
Terbang bebas menikmati indahnya langit biru yang luas dan hutan hijau yang memanjakan mata, hari ini terasa sangat menyenangkan lebih dari hari-hari sebelumnya, dan tentu ini karena aku sudah tidak lagi mendengar gemerincing rantai yang selalu menganggu telingaku.
"Yosh! sekarang aku bisa terbang lebih jauh lagi hehehe~"
Sekali lagi, di hari yang indah ini aku membentangkan sayapku seluas langit biru —hanya bercanda, maksudku mana mungkin aku membentangkan sayapku seluas itu, memangnya selebar apa sayapku dibandingkan langit yang membungkus dunia, tentu saja itu hanya perumpamaan untuk kebebasanku dalam bertindak setelah bebas dari jerat hukumanku meskipun masih ada tantangan yang harus aku jawab.
"Hahahaha... senangnya~ owh! aku hampir lupa! aku ingin tau apakah di sekitar hutan ini ada desa."
Saking senangnya aku bisa terbang dengan leluasa, aku nyaris saja lupa dengan tujuan awalku yang ingin pergi mencari pedesaan terdekat yang bisa aku temukan di sekitar hutan ini, itupun jika ada, seandainya tidak, mungkin aku akan sedikit lebih jauh lagi menuju kota yang dulu pernah aku kunjungi.
"Hm~ di mana!? di mana!? owh! di sana ada orang, sebaiknya aku tanya mereka dulu."
...
"Hup! permisi boleh aku tanya di mana desa.../"
"Lari!!!"
"... terdekat... di sekitar sini? Ugh! aku bahkan
Mengawasi keadaan hutan yang ada di bawahku, sejujurnya aku berniat untuk mencari seseorang untuk ditanyai karena saat ini aku benar-benar buta arah dan tidak tau harus menuju ke mana untuk mencari pedesaan terdekat, tapi saat aku menemukan beberapa orang yang menaiki kereta kuda di salah satu jalan setapak mereka malah berteriak histeris dan pergi meninggalkanku, walaupun kejadian seperti ini sudah tidak asing lagi, tapi rasanya cukup menyedihkan.
"Lupakan saja, sebaiknya aku cari sendiri." °-°
Setelah gagal bertanya pada orang-orang sebelumnya, aku memutuskan untuk pergi mencari sendiri lokasi desa terdekat yang bisa aku jangkau dan meskipun aku bisa terbang sejauh yang aku mau, tapi percuma saja jika aku tidak menemukan tempat yang kucari.
Lama terbang di atas hutan mencari apakah ada desa kecil di sekitar hutan hijau yang luas ini, aku akhirnya menemukan satu yang terlihat seperti bulatan kecil di tengah hutan dan tentunya itu sangatlah jauh, setidaknya aku sangat beruntung karena punya penglihatan yang tajam untuk melihatnya dari kejauhan karena desa itu berada di antara perbukitan yang menjulang tinggi dengan dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun.
"Ugh~ itu cukup jauh, tapi tidak masalah, setidaknya aku menemukan satu."
DUARR!!
"Eh! apa itu?!" ucapku terkejut sembari menoleh.
Baru beberapa meter aku terbang untuk menuju desa kecil yang aku temukan, satu ledakan besar disertai dengan retakan tanah terjadi tepat di belakangku walaupun ledakan itu berlokasi cukup jauh dariku saat ini, tapi suaranya terdengar sampai ke telingaku.
Debu-debu tanah berterbangan membatasi penglihatanku tentang apa yang terjadi di tempat itu, tapi dari arah yang sama aku mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak seolah ada tentara yang sedang berjalan.
"Aura seperti ini... apa mungkin...! ugh~! dasar tulang berlumpur! apa lagi yang akan kalian lakukan?!" sambungku agak kesal.
Aura busuk yang pekat dan bau yang menyengat kembali menghantui indra penciumanku, setelah kurang lebih tiga bulan lamanya aku tidak pernah lagi mencium aroma sebusuk ini, walaupun aku sedang di udara, tapi aromanya bisa sampai padaku dan tentu saja siapa lagi yang mempunyai aroma sebusuk ini jika bukan undead.
Ratusan bahkan mungkin ribuan, mereka terlihat terus bermunculan dari dalam tanah yang retak, saat aku melihat kumpulan undead itu sontak aku langsung teringat dengan si bajingan Kin yang mengganggu kesenanganku saat bertarung melawan iblis Leron.
Melihat itu aku kemudian turun dan mendarat di atas tebing yang cukup tinggi untuk menghadang para undead, karena jika ada pasukan tentu saja akan ada juga pemimpinnya dan aku pasti akan membunuhnya.
"Ah~ benar juga, akan berbahaya jika aku melakukan serangan besar dari sini, terlebih lagi mungkin saja para undead akan terpecah belah mengerumuni desa, ya... kalau begitu, Sira."
...
