I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 168: POV Sira ; Kesepakatan.


__ADS_3

Setiap hari ketika nona Shea tertidur dalam pengaruh pengobatan Frenya, aku selalu pergi ke labirin untuk menantang Ardner agar dia berhenti membuat nona Shea menderita, tapi mengalahkan ras naga sejati seperti dia sangatlah mustahil untukku, aku berulang kali dikalahkannya dan hari ini aku kembali dikalahkan olehnya.


Walau begitu, entah kenapa keadaannya malah berubah menjadi koyol dengan kedatangan Frenya dan roh air yang selalu bersamanya, tapi berbeda dengan Frenya yang tampak menyebalkan roh air itu justru terlihat lebih waras dan malah dia mungkin sedang kebingungan dengan situasi ini.


"Ya... kalau begitu aku akan menjadi pihak penengah dan peraturan sangat sederhana... 'siapapun pihak yang kalah akan mengabulkan satu hal dari pihak yang menang tanpa penolakan apapun', sekarang apa yang kalian inginkan?" ucap Frenya sambil tersenyum.


Apa-apaan ini...? tapi... biarlah.


"Aku tidak ingin orang kaku ini menganggu nona Shea seumur hidupnya" sahutku menatap Ardner.


Benar-benar mengherankan, mungkin itu yang dapat aku pikirkan setelah melihat keadaan ini dan entah bagaimana aku dan Ardner benar-benar masuk ke dalam permainan Frenya, tapi karena permainan ini dari Frenya, aku merasa punya kesempatan untuk memenangkannya terlebih lagi dilihat dari kepribadian nona Shea, beliau sangat tidak mungkin terpengaruh oleh Ardner.


Dan meski ini hanya akan menjadi lelucon untuk Frenya mungkin saja dia telah merencanakan sesuatu di balik tindakannya ini, dan apapun yang dia rencanakan setidaknya aku akn mengikutinya untuk sementara waktu dan berharap naga Ardner tidak akan mengganggu nona Shea selama berlangsungnya permainan ini.


"Owh! menarik, lalu bagaimana denganmu?" tanya Frenya.


"Aku akan mendapatkan semua gigi itu."


"" ...? ""


Semuanya seketika terdiam saat mendengar ucapan Ardner yang mengatakan keinginannya jika berhasil memenangkan permainan Frenya, ucapannya sangat membuatku tercengang karena itu mengingatkanku pada hari-hari di mana aku pernah bertaruh dengannya dan berulang kali selalu dimenangkan olehnya, naga ini punya tingkat keberuntungan yang sangat tinggi dan karenanya aku kehilangan 28 gigiku dalam momen itu.


"Permintaanmu terlalu sederhana... tapi, jika Sira tanpa gigi... hm~ tampaknya dia akan terlihat cukup menarik" sahut Frenya seraya tersenyum menatapku.


"Woi! apa kalian berdua sudah tidak waras!"


Aku merasakan suasana menyeramkan bersamaan dengan tatapan yang seketika membuatku merinding, kedua orang itu seakan sepakat untuk menjatuhkanku dalam pertarungan keyakinan ini, terlebih lagi Frenya terlihat lebih mencekam dari biasanya.


"Ehe-hehehe... ya... Frenya, apa kau serius ingin membuat permainan seperti ini?" tanya roh air di samping Frenya.


"Baiklah, semuanya sudah disepakati... mari kita mulai."


"Dia tidak mendengarku" ucapnya lagi sembari menghela napas.


Frenya memang sangat merepotkan bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk temannya sendiri, aku merasa kasihan pada roh yang satu ini karena dia tampak sangat kesusahan mengurus Frenya yang kadang tidak peduli dengan sekitarnya.


"Percuma saja kau bicara, dia sudah sangat terobsesi" sahutku padanya.


"Ya... sepertinya memang begitu" sahutnya sambil tersenyum dengan wajah pasrah.


Senyuman lesu dan pasrah itu sangat menggambarkan betapa sulitnya dia menghadapi sikap Frenya. Sementara itu, Frenya juga terlihat memanjang senyuman yang kadang membuatku sangat terganggu.


