalu sepi suara-suara pertarungan itu terdengar memantul dengan suara yang semakin jelas.


Aku cukup tertarik dengan situasi seperti ini karena mungkin saja aku akan mendapatkan teman baru sama seperti saat aku bertemu dengan kelompok Toki, walaupun aku sudah gagal beberapa kali dalam satu hari ini, tapi itu tidak akan mengganggu semangatku untuk mendapatkan banyak teman karena hanya ini yang bisa aku lakukan tanpa harus keluar dari hutan.


Meski begitu, tampaknya perasaan Sira masih belum membaik, dia memang terlihat biasa-biasa saja dengan tubuh kecilnya yang mengantuk, tapi aku bisa menebak bahwa itu hanyalah ekspresi yang menunjukkan ketidaksukaannya dengan apa yang akanku lakukan saat ini, melihatnya seperti itu membuatku merasa tidak enak dengannya, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan orang-orang yang ada di bawahku lagipula Sira terlihat tidak peduli dengan situasi ini dan dia juga tidak terang-terangan tidak setuju dengan tindakanku dan itu artinya tidak akan terjadi hal yang merepotkan.


...***...


"Hup! owh...! sepertinya itu situasi yang cukup berbahaya, tapi… um… itu monster apa?" ucapku sembari mendarat di atas dahan pohon.


"Dead wood" sahut Sira.

__ADS_1


"Dead – apa?"


"Dead wood… monster kayu mati, meski bukan sepenuhnya monster… mereka cukup merepotkan, kelompok besar mereka berada di area hutan mati jauh di utara hutan ini, tapi beberapa dari mereka biasanya hidup dengan berkamuflase di antara hijaunya dedaunan hutan… mereka jarang menyerang orang-orang… sama seperti kebanyakan makhluk hidup mereka hanya menyerang saat merasa terancam, ya… mungkin ada orang bodoh yang mau menebang pohon sebagai kayu bakar, tapi dia salah memilih pohonnya" jelas Sira padaku.


" … "


Mendarat dengan berpijak pada dahan pohon besar yang dipenuhi dedaunan rimbun, aku kemudian mengawasi keadaan sekitar orang-orang yang sedang bertarung itu untuk menganalisa situasi sebelum aku muncul di hadapan mereka.


Aku memperhatikan setiap sudut dari area sekitar pertarungan untuk memastikan bahwa tidak ada monster lain yang bersembunyi dan akan menyerang orang-orang itu saat mereka lengah ketika menghadapi kedua monster aneh di depan mereka, jujur saja aku benar-benar kebingungan dengan wujud monster yang sedang dilawan oleh orang-orang itu bahkan selama aku hidup di dunia ini aku tidak pernah melihatnya, monster itu terlihat seperti pohon kayu tua tapi memiliki mulut dan mata yang lebih terlihat seperti rongga pohon hitam pada kayu lapuk dan itu terlihat cukup menyeramkan ketika malam hari.


Sira yang melihat aku kebingungan pun kemudian menjelaskan padaku mengenai nama dan kebiasaan mereka serta tempat di mana populasi mereka tumbuh, aku cukup terkejut dengan ucapan Sira karena dia mengetahui banyak tentang monster itu, aku tidak menyangka kucing kecil ini punya pengetahuan yang lebih besar dari tubuhnya.


"Ada apa, nona?" tanya Sira padaku.


"Eh! t-tidak, bukan apa-apa… hanya saja ternyata kau tau banyak tentang jenis monster… aku… cukup terkejut..." ucapku sambil memalingkan wajahku.


"Jika anda hidup lebih lama, anda pasti bisa belajar banyak hal" sahutnya padaku.


"Ya… aku berharap usiaku lebih dari 18 tahun/"


"Hargghhh!!!"


"Owh! aku hampir lupa dengan satu itu, yahh… sebaiknya aku bantu mereka" ucapku sembari melompat turun.



"Baiklah mari dapatkan teman baru ehehe" sambungku sambil mengubah bentuk gelangku.