Dengan memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika aku menggunakan serangan besar pada tentara undead, aku kemudian memanggil Sira tanpa sedikitpun mengubah arah pandanganku dan tentunya setelah Sira tiba di belakangku dia sangat terkejut.
"Eh!? a-apa ini!? ha!? nona?" tanya Sira terkejut.
"Sira, pergilah ke sana dan pastikan tidak ada satupun orang yang terluka" pintaku padanya.
"Eh! y-ya... "
__ADS_1
Sambil mengarahkan telunjukku ke tempat desa kecil dari arah yang berlawanan dengan prajurit mayat hidup, tapi seperti Sira memang masih belum mengerti tentang situasi ini.
"Tapi, ada apa nona?"
"Aku melihat banyak sekali undead di hutan arah sana, jika dibiarkan begitu saja mereka akan sampai di pemukiman warga sekitar hutan."
Dengan sedikit kata-kata tanpa ekspresi kecuali hanya nada yang terdengar datar keluar dari mulutku, karena para undead berjalan lurus ke arah kami, aku yakin Sira dapat melihat kerumunan orang mati itu meskipun kami berada cukup jauh dari lokasi mereka berjalan.
Tampak sudah memahami perkataanku, Sira kemudian pergi secepat yang dia bisa untuk mengurus desa yang aku tunjukkan padanya.
"Baiklah mariku mulai! Sky blue..."
Kumpulan cahaya biru seperti kunang-kunang yang bergerombol menyatu menjadi bola biru sebiru langit di depan telapak tanganku yang aku arahkan pada para undead, bola biru yang tercipta itu mungkin berdiameter kurang lebih 5 meter.
Rambutku yang panjang terurai halus diterpa angin kencang disertai dengan bola biruku yang meluncur membetuk garis lurus diatas hutan yang tebal, bahkan aku dapat melihat garis lintasannya yang menyapu pepohonan seperti debu yang berserakan hingga tiba di barisan depan para mayat hidup.
Satu seranganku sudah cukup untuk membawa ratusan undead kembali ke kematiannya.
Zzttt! DUARR!
Kilatan cahaya merah darah terlihat dengan sangat jelas menghantam langit biruku dari arah yang sebaliknya, bahkan seranganku langsung meledak saat itu juga menghancurkan pepohonan di sekitarnya.
"Ah~ ketemu..."
Hutan tersapu bersih sekitar beberapa kilometer jauhnya, suara ledakan yang tercipta sedikit mengganggu telingaku bahkan debu dan hempasan udaranya sampai ke tebing tempatku berdiri, tapi itu tidak masalah karena akhirnya aku dapat menemukan orang yang mengendalikan para undead.
Meski seranganku hancur sebelum bisa memusnahkan semua undead, setidaknya aku cukup senang karena pemimpin pasukan undead sudah aku temukan.
"Dengan begini tidak perlu ke sana kemari untuk mencarinya."
Tapi, mari kesampingkan dulu masalah itu karena di depanku saat ini ada fenomena yang cukup unik di mana ada banyak sekali kepingan salju yang bertaburan tertiup angin hingga terlihat menyatu dengan sapuan udara, dan mungkin saja semua itu terjadi karena efek dari penggunaan sihirku, secara garis besar seranganku memang menggunakan sihir es, jadi itu sudah cukup menjelaskan fenomena salju di tengah hutan hijau ini.
"Baiklah, sekarang tinggal mencarinya" ucapku sambil terbang ke atas kumpulan undead.
Aku dapat melihat banyak sekali gerombolan undead dari balik kabut debu yang tebal meskipun itu hanya menyisakan sedikit penglihatan, dan di dalam sana aku melihat sesuatu yang mencurigakan sebuah pergerakan yang terlihat berbeda dari kebanyakan undead.
"Ah~ akhirnya ketemu, dia di sana."
Setelah mengawasi bayang-bayang aneh itu dengan teliti, aku sangat yakin bahwa orang di balik kepulan debu itu adalah dalang dari pergerakan para undead.
Aku langsung memegang erat pedang bunga mawarku sebelum akhirnya aku meluncur untuk membunuh pimpinan pasukan undead itu.
Sstt!
...
Whuuss!
"Eh! di mana dia?"
Pedangku terasa sangat ringan saat aku mulai menebaskannya pada bayangan mencurigakan yang aku lihat, seakan-akan aku hanya menebas udara kosong.
"Aku tidak bisa merasakan auranya" kataku bingung.
Apa itu fatamorgana? jelas sekali itu tidak mungkin, aku tidak mungkin berhalusinasi dalam kondisi seperti ini, tapi nyatanya yang aku tebas hanyalah segerombolan undead dan tidak ada satupun mayat dari bayangan yang ingin aku bunuh.
Crakk!
__ADS_1
"Ugh! ini akan merepotkan! mungkin sebaiknya aku singkirkan dulu mayat-mayat ini."