"Sebelum permainan ini benar-benar kita mulai, aku akan mengatakan sedikit saran yang mungkin akan mempermudah kalian.../"


"Aku tidak perlu saran darimu, selamat tinggal" ucap Ardner memotong ucapan Frenya.


"Aku bukan peramal handal, tapi aku bisa melihat pemenang permainan ini dari cara awal kalian memulainya... kau Ardner, tidak akan memiliki kesempatan memenangkannya jika terus menjaga jarak dengan gadis itu... siapapun yang paling dekat dengannya adalah orang yang akan menjadi pemenang."


Aku tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran Frenya, tapi dia memang memiliki pengamatan yang bagus dalam segala hal termasuk permainan ini, dia pasti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya dengan sangat akurat.


Frenya mungkin menciptakan pemainan ini untuk mendapatkan kesenangan pribadinya, tapi aku sangat yakin dia punya tujuan tersembunyi, terlebih lagi dia seperti sedang mengarahkan kami pada jalan yang dia buat terutama untuk Ardner.


"Ahh~! aku hampir lupa, seandainya kau kalah mungkin kita akan menggantikan posisimu sebagai penguasa labirin lantai bawah."


" ... "


"Akanku pertimbangan" sahut Ardner sembari pergi meninggalkan kami.


Meski awalnya tampak tidak peduli, tapi setelah mendengar kata-kata Frenya, raut wajah Ardner seakan berubah menjadi sangat serius sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan tempat ini.


Aku bisa memahami itu, lagipula siapa yang mau menerima jika posisi dan gelar yang sudah didapatkan dengan susah payahnya tiba-tiba saja menghilang karena satu permainan sederhana, tapi itulah akibatnya jika melakukan permainan ini terutama permainan dari Frenya.


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" tanyaku pada Frenya.


"Tidak ada, aku hanya tidak suka dengannya... aku bisa saja membunuh Ardner, tapi itu akan menimbulkan masalah baru."


"Kau sangat membencinya ya."


Meski tampak senyuman di wajahnya, tapi aura Frenya terlihat berbeda dari biasanya dan itu sangat menakutkan, aku jarang melihatnya tersinggung ataupun merasa marah bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Tetapi, kurasa Ardner cukup beruntung karena dia tidak perlu melihat kemarahannya.


"Ardner terlalu meremehkan anak itu, dialah yang harus melihat kenyataannya."


"Ya... kurasa begitu."

__ADS_1


Ternyata dia bisa menjadi sebaik ini...


Cukup mengejutkan untukku karena Frenya bisa marah karena membela orang lain, tapi jika dilihat dari tindakannya selama ini Frenya memang sudah memiliki ketertarikan pada nona Shea meski aku tidak menyangka akan sejauh ini.


"Frenya apa kau tidak punya ramalan untukku?"


"Owh~! apa kau sudah kehilangan kepercayaan dirimu sampai-sampai berharap pada sesuatu yang tidak pasti?"


"Aku hanya bertanya."


Aku menarik kata-kataku.


Ekspresi wajah Frenya yang terkesan mengejek itu sangat menyebalkan, aku benci itu bahkan setelah melihatnya bicara seperti itu membuatku kembali berubah pikiran tentang sifat baiknya.


Dia memberikan saran kepada Ardner dengan suka rela, tapi saat aku meminta sedikit ramalan dia malah mengejekku, benar-benar ketidakadilan dalam permainan ini.


"Ah-hahaha... s-sudahlah, bukannya kita ke sini untuk membawanya."


"Membawaku?"


"Oh~! benar juga, hehehehe... aku hampir lupa, hahh... Sira, sebaiknya kau membantu anak itu, dia lagi-lagi bertindak ceroboh dengan kekuatannya..." ucap Frenya sambil menghela napasnya.


"Ah... ini gawat, sebelumnya saja nona sudah sangat menderita sekarang pasti akan menjadi dua kali lipat."


Meski masih dalam keadaan yang menyebalkan, aku langsung menghilangkan semua kekesalanku itu dan berfokus pada keadaan nona Shea yang diceritakan oleh Frenya, seharusnya aku ikut bersama nona Shea dan bukannya bertarung dengan Ardner di dalam labirin.