Kembali tersadar setelah tercengang dengan tanpa bisa berbicara dan aku merasa itu sangat memalukan, bagi Sira pengetahuan ini mungkin adalah hal biasa, tapi bagiku hal-hal seperti ini hanya bisa ditemui di dalam coretan buku novel fantasi, akan tetapi seperti yang diucapkan Sira, semua pengetahuan itu pasti akan kudapatkan dari pengalaman hidupku sama seperti Sira yang telah hidup lebih lama dariku dan berbicara tentang pengalaman hidup aku tiba-tiba teringat kembali dengan kematianku diusia yang masih muda –benar-benar hidup yang singkat.


Banyak memikirkan hal yang kurang berguna, aku kembali dikejutkan dengan suara teriakan yang cukup keras dari salah satu orang yang sedang bertarung karena terlalu fokus pada Sira, aku hampir saja melupakan tujuan aku datang ke tempat ini, aku kemudian melompat turun dan langsung mengubah bentuk gelangku menjadi bilahan pedang yang cantik dengan ukiran bunga mawar.


"Owh! kayu ini lebih kuat dari kelihatannya! hehehehe… yahh… tidak masalah, aku akan tetap memotong rantingnya" ucapku sambil tersenyum.


Ssttt!!! Ssttt!!!


"Wahh…! ternyata dia juga punya regenerasi" sambungku sedikit terkejut.


Wajar saja jika orang-orang ini kalah, yahh... kayu ini cukup merepotkan sih.


Setelah aku merubah tampilan gelangku, aku langsung melompat masuk ke dalam pertarungan menyelamatkan seorang pria yang sudah tersungkur dari ancaman tusukan salah satu ranting menjalar milik monster kayu yang dia lawan, dan di luar dugaanku kayu lapuk itu tidak selemah penampilannya bahkan dia bisa memanjangkan setiap rantingnya untuk melakukan penyerangan.


Selain itu, setiap rantingnya yang terpotong bisa kembali pulih dengan cukup cepat dan kemampuannya itu terkesan cukup merepotkan jika harus dilawan dengan orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan fisik dalam bertarung, meskipun lebih lemah dariku, tapi aku cukup kerepotan saat menghadapi kedua pohon kayu itu karena aku hanya bertarung menggunakan satu tangan, sedangkan untuk tanganku yang lain masih sangat erat memegangi Sira seperti boneka.


"Rantingmu terlihat sangat berantakan loh… haa!!" ucapku sembari menendang batang kayu tua itu.


DUARR!!


"Hahh… baiklah tinggal satu lagi… eh! waa!!! gaunku rusak!!" ucapku sambil menghela napas.


Sstt!


"Selesai! itulah akibatnya karena berani merusak gaunku!" ucapku sambil mengibaskan pedangku.


Krak!!


"Hahh… seharusnya sejak awal langsung saja aku selesaikan, hiks… tidak masalah, aku akan menjahitnya nanti" ucapku sembari kembali mengembalikan bentuk gelangku.


Setelah beberapa saat bertarung dan berulang kali harus memotong serta menahan setiap tusukan dari dahan-dahan pohon yang menyerangku dengan cepat, aku akhirnya bisa mendekati batang pohon utama dari salah satu monster dead wood dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada, aku langsung mendapatkan satu tendangan keras pada monster dead wood itu hingga terpental jauh dan terpotong menjadi dua bagian, sehebat apapun regenerasi dari kayu pohon itu kemampuannya untuk memulihkan diri pasti memiliki batasan dan dengan kerusakan yang sangat parah setelah menerima seranganku, aku sangat yakin dia pasti sudah mati.

__ADS_1


Menghela napas setelah menjatuhkan salah satu monster kayu, aku menjadi sangat kesal dengan ulah monster itu karena telah melubangi rok gaunku, aku kemudian mengangkat pedangku mencapai sudut vertikal tepat di tengah wajahku dengan tatapan lurus dan dingin sebelum akhirnya aku melesat cepat memotong kayu tua menyebalkan itu menjadi beberapa bagian, setelah pohon itu terpotong menjadi tumpukan kayu satu persatu bagiannya berubah menjadi es dan berakhir menghilang menyatu dengan tanah.


Aku senang melihat tumpukan kayu itu pecah menjadi kepingan es, tapi itu masih belum cukup untuk mengembalikan suasana hatiku.


"Sira? apa kau baik-baik saja?"


