I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 167: POV Frenya: Pertaruhan Sira & Ardner


__ADS_3

"Kau masih saja memperhatikan gadis itu, apa kau sangat tertarik dengannya, Frenya?"


"Ya... begitulah... hehehe~"


Seperti hari-hari biasanya, nyaris tidak ada yang berubah dari hutan ini kecuali dedaunan yang menguning berjatuhan dan tergantikan dengan daun hijau yang baru, hari ini lagi-lagi Lolovi datang ke tempatku dan seperti biasa dia menemaniku minum teh di balkon kamarku.


Dan seperti biasanya juga, aku selalu dalam keadaan mengawasi gadis labil yang bertindak ceroboh itu, bahkan setelah aku bantu dia meringankan beban hukumannya dan membuatnya tidur untuk sementara waktu, gadis itu tetap saja kembali berbuat ceroboh dan membuat dirinya tersiksa lagi.


Tapi, meski begitu dia tetap hiburan yang menarik dan aku tidak pernah bosan melihatnya menari.


"Tapi... mereka berdua juga tidak kalah menariknya" ucapku sambil menatap ke cermin keduaku.


Beralih mengamati Sira dan Ardner yang sudah hampir dua minggu selalu bertarung, aku suka dengan pertarungan konyol ini karena meski sudah berulang kali dikalahkan, Sira tetap berani melawan Ardner tanpa ada rasa takut demi memperjuangkan tuannya, benar-benar sebuah kesetiaan yang sangat mengesankan.


"Hm~ bukannya dia harimau yang waktu itu?" tanya Lolovi.


"Ya..."


Banyak dinding yang runtuh dan puing-puing kristal berserakan di mana-mana, ledakan dari sihir yang dilepaskan oleh Sira menghancurkan bebatuan besar dan lantai labirin, hanya saja meski sihir serangannya kuat untuk menghancurkan benda keras, tapi itu masih belum cukup untuk mengenai Ardner yang jauh lebih cepat darinya dan walaupun dia berhasil mendaratkan serangannya, itu mungkin tidak akan mampu membuat luka di tubuh Ardner.


"... aku penasaran siapa yang akan menang dipertarungan kali ini" ucapku tersenyum sambil menyesap tehku.


"Apa dia dari ras sejati? kalau memang begitu seharusnya pemenangnya sudah terlihat sejak awal pertarungan."


"Apa menurutmu seperti itu?"


Dilihat dari segi manapun Ardner memang pihak yang paling unggul dalam pertarungan ini dan semua ucapan Lolovi sangatlah masuk akal jika mengingat hal itu, nyaris tidak ada satupun kesempatan untuk Sira bisa menang dari Ardner, satu-satunya keunggulan yang Sira miliki hanyalah tekadnya yang kuat, tapi tentunya hanya bermodalkan tekad saja tidak akan cukup untuk membuatnya menang.


"... tapi, menurutku hasilnya akan berbeda" ucapku sambil tersenyum.


"Apa maksudmu Frenya?"


"Entahlah... kita lihat saja... hmm... anak itu sepertinya sudah hampir mencapai batasnya, ahh... ini merepotkan."


Di saat aku sedang menantikan hasil dari pertarungan Sira dan Ardner, mataku kembali tertuju pada cermin yang menunjukkan keadaan Shea saat ini, dia benar-benar membuat dirinya menderita.


Bukan saudara bahkan bukan juga keluarga, tidak ada ikatan apapun dengan dirinya, tapi dia tetap berusaha untuk menolongnya hanya dengan satu alasan tipis yang bahkan belum tentu bisa terjadi, sungguh alasan yang konyol untuk menyiksa diri sendiri.


Berusaha menyelamatkan seseorang yang sudah berada di ambang kematiannya dengan kekuatan yang setengah-setengah tidak akan pernah bisa menolong apapun, Shea mungkin tidak mengetahui itu karena dia masih kekurangan pengalaman dan karena itu dia menjadi sangat menderita.


"Ya~ kalau begitu, kenapa kita tidak bantu saja anak itu?"


"Hahh... baiklah... ayo kita pergi, tapi bukan ke tempat gadis itu."


"Eh! bukan?"

__ADS_1


"Ya... ayo."


Setelah Shea kembali terbang untuk pulang dengan wajah yang menyedihkan, Lolovi dan aku kemudian memutuskan untuk sedikit membantunya, meski begitu aku tidak ingin membantunya secara langsung karena jika aku menunjukkan diriku dihadapannya mungkin saja kesenangaku akan hilang akibat kedatangan orang lain yang merepotkan.


