I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 114: Sadar


__ADS_3

"Graaahh!!"


"Emhh! ternyata masih ada undead yang selamat!" •_•


"Yah, tapi sebagian besar dari mereka sudah lenyap, mungkin ini hanya sisanya yang berada di luar jarak serangan anda" sahut Sira.


Selain menguburkan Leron kami juga menguburkan kelima undead komandan tepat bersebelahan dengannya karena mereka juga sudah tidak bergerak lagi sejak aku menebas mereka.


Tapi, walaupun begitu masih banyak undead yang selamat dari tebasanku sebelumnya, suara geraman mereka terdengar sangat jelas di telingaku dan bayang-bayang undead terlihat bergerak dari semak-semak hutan, meski tidak ada yang berani mendekat secara langsung tetap saja aku merasakan sensasi film horor yang sangat mengganggu dengan teror-teror bayangannya yang mengintai bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak.


"Merepotkan! kalau begitu biarku tebas sekali lagi!" •_•


"T-tunggu nona, ada baiknya anda jangan menggunakan pedang itu dulu" ucap Sira padaku.


"Tapi kenapa Sira?"


"Y-yah, coba lihat sekitar anda, kawasan hutan di sini sudah hancur, sebaiknya kita jangan membuat penunggunya marah."


"Egh!! penunggu?!! a-apa ada hantu di sini?" ucapku terkejut sambil menatap ke kanan dan kiriku.


"Y-yah, mungkin lebih parah dari itu" sahut Sira sambil memalingkan wajahnya. ("•_•)


Menyeramkan! tapi, tunggu! bukannya undead sama dengan hantu? emhh! untuk apa takut pada hantu jika aku sudah melihat yang lebih buruk dari itu. •_•


Sedikit terganggu dengan bayang-bayang undead yang mengintai dari semak-semak aku kemudian berencana untuk menebas mereka sekali lagi dengan tebasan horizontal secara melingkar, akan tetapi sebelum aku mengubah gelanku menjadi pedang Sira sudah terlebih dahulu menghentikanku dan memintaku untuk tidak melepaskan tebasanku karena kawasan hutan di tempat ini sudah terlihat hancur lebur dengan pepohonan yang tumbang berserakan.


Selain itu ucapan Sira juga membuatku sedikit merinding dengan mengatakan bahwa hutan ini memiliki penunggu yang akan marah jika aku menghancurkan hutan yang subur ini, tapi Sira hanya sedikit berucap seraya memalingkan wajahnya saat aku membahas tentang penunggu hutan itu, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.


Meski agak menyeramkan, tapi aku sudah cukup terbiasa dengan hal seperti itu dan lagi tidak seperti dunia lamaku, dunia yang aku tinggali saat ini memiliki sesuatu yang lebih nyata, iblis dan hantu aku dapat melihat mereka secara jelas jadi rasa takutku hanya sekedar spontan dunia lama yang akan langsung menghilang tanpa berbekas, lagipula aku dapat memukul mereka dengan keras jika berani menakut-nakutiku.


"Hup, yang jelas jangan sampai kita melakukan kerusakan lebih dari ini" ucap Sira sambil kembali berubah menjadi harimau kecil.


"Tapi, bagaimana cara kita menghadapi mereka?" tanyaku sambil berjalan mendekati pria manusia yang aku selamatkan sebelumnya.


"Kita cukup menghadapi apa yang kita temui, lagipula mereka itu lemah" jawab Sira sembari berjalan mengikutiku dari belakang.

__ADS_1


"Owh"


"Ekhh!!" jerit lelaki itu.


"Ah sepertinya dia sudah sadar, ayo kita lihat" ucapku menatap ke arah lelaki manusia itu.


"Kie… Kie…" sambung lelaki itu.


"Kie? apa…?" ucapku sambil menatap Sira dengan kebingungan.


Sambil memperingatkanku agar tidak merusak hutan Sira kembali berubah menjadi harimau kecil yang berdiri di samping kakiku, kami pun berjalan perlahan menuju ke arah lelaki manusia yang masih tergeletak di bawah pohon itu, dan saat kami berbincang-bincang tentang undead tiba-tiba lelaki manusia itu sedikit menjerit yang berarti dia sudah sadar, dan aku cukup senang mendengarnya.


Kami kemudian mendekati pria itu untuk melihat keadaannya, terdengar jelas dia terus-terusan mengigau dengan menyebutkan nama seseorang, aku yang mendengar itu hanya bisa terdiam kebingungan sambil saling menatap dengan Sira yang juga terlihat sangat bingung menyaksikan lelaki bertubuh sedang itu.


"Anu permisi anda baik-baik saja?" tanyaku sambil berjongkok di sampingnya.


Jelas tidak. •_•


"Halo?"


"Kita tidak sedang ingin masuk ke rumah orang, nona."