Dikarenakan masih ada banyak undead yang berkeliaran di sekitarku hingga menyerangku berulang kali, aku lebih memilih untuk menghilangkan bau-bau busuk ini ketimbang harus mencari pemimpin mereka.
Terlebih lagi jika pasukannya habis kemungkinan besar pemimpin mereka akan keluar menunjukkan batang hidungnya padaku.
"Baiklah, di mana kau bersembunyi?" ucapku pelan sambil terus memotong-motong tubuh undead dan sejujurnya aku benci melakukan ini.
Undead memang terlihat mengerikan, tapi itu tidak sebanding dengan ketajaman pedangku jika aku sudah marah, aroma busuk mereka menusuk tajam ke hidungku, sejak awal seharusnya aku belajar dari pengalamanku yang dulu dan tidak bersinggungan langsung dengan para undead ini, mereka mengotori tangan dan gaunku dengan cairan sebusuk bangkai.
"Aaaghh!!! cepatlah keluar dasar penakut!! aku sudah muak dengan bau-bau inii~!!"
Awan menghitam menggumpal seperti permen kapas seakan segera turun badai dari langit, bukan suara petir ataupun kilatan cahaya yang bergemuruh, tetapi yang paling jelas terdengar adalah suara gemerincing dari miliaran jarum es yang saling bergesekan di udara dingin.
Aku menunggu kemunculan dari pimpinan undead ini sambil terus mengangkat tinggi pedangku mengarah ke kumpulan awan-awan yang berubah menjadi jarum, aku benar-benar muak dengan semua aroma tidak sedap ini.
"Oh~! seperti kau memang memancing kemarahanku... baiklah jika itu maumu, aku sudah memperingatkan... Needle Rain!"
Aku sudah sangat jengkel dengan semua undead ini, terlebih lagi pimpinan mereka tak kunjung keluar walaupun aku sudah menghancurkan setengah dari jumlah tentaranya, dan karena itu aku kemudian menggunakan sihir jarum es yang aku jatuhkan menghujani sisa-sisa pasukan undead, bahkan hingga menghantam hutan di sekitarku tanpa celah dengan jangkauan yang terbilang luas.
"Kilatan itu... ah~ dia di sana ya, akhirnya aku menemukanmu" ucapku tersenyum memperlihatkan taringku.
Di dalam redupnya cahaya matahari yang terhalang awan hitam dan debu yang berterbangan, setelah aku melancarkan serangan pandanganku langsung tertuju pada kilatan petir yang sama persis dengan apa yang sebelumnya menghantam sihir langit biruku.
Aromanya seperti darah yang berhamburan, walaupun secara garis besar aku memang berada di antara undead yang kini kembali menjadi potongan mayat, dan aroma darah memang tercium sangat pekat meski lebih dominan ke arah bau busuk.
Aku tidak sedikitpun memalingkan wajahku dari arah kilatan merah itu untuk memastikan bahwa dia tidak lari lagi dariku, hanya satu arah dan aku tidak peduli dengan sisa-sisa undead yang berjalan menuju ke arahku karena tanganku terus bergerak menebas mereka.
Cring!
"Eh!? ada apa dengan tubuhku!?"
Untuk sesaat suara lonceng terdengar menggema di telingaku dengan sangat jelas dan seketika itu juga tubuhku langsung terhenti, tubuhku terasa kaku hingga aku tidak bisa bergerak sedikitpun.
Cring!
"Ha!? apa ini? aku tidak bisa bergerak! apa mungkin... lonceng itu!?"
Cring... cring... cring... cring...!
"S-sihir apa yang dilakukannya? iramanya semakin cepat... Arrgh!!"
Samar-samar dari balik debu yang tebal aku melihat seseorang yang sedang menari dengan irama hentakan lonceng yang menggema, orang itu jelas bukan undead karena setiap gerakannya sangatlah teratur sangat berbeda dengan undead yang bergerak membabi buta untuk menyerangku.
Diiringi dengan suara lonceng yang semakin cepat seluruh tubuhku terasa sangat sakit seakan aku sedang dicabik-cabik dari dalam, sangat sakit hingga cukup untuk membuatku memuntahkan banyak darah.
"Sudah cukup! ini menyebalkan! kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan trik murahan seperti ini..."
DUAR!!
"... TIDAK AKAN PERNAH!!!" teriakku dengan keras sembari menghentakkan kaki.
Cring!
Di saat yang bersamaan dengan aku yang menghentakkan kaki kananku hingga tanah bergetar dan hancur, aku juga menebaskan pedangku menghilangkan batasan debu tebal yang menghalangi penglihatanku.
Akan tetapi, sepertinya orang itupun tidak tinggal diam ketika aku bisa melepaskan diri, dia langsung bertindak cepat dengan melayangkan tiga buah tombak merah ke arahku, tapi tentunya aku bisa dengan mudah menangkis semua serangan itu.
__ADS_1
"Oh~ akhirnya kau menunjukkan dirimu!"
...🌹🌹🌹🌹🌹...