"M-mungkin akan lebih baik… j-jika paru-paru saya tidak terjepit, nona" sahut Sira.


"Eh! eghh!! m-maaf Sira, aku tidak sengaja" ucapku sembari melepaskan Sira.


"Hah hah hah…! huhh… tidak masalah, nona" sahutnya lagi.


"Ah! syukurlah, maaf Sira… aku tidak menyadarinya."


"Ya, saya juga kurang berhati-hati."


Cukup senang dan terhibur dengan hancurnya pohon-pohon menyebalkan sebelumnya, aku bingun dengan apa yang Sira lakukan karena sejak dari tadi dia terus menepuk-nepuk tanganku bahkan dia juga sedikit meronta-ronta seperti kucing yang tidak ingin dimandikan, tapi ternyata dia bersikap seperti itu karena aku terlalu kuat memeluknya dan membuatnya nyaris kehabisan napas, menyadari itu aku langsung melepaskan Sira dan membiarkannya berbaring beberapa saat di tanah sambil mendorong-dorong perut Sira dengan ujung jariku.


Setelah beberapa saat Sira terbaring, aku sangat lega melihatnya bisa berdiri lagi dengan tegak, untuk beberapa saat terakhir aku berpikir Sira pasti akan mati dan aku sudah membunuhnya dengan tidak sengaja, tapi ternyata tidak, aku senang Sira kucing yang kuat hehehe. •_•


"Yosh! mari kembali ke tujuan awalku... halo semua! apa kalian mau menjadi temanku?" tanyaku sambil tersenyum.


" ... "


"Siapa yang sudi jadi temanmu iblis! aku lebih baik mati daripada harus berteman denganmu!" sahut salah satu pria di kelompok itu.


"H-hei... s-sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini… iblis ini terlalu berbahaya untuk kita" ucap teman wanitanya sembari menarik lengannya.


" … "


Menyapa dengan tanpa banyak basa-basi aku langsung mengatakan keinginanku untuk berteman dengan mereka, aku sangat senang mengatakannya terlebih lagi mereka tidak menyerang ataupun lari ketika melihatku dan itu membuatku bisa berbicara dengan cukup baik, tapi bisa berbicara bukan berarti semuanya akan berjalan dengan mudah, aku benar-benar terkejut dengan reaksi mereka padaku bahkan salah seorang dari mereka mengatakan hal yang cukup menyakitkan dan dengan mata yang tajam mengarah padaku.


Tindakan pria itu kemudian terhenti setelah temannya menarik paksa tangannya untuk pergi menjauh dariku, sementara itu aku hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata melihat mereka pergi.


"Sira?"


"Iya, nona?"


"Apa ada yang salah dengan ucapanku?"


"Tidak, anda mengatakannya dengan sangat jelas."


"Benarkah?"


"Iya, seperti itulah."


"Berati bukan itu masalahnya iyakan?"


"Entahlah, anda mungkin terlalu blak-blakan tentang masalah itu, nona" ucap Sira padaku.


"Aku hanya ingin berterus-terang… ahh!! kenapa harus seperti ini lagi?! padahal aku sudah bisa berbicara dengan baik, lagipula orang seperti apa yang menganggap gadis menggemaskan sepertiku sebagai iblis? menyebalkan" ucapku sembari berjongkok mendekap wajahku di antara kedua lututku.


Berdiri tegak dengan tatapan lurus melihat punggung orang-orang itu pergi, aku masih sangat terkejut dengan reaksi mereka padaku, aku sangat yakin tidak ada yang salah dengan kata-kataku dan Sira sendiri juga mengatakan itu padaku, ini cukup mengecewakan, keinginan yang aku ucapkan pada mereka dengan berterus terang sama sekali tidak tersampaikan dan malah membuat semangatku agak luntur.


"Sebaiknya kita sudahi saja untuk hari ini nona, ayo kita pulang" ucap Sira padaku.


"Ya, kurasa itu lebih baik, ini yg kesekian kalinya dalam hari ini aku dipanggil dengan sebutan iblis… hahh… kuharap esok hari menjadi lebih baik" sahutku sambil kembali berdiri menatap langit yang penuh bintang.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2