
"Hei boleh aku namamu?" tanyaku sembari menoleh pada lelaki di belakang samping kananku.
" … "
"Halo?"
Emhh… dia masih tidak mempedulikan aku...
...
"Sira! ada apa dengan orang itu?" bisikku sambil menoleh ke arah Sira.
"Entahlah nona, mungkin dia sedang berpikir tentang sesuatu" jawab Sira sambil terus berjalan.
"Emhh… menyebalkan!" ucapku sambil menggembungkan pipiku.
…
Berjalan diantara Sira dan lelaki sebelumnya karena terlalu sunyi aku kemudian memulai pembicaraan dengan bertanya kepada pria itu tentang namanya, karena sebelumnya dia sama sekali tidak menyebutkan tentang namanya dan itu membuatku sulit untuk memanggilnya.
Akan tetapi, saat aku menanyakannya orang itu hanya diam dan berekspresi serius sambil menatap ke bawah bahkan aku yakin dia tidak mendengarkan ucapanku.
Dan karena aku sedang bingung dengannya aku kemudian menoleh ke sebelah kiriku tepat Sira berada dan sayangnya Sira pun juga tidak tau apa-apa tentang lelaki itu, padahal aku berharap Sira tau sesuatu tentangnya karena mereka terlihat cukup akrab saat berlari melewati hutan beberapa saat yang lalu, dan tidak dipedulikan itu rasanya sangat menyebalkan.
"Haah, halo permisi? apa aku boleh tau namamu?"
" … "
"Halo…/"
"Apa kau tidak bisa diam sebentar hah!!!? aku sedang…! sedang… se…dang…" bentaknya seraya menatapku.("•_•)
" ... "
"Anu… m-maaf mengganggu" ucapku sambil kembali menatap lurus ke depan. ("•_•)
Gagal lagi... haaah... sepertinya memang percuma.
Terus berjalan sembari berusaha memanggil orang itu tetap saja dia sama sekali tidak merespon ucapanku dan terus terlihat sangat serius seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi tidak menyerah sampai di situ aku kemudian berbalik menatapnya dengan berjalan mundur lalu kembali menyapanya beberapa kali.
Dan wargghh!! orang itu tiba-tiba saja mengagetkanku sembari membentakku dengan cukup keras sebelum akhirnya dia memelankan suaranya sambil menjatuhkan pandangannya setelah menatapku, kaget dengan suaranya itu aku menghentikan langkahku dengan heran dan mata yang membulat bahkan kini Sira juga menghentikan langkahnya menatap lelaki itu dengan keheranan mengangkat sebelah alisnya.
Dengan keadaan yang hening aku dan Sira saling menatap ke arah lelaki itu, aku kemudian kembali berbalik membelakanginya dan setelah meminta maaf padanya aku berjalan tanpa berbicara sedikitpun, tentu saja karena aku masih sangat terkejut dan bingung dengan keadaan ini.
...*****...
Brukk!
"A-aduh!! emhh…!"
"Nona…/"
"Diam!" kataku sambil berusaha untuk kembali berdiri.
" … "
"Aghhh! aku ceroboh, hiks... pantatku… ini menyakitkan..." ucapku pelan sambil membersihkan gaun bawahku.
Berjalan lurus dengan menurunkan pandanganku aku memegangi tanganku aku merasa cukup sulit untuk berbicara karena bentakannya sebelumnya, dan karena itu juga aku menjadi sedikit lengah sampai-sampai melupakan bahwa ada tembok batu yang membatasi lorong gua ini.
__ADS_1
Dan akhirnya aku menabraknya lalu terjatuh dengan pantatku ditambah lagi aku mendarat tepat di atas bebatuan kerikil dan itu sangat menyakitkan.
"Haah... oh ya, sebelum kita masuk ke gua ini, jujur aku bingung kenapa ada beberapa dinding batu yang membatasi jalur ini? apa kau yang membuatnya?" tanyaku sambil mengetuk-ngetuk dingin batu yang menghalangi jalan.
"Tidak, bukan aku… itu adalah rencana teman-temanku untuk mengelabuhi musuh agar mereka tidak menemukan teman-temanku yang sedang berlindung" ucapnya sambil menunduk.
"Lalu, di mana teman-temanmu itu?" tanyaku sekali lagi.
" … "
"Nona, dari aroma yang tersisa di gua ini, mungkin yang dia maksud adalah para gadis yang kita tolong sebelumnya" sahut Sira dari sampingku.
"Owh! benarkah?!" ucapku terkejut sembari bertanya sambil sedikit mengendus-endus sekitarku.
Hm... kalau tidak salah ini memang aroma mereka.
"Ya, tidak salah lagi aroma ini memang milik mereka bertiga" sahut Sira sambil mengendus-endus area sekitarnya.