Selain itu, karena keadaan Sira tampak terdesak aku juga tidak ada pilihan lain selain membantunya dan ke sanalah aku akan pergi.


...✧✧✧...


"Baiklah sudah cukup sampai di sini" ucapku sambil tersenyum.


Sesampainya di labirin aku langsung melilitkan sulur-sulur tanamanku ke tubuh Ardner untuk menghentikan pergerakannya yang sebentar lagi akan mengenai Sira, dan tampaknya dia tidak begitu suka dengan kehadiranku di tempat ini.


Seandainya Sira bisa lebih kuat lagi untuk berevolusi mungkin dia bisa sedikit lebih lama bertarung dengan Ardner tanpa harus ada campur tanganku, tapi karena yang terjadi adalah sebaliknya maka aku harus mencampuri pertarungan ini, lagipun aku sedang memerlukan keberadaan Sira untuk membantuku mengurus anak gadis itu, karena itulah setidaknya Sira harus dalam keadaan yang bugar tanpa luka yang berlebih.


"Frenya, sebaiknya kau jangan mengganggu."


Hari ini Ardner benar-benar terlihat marah, wajah dan tatapannya sangat tajam mengarah padaku sementara Sira tergeletak di antara bebatuan, aku suka dengan itu karena mereka berdua adalah mainan yang tidak pernah membuatku bosan, meski begitu aku tidak suka jika mainanku saling merusak satu sama lain.


"Ya... aku punya urusan dengan Sira. Jadi, lanjutkan saja pertikaian kalian di lain waktu."


.


.


"Selamat tinggal, kuharap kau puas dengan hasilnya."


Tanpa banyak bicara setelah sampai di tempat ini aku berencana untuk mengakhiri pertikaian mereka dan segera membawa Sira pergi, cukup lama aku menatap wajah Ardner yang terlihat sangat marah aku yakin dia mengerti apa maksud dari ekspresiku, aku kemudian melepaskan ikatan tanamanku padanya dan dia mungkin sudah kehilangan minat untuk bertarung.


Tapi, sebelumnya pergi dari tempat ini, Sira malah kembali meneriakinya dengan suara yang keras, sungguh tindakan yang bodoh, dia sama sekali tidak bersyukur bisa lepas dari serangan mematikan Ardner dan malah kembali menantangnya, walau begitu aku tidak bisa berhenti tersenyum melihat kebodohan monster bulu ini.


" ... "


"Itu bukan ucapan yang pantas untuk monster rendahan sepertimu, jangan pernah menggangguku lagi atau aku akan benar-benar membunuhmu!"


Aku sangat terhibur dengan semua pertikaian tidak berarti ini, berdiri di antara dua belah pihak yang tidak setara, aku dapat melihat dengan jelas api yang terpancar dari mata Sira saat dia menunjukkan kesetiaan kepada tuannya, sementara di sisi lain aku melihat betapa gelapnya pancaran mata merah itu.


Kedua monster ini sangat berbeda, sungguh disayangkan karena Sira terlahir sebagai monster yang lemah padahal dia memiliki keyakinan dan tekad yang lebih kuat dari Ardner.


"Ehehehe... jangan membuatku tertawa, kalian benar-benar membosankan! apa kau pikir jika kau sudah sangat kuat Ardner?! kau tidak lebih seperti Sira... lagipula kau tidak mungkin membunuh Sira..."


" ... "


"... dan kau Sira, apa kau sudah sangat bodoh hanya karena terlalu lama mengurung diri di pulaumu? kau hanya perlu bilang pada anak itu ' anda lebih kuat dari dia ' itu sudah cukup untuk melepaskan rantai itukan... anak itu lebih kuat dari kalian berdua, hanya saja kurang dalam pengalaman..."


Semua orang di tempat ini terdiam heran ketika mendengarku tertawa, aku tidak bisa lagi menahan tawaku di tengah pertikaian konyol ini, mereka berdua bertarung hanya karena satu anak kecil yang kurang akan pengalaman, anak itu mungkin terlalu baik karena mau menerima hukuman tanpa ada niat untuk menentangnya padahal dia memiliki kekuatan yang jelas melampaui Ardner, dan dapat dengan mudah melepaskan diri dari jeratan rantai itu.

__ADS_1


"Jadi, kenapa kau tidak bilang seperti itu Sira?"


