
"Fuuh… dingin, yahh… karena terlanjur berada di luar sebaiknya aku memeriksa kondisi hutan mungkin saja masih ada undead yang tersisa…" ucapku sambil melesat terbang dengan cepat.
.
.
.
"Tapi… hutan yang waktu itu ke arah mana ya? haah… aku harus sering mondar-mandir di hutan ini jika tidak ingin tersesat" ucapku mengawasi keadaan hutan di bawahku.
Terbang tinggi dengan cepat di udara, hembusan angin menjadi sangat terasa di kulitku membuat rambutku yang panjang terurai tak beraturan terkena terpaan angin, karena tidak ada kegiatan yang dilakukan aku kemudian berniat untuk kembali mengawasi keadaan sekitar pertarunganku tempo hari, karena meskipun aku sudah menyisir lokasi dengan penglihatan jarak jauhku dan menghancurkan para undead dari atas tebing tindakanku itu tidak menjamin musnahnya pasukan undead, jadi akan lebih baik jika aku menyisirnya sekali lagi.
Akan tetapi saat terbang dengan menambah kecepatanku aku sedikit kebingungan dengan jalur yang kuambil, ya karena aku baru melewati jalan ini satu kali aku tidak begitu hafal dengan jalurnya apalagi saat ini aku sedang terbang mengudara yang mana pepohonan terlihat seperti sekumpulan brokoli yang tersusun rapi, satu-satunya yang bisa aku jadikan petunjuk adalah hal-hal mencolok sepertu bukit, gunung, dan danau yang ada di hutan ini.
...**** ** ****...
"Hahh… aku juga tidak bisa mencari sungai tempatku di serang monster waktu itu, hutan ini punya banyak sungai…" ucapku menghela napas sambil menatap ke bawah.
"… aghhh!!!! lain kali aku akan menandai hutan ini!!" ucapku kesal sambil kembali menambah kecepatan.
Entah berapa lama aku terbang dan terus mengawasi keadaan hutan di bawahku untuk mencari dan mengingat kembali petunjuk-petunjuk yang telah aku lihat saat pertama melalui hutan ini, bulan yang bersinar terang melewati tebalnya awan kini sudah ada di atas kepalaku dan itu artinya sekarang sudah tengah malam, tapi aku belum juga menemukan aliran sungai tempat aku mendarat sebelumnya dan malahan aku cukup banyak menemukan aliran sungai di hutan ini yang membuatku tidak fokus pada sungai yang sedang kucari dan itu membuatku cukup kesal.
"Sebaiknya aku lurus saja, lagipula tidak ada gunanya terus mengeluh" ucapku terbang lurus.
.
.
.
"Cerah berawan… malam yang bagus…" ucapku menikmati cahaya bulan.
Um... sepertinya aku merasakan sesuatu…
"Tunggu sebentar! bukannya itu tebing… tapi, seharusnya ada bagian yang runtuh dan juga dengan ketinggianku terbang saat ini aku harusnya bisa melihat bekas pertarunganku… tapi… duhh!! sebenarnya ada apa dengan hutan ini!"
Cukup kesulitan untuk mencari sungai yang tepat aku kemudian memutuskan untuk terbang lurus daripada harus berputar-putar tidak jelas karena kebingungan, cukup lama terbang menembus awan dengan cahaya rembulan yang sedang dalam posisi sempurna dan dengan merasakan sedikit aura dari sihir yang kulepaskan sebelumnya.
Aku langsung menoleh ke bawahku dan melihat sebuah tebing besar membentang jauh sampai ke pegunungan sisi kananku, melihat itu aku langsung berhenti melesat dan terus terbang mengepakkan sayapku di tempat yang sama tanpa mengurangi ketinggian, akan tetapi saat berbalik menatap tebing itu aku sama sekali tidak menemukan sisa-sisa reruntuhan pada tebingnya bahkan bisa dibilang tebing itu tidak mengalami kerusakan.