Nona Shea selalu melakukan kecerobohan dengan kekuatannya selama aku tidak ada, aku tau itu karena nona Shea memang menargetkannya saat pergi seorang diri, karena jika pergi bersamaku mungkin aku akan melarangnya untuk melakukan tindakan ceroboh itu, aku merasa nona akan baik-baik saja berhubung dia baru saja sembuh dan tidak mungkin menggunakan kekuatannya dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi ternyata itu di luar dugaanku.


Aku tidak mempermasalahkan sifat baik nona Shea karena itu baik untuknya, tapi rantai Ardner lah yang membuatku merasa khawatir, rantai kutukan itu dibuat untuk menambah rasa sakit kepada orang yang bersangkutan, jika sebelumnya nona sudah hampir menggila dengan membenturkan kepalanya berulang-ulang lalu apa yang akan terjadi sekarang padanya?


"Tidak perlu khawatir, selama dia menyentuh tanah seharusnya anak itu akan menjadi sedikit lebih baik."


"Hahh... begitu ya, terima kasih sudah menolongnya.../"


"Masih terlalu dini untuk berterima kasih, sebaiknya kau cepat bantu dia sebelum anak itu benar-benar menangis di samping danau."


Walau masih khawatir dengan keadaan nona Shea, tapi setelah mendengar ucapan Frenya yang melegakan aku merasa lebih tenang, meskipun tidak langsung menyembuhkan nona setidaknya aku sangat terbantu dengan pertolongan pertama dari Frenya.


"Terima kasih aa...?"


"Panggil saja Lolovi" sahutnya sambil tersenyum.


Roh yang satu ini memang sangat berbeda dengan Frenya, senyumnya terlihat jauh lebih tulus daripada si hijau sialan yang selalu penuh dengan niat tersembunyi, aku sangat berterima kasih padanya karena sudah membantu menyembuhkanku dan meski sedikit terlambat untuk perkenalan, tapi akhirnya aku tau namanya.


"Ya... terima kasih, Lolovi."


"Sama-sama" balasnya sambil kembali tersenyum.


"Baiklah, aku akan langsung mengirimmu ke tempatnya" ucap Frenya padaku.


...


"Hiks hiks... sakit!"


Setelah luka-lukaku disembuhkan, Frenya kemudian menggunakan sihir teleportasi untuk mengirimku ke tempat nona Shea yang berada di pinggiran danau, dan satu-satunya yang aku dengar saat tiba di danau adalah suara kecil dari tangisan nona Shea.


"Nona?"


"Sira..."


"Anda kenapa, nona?"


"Hei Sira... apa menurutmu aku ini bodoh?"


" ... "


Nona Shea merangkul erat kakinya dengan wajah yang merah dan penuh air mata, aku hampir tidak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah yang begitu rapuh itu, anak ini sangat kuat, tapi juga lemah dalam segi perasaannya dan yang bisa aku lakukan hanyalah membantu dengan cara mendukungnya semampuku, dan memberikan jawaban yang perlukan agar dia tidak merasa terbebani.


"Anda hanya menjadi diri anda sendiri nona, di luar sana tidak banyak orang yang peduli dengan keadaan orang lain, saya pikir apa yang anda lakukan itu adalah sesuatu yang bagus, hanya saja sebaiknya anda jangan terlalu berlebihan sampai-sampai melupakan keadaan anda sendiri."


"Begitu ya..." sahutnya sambil tersenyum lesu.


"Bisa bantu aku berdiri?"

__ADS_1


"Tentu, nona."


Aku duduk di samping nona Shea, menatap danau yang sama sambil memberikan jawaban untuk pertanyaannya, meski aku tidak begitu yakin dengan ucapanku, tapi setelahnya wajah nona Shea terlihat jauh lebih baik walau masih cukup sulit untuk tersenyum ceria seperti biasanya.


Setelah merasa cukup tenang nona Shea kemudian berdiri sambil berpegangan padaku dan aku juga membantunya berjalan di sepanjang jalan hutan hingga masuk gua sampai tiba di depan tangga rumah dindingnya.