Jujur saja sejak awal saat aku mengawasi keadaan dalam tebing ini aku memang sudah melihat ada beberapa dinding batu yang membatasi lorong gua ini, dan itulah yang membuatku penasaran dengan fungsi sebenarnya dari dinding batu itu.
Dan setelah aku mendengar penjelasan dari lelaki itu barulah aku paham tentang fungsinya yang tidak lain adalah untuk mengelabuhi musuh dengan menciptakan sebuah atau beberapa dinding, dan jika musuh memasuki gua mereka hanya akan mengira bahwa itu ada gua buntu, padahal ada banyak orang yang bersembunyi di balik dinding batu itu.
Dan satu hal lagi yang membuatku terkejut adalah tentang tiga orang perempuan yang sebelumnya telah aku tolong, mereka bertiga ternyata adalah teman-teman dari lelaki itu yang membantu untuk menyembunyikan para rekannya yang lain, dan itu menjelaskan mengapa aku mencium aroma mereka bertiga dari tempat ini bahkan Sira juga mengatakan itu.
"T-tunggu! a-apa kalian bertemu dengan tiga wanita itu?! b-bagaimana keadaan perempuan berambut orange yang bersama mereka? apa dia baik-baik saja?" tanya pria itu dengan sangat terkejut dan sangat khawatir.
"Ya... kau tidak perlu khawatir, meski aku tidak bicara banyak dengan mereka... karena sama sepertimu mereka juga terlihat ketakutan dan salah paham denganku, jadi aku meminta Sira untuk segera mengantarkan mereka pulang ke kota" jawabku tersenyum murung sambil menjatuhkan pandanganku.
"Jadi begitu, syukurlah dia baik-baik saja… terima kasih banyak karena melindungi mereka" ucap pria itu padaku dengan tatapan yang lega.
Setelah mendengar pembicaraan kami dengan ekspresi yang sangat terkejut terlebih lagi wajahnya terlihat begitu sangat khawatir dengan kondisi perempuan berambut orange kemerahan yang bersama dengan kedua perempuan lainnya, dan dengan sedikit lesu aku memberitahunya bahwa mereka bertiga baik-baik saja dan telah aku pulangkan ke kota mereka.
Sontak saja setelah mendengar itu pria itupun langsung terlihat sangat lega dan bersyukur karena teman-temannya telah selamat, tapi mengingat kembali ekspresi wajah ketiga perempuan itu saat melihatku masih membuatku merasa sedih.
DUARR!!
"Sira, apa yang kau lakukan?!" tanyaku terkejut mendengar suara ledakan.
"Udara di tempat ini sangat buruk, ada baiknya jika kita lebih cepat mengeluarkan mereka sebelum mereka kekurangan udara untuk bernapas!" sahut Sira padaku.
Oksigen ya... karena tempat ini tertutup mungkin saja mereka... gawat!!
"Baiklah, ayo bergegas!!" ucapku menatap lelaki itu sambil berlari mempercepat perjalanan.
Cukup dengan perasaanku yang mulai goyah akibat terus bersedih secara tiba-tiba Sira menghancurkan dinding batu yang telah menjadi es itu hingga berkeping-keping dan itu cukup tebal, meskipun terkesan sangat kasar apa yang dilakukan oleh Sira memang sebuah tindakan yang benar, karena tertutup oleh dinding batu yang tebal udara di tempat ini menjadi sangat kurang bahkan nyaris tidak ada ventilasi udara yang cukup agar udara dapat masuk menggantikan udara pengap yang ada di dalam gua ini.
Dan mungkin orang-orang yang berada di tempat ini sedang kesulitan untuk bernapas yang tentunya itu akan berakibat buruk untuk keselamatan mereka, menyadari kurangnya oksigen di gua ini aku kemudian langsung mengajak lelaki itu untuk mempercepat langkah kami agar tidak terjadi apa-apa pada rekan-rekannya, dan dengan anggukan serius kami langsung berlari menuju ke dinding batu selanjutnya.
...*****...
"Itu dinding yang kedua! harghh!!" ucapku berlari sambil memukul dinding batu di depanku.
Duarr!!
"Yosh!! ayo!" seruku pada mereka berdua.
"Baik, nona!" sahut Sira.
.
__ADS_1
.
.
Tap tap tap tap!
"Yang ketiga!"
Duarr!!
Berlari tanpa banyak bicara kami bertiga terus melangkahkan kaki kami tanpa berhenti agar lebih cepat sampai ke tempat para rekan pria itu berlindung, walaupun aku bisa berlari dengan sangat cepat meninggalkan Sira dan pria itu, tapi aku tetap memutuskan untuk berlari dengan sewajarnya saja agar mereka berdua tidak kelelahan saat mengimbangiku untuk berlari apalagi untuk pria manusia itu yang jelas tidak akan pernah bisa melakukannya.