Bingung dengan keadaan tebing aku kemudian kembali berbalik melihat ke arah sebaliknya yang seharusnya adalah tempat terjadinya pertarunganku yang tidak diragukan lagi bahwa hutan itu sudah hancur lebur seperti baru diterjang badai, tapi aku sangat terkejut saat melihat hutan di kawasan itu yang tidak menunjukkan adanya kerusakan sedikitpun.
"Jika tebing dan hutan ini bisa kembali pulih, apa artinya salah satu dari sungai yang kulewati tadi… aghh… sudahlah, aku ingin mengitari jalanan di sana mungkin ada pedagang yang kebetulan lewat" ucapku kembali terbang meninggalkan tebing besar itu.
.
.
"Ini dia… hup! baiklah tinggal menunggu ada yang datang" ucapku sambil mendarat dengan mulus di dahan pohon.
"Um… memangnya ada orang yang akan lewat malam hari seperti ini? yahh… sebaiknya tunggu beberapa menit dulu" ucapku sambil duduk menjuntai.
Tidak habis pikir dengan keadaan hutan yang misterius aku kemudian meninggalkannya sembari melewati area bekas pertarunganku, dan karena aku terbang cukup cepat tak lama setelahnya aku akhirnya sampai di jalanan hutan ini lalu mendarat di atas dahan pohon yang berada di pinggiran jalan.
Melihat ke arah kanan dan kiri jalan aku kemudian duduk di atas dahan pohon itu sambil menjuntaikan kakiku dan menggoyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri menunggu ada orang yang lewat.
...***...
"Tik… tok… tik… tok… tik… tok… tik… hmm… serangga yang lucu hehe"
"Umhh… sepertinya tidak ada, yosh… kalau begitu waktunya berjalan" ucapku sembari melompat turun dari atas pohon.
.
.
"Jalan jalan jalan… apa aku akan bertemu seseorang? apa aku akan menemukan teman? cemilan? makanan? tapi, tunggu aku sudah makan! tidak, itu sudah lama hehehe… makan… makan… aku ingin makan cemilan… hehe" ucapku bersenandung dengan tawa kecil sembari terus berjalan menyusuri jalan raya hutan ini.
DUARR!!
"Eh! ada apa?!" ucapku terkejut menatap ke depan.
"Dari ledakannya sepertinya itu situasi yang berbahaya, yosh! sebaiknya aku membantunya" ucapku sambil berlari.
Duduk menunggu ada orang yang lewat dengan ditemani oleh kumbang hitam di sampingku yang juga menatap ke arah jalan sambil mengikuti pergerakanku menggoyangkan tubuhnya dan itu terlihat sangat lucu, tapi karena bosan menunggu lama tidak ada satupun orang yang lewat aku kemudian turun dari dahan pohon dan memutuskan untuk pergi menyusuri jalanan besar ini ke arah kananku.
Tak peduli dengan suara monster dan makhluk kecil yang mencekam aku mengayun-ayunkan tanganku sambil bersenandung kecil dan terus berjalan dengan senyuman juga suasana hati yang bagus, tapi setelah jauh berjalan melewati jalan ini tiba-tiba saja sebuah ledakan keras terdengar memecah keheningan malam, membuat suara serangga tidak lagi terdengar karena suara ricuh dari para monster yang terkejut, ya bahkan aku sendiri juga ikut kaget dengan suara ledakan itu dan langsung berlari ke arah sumber suaranya.
...***...
Sudah kuduga! ada orang yang sedang bertarung!
"Tapi... kenapa aku tidak merasa ada monster di sekitar sini? apa jangan-jangan…!" ucapku sambil berjalan pelan menuju arah pertarungan.