"Hehehehe maaf nona" ucap Sira sambil terkekeh.



"Haaah, lupakan saja! permisi tuan…" ucapku menghela napas seraya kembali menatap pria itu seraya memanggilnya..


Ssttt!!


Itu nyaris saja!


"T-tidak perlu khawatir tuan, saya bukan orang jahat" ucapku sambil menahan belati lelaki itu dengan tanganku.


"Jangan harap aku percaya padamu!! kalian iblis… ekhh!!"

__ADS_1


Melihat pria itu mulai sadar dari pingsannya aku kemudian berjongkok di sampingnya sambil bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak, tapi seperti kebanyakan orang yang baru setengah sadar dia tidak menjawabnya dan hanya berekspresi menahan sakit pada tubuhnya.


Dan saat aku memanggil-manggilnya Sira malah berkomentar yang membuatku sedikit mengkerutkan dahiku dengan cemberut kesal sembari menyentil dahinya, yahh bagaimana mungkin dia bisa bercanda dengan keadaan seperti ini, walaupun aku dapat memahami itu karena memang caraku menyadarkannya terdengar cukup lucu.


Sambil menghela napas melihat kelakuan Sira aku kemudian kembali mengarahkan pandanganku pada lelaki manusia itu, akan tetapi di saat aku ingin memangilnya tiba-tiba saja pria itu bangkit dengan sebilah belati yang bersiap untuk menembus leherku.


Hanya tinggal kurang dari setengah centimeter lagi saja belati tajam itu akan mengenai leherku, beruntung aku cepat menyadarinya dan langsung menahannya dengan tanganku meski begitu aku tetap terluka karena belati itu menembus telapak tanganku, tetap tenang meskipun darahku bercucuran dari telapak tanganku yang terluka aku kemudian berusaha untuk berbicara padanya dengan mengatakan bahwa aku bukanlah seorang penjahat.


Meskipun demikian tetap saja dia terlihat tidak mempercayaiku dan dengan menggertakkan giginya pria itu bersiap menggunakan sihir di tangan kirinya untuk menyerangku, sementara tangan kanannya masih sangat erat memegangi belati yang menusuk tanganku, akan tetapi saat dia mengumpulkan kekuatan sihirnya lelaki itu malah terjatuh sembari memegang dadanya.


Keadaan itu sontak membuatnya membatalkan sihirnya dan juga melepaskan genggaman tangannya pada belati yang menancap di telapak tanganku.


"Dasar payah! kau seharusnya bersyukur kami sudah menolongmu, lagipula jika kami ingin kau sudah mati dari tadi!"


"Sira!! sudah cukup!" bentakku pada Sira.


"Y-yah maaf nona."


Setelah orang itu terjatuh kesakitan Sira malah melontarkan kata-kata yang cukup pedas padanya dan walaupun ucapannya benar aku tetap tidak mengijinkannya untuk berkata demikian, apalagi saat ini orang itu bagaikan karakter polos yang tidak tau apa-apa tentangku, jadi wajar saja dia menyerangku dan menyebutku sebagai iblis karena memang dia sendiri baru saja menghadapi sesuatu yang sulit.


"Bukan padaku!" sambungku padanya.


"I-iya nona, hei bocah maaf untuk perkataanku itu" ucap Sira padanya.


"Minta maaflah yang benar, Sira!" ucapku sambil mengarahkan telunjukku yang penuh dengan darah pada Sira.


"E-eh! anu… aku minta maaf untuk perkataanku sebelumnya…" ucap Sira sembari menundukkan kepalanya pada lelaki itu.


"Anda sudah puas?" tanya Sira padaku. •_•


"Hehehehe, cukup puas…"


Tidak suka dengan perkataan Sira itu aku kemudian sedikit membentaknya dan memintanya untuk segera minta maaf kepada orang itu dan bukannya meminta maaf padaku, terlihat jelas ekspresi tidak sudi dari wajah berbulunya saat aku meminta untuk melakukan itu, tapi meski begitu dia tetap melakukannya walaupun dalam keterpaksaan.


Melihat Sira yang mengucapkan permintaan maaf dengan kurang sopan aku kemudian mengarahkan telunjukku yang penuh darah dan masih tertancap belati padanya sembari sekali lagi memintanya untuk melakukan itu, tapi dengan cara yang lebih baik dan lebih sopan, walaupun Sira masih tampak tidak sudi melakukannya dia tetap menuruti perintahku dan menundukkan kepala kecilnya pada lelaki yang kini sedang tersandar di pohon itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian Sira kembali mengangkat kepalanya dan berbalik menatapku dengan wajah yang terlihat cukup kesal, dan aku hanya tersenyum dengan tawa kecil saat melihat ekspresinya itu.


...🌹🌹🌹...


__ADS_2