"Terima kasih Sira, mulai dari sini aku bisa berjalan sendiri."


"Anda yakin?"


"Ya, tidak apa."


"Baiklah."


Setelah nona Shea berhenti berpegangan padaku, aku kemudian berbaring di anak tangga untuk tidur sebentar sementara nona berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, semua berjalan dengan lancar dan aku bisa tidur setidaknya untuk beberapa saat.


Brukk...


"Hm... apa itu? ah... ternyata itu..."


Sulit untuk dipercaya, aku bahkan hampir tidak bisa mencerna keadaan ini, tubuh nona memang masih lemah, tapi aku tidak menyangka akan sulit untuknya menuruni anak tangga padahal itu sangat sederhana, dia hanya perlu melangkahkan kakinya satu persatu secara perlahan seperti saat dia menaikinya, tapi tampaknya nona Shea tidak bisa melakukannya jika dilihat dari ekspresinya saat ini.


"Hiks... Sira... aku tidak bisa turun..."


"Y-ya... tunggu nona... biar saya bantu."


.


.


.


"Terima kasih, Sira."


"Ya, panggil saja saya nanti jika anda sudah selesai."


"I-iya tentu."


Setelah melihat kesulitan nona Shea, aku kemudian membantunya berjalan turun dari tangga hingga sampai ke depan pintu ruangan yang sebenarnya adalah lubang dinding di dapur yang sengaja dibuat nona Shea untuk masuk ke dalam pemandian, dan setelah mengantarkan nona ke sana aku kemudian berbaring di atas meja untuk menunggu jika seandainya nona kembali memerlukan bantuanku.



" … "


"Eh! nona?!"


Cukup lama aku berbaring memejamkan mataku, tiba-tiba saja nona Shea keluar dari pemandian dengan tergesa-gesa dan wajah yang panik sambil memegangi sesuatu, tapi itu tidak lebih mengejutkan dari keadaan nona yang terlihat sangat bugar berbeda dari sebelumnya, nona Shea bisa berlari tanpa terjatuh sedikitpun padahal sebelumnya dia tampak kesulitan untuk berjalan.


Tok tok tok...


"Siapa yang bertamu ke tempat ini?" ucapku sambil berjalan menuju ruang tamu.


Tidak lama setelah nona Shea pergi ke kamarnya, aku cukup kebingungan dengan suara ketukan pintu yang terdengar, dikarenakan tempat ini sangat terpencil dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya sangat tidak mungkin ada tamu yang datang ataupun orang yang tidak sengaja mengetuk pintu rumah dinding ini.


"Tunggu sebentar! eh?! tunggu dulu?!"


Berjalan keluar menuju pintu utama, aku berpapasan dengan nona Shea yang juga turun dari lantai dua dengan raut wajah yang kebingungan.


"Sira, kau baru dari dapurkan?" tanya nona Shea sambil menuruni tangga.


"Ya... begitulah, nona."


Hm... nona terlihat baik-baik saja, apa keadaannya sudah membaik? eh! di mana rantainya?!


Wajah nona Shea benar-benar terlihat kebingungan ketika melihatku, begitupun juga denganku yang bingung dengan keadaan nona Shea saat ini terutama mengenai rantai Ardner yang sudah hilang dari lehernya, setelah melihat itu aku langsung mengaktifkan sihirku untuk mencari tau siapa tamu tak diundang itu dan benar saja aura yang aku rasakan benar-benar milik naga Ardner.


Apa dia ke sini karena rantainya!? tidak akanku biarkan!


Saat aku dan nona Shea tiba di depan pintu utama, aura Ardner terasa semakin jelas, akan tetapi aku tidak merasakan adanya ancaman darinya, meski begitu aku tetap dalam keadaan waspada untuk menghadangnya jika sewaktu-waktu dia berniat menyerang nona Shea.


"S-selamat... datang..." ucap nona Shea seraya membuka pintu dengan perlahan.


...✿✿✿✿✿...

__ADS_1


__ADS_2