Berlari cukup cepat karena jarak yang jauh aku dapat melihat adanya warna merah menyala dan asap hitam yang berada tidak jauh dari jalanan dan nampak dari kejauhan seperti sebuah kebakaran di tengah cahaya rembulan, tak lama setelah itu aku akhirnya sampai di dekat area pertarungan itu dan mendengar ada banyak suara benturan keras dari pedang yang bertabrakan.
Sontak saja aku langsung menghentikan langkahku dan perlahan berjalan masuk ke dalam semak-semak untuk mengawasi keadaan orang-orang yang bertarung itu, tapi hal yang cukup membuatku merasa kebingungan aku sama sekali tidak merasakan adanya keberadaan monster dan malah aku merasakan ada banyak manusia di sana dan itu membuatku merasa khawatir.
...***...
"Hahahaha!! bunuh mereka semua!! tapi, jangan bunuh yang wanita!" ucap orang berotot yang sedang memegang pedang.
__ADS_1
Mereka bandit, ini tidak bisa dibiarkan orang-orang itu pasti akan mati!
"Kau! kumpulkan barang-barang mereka!" ucapnya lagi.
"Baik ketua!" sahut orang yang lebih kecil.
"HAHAHAHA!!! malam ini kita akan bersenang-senang!!"
"YA!!!!!"
...***...
"Permisi!"
"Ha…/?"
"HARGHHHH!!!!!"
Krak!
DUARRR!!!!
"Ketua!!
Perlahan mengintip dari balik pepohonan aku sangat terkejut melihat ada sekelompok orang yang melakukan perampokan dan menyerang sekelompok orang lainnya yang sudah terlihat tidak berdaya menghadapi mereka.
Dan di hadapanku berdiri seorang dengan perawakan tinggi berotot besar dengan menggenggam pedang yang juga terlihat besar sedang memerintah bawahan untuk membunuh dan merampas barang-barang dari kelompok yang sudah mereka kalahkan.
Orang-orang itu tertawa terbahak-bahak melihat banyak korban mereka yang tergeletak bersimbah darah, para penjahat itu juga menyeret paksa empat orang perempuan yang sudah terluka cukup parah masuk ke dalam gerobak, melihat itu darahku seakan mendidih dengan kepalan tangan yang sangat kuat.
Berjalan perlahan keluar dari semak-semak aku menghampiri pria berotot kekar yang sejak tadi memerintah bawahannya untuk membunuh dan merampas barang-barang dari korbannya, berada tepat di belakangnya aku kemudian manggilnya untuk menoleh ke arahku dan setelah itu dengan satu ayunan kuat dari kepalan tanganku aku memukulnya tepat di wajahnya hingga kepalanya hancur, dan membuat sebuah parit besar di tanah yang memutus jalanan hutan karena tekanan dari pukulanku.
"Katakan padaku, siapa lagi yang ingin mati?!!" ucapku marah dengan tatapan tajam sambil mengubah gelangku menjadi pedang.
"S-serang!!"
"Bagus, aku tidak akan segan membunuh kalian!"
Ssttt Ssttt
""Arghh!!""
""Arghh!!""
Dengan tatapan tajam yang sangat marah aku kemudian mengubah gelangku menjadi pedang lalu mengarahkannya pada sekelompok bandit itu, setelah aku membunuh ketua mereka dengan satu pukulan keras yang membuat tanah bergetar semua perhatian orang-orang itu tertuju padaku, dan sembari memegang erat senjatanya salah seorang dari mereka menyerukan kepada rekan-rekan untuk menyerangku.
kurang lebih ada sekitar 37 orang bandit yang menyerangku secara serentak dengan mengarahkan senjata-senjata mereka, tapi dengan cepat aku membuat kuda-kuda lalu melesat menebas barisan terdepan mereka hingga terbelah dua bahkan membuat sisanya gemetaran dengan keringat dingin yang bercucuran saat melihatku menatap mereka.
Ssttt Ssttt!
""Arghh!!""
""Arghh!!""
