
"Aaaaa!!!!"
Ini memalukan sekali, bagaimana bisa? kenapa ini bisa terjadi?
Kepalaku terasa panas aku yakin pasti keluar asap dari ubun-ubunku, aku dapat merasakan wajahku sedang memerah dan pastinya itu terjadi karena rasa malu yang menjadi-jadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? apa ini hanya mimpi? tapi ini benar-benar tubuh manusia."
Pakk Pakk
"Aa!! sakit! ini nyata, tapi bagaimana bisa?"
Aku mulai meraba-raba kembali tubuhku baru ini untuk memastikannya sekali lagi, walaupun ini sudah sangat jelas, aku juga menepuk-nepuk wajahku kalau-kalau ini cuma mimpiku saja, tapi sekali lagi ini adalah kenyataan.
"Nona?!" panggil Sira.
"A-apa kau sudah mendapatkannya?" tanyaku sambil memeluk tubuh baru ini dari balik dinding kristalku.
"Y-ya... hanya jubah." jawabnya.
"L-lemparkan ke sini."
Wuss...
"T-terima kasih."
Dari mana dia mendapatkan ini, apa ini bisa dipakai? agrhh!! setidaknya ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Setelah beberapa saat kemudian Sira datang dengan membawakan sebuah jubah hitam bertudung, walaupun aku sedikit bingung apakah itu masih bisa disebut sebagai jubah atau tidak.
Jubah itu terlihat sangat usang dan ada sobekan di beberapa bagian, tapi itu jauh lebih baik daripada tidak pakai apa-apa.
"Huhh... setidaknya ini masih bisa dipakai." Ucapku sambil bercermin dikristal.
Aku kemudian membatalkan sihir dindingku dan perlahan berjalan dengan tegak, bisa dibilang ini pertama kalinya aku berjalan dengan kedua kakiku karena biasanya aku berjalan dengan empat kaki β termasuk tangan β walaupun dulu aku memiliki tangan yang mirip seperti tangan manusia, tapi aku masih menggunakannya untuk berjalan.
"Tubuhku ringan, rasanya juga sangat mudah digerakkan, kulitku... wahh...! lembutnya, aku tak pernah tau kalau aku seputih ini, kuku hm... ini terlihat imut hehe, tapi kenapa tanduk dan sayap ini masih menempel?" ucapku sambil mengamati setiap inci tubuhku.
Kulitku terlihat sangat putih dan juga lembut tak hanya kulit, tapi juga rambut dan sayapku juga terlihat berwarna putih.
Aku memiliki rambut yang panjang menutupi bagian belakangku sampai ke pinggul, hampir tidak ada warna lain yang terlihat selain warna putih.
Kuku-ku tampak sedikit runcing, tapi aku tidak masalah dengan itu karena aku menyukai itu, aku merasa itu terlihat imut hehehe.
"Owh... bagaimana dengan wajahku?"
" ... "
"Kenapa harus wajah ini..."
Karena sedikit penasaran dengan bentuk wajahku aku memunculkan kembali cermin kristal di depanku, aku benar-benar tercengang melihat wajahku sendiri, aku seperti melihat masa lalu dari wajahku ini.
"M-M-maaf nona, maaf nona, a-anu s-saya tidak sengaja." Ucap Sira dengan panik sambil beberapa kali menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-a... apa ini? air? dari mana?"
.
.
"Eh! aku... menangis... kenapa?"
Aku sedikit kebingungan melihat ada setetes air yang menetes di atas tanganku, melihat itu membuatku kembali mengarahkan pandanganku ke arah cermin dan betapa terkejutnya aku ternyata air itu adalah air mataku sendiri.
"Hiks... hiks..."
Air mataku menetes dengan sendirinya, aku bahkan tidak bisa menghentikan tetesannya, setiap kali aku mencoba untuk menghentikannya air mataku mengalir deras membasahi pipiku seperti ada lonjakan emosional yang terjadi di dalam diriku.
"A-A-anu nona, s-saya tidak.../
"T-tidak apa-apa, ini bukan salahmu, aku hanya teringat sesuatu, maaf membuatmu khawatir." Ucapku sambil menghapus air mata dari pipiku.
__ADS_1
Aku terus mengusap air mataku agar berhenti menangis sampai akhirnya aku bisa mengehentikan tangisanku, sambil masih mengusap wajahku aku perlahan duduk di atas bongkahan batu kristal.
Kenapa harus wajah ini lagi, apa kehidupan menyedihkan itu akan kembali terulang juga?