"Itu mustahil, nona Shea tidak akan suka dengan cara itu, dia.../"


"Dia hanya bocah naif yang mudah dimanfaatkan, teman? hah!! apa-apaan itu... dia sangat bodoh, dan karena itu dia harus melihat kenyataan yang sebenarnya, monster tidak akan pernah bisa berteman dengan siapapun, hanya orang bodoh yang berpikir bisa melakukannya... tempat kita adalah di sini, di tempat yang gelap dan sendirian, takdir kita hanya membunuh atau dibunuh."


"Jangan samakan nona Shea denganmu, nona Shea mampu melakukan hal yang tidak sanggup kau lakukan, jangan membuat dirimu semakin terlihat menyedihkan, Ardner."


Telingaku benar-benar dipenuhi dengan ocehan perdebatan yang sangat mengangguku, kedua monster ini sama sekali tidak pernah bosan untuk saling bertengkar, mereka saling membenarkan ucapan masing-masing dan tidak mau mengalah dengan yang lainnya.


Aku hanya tersenyum seperti biasanya melihat mereka yang saling bertukar pandangan, sementara Lolovi tampak bingung dengan apa yang terjadi di tempat ini.


"A-aku tidak mengerti apa yang mereka perdebatkan, tapi memang benar anak itu terlalu sering menyakiti dirinya sendiri" ucap Lolovi.


"Dia justru akan lebih tersakiti jika tidak melakukannya, ya... anak itu terlalu baik."


Sadar atau tidak membiarkan orang meninggal di hadapannya memang akan jauh lebih menyakitkan untuk Shea daripada hanya sekedar terkena kutukan Ardner, apa itu sebuah kebodohan? mungkin saja iya, tapi mungkin juga tidak karena kebaikannya memang sudah sangat mendarah daging hingga ke jiwanya.


Tidak ada yang salah dari kebaikan yang dia lakukan, hanya saja Shea tidak pernah berpikir panjang saat melakukan sesuatu yang akan menyakitinya, dan Ardner sangat membenci hal semacam itu.


"Nona Shea memiliki kepribadian yang jauh lebih baik daripada dirimu, kau tidak akan mampu untuk mengubah pemikiran nona Shea!" sahut Sira dengan nada tinggi.


"Aku tidak perlu mengubahnya, dia sendiri yang akan berubah saat sudah melihat kenyataan di depan matanya."


"Baiklah sudah cukup, bagaimana jika kalian menyelesaikan perdebatan ini dengan satu permainan?"


"A-hehehe... Frenya, aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk melakukan permainanmu" ucap Lolovi.


"Tidak masalah karena mereka yang akan memutuskannya, bagaimana?"


"Tidak ada keuntungan yang kudapat dari permainanmu" sahut Ardner sembari perlahan ingin meninggalkan tempat ini.


"Ucapan tanpa pembuktian hanyalah omong kosong semata, jika kau berhasil memenangkan permainan ini, kau akan membuktikan ucapanmu yang mampu mengubah anak itu, ahh... atau mungkin kau terlalu takut untuk membuktikan ucapanmu, Ardner?" balasku sambil tersenyum.


"Dia tidak akan mampu melakukannya karena nona Shea tidak akan pernah merubah keyakinannya... bertaruh untuk hal seperti itu hanya akan berakhir kekalahan" sahut Sira.


"Hehehehe... ternyata memang tidak berani ya, kalau begitu... /"


"Baiklah aku akan mengikuti permainan ini...!"


Aku sangat menikmati setiap detik dari momen yang terjadi di tempat ini karena semuanya berjalan dengan lancar dan semestinya, berlomba untuk bisa mengubah kepribadian anak gadis yang labil adalah sebuah pertaruhan yang konyol, tapi dengan sedikit kata-kata pemanis dan ejekan mereka berdua berhasil masuk ke dalam skenario yang aku buat.


Aku tidak begitu suka dengan orang yang terlalu merendahkan anak itu walaupun semuanya adalah kenyataan, anak itu memang bodoh dan juga naif, tapi dia punya alasan yang mendorongnya untuk tetap maju meski hanya sekedar hal kecil, untuk seorang anak kecil ketika dia menginginkan pertemanan maka itu akan membuatnya melihat dunia yang lebih luas, karena itulah aku tidak begitu suka dengan kata-kata Ardner yang ingin membuatnya menjadi seorang penyendiri.


Hehehehe... siapa yang akan menang dipertarungan ini... ahh... takdir sudah ditentukan... ini menarik...

__ADS_1


"Ya... kalau begitu aku akan menjadi pihak penengahnya dan peraturannya adalah siapapun pihak yang kalah akan mengabulkan satu hal dari pihak yang menang tanpa penolakan apapun, sekarang... apa yang kalian inginkan?"


...☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2