Cukup lama berlari kami bertiga kemudian berhasil sampai di dinding batu kedua dan dengan satu ayunan pukulanku dinding batu itu seketika hancur lebur, dan karena dindingnya sudah terbuka lebar tanpa berlama-lama aku langsung menyeru mereka berdua untuk bergegas dan dengan sedikit anggukan mereka kemudian melompati sisa-sisa dinding itu.
Tak seberapa lama kemudian kami kembali menemukan dingin ketiga dan sekali lagi aku menghancurkannya dengan pukulanku lalu berlari melewatinya tanpa berhenti, diikuti oleh Sira dan pria itu.
...***...
"Aku merasakan aura keberadaan mereka di depan sana…/"
Deg!
"Ada apa, nona?"
"T-tidak, tidak ada apa-apa hehehe" sahutku sambil tersenyum.
Apa sebaiknya aku menunggu di sini saja? mereka… mungkin juga akan takut saat melihatku...,, pikirku sambil kembali berjalan dengan pelan.
Beberapa saat setelah menghancurkan dinding batu ketiga aku mulai dengan sangat jelas dapat merasakan aura keberadaan para rekan pria itu yang menandakan bahwa bahwa kami sudah sangat dekat dengan tempat mereka, tapi saat aku mulai tersenyum lega jantungku berdetak kencang menghentikan langkahku saat kembali terbayang ekspresi wajah dari setiap orang yang ketakutan ketika mereka menatapku.
Bahkan Sira dan pria itu terkejut saat aku menghentikan langkahku secara tiba-tiba yang membuat mereka melewatiku beberapa langkah ke depan, mengingat setiap ekspresi itu membuatku merasa ragu untuk bertatap muka dengan mereka, di samping tidak ingin membuat mereka ketakutan hal seperti itu juga adalah luka tersendiri bagiku.
"Aku akan berjalan lebih dulu! permisi!" ucap pria itu sambil bergegas menuju ke tempat rekan-rekannya.
"Baiklah, kami akan menyusul" ucap Sira padanya.
...
"Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran anda, nona?" tanya Sira menghampiriku.
"Tidak ada hehe… aku hanya ragu sapaan seperti apa yang akan aku katakan pada mereka, kau taukan aku jarang bertemu dengan orang banyak!" ucapku sambil berjalan pelan menuju tikungan lorong di depanku.
"Anda tidak perlu berbohong nona, saya tau anda tidak pandai melakukan itu"sahut Sira sambil berjalan pelan di sampingku.
"Ketahuan ya… aku hanya takut Sira… aku takut orang-orang akan menjauhiku" ucapku sambil sedikit menunduk.
Sama seperti dulu...
Dengan sangat terburu-buru pria itu kemudian pamit untuk menemui rekan-rekannya terlebih dahulu, sementara aku masih terdiam dengan kaki yang sedikit bergetar, setelah lelaki itu berpamitan dengan kami Sira kemudian berjalan menghampiriku dan bertanya tentang masalahku, tapi aku dengan sedikit senyuman berbohong padanya bahwa aku hanya gugup bertemu dengan orang banyak, aku tidak ingin berbohong padanya, tapi aku tidak ingin membuatnya khawatir dengan hal kecil seperti itu.
Tapi, tampaknya Sira sendiri sudah cukup kebal terhadap kebohonganku sampai-sampai bisa mengetahuinya bahkan belum sempat satu menit Sira sudah mengetahui kebohonganku itu dan aku tidak bisa membantah itu, pada akhirnya aku hanya merasa takut melihat ekspresi orang-orang itu dan takut mereka akan menjauhiku sama seperti masa laluku.
Yahh kehidupan sekolahku cukup berantakan karena orang tidak mau repot berkomunikasi denganku, meskipun dengan masalah yang berbeda, tapi aku tetap merasakan hal yang sama, sama-sama menyedihkan.
"Anda tidak perlu takut nona, yang perlu anda lakukan hanyalah menjadi diri sendiri, lambat-laun mereka pasti akan sadar bahwa anda sangatlah berbeda dari apa yang mereka bayangkan" sahut Sira padaku.
"Begitu ya..."
Mengikutiku berjalan dari samping kiriku Sira memberiku sedikit nasehat yang membuatku merasa lebih baik, meskipun agak menyedihkan apa yang diucapkan Sira memang ada benarnya, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri dan membuktikan bahwa aku bukan iblis seperti pandangan mereka.
__ADS_1
"… Terima kasih Sira, emhh... ahh!! yahh… aku harus bersemangat!" ucapku tersenyum sambil melakukan perenggangan pada tanganku.
...🌹🌹🌹...