"Tidak, ini berbeda, kuharap ini bukan pertanda buruk." Ucapku pelan.
"Ada apa nona?" tanya Sira padaku.
"T-tidak bukan apa-apa, tak perlu dipikirkan."
Kriuk kriuk
" ... "
"Y-yahh... sebaiknya kita sarapan dulu."
"Saya rasa juga begitu." Ucap Sira.
Aku kemudian membuka dimensi penyimpananku lalu memasukinya untuk mengambil beberapa potong daging dan memeriksa keadaan para monster naga yang ada.
...
"A-apa dulu aku memang makan sebanyak ini?" ucapku sambil melihat ke tumpukan monster di depanku.
Aku sedikit terkejut melihat tumpukan monster di depanku, jelas ada perbedaan ukuran yang sangat jauh setelah aku berubah menjadi manusia, jika dibandingkan dengan tumpukan monster itu aku terlihat seperti seekor tikus kecil.
"Sekarang bagaimana caranya aku mengambil dagingnya? tangan ini terlalu kecil untuk mengoyak cangkang besar itu."
Krakkkk
"Eh!"
"Kenapa bisa hancur? aku tidak memukulnya."
Saat aku memegang cangkang monster raksasa itu tiba-tiba saja cangkang itu retak dan hancur membuatku dapat melihat isi dagingnya dengan sangat jelas, serius aku hanya memegangnya dan tidak tidak memukulnya sama sekali, aku memegangnya hanya untuk memastikan ketebalan cangkang itu, tapi tidak kusangka itu yang terjadi.
Sepertinya kekuatanku bertambah berkali-kali lipat saat aku berubah tadi, tidak mungkin puluhan kali lipat lebih besar dari sebelumnya.
Jujur saja aku sangat terkejut mengetahui kekuatanku ini, kupikir hanya tubuhku saja yang berubah, tapi ternyata kekuatanku juga ikut bertambah besar.
"Aku memang sudah menduga ada yang berbeda dengan diriku, tapi aku tidak menyangka bahwa akan sekuat ini." Ucapku sambil menggenggam tanganku.
Setelah mengetahui kekuatanku ini aku memutuskan untuk sedikit berhati-hati saat menggunakannya, jika tidak mungkin akan membahayakan orang-orang sekitarku terutama bagi Sira, yah mungkin saja dia akan terbunuh secara tidak sengaja jika aku tidak berhati-hati.
"Apa kalian sudah jauh lebih baik?" tanyaku pada para monster naga yang ada di dalam kristal esku.
.
.
"Jadi begitu ya... sebentar lagi kalian bisa keluar dari sini."
Walaupun mereka tidak bisa bicara dan masih berada di dalam kristal, tapi aku bisa mendengar dan merasakan detak jantung mereka dan bisa mengerti apa yang mereka rasakan, suara ketenangan itu seperti seekor kucing yang dielus-elus kepalanya,
Mungkin karena mereka sudah menjadi jinak mereka terdengar lebih tenang dari biasanya, itu membuatku sedikit lebih baik.
"Setelah keluar dari sini jadilah naga yang baik yaa, sampai jumpa lagi." Ucapku sambil melambaikan tanganku.
Berharap saja mereka tidak menyerangku saat aku mengeluarkannya dari sini.
Setelah mengatakan itu dan berpamitan dengan para naga itu aku membuka pintu dimensi dan kemudian keluar dari dimensi penyimpanan ini.
...
Sebelum keluar aku mengambil beberapa potong daging untuk sarapan, tentunya sesuai porsi gadis dan sesuai dengan porsi harimau, karena tidak mungkin aku bisa makan sebanyak dulu dengan tubuh ini, bahkan orang-orang juga tidak mungkin bisa memakan daging sebesar rumah seperti itu.
"Oh ya... Sira berapa lama aku berada dalam cangkang telur itu?" tanyaku pada Sira.
"Sekitar empat hari nona."
"Benarkah?" tanyaku memastikannya.
__ADS_1
"Ya... mungkin." jawab Sira.
Empat hari yaa... mungkin itu sebabnya aku merasa sedikit lemas, staminaku pasti terkuras saat aku berevolusi.
Sambil memotong-motong daging itu dengan pisau kecil yang kuciptakan dari es menjadi potongan kecil aku sedikit bertanya kepada Sira dan tidak kusangka ternyata aku berada di dalam sana selama empat hari lamanya, wajar saja kalau aku merasa sedikit lemas.
