I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 30: Serangan Naga Dan Tatapan menyeramkan


__ADS_3

Graahhhhhh!!!


"Apa itu, Sira?"


"Entahlah tuan, tapi sepertinya itu masalah yang besar." Ucapnya dengan ekspresi wajah tegang.


Setelah cukup beristirahat aku dan Sira kembali melanjutkan perjalanan menuju lantai lima belas karena aku mengingat ada beberapa monster beku yang masih tersisa, perjalanan kami benar-benar dipenuhi canda tawa, ini pertama kalinya aku tertawa dengan sangat gembira.


Tapi secara tiba-tiba semua itu berubah menjadi sangat tegang setelah kami mendengar suara raungan menyeramkan yang menggema di seluruh penjuru.


Dup! Dup! Dup!


Suara langkah kaki besar berjalan ke arah kami dan tak lama kemudian sosok pembuat suara itu keluar dari balik kegelapan dan menatap kami dengan tatapan tajam dan dengan mata yang merah menyala.


"Naga!" ucapku dengan kaget


Naga hitam besar muncul di hadapan kami, tubuhnya seperti singa dengan kepala dan ekor seperti kadal, tubuhnya dipenuhi oleh sisik hitam kemerahan dengan dua tanduk di moncong depannya sepertinya badak, taring-taringnya terlihat sangat jelas bahkan air liurnya menetes keluar dari sela-sela taringnya itu menambah kesan yang menakutkan.


tubuhnya memang sedikit lebih kecil tapi tampangnya jauh lebih menyeramkan dariku, aku ini lebih cantik dan anggun ok, tidak sepertinya yang bahkan hantu akan lari ketika melihatnya.


Sira hanya terdiam dengan posisi siap bertarung menatap ke arah naga hitam itu yang terlihat akan menyerang, naga itu meliriknya sebentar lalu kemudian kembali menatapku dengan tatapan tidak ramah dan sangat marah.


Dasar kadal pengganggu, apa kau tidak tau kalau aku sangat lapar, dan lagi apa-apaan tatapan itu kenapa cuma aku yang kau tatap seperti itu?


"Sira berlindunglah di belakangku!" ucapku dengan pelan tanpa menurunkan kewaspadaanku pada naga itu.


Graahhhhhh!!!


Sstttt


Naga itu menyerang kami menggunakan cakar tajamnya yang disertai dengan sihir angin jarak jauh, tapi dengan sigap aku langsung mengangkat Sira lalu melompat ke samping untuk menghindarinya, serangan itu kemudian mengenai bebatuan yang sebelumnya ada di dekatku, seketika semua batu-batu itu terbelah dan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.


Serangannya cukup berbahaya jika terjadi langsung, aku harus berhati-hati!


"Bagaimana keadaanmu Sira?"


"Saya baik-baik saja tuan, terima kasih." Jawab Sira.


"Syukurlah kalau begitu... dia akan memulai serangannya kembali, sebaiknya kita bersiap untuk menghadapinya."


"Baik, tuan."


"Awas!!"


Szzzttt Doarrr


Seperti yang kuduga dia kembali melancarkan serangan dari ujung tanduknya keluar serangan seperti sambaran petir yang langsung mengarahkan pada ku dan Sira, tapi aku menahannya menggunakan sihir bumi dengan mengangkat permukaan tanah yang ada di depanku seperti sebuah dinding kokoh yang tebal.


Belum sempat satu menit aku mengingatkan Sira, naga itu telah menyerang kami secara beruntun menggunakan sihir petir yang menyambar keluar dari ujung tanduknya, beruntung aku sudah menyiapkan rencana untuk itu jadi aku bisa dengan mudah memblokir serangannya tanpa tergores sedikit pun.


Ssttt Ssttt


"A-a...!"


"Tuan!!"


Aku terlalu bangga dengan pertahanan dinding yang kubuat sehingga aku lupa kalau naga itu adalah naga bumi dia bisa mengendalikan tanah di sekitarnya, naga itu mengubah tanah pijakanku menjadi ranjau paku besar yang langsung menusuk dan mengunci pergerakanku, untungnya Sira ada di dalam genggaman tanganku jadi dia tidak terkena serangan itu.