"Tidak! a-aku menyerah j-jangan bunuh aku!" ucap salah seorang bandit terjatuh ketakutan.
Ssttt!
"ARGHHH!!!"
"Ha!! dasar licik!! sebaiknya kau mati saja!" ucapku sambil menebasnya.
Berani berbuat kejahatan artinya berani menerima konsekuensinya, tapi baru melihat beberapa rekannya terbunuh di tanganku mereka malah gemetar dan ketakutan seakan ingin menjatuhkan pedangnya, melihat itu membuatku merasa muak dengan mereka dan kembali menyerang mereka satu persatu bahkan pedang mereka hancur karena tidak kuat menahan tebasanku.
Terjatuh karena seranganku salah seorang dari para bandit itu perlahan bergerak mundur dengan ekspresi panik bercampur dengan takut saat aku mendekat ke arahnya, sampai akhirnya dia terpojok di sebuah batang pohon dan kemudian menyerah sambil bersujud padaku dengan suara yang terbata-bata, melihat orang yang menyerah seperti itu membuatku terhenti dan berniat untuk tetap membiarkannya hidup.
Akan tetapi, saat aku berbalik untuk menghadapi sisanya dia malah mengangkat sebilah belati dan berniat akan menusukku, tapi cara kuno seperti itu tidak akan berhasil padaku aku langsung menebas kedua tangannya sampai dia kembali terjatuh dan tersandar di pohon dengan kedua tangan yang putus, tak hanya itu aku juga menggores lehernya hingga darahnya menyembur ke segala arah dan mati perlahan dengan rasa sakit.
"Kalian menyerahlah! selagi aku berbaik hati…" ucapku pada mereka.
" … "
"… kalian tidak akan menemukan kesematan kedua dari penawaranku" sambungku sembari mengangkat pedang.
" … "
"Bagus… kau yang di sana, ikat teman-temanmu!" ucapku sambil meminta salah satu bandit itu untuk mengikat tangan rekan-rekannya.
"B-baik…!" sahutnya sambil mematung.
Menatap tajam ke arah sembilan orang anggota bandit yang tersisa aku menyarankan kepada mereka agar menyerah tanpa perlawanan, aku bukannya ingin terlalu baik pada mereka, tapi aku hanya tidak ingin terlalu banyak mengotori tangan dan gaunku.
Akan tetapi, mereka semua hanya terdiam tanpa berkata-kata dengan ekspresi sangat ketakutan, mereka mungkin terlalu fokus pada rasa takutnya daripada mendengarkan ucapanku, melihat itu aku langsung menegaskan bahwa aku tidak akan memberi kesempatan kedua pada mereka jika tidak ada yang mau menyerah, dan karena itu satu persatu dari mereka menjatuhkan semua senjatanya lalu mengangkat kedua tangan ke belakang kepala mereka masing-masing.
Aku kemudian meminta kepada salah seorang bandit yang berada tidak jauh dariku untuk mengikat teman-temannya agar tidak melarikan diri saat aku berpaling, meskipun jika itu terjadi aku tidak akan membiarkan satupun dari mereka yang melarikan diri.
…
"Satu masalah sudah selesai, sisanya tinggal… keadaan mereka sangat parah, akan sangat berbahaya jika tidak ditolong" ucapku duduk berjongkok sambil menatap ke arah salah seorang dari korban bandit yang sedang terluka bersimbah darah.
Tapi, apa aku bisa?
__ADS_1
"Tidak, tidak ada ada waktu memikirkannya… resiko yang mereka alami jauh lebih besar dari yang akan aku dapat, kalau begitu… zona sihir: heal" ucapku sambil menggunakan sihir penyembuhan area.
Deg!
"Akhh!! kupikir bisa istirahat sebentar… ahh… ternyata sihirku dibayar secara instan! glek! tapi, syukurlah penyembuhannya berhasil…"
Sambil mengawasi bandit yang aku minta mengikat temannya aku juga berjalan menuju ke salah satu korban kejahatan para bandit itu yang kini sedang terkapar dengan banyak darah yang mengalir dari tubuhnya, sekilas aku merasa ragu menggunakan sihirku untuk menyembuhkannya mengingat aku kini sudah kembali terikat oleh rantai kutukan dan tidak bisa menggunakan kekuatanku dengan bebas.
Tapi, melihat darah dan luka dari orang-orang itu aku kembali berpikir bahwa apa yang akan aku rasakan jauh lebih ringan daripada resiko yang mereka dapatkan, mereka akan mengalami kematian yang menyakitkan sedangkan untukku hanya merasakan sedikit rasa sakit saja dan karena itulah aku kemudian langsung melepaskan sihirku untuk menyembuhkan mereka yang terluka parah.
Aku menggunakan sihir penyembuhan dengan membuat sebuah zona sihir yang mencakup semua orang itu, dan seketika saja cahaya biru cerah menyelimuti tempat ini dengan butiran kecil cahaya yang juga mengambang di sekitar tempat ini, meskipun sihirku berhasil mereka tetap belum sadarkan diri.
Dan walau sihirku terlihat sangat indah di malam hari, tapi sayangnya aku tidak bisa menikmatinya dengan tenang karena hanya dengan beberapa detik setelah aku menggunakan sihirku rantai kutukan itu langsung aktif dan memanas seolah membakar leherku, aku merasa besi itu sangatlah panas dan membuatku sedikit kesulitan untuk bernapas sama seperti rantai kutukan yang sebelumnya.
"Baiklah, kesampingkan dulu masalah ini, lagipula ini masih ringan" ucapku sambil perlahan berdiri.
Gaunku kotor, seharusnya aku berhati-hati saat membunuh orang… ya sekali lagi tidak masalah bukan... freezing...
"Yosh… sudah bersih! woi!! jangan lupa ikat dirimu juga! dan jangan berpikir untuk bisa lari dariku! mengerti!" ◉_◉
"Ba-baiik…"
Setelah selesai mengobati orang-orang yang terluka perlahan aku kemudian berdiri dengan sedikit bertumpu pada pedangku sebelum akhirnya aku mengubahnya menjadi gelang, aku juga menggunakan sihirku untuk membekukan bercak darah yang ada di gaun dan tubuhku lalu menghancurkannya berkeping-keping agar tidak kesusahan untuk membersihkannya nanti, karena noda darah cukup sulit untuk dihilangkan.
Aku kemudian berbalik menatap pekerjaan bandit yang yang telah aku perintah sebelumnya, dia benar-benar mengerjakan tugasnya mengikat teman-temannya yang terlihat sudah pasrah dengan nasipnya di sebuah batang pohon dengan tangan yang gemetaran, aku juga memintanya untuk mengikat dirinya sendiri dan mengancamnya untuk tidak melarikan diri.
"Hah… tinggal menebaskan sanderanya" sambungku sembari menatap ke arah keempat perempuan yang sebelumnya ditangkap oleh bandit.
...
"Kalian tidak apa-apa?" tanyaku pada para perempuan itu.
"" …! ""
Luka mereka sudah sembuh… tapi, haaah… memangnya seseram itukah aku di mata mereka?
Aku perlahan berjalan ke arah para gadis yang ada di atas gerobak dengan melewati para bandit itu sembari sedikit memberi tatapan intimidasi agar mereka tidak macam-macam, sesampainya di depan para gadis itu aku kemudian memeriksa kondisi mereka yang tampaknya sudah sembuh dari luka-lukanya, tapi aku harus melihat dari jarak satu meter karena mereka terlihat sangat ketakutan saat melihatku bahkan ketika aku bertanya mereka hanya terdiam dengan wajah pucat sambil berusaha menggeser posisi duduknya menjauh dariku.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku bukan orang jahat loh… aku hanya ingin menolong kalian…" ucapku sambil melepaskan ikatan pada tangan dan kaki mereka.
"Meskipun tidak semua bisa kutolong" sambungku pelan sembari menunduk.
" … "
"Maaf karena aku tidak bisa menyelamatkan beberapa teman kalian…/"
"Akh…!" rintih seseorang perlahan bangun.
"Sepertinya mereka sudah sadar, kalau begitu aku pamit pergi, permisi" ucapku sembari terbang meninggalkan mereka.
***
"Ah… aku tidak sanggup jika harus melihat ekspresi mereka, kenapa semua orang tidak mau menerima keberadaanku?"
Sambil melepaskan satu persatu ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki mereka aku berbicara cukup banyak dengan para perempuan itu, meskipun tidak ada yang berani menyahut ucapku, aku juga meminta maaf kepada mereka karena aku tidak bisa menyelamatkan sebagian teman-teman mereka dikarenakan aku datang cukup terlambat.
Tak seberapa lama kemudian setelah aku selesai melepaskan semua ikatan tali mereka ada beberapa orang perlahan mulai bangun dengan sedikit merintih, melihat itu aku kemudian langsung pamit pergi dari tempat itu karena aku tidak ingin membuat orang-orang itu ketakutan, dan memang karena aku juga tidak bisa melihat ekspresi wajah sebanyak itu dalam satu malam.
"Sebaiknya aku mengurus diriku sendiri… rantai ini sangat tidak bersahabat" ucapku sambil mempercepat kepakan sayapku.
*****
"Hah hah hah… sakit! ini gawat… ini masih sangat jauh dari rumah! sebaiknya aku berhenti sebentar" ucapku menatap ke bawah.
.
.
"Ekhh!! haah… padahal aku sudah secepat mungkin terbang pulang, tapi malah hanya sampai sini… akh! tidak boleh disentuh ya…" ucapku berbaring di atas padang rumput sambil menatap tanganku yang terbakar.
Terbang meninggalkan orang-orang itu rantai kutukan di leherku terasa sangat membebaniku saat aku mengepakkan sayapku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendarat di atas sebuah bukit kecil yang berlapis rerumputan hijau, aku langsung berbaring terlentang menatap ke arah langit cerah yang dihiasi bintang sembari merasakan rasa sakit yang sejak tadi menggerogoti leherku, bahkan saat aku menyentuh rantai itu tanganku seketika saja terbakar dan melepuh seolah menyentuh besi panas.
"Maafkan aku… lagi-lagi aku melanggarnya…" ucapku sambil memejamkan mataku.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...~Frenya~...
"Kebaikanmu tidak pernah berubah Shea, bahkan sejak kecil."
"Hehehehe… anak-anak memang harus dimanja tidak terkecuali denganmu Shea" ucapku sambil tersenyum.
Mengawasi Shea sejak dia makan malam aku benar-benar melihat banyak hal walaupun hanya dalam satu malam keceriaan, semangat yang tinggi, sedih, rapuh, konyol, polos, dan sikap kepedulian yang tinggi Shea benar-benar orang yang menarik dan sangat berbeda dengan para naga lainnnya, tapi memang seperti itulah sifat anak-anak.
Aku duduk menemani Shea yang tertidur pulas di atas bukit rumput, setelah rantai kutukannya aktif saat dia menggunakan sihir penyembuhan pada sekelompok orang, aku mengangkat kepalanya lalu meletakkannya di atas pahaku sebagai bantal untuknya berbaring sambil sesekali tersenyum mengelus-elus kepalanya.
Wajah tenangnya ketika dia tertidur terlihat sangat imut sampai-sampai aku merasa tidak ingin jauh darinya karena ingin terus melihat wajah itu dari dekat.
"Untuk malam ini dan seterusnya aku akan menjaga dan menemanimu sampai kau bisa memikul segala bebanmu."
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1