"Yup ini dia, silahkan dimakan Sira." Ucapku sambil meletakkan piring berisi makanan di depan Sira.
"Y-yah... terima kasih nona."
"Ya sama-sama." Ucapku sedikit tersenyum.
Setelah selesai menyiapkan makanan seperti biasa aku selalu memberikan sebagian pada Sira dan sebagian lagi untukku sendiri, aku memberinya porsi yang besar setidaknya menurutku yang sekarang, jika diingat-ingat itu hanya porsi biasa,
Porsi makanku sendiri hanya beberapa potong kecil daging saja, nafsu makanku benar-benar berubah setelah mendapatkan tubuh ini, tapi kurasa itu lebih baik, kebanyakan makan mungkin akan membuatku gendut.
Aku mengunyah makananku secara perlahan-lahan sampai habis, walaupun perlu waktu untuk menghabiskannya.
"Ada apa Sira?"
"T-tidak ada apa-apa nona."
Hm... apa ada yang aneh dari wajahku?
Selesai dengan makananku aku membuat sebuah cermin kecil di tanganku untuk melihat wajahku sekali lagi, karena dari tadi Sira tampaknya sedang memperhatikanku walau hanya sekilas saja, mungkin saja ada yang aneh dengan wajahku.
"Um... tidak ada yang aneh, mataku... terlihat baik, tunggu bukannya dulu berwarna hitam?! tak masalah aku suka dengan yang satu ini hehe."
"Bagaimana dengan mulutku? tunggu dulu aku tidak pakai lipstik tapi... l-lupakan saja, aaaa...taring? bukan masalah, tapi ini imut hehehe." Lanjutku pelan.
"Tanduk hm... seperti biasa berwarna hitam."
Aku memperhatikan setiap detail wajahku walaupun aku tidak suka melihatnya, tapi ternyata lebih banyak hal baru di wajahku seperti halnya warna bola mataku yang berwarna biru muda cerah dan taring-taring kecil mungil di dalam mulutku dan juga aku sedikit terkejut melihat bibirku berwarna sedikit merah muda walaupun itu terjadi wajar-wajar saja, mungkin.
Ditambah dengan dua tanduk runcing di kepalaku yang berwarna hitam dan akan terlihat sedikit berwarna biru tua kehitaman jika terkena cahaya.
Sepenuhnya tidak ada yang terlihat aneh, tapi...
"Apa ada yang aneh dariku Sira?" tanyaku padanya.
"Eh! a-anu tidak ada apa-apa nona, hehe."
"Hey! jangan bohong padaku Sira."
Sira tampak kaget ketika aku memergokinya sedang memperhatikanku sekali lagi, itu sedikit menggangguku dan semakin membuatku merasa tidak nyaman.
"T-T-tidak, benar-benar tidak ada yang aneh nona."
Kau mencurigakan! awas saja kalau kau memikirkan hal yang kotor, jangan meremehkan aku Sira.
[ Auranya sangat berbeda, bahkan lebih besar dari sebelumnya, para naga mungkin tidak akan menyadarinya dan tidak akan berani untuk mendekat, tapi orang itu pasti akan mengetahuinya, ini berbahaya.] pikir Sira.
Aura? hm... memang benar kalau aku merasa ada sedikit yang berbeda dengan itu, hm... sepertinya aku harus menekannya sedikit lagi, tapi apa maksudnya dengan orang itu? a-apa Sira juga bertemu dengannya? sepertinya aku memang harus berhati-hati.
Karena curiga dengan pikiran Sira apalagi setelah kejadian memalukan itu, jadi aku aku sedikit menjelajahi isi pikirannya, tapi ternyata yang ada dipikirannya hanyalah kekhawatiran tentang keadaanku saja.
Setelah mengetahui itu aku langsung menekan auraku dan menyamarkannya dengan keadaan sekitarku agar tidak ada yang bisa melacak keberadaanku.
"Terima kasih ya Sira." Ucapku sambil tersenyum.
"Terima kasih untuk apa nona?"
"Tidak tidak hanya terima kasih saja." Jawabku.
Mungkin seperti ini perawakan white (rambut, mata, body) π [Ingat ya dia punya dua tanduk dan sepasang sayap putih β bukan seperti sayap burung, tapi seperti sayap kelelawar dan juga matanya agak lebih cerahβ selamat menikmati dan berkhayal.
...~β’~...
...Terima kasih bagi para reader yang sudah mendukung, semoga sehat selalu dan selalu dukung karya saya agar lebih bersemangat π ~Sekali lagi terima kasih~...
__ADS_1