Tubuhku memang bisa menghindari serangan itu, tapi tidak dengan sayapku mereka berlubang dan robek, lembaran kulit tipis tanpa sisik itu tidak mungkin bisa menahan tusukan benda runcing seperti ini.


Salah satu risiko mempunyai sayap yang lebar dan besar adalah sayap itu mudah sekali terluka dan menjadi sasaran empuk lawan saat sedang bertarung, seperti yang sedang kualami saat ini.


"Aku sedikit ceroboh... tenang saja Sira, ini bukan masalah besar."


[ Frozen Eyes ]


Krak... Crash

__ADS_1


"Diamlah di atas sini Sira, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Ucapku sambil meletakkan tubuh Sira di atas tebing batu.


Aku membekukan semua ranjau itu dan menghancurkannya, kemudian meletakkan Sira di atas tebing yang tidak jauh dari aku berdiri saat ini agar dia tidak terlibat dalam pertarungan antar raksasa ini, tubuhnya bisa gepeng kalau terinjak.


Sstttt


Naga itu kembali menyerangan kali ini dia menggunakan sihir buminya yang berbentuk seperti tanah yang runcing sama seperti ular yang pernah kulawan sebelumnya hanya saja lebih besar.


Duarrrrr


Tapi, dengan cepat aku menghindari serangannya dan dan langsung berlari untuk beradu tinju dengannya, dia tidak bisa mengepalkan tangannya sama sepertiku, tapi cakarnya tiga kali lipat lebih panjang dariku.


Kenapa aku tidak menggunakan sihir mata beku seperti biasanya, padahal dia akan mati dengan mudah jika terkena serangan itu? nyatanya tidak semudah itu, aku sdh pernah melakukan itu, tapi tampaknya dia bisa menahan efek dari Frozen Eyes sehingga dia masih terlihat segar bugar tanpa berubah menjadi patung es, jadi aku memilih untuk melakukan adu fisik dengannya karena itu akan sangat menguntungkan.


Ssttt


Bumm Duarrrrr


Setelah aku menghindari beberapa serangannya aku berhasil mendekatinya dan langsung mendaratkan satu pukulan tepat di wajahnya itu membuatnya sedikit terpental dan menghantam dinding labirin.


" B-bagaimana mungkin?!"


Melihatnya terjatuh aku kemudian bersiap untuk pukulanku yang kedua, tapi tiba-tiba ada sebuah tombak tanah yang berhasil menembus tubuhku lebih tepatnya di bagian perut samping kiri, seketika saja aku langsung menghentikan seranganku dan mundur satu langkah darinya lalu mencabut tanah runcing itu dari perutku.


"Sial, rasanya sangat sakit!"


Ssttt


Sringgg!


"Aghh!"


Sepertinya dia tak terima dengan pukulanku, dia membalas dengan mengayunkan cakarnya secara langsung padaku, aku langsung menahannya dengan pergelangan tangan kiriku, tapi sepertinya itu belum cukup tanganku tergores cukup dalam dan darah bercucuran keluar dari luka yang ada di perut dan tanganku.


Aghhh... hari ini aku benar-benar sedang tidak beruntung, menyebalkan...


Ssttt


Graahhhhhh!!!


Melihat kesempatan itu aku langsung mengibaskan ekorku padanya dan berhasil mengenainya tepat di batang lehernya, seketika saja naga itu terpental dan tersungkur ke tanah.


"Waktunya untuk mengakhiri ini, naga brengsek!! tunggu bukannya aku juga naga!? itu artinya aku juga... Y-yah... hinaan itu untuknya seorang... aghhh!! mati kau payah!!"


Aku kemudian mengayunkan cakarku ke arah kepalanya, naga itupun langsung meregang nyawa setelah cakarku menembusnya dengan sangat telak.


"Apa anda baik-baik saja tuan? luka anda sangat parah." tanya Sira.


"Ya tak masalah, lukaku bisa sembuh dengan cepat, jadi tak perlu khawatir."


"Senang mendengarnya tuan."


.


.


.


"Hmm... kalau dipikir-pikir aku belum pernah memakan daging naga... hey Sira apa kau mau makan?" tanyaku pada Sira dengan mengangkat kepala naga bumi itu.


"Eh...! T-tidak tuan saya cari yang lain saja, hehe." Jawabnya sambil memalingkan arah pandangannya.


"Benarkah? bukannya kau tadi lapar?"


"T-tidak, saya... ano... ya... mungkin karena pertarungan tadi rasa laparnya sedikit berkurang, hehe."


"Pertarungan tidak akan membuatmu kenyang lohh... apa kau yakin tidak ingin makan? ini cukup banyak." Sambungku bertanya.

__ADS_1


"T-tidak, tuan."


"Ok... kalau begitu aku akan makan lebih dulu." Ucapku dengan nada lambat.


"Y-ya... silahkan tuan."


Entah karena apa Sira sepertinya sedang tidak ingin makan, jadi aku memakannya sendiri sampai habis, memerlukan waktu yang ekstra untuk menghabiskannya, tapi aku berhasil memakan semuanya.


Sepertinya porsi makanku benar-benar naik,


buktinya aku masih ingin makan setelah melahap naga sebesar ini...


"Apa aku akan bertambah gemuk?" tanyaku pada diri sendiri sambil menatap ke arah Sira.


"Eh...! Y-yahh... entahlah tuan."


"Aku tidak bertanya padamu lohh... Sira, aku bertanya pada diriku sendiri..."


" ... "


"Ayo pergi... aku ingin istirahat, pertarungan ini melelahkan dan juga kita harus mencarikan makanan untukmu, kau terlihat mulai kurus."


"Hehe... saya rasa bukan itu penyebabnya."


"Ya sudahlah, ayo naik."


"Baik tuan."


Sira kemudian melompat naik seperti biasanya, perlahan aku berjalan menuju ke lantai lima belas untuk beristirahat dan juga untuk mengambil makanan tentunya, Sira sudah terlihat sangat kurus bagiku dia harus segera diberi makan atau dia akan menjadi tulang-belulang.


Karena jarak yang tersisa hanya dua lantai aku bisa sampai dengan cepat di lantai lima belas dan langsung mengambil seekor monster yang telah kubekukan lalu membakarnya dan meletakkannya di depan Sira.


"Makanlah Sira, aku ingin istirahat sebentar."


.


.


.


"Eh!! A-A-apa itu tadi?!"


Setelah menyodorkan makanan pada Sira aku berbaring dan mulai menutup mataku untuk tidur sejenak, tapi tiba-tiba saja aku merasakan ada sepasang mata merah yang menatapku dengan tatapan sangat marah, tapi seketika mata itu menghilang saat aku membuka mataku.


"S-sira apa kau merasa ada sesuatu yang aneh?" tanyaku padanya.


"Auneh... emhh... aneh seperti apa maksud anda?" ucap Sira sambil mengunyah makanannya.


"Tidak, bukan apa-apa."


Eh! apa dia tidak menyadarinya, bagaimana mungkin padahal aku bisa merasakan tatapan itu dengan sangat jelas... apa itu artinya tatapan itu hanya tertuju padaku? apa sebenarnya itu?


Tatapan itu sangat menakutkan membuat suasana labirin terasa senyap dan hening, labirin terasa sangat menakutkan atau mungkin karena aku yang sedang ketakutan, jantungku berdebar sangat kencang dan kadang napasku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang sedang mengintimidasiku dari kejauhan.


"Apa anda baik-baik saja tuan, anda terlihat gelisah?"


"Tuan?"


"Tuan!!"


"Hah...! maaf." Ucapku dengan kaget.


"Apa anda baik-baik saja, anda terlihat gelisah, apa ada sesuatu yang menggangu pikiran anda?"


"Tidak ada apa-apa, kurasa aku sedang tidak enak badan."


Untuk sekarang aku akan meningkatkan kewaspadaanku dan harus menyelidiki ini, jika tidak mungkin akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan...

__ADS_1


Aku kemudian kembali membaringkan tubuhku lalu menutup mataku, tapi aku masih terjaga karena tidak berani untuk tidur dan juga untuk menenangkan diriku, tatapan mata itu masih membayang-bayangiku tubuhku berkeringat dingin ketika mengingat tatapan menyeramkan itu, benar-benar sebuah ketakutan yang luar biasa yang dapat membuatku menelan ludah sendiri.